
Viktor memukul stir menggunakan tangannya dengan kekuatan yang cukup kencang. Hatinya membara ketika mengetahui bahwa Rigel telah berhasil membawa Quenna kabur dari tempatnya.
Wanitanya, adiknya, hanya dialah yang boleh menyentuhnya tidak dengan lelaki lain. Jika ia tahu keadaannya bakal seperti ini, Viktor bersumpah atas dirinya sendiri akan membunuh Rigel tanpa pertimbangan.
Pria itu jelas sangat berbahaya dan menjadi ancaman baginya. Kenyataannya telah dibuktikan sekarang.
Viktor hanya bisa menggigit jari sambil mengeluarkan lirihan ketika Quenna dibawa pergi. Ia sangat khawatir bagaimana nasib Quenna di sana. Apakah wanita itu baik-baik saja.
Viktor mengira Rigel telah melukai Quenna dan tidak tahu kebenarannya. Ia terus mengumpati Rigel sepanjang jalan.
Melihat mobil Rigel yang terus melesat jauh menghindari mobilnya membuat Viktor amat geram. Ia meningkatkan kelajuannya.
Pria itu mengeluarkan pistolnya dan sedikit mengeluarkan kepala dari jendela lalu menembaki mobil yang ditumpangi Rigel.
Mobil itu terus menghindari tembakannya. Viktor yakin sebentar lagi mereka pasti akan terguling.
Viktor menargetkan menembak bannya beberapa kali hingga akhirnya mobil tersebut pun berhenti.
Viktor mencegatnya dan tersenyum iblis. Ia keluar dari mobilnya dan membuka paksa pintu mobil musuhnya tersebut.
Kilatan amarah yang siap menghajar mereka begitu kentara dan sangat menakutkan.
"Bangsa.t!!!" maki Viktor ketik mengetahui jika mobil itu tidak memuat Quenna dan Rigel.
Tangannya mencengkram dan menatap tajam sang supir. Ia langsung menembak peluru dari pistolnya ke orang tersebut.
"Di mana mereka?!!! Katakan di mana markasnya?!!" marah Viktor kepada orang yang hendak sekarat tersebut.
Anak buah Rigel bisa dikatakan sangat setia, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Viktor ketimbang berkhianat meskipun nyawa taruhannya.
Melihat orang tersebut yang tak kunjung berucap membuat kesabaran Viktor teruji. Ia tahu pria ini tak kan menjawabnya, meskipun ia menunggu lama pasti bakal menghabiskan waktunya saja.
Viktor menembaknya beberapa kali hingga orang tersebut mati dengan menggemaskan. Viktor meremas rambutnya frustasi.
Ia berteriak marah seraya menendang mobil orang tersebut dengan kuat. Viktor berusaha menenangkan dirinya agar lebih baik dan dapat berpikir jernih.
"Quenna di mana kau," lirih Viktor dengan mata berkaca-kaca.
Rasa penuh kekhawatiran terus membuatnya panik. Ia tidak bisa hidup tanpa Quenna.
Wanita itu menjadi bagian terpenting dari hidupnya. Ia takkan membiarkan Quenna dibawa pergi begitu saja.
"Kau!! Rigel, aku pastikan akan menemukan mu dan menghabisi mu dengan tangan ku sendiri!!"
Viktor membuka pintu mobilnya dan membawa mobil itu untuk mengejar Rigel. Ia yakin Rigel pasti belum jauh.
__ADS_1
Selama dalam masa pengejaran, Viktor dibuat tak bisa berpikir luas. Dikarenakan terlalu banyak beban pikiran yang harus dipikulnya.
Tiba-tiba ada telepon dari Prima. Ia yakin pria tersebut pasti akan membawakannya kabar baik.
Dengan penuh rasa semangat ia menerima telepon tersebut.
"Bagaimana, kau sudah menemukannya?!!"
"Tuan!! Bukan itu, polisi sudah dapat mengendus rumah Tuan!!! Untung kami sudah mengosongkannya!!"
Mata Viktor Langsung melotot. Spontan ia menghentikan mobilnya. Ia berusaha mencernanya setiap kata yang diucapkan dari orang di seberang sana.
"Fuc.k!! Kenapa bisa??! Prima selamatkan hal-hal yang berharga. Jangan sampai dia mengetahui kita pelakunya!!"
"Baik Tuan!"
Viktor mematikan telepon tersebut dengan penuh amarah. Ia meremas ponselnya dengan pandangan tajam ke depan.
"Kau Rigel!!!" Viktor tahu betul jika itu adalah perbuatan Rigel. Sudah pasti pria itu.
_________
Setelah melewati perjalanan yang penuh dengan kekhawatiran, akhirnya Rigel berhasil keluar dari zona Viktor.
Ia berhasil membawa Quenna ke tempatnya. Rigel mulai dapat menghembuskan napas tenang.
Nyawa Quenna sudah sangat diambang bahkan sempat beberapa kali nadinya tak berdetak. Hal yang amat menegangkan itu membuat Rigel untuk pertama kalinya menangisi wanita.
Bahkan ia tak pernah menangis untuk ibunya dan Quenna satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya bukan kepalang panik.
Mulai dari situ Rigel menyadari jika Quenna bukan wanita yang biasa dalam hidupnya.
Ia sudah merasakan hal yang berbeda semenjak Quenna selalu datang untuknya di penjara. Menolongnya dengan tulus, senyuman yang penuh ikhlas tapi menyimpan ribuan rasa sakit.
"Quenna sadarlah, kau pasti akan aman bersama ku!!! Quenna jangan tinggalkan aku," mohon Rigel sembari mengikuti brankar rumah sakit yang dibawa oleh suster menuju ruangan gawat darurat.
Sesampainya di dalam ia dilarang masuk. Terpaksa Rigel harus menunggu di depan dengan cemas.
Seorang dokter menghampirinya dan tersenyum padanya. Rigel menatap orang itu sinis.
"Tuan Rigel?"
"Ya."
"Tuan, Kenzo meminta saya agar Tuan juga melakukan perawatan."
__ADS_1
Rigel menyadari jika dirinya juga dalam keadaan sangat menggenaskan. Tubuhnya yang selalu disiksa oleh Viktor meninggalkan beberapa luka yang sangat parah.
Ia mengangguk setuju untuk dirawat, meskipun rasa cemas tak henti-hentinya menghantui diri Rigel.
Ia ingin mengetahui setiap kabar apa pun dari Quenna dan perkembangannya. Tapi jika ia terus melakukan itu tidak baik juga bagi dirinya.
Rigel menghela napas dan berbaring di ranjang rumah sakit yang telah disediakan untuknya. Para suster membawa brankar tersebut ke sebuah ruangan.
Sementara Quenna berjuang hidup dan mati. Para suster panik dan menyiapkan alat bantu pernapasan serta memberikan infus bersamaan dengan mendeteksi detak jantung Quenna yang bahkan beberapa kali tidak berdetak.
Dokter mengarahkan dengan semampunya. Harapan untuk Quenna juga sangat rendah dan nyaris tidak ada. Lehernya telah diperban dan pendarahan telah dihentikan.
Keringat membasahi tubuh para dokter untuk memancing Quenna. Tapi nyatanya ia masih tetap sekarat.
Dokter itu menatap layar yang memperlihatkan frekuensi detak jantung Quenna.
Dokter yang sudah sangat kelelahan hanya bisa mempasrahkan diri. Entah apa yang akan terjadi jika Rigel mengamuk. Maka dari itu dari tadi ia berusaha menyelamatkan Quenna.
"Bagaimana Dok? Saya rasa tidak ada harapan lagi," keluh salah satu suster kepada dokter.
Dokter juga hanya bisa menarik napas panjang. Ia tidak menjawab dan tetap melakukan yang terbaik.
Meskipun hasilnya tetap sama, jantung Quenna tidak stabil. Ia menyeka keringatnya dan menatap ke layar monitor, seketika tubuhnya terasa dingin melihat monitor yang perlahan garisnya menjadi lurus.
Tangan dokter dan para suster tersebut bergetar. Mereka saling pandang dan tetap melakukan pompaan pada jantung Quenna.
Nyatanya usaha mereka tak membuahkan hasil. Sebanyak apa pun memompanya tetap saja tidak membuat layar tersebut normal.
Mereka memejamkan mata bersama dan siap menerima hukuman dari Rigel. Ini adalah rumah sakit milik Rigel, pria itulah yang berkuasa.
Brakk
Rigel yang sedari tadi tak tenang berlari mendobrak pintu. Ia menatap monitor yang tak mendeteksi apa pun itu dengan melotot.
Ia berlari ke arah Quenna dan mengguncang tubuh wanita itu dengan tangisan kuat.
"Quenna sadarlah!!" Rigel menatap wajah pucat Quenna.
Ia mengambil alat untuk memompa jantung Quenna. Beberapa kali ia melakukan hingga sampai kelelahan dan pada akhirnya membuahkan hasil.
Monitor itu kembali berjalan dan detak jantung Quenna mulai terdengar meskipun beberapa kali lemah.
"Hah! Quenna syukurlah!!" tangis Rigel dan memeluk tubuh wanita itu.
Ia menatap dokter dengan dingin. Hal itu membuat sang dokter menciut.
__ADS_1
_______
Tbc