
Quenna terus meneguk bubur yang terasa lembek di lidahnya dengan terpaksa. Ia mengunyahnya dengan perasaan geli. Tapi demi kebaikannya wanita itu harus memakannya.
Hari-hari Quenna semenjak kehamilannya ia merasa lebih banyak kelelahan. Nafsu makannya juga berbeda dari sebelumnya. Ia lebih bernafsu, meski kebanyakan orang tubuhnya akan melebar tapi tidak dengan Quenna yang tetap ideal.
Quenna harus menahan dirinya dan melakukan apa pun yang diperintahkan dokter untuknya meskipun itu bertentangan dengan nalurinya. Ini semua kata mereka demi kebaikan ia dan anaknya.
Perempuan tersebut menghela napas dan menyingkirkan mangkuk bubur ke samping. Rigel yang makan bersamanya menatap wanita itu intens.
Quenna melirik Rigel dan tersenyum tipis. Ia memberikan isyarat dari matanya jika ia tidak menyukai benda tersebut.
"Quenna makanlah, ini baik bagi kandungan mu!" pinta Rigel sembari menyodorkan sendok berisi bubur ke bibirnya.
Quenna merapatkan mulutnya dan menggeleng. Ia mendorong sendok itu ke Rigel dan meminta Rigel memakannya. Pria itu tak menyangka seraya membesarkan matanya dari batas normal.
"Kau bercanda?"
"Makanlah!!" Quenna terkikik melihat tampang Rigel yang sangat schok dengan perbuatannya.
Tapi untuk mempertahankan harga dirinya pria itu memasukkan sendok tersebut ke mulutnya. Baru saja bubur itu menyentuh lidahnya sudah membuat Rigel merasakan sesuatu yang menggelitiki mulutnya. Ia berlari ke tempat sampah dan memuntahkannya.
"Apakah enak?" ledek Quenna sambil melipat tangan di dada dari meja makan.
Rigel berjalan ke meja makan lagi dengan wajah manyun. Ia bak bocah sedang merajuk dan menyantap makanannya dengan kesal.
"Kepala ku masih pusing mengingat rasanya!!"
"Itulah yang aku rasakan, jangan memaksa ku lagi," pinta Quenna dan tertawa.
Quenna akhir-akhir ini lebih banyak tertawa dari bulan sebelum-sebelumnya. Wajar saja karena ia sekarang sudah mengerti apa itu kehidupan, dan ia telah merasakannya.
Quenna menarik napas panjang dengan pandangan terpusat ke arah Rigel. Tak menyangka jika pria yang selalu ditolongnya di penjara kini dialah yang menjadi penolongnya.
Quenna tidak mengerti alasan apa yang membuat Rigel membawanya dari rumah terkutuk itu serta mengetahui jika ia dikurung oleh Viktor. Quenna rasa tidak pernah menceritakan sesuatu tentangnya kepada Rigel.
Wanita itu menopang dagunya dengan tangannya. Ia mengamati Rigel, sebenarnya ada hal besar apa yang disimpan oleh pria ini? Quenna tahu Rigel sepertinya bukan sembarang orang.
Wataknya hampir mirip dengan Viktor hanya saja tidak ditunjukkan kepadanya. Ia pernah sekali tak sengaja melihat Rigel membunuh orang dan menyiksanya sama sadisnya dengan Viktor memperlakukan musuhnya.
__ADS_1
Quenna sempat terkejut dan tak menyangka selama berhari-hari dan selama itu pula ia mengurung diri di kamar. Ternyata ia juga berada di tangan orang yang tidak jauh berbeda dengan Viktor, sama-sama iblis.
Tapi Quenna tetap bersyukur karena ia tak menjadi target amarah Rigel. Tapi tetap saja perasannya tak tenang, ia bahkan sampai tidak bisa tidur.
"Rigel!" lirih Quenna tak disadarinya.
Wanita itu menutup mulutnya ketika nama itu keluar dari bibirnya. Ia spontan hendak bertanya tapi ketika kesadaran menguasai pikirannya, tidak mungkin kan ia bertanya hal itu? Yang ada Rigel akan marah dan ia akan dijadikan korban selanjutnya.
"Ada apa?" tanya Rigel tidak mengerti. Ia menyentuh kening Quenna untuk memastikan suhu tubuh wanita itu.
Akhir-akhir ini Quenna sering demam oleh sebab itu ketika melihat wajah Quenna penuh dengan keringat ia sangat khawatir.
"Eumm... Tidak apa!"
"Quenna sepertinya kau tidak baik-baik saja. Aku akan mengantarkan mu ke kamar!"
Belum sempat juga Quenna memberikan sangkalan tubuhnya sudah lebih dulu digendong oleh Rigel. Ia tidak menyangka dengan pria tersebut menggendongnya yang tengah hamil ini dengan enteng.
"Rigel!!!" teriak Quenna meminta diturunkan.
Hal yang dianggap Rigel biasa tidak dengan Quenna yang terdiam sangat syok karenanya. Baru saja Rigel mencium keningnya. Tapi entah kenapa ingatannya terpelanting pada Viktor yang dulu juga sering melakukan hal yang sama, bagaimana kabar pria itu sekarang?
Quenna membulatkan matanya kenapa bisa-bisanya ia memikirkan Kakaknya. Kenapa ia juga ia harus teringat dengan Viktor?
"Aku bodoh kenapa bisa mengingatnya," batin Quenna.
____________
Riuh suara dari para pengunjung memenuhi perpustakaan yang ada di salah satu mall. Quenna tidak tahu jika seramai ini perpustakaan.
Ia dulu sering masuk ke perpustakaan milik Viktor dan hanya ada dirinya di sana. Kini bukan mimpi ia sedang berada di tengah-tengah keramaian orang.
Ia mendengar mereka yang berbincang dengan temannya. Quenna sampai saat ini tidak ada memiliki teman. Ia sendiri yang memilih untuk tidak berteman sambil beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Membicarakan tentang teman, Quenna teringat pada sosok Ana pelayan di rumahnya dulu. Bagaimana wanita itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Quenna harap ia aman dan Viktor tidak menyalahkan wanita itu atas larinya dirinya.
Bagaimanapun Ana tidak ada hubungannya dengan kepergian dirinya. Quenna menghela napas panjang dan menyentuh kepalanya. Mengingat hal itu sedikit membuatnya pusing.
__ADS_1
"Aku harap kau akan baik-baik saja, maafkan aku!" lirih Quenna sambil menatap ke atas.
Ia melirik ke para pengunjung yang sibuk memilah buku-buku yang ada di sana. Quenna sedikit mengembangkan senyum ia beranjak dari tempat duduknya dan ikut juga memilih buku.
Ia mengambil beberapa novel yang menarik perhatiannya. Ia melirik jam di ponselnya, masih sempat ia menghabiskan waktu lebih lama di sini.
Lagian ia sudah mendapatkan izin keluar dari Rigel meski harus tetap dikawal. Untuk ponsel, Quenna telah memilikinya, ia juga sudah belajar dan karena kecerdasannya tidak perlu waktu lama ia telah menguasai benda itu.
Quenna membuka novel tersebut. Ia membaca dengan hikmat dan menikmati. Namun, ke-khusyukannya terganggu ketika ia merasakan ada yang aneh di ruangan ini.
Quenna menyentuh tengkuknya dengan perasaan tak nyaman. Meski di sini sangat ramai entah kenapa ia merasa terancam.
Seseorang seperti tengah mengamati dirinya. Ia tidak tahu apakah itu benar atau tidak atau bahkan hanyalah persangka belaka. Semoga saja itu hanya dugaan Quenna.
Tapi semakin lama Quenna semakin merasakan tak nyaman. Seolah-olah ia diperhatikan dan menjadi target mereka. Quenna menutup novel yang dibacanya dan memindai sekitar tapi tidak ada yang aneh.
Quenna menahan napas dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Tubuhnya merinding, Quenna berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tapi hal itu malah membuatnya makin kacau.
Ia membuka matanya dan beranjak dari sana. Ia menghampiri tempat yang dirasa Quenna sumber kegelisahannya.
Ia melirik sudut perpustakaan tapi tidak ada gelagat yang aneh. Ia lantas berbalik dan tidak sengaja menabrak tubuh pria yang memakai seragam pegawai.
"Maafkan aku," lirih Quenna dan menatap orang itu.
Pria yang wajahnya tertutupi topi sebagian tak bisa membuat Quenna dengan jelas melihatnya. Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk bak robot.
Quenna merasa aneh kepada pria itu, sikapnya sangat berbeda dari manusia umumnya. Ia menatap punggung laki-laki tersebut yang sudah menjauh. Quenna menutup mulutnya sadar jika pria itulah yang membuatnya tak nyaman dari tadi.
"Tuhan, siapakah kau?" Quenna segera meninggalkan perpustakaan itu tergesa-gesa. Ia harus keluar dari tempat ini secepatnya.
_______
Tbc
Hay teman-teman aku punya rekomendasi bagus nih buat kalian. boleh difavoritkan dan ku jamin bagus banget ini mah, jangan lupa mampir yah
__ADS_1