Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 21


__ADS_3

"Papa! Viktor lulus Pa," girang Viktor yang memakai seragam kelulusannya sambil berlari menghampiri sang ayah, Gibran.


Gibran bersama Maria menunggunya di taman sekolah. Mereka memeluk Viktor bergiliran dan saling rebut.


Maria menghela napas panjang dan menepuk pundak anaknya dengan perasaan bangga. Ia menatap mantap anak bujang-nya yang sudah beranjak dewasa.


"Viktor kau sudah besar dan bisa melindungi diri dari mu sendiri, aku masih tak menyangka ini kau, putra ku," ujar Maria seraya menyentuh wajah Viktor dengan telapak tangannya.


Ia mengusap pipi Viktor yang baru saja berusia 17 tahun itu dengan sayang. Viktor tertawa penuh haru dan meraih tangan sang ibu.


Ia menggenggamnya dengan sangat erat dan menatap netra Maria penuh arti yang dalam.


"Pa! Ma! Terimakasih sudah membesarkan Viktor hingga sampai sekarang. Viktor sudah dewasa dan sudah berumur tujuh belas tahun, sudah saatnya Viktor akan mandiri tanpa bantuan kalian," tutur Viktor dan menggenggam kedua tangan orangtuanya untuk meyakinkan mereka dan tak perlu lagi khawatir dengannya.


"Kau memang putra ku yang membanggakan," puji Gibran dan memeluk anaknya dengan kencang.


Viktor tertawa penuh kebahagiaan dan membalas pelukan sang ayah. Ia menarik tangan Maria agar wanita itu ikut bergabung.


"Kaka!" panggil anak kecil sembari menggigit jari telunjuk Viktor.


Viktor melenguh sakit di jarinya. Ia menatap ke bawah dan marahnya seketika memudar melihat adiknya yang menatapnya dengan pandangan polos.


Bagaimana pun ia akan melunak jika Quenna bersamanya. Laki-laki itu melepaskan pelukannya bersama orangtuanya dan meraih tubuh Quenna untuk digendongnya.


Ia menjawil pipi Quenna yang amat menggemaskan. Anak itu memeluk leher Viktor seperti apa yang dilakukan ayah ibunya tadi pada Viktor.


"Quen mau peyuk Kaka juga," ucap polos Quenna dan tak mau melepaskan pelukannya di leher Viktor.


Gibran menggelengkan kepala menatap tingkah menggemaskan Quenna yang membuat Viktor sendiri kewalahan menghadapinya.


"Quenna sayang, lepaskan ya pelukannya, kasian Kaka tidak bisa napas," pinta Maria sembari menarik tubuh Quenna.


Anak itu mengamuk dan mengetatkan pelukannya. Ia menggelengkan kepala dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.


"Mama nda mau," tangis Quenna pecah membuat Gibran, Maria bertepuk jidat.


Viktor tertawa kecil dan mengusap sayang kepala sang adik. Ia mengecup pipi gembul Quenna dan menenangkan anak gadis itu.


"Quenna tenanglah, Kaka akan terus bersama mu dan tak melupakan mu."


"Anak baik," puji Gibran yang bangga dengan sikap putranya itu.


Ia mengusap sayang kepala Viktor. Rasa bangga begitu jelas ditunjukkan oleh matanya. Tidak dapat dipungkiri memang Viktor anak yang pintar dan juga baik kepada orang tua.


Viktor membuka matanya dan perlahan air mata luruh dari sudut matanya. Ia memandang depan dengan kosong.


Pria itu diam tak bersuara setelah bangun dari mimpi masa lalunya. Viktor menghela napas dan mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengusir rasa kantuk.


Tangannya mengepal menahan perasaannya yang menggebu-gebu. Cuplikan mimpi itu membuatnya ingat ke masa dulu.


Hari yang begitu indah dan penuh kebahagiaan. Mungkin bagi orang dia adalah manusia paling kejam. Membunuh orang yang merawatnya dan menyiksa mereka tanpa ampun dan menyakiti fisik dan batin adik yang sangat menyayanginya hingga adiknya sendiri takut dan benci padanya.

__ADS_1


Bolehkah Viktor egois ingin Quenna memaafkan dirinya dan menerimanya, ia tahu kesalahannya begitu besar kepada wanita itu. Bahkan kata maaf tak cukup untuk membayar semuanya.


Viktor melakukan itu tentunya ada sebab dan akibat yang tak dapat diutarakannya. Ia tidak mungkin membunuh kedua orang tuanya tanpa alasan. Apa yang telah mereka lakukan tak dapat dimaafkan oleh Viktor.


Pria itu menghela napas dan beranjak dari kursinya. Begitu melelahkan hari ini, banyak hal yang harus diurusnya hingga membuatnya ketiduran di ruang kerja dan memimpikan kebersamaannya dengan orangtuanya.


"Quenna," lirih Viktor tanpa ekspresi lalu tak lama ia tersenyum masam.


__________


Viktor tersenyum melihat Quenna yang tengah kesusahan hendak mengambil barang yang berada di atas lemari.


Pria itu mendekat dan membantu Quenna untuk mengambil barang tersebut yang merupakan peralatan untuk menjahit.


Viktor memberikan benda itu pada Quenna. Quenna menarik napas lega, ia membalas kakaknya dengan sebuah senyuman dan hendak pergi.


Viktor membulatkan matanya bahkan Quenna tidak berterimakasih kepadanya. Pria itu menarik tangan Quenna dan menatap dalam wanita itu.


Quenna menggaruk kepalanya dan menyengir tanpa bersalah. Ia membalas tatapan sang kakak.


"Terimakasih, maafkan aku lupa mengucapkannya," ujarnya dengan canggung dan hendak berlalu.


"Begitukah etika meminta maaf kepada orang lain?" tanya Viktor dan menarik tangan Quenna hingga tubuh wanita itu menabrak dadanya.


Quenna terkejut dan menatap mata Viktor dengan gugup. Ia menelan ludahnya dan mati-matian menahan degupannya.


"Kau yang mencuri buku ku?" tanya Viktor dengan wajah serius.


"Maafkan aku."


"Quenna aku tak pernah mengajarimu seperti itu," ucap Viktor dan mengangkat kepala wanita itu agar menatap dirinya. "Kau sudah makin berani Quenna."


"Kak, aku tahu ini salah, tapi aku ingin seperti mu menjadi orang hebat dan pengusaha sukses."


"Aku memperolehnya dengan cara yang kau benci," timpal Viktor di dalam hatinya.


"Quenna beristirahatlah, Ana mengatakan kepada ku kau sama sekali tidak makan. Kau sudah mulai berani? Kau ingin mati, hah?"


Quenna menggelengkan kepalanya sebagai bentuk respon darivucapan sang kakak.


"Sedikit lagi akan selesai," sangkal Quenna dan hendak melanjutkan menjahit.


Viktor menarik tangan Quenna kasar dan memberikan intimidasi kepada perempuan itu.


"Kau tidak mendengar kata-kata ku?" tanya Viktor sambil diliputi amarah.


Ia meremas tangan wanita tersebut hingga Quenna merasakan telapak tangannya yang sakit akibat ulah pria itu.


Matanya berkaca-kaca dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman sang kakak. Quenna pergi dari hadapan Viktor begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Viktor menarik napas panjang dan menatap punggung Quenna dengan lelah. Pria itu pergi menuju ruangan bawah tanah.

__ADS_1


Para penjaga menyambut pria tersebut dengan ramah dan mengawal Viktor ke tempat penjara yang paling berbahaya.


Viktor berjalan dengan laju dan penuh amarah. Ia menatap laki-laki yang sedang menatapnya dengan mengejek di dalam penjara itu. Ia mengepalkan tangannya hingga menampakkan buku tangannya yang memutih.


Viktor mendekati penjara itu. Sesi saling tatap dengan tajam sedang berlangsung. Keduanya sama-sama kemunculan aura kelam.


"Kau datang kemari hanya untuk menatap ku?" tanya Rigel sembari memutuskan bola mata malas.


Ia tertawa sinis sembari menatap tangannya yang dirantai. Pria itu mendongak dan menatap Viktor dengan menantang.


"Kau masih berani melawan ku padahal kau masih ku penjara," ucap Viktor seraya berjongkok. "Kau tidak takut aku menyiksa mu?"


"Kenapa aku harus takut? Aku tidak pernah takut dengan siapa pun apalagi takut dengan mu? Omong kosong macam apa ini?" sindir Rigel tak mau kalah.


Viktor menatap penuh arti kepada Rigel. Ia meminta Prima membuka kurungan Rigel.


Pria itu juga memerintahkan anak buahnya untuk menyalib Rigel. Baju Rigel dibuka paksa hingga tampaklah tubuhnya yang atletis.


Intensi Viktor teralihkan pada perban yang membalut luka Rigel. Ia memandangnya dengan sinis, jemarinya saling mencengangkan dengan geram.


"Pukul dia dengan besi panas," perintah Viktor penuh emosi.


Pukulan demi pukulan diterima Rigel. Erangan Rigel memenuhi ruangan kedap suara itu. Viktor tersenyum penuh kemenangan, tapi ia belum puas meski Rigel hendak sekarat.


Ia memanaskan besi itu sendiri dan memukulkannya ke tubuh Rigel.


"Akhhh!!!"


"Baji*Ngan!!" marah Viktor dan terus memukulkan besi itu dengan brutal.


Tubuh Rigel tak berbentuk lagi selain luka mengerikan yang menghiasi tubuh indah tersebut.


"Dalam keadaan sekarat begini kau masih ingin menantang ku, ku akui kau memang hebat, Rigel!"


"Aku tidak akan pernah takut dengan mu!!"


Viktor mengangguk-anggukkan kepala salut kepada Rigel. Ia melirik kecil ke suatu tempat. Viktor menghela napas berat.


Dadanya panas penuh dengan rasa emosi ia menembak ke tempat yang menjadi objeknya tadi.


Quenna yang bersembunyi di situ langsung terkejut dan keluar dari persembunyiannya. Ia menatap Viktor dengan tubuh bergetar dan mata penuh air mata.


"Kau Quenna!!"


Quenna melarikan diri sebelum Viktor berhasil menangkapnya.


"Tangkap wanita itu hidup-hidup!!"


Usai memberikan perintah, Viktor ikut mengejar Quenna.


_____

__ADS_1


Tbc


__ADS_2