
Setelah puas menyalahkan diri sendiri Celine lantas beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuh Viktor sebatas dada. Usai menangis ia pun berusaha untuk tersenyum tegar.
Agar orang-orang mengira bahwa sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Tapi lingkaran hitam di matanya yang disertai dengan bengkak dan hidungnya yang memanas jelas mudah dapat ditebak hanya dengan sekali lihat bahwa wanita itu habis menangis.
Celine meminta agar Prima membawanya kembali ke ruang inapnya yang tak jauh dari tempat ini. Pada saat di jalan ia melihat ada anak kecil yang berlarian menghampirinya.
"PAMAN PLIMA!!!"
Anak itu sangat bersemangat serta memanggil nama Prima. Tapi, wajah anak itu tampak terlihat familiar. Entah kenapa ia merasa gadis tersebut mirip dengan salah satu keluarganya.
Jika diamati dengan jeli lagi wajah Carol sangat mirip dengan putra sulungnya. Celine pun menimang-nimang pikirannya sembari mencocoklogi kemungkinan-kemungkinan besar.
Deg
Hatinya tiba-tiba berdesir tak nyaman. Apakah mungkin? Tapi ia ingin menolak kenyataan tersebut, akan tetapi melihat wajah anak itu sekali lagi malah membuat Celine makin yakin bahwa anak gadis tersebut merupakan cucunya.
Ia tak ingin berangan-angan lebih dalam lagi. Bisa saja kan hanya sekedar mirip.
Carol berlari ke dalam pelukan Prima. Prima yang belum siap menangkap tubuh Carol sangat terkejut saat tiba-tiba seorang anak kecil tengah mendekap kakinya erat.
Prima menundukkan kepalanya dan melihat Carol tengah menatapnya dengan wajah polos anak itu. Ia menyengir lalu melepaskan kaki Prima.
Carol menatap wanita yang ada di kursi roda. Ingatannya yang sangat kuat membuat anak itu sangat tahu siapa wanita tersebut.
"Grandma!" serunya bersemangat. Anak itu pun mengalihkan perhatiannya pada Celine dan memeluk tubuh Celine.
Celine yang mendapatkan serangan tiba-tiba lantas syok. Ia melirik prima yang menegang.
"Hai sayang siapa namamu?" Jadi ini sungguh-sungguh anaknya Viktor? Jika begitu pasti Ibu dari wanita ini adalah Quenna
Sungguh Celine sangat terkejut setelah bangun dari pingsannya. Ia begitu banyak disuguhi oleh hal-hal yang sangat mengejutkan.
Tidak menyangka bahwa Viktor membuahi adik angkatnya sendiri. Mereka bukanlah orang lain mereka adalah sepupu. Meski begitu tetap saja Celine tidak menyetujuinya.
Namun saat mengingat bahwa Viktor sangat tergila-gila dengan Quenna Celine hanya bisa pasrah.
Ia tidak menyetujuinya bukan karena Quenna adalah anaknya Gibran akan tetapi Quenna dan Viktor memiliki perbedaan umur yang sangat jauh juga Quenna sangat kecil untuk Viktor jadikan istri.
"Grandma namaku adalah Calol. Aku adalah anak cantik dari daddy Viktor dan ibu Quenna," ceritanya dengan bersemangat dan menampakkan deretan giginya yang putih berseri-seri.
Celine mengusap kepala Carol lalu mengecup puncak kepala anak kecil itu.
"Jadi kau benar adalah cucuku, ya? Manis Kau sangat cantik sekali kau sangat mirip dengan ibu dan daddy mu."
__ADS_1
"Terima kasih Grandma!" Carol terlihat malu-malu dipuji seperti itu oleh neneknya.
Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Siapapun yang melihatnya pasti akan gemas dengan anak ini.
"Carol cantik, kenapa kamu bisa ada di sini bukannya kamu harus ada di ruanganmu, ya? Kamu masih sakit." Carol menjadi lesu kembali.
"Calol pengen ketemu daddy dan ibu!" Mata Celine melirik Prima yang menunduk.
Jadi Carol belum mengetahui bahwa ayah dan ibunya dalam keadaan kritis. Sepertinya Prima sengaja merahasiakannya karena tak ingin Carol bersedih hati.
Tapi tampaknya ia tak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Carol terus merindukan orang tuanya dan tak mungkin Prima merahasiakan tentang kedua orang tuanya terus menerus dari anak itu.
"Baiklah sayang, Paman akan membawa kamu menemui ibumu dan daddy mu."
"Hole!!"
Celine tersenyum melihat cucunya itu sangat bergembira. Wanita tersebut tak jadi minta diantarkan ke ruang inapnya. Ia ingin menemani Carol melihat Viktor.
"Grandma apakah kau ingin menemaniku menemui daddy?" tanya Carol sambil memegang tangan Celine.
"Baiklah sayang aku akan menyetujui keinginanmu. Apapun akan kulakukan untuk cucu kesayanganku ini."
Mereka berdua pun masuk ke ruang inap Viktor. Bagaikan disambar ribuan petir Carol sangat syok melihat ayahnya penuh dengan kabel-kabel yang tak ia pahami.
"Carol tenanglah. Daddy mu tidak apa-apa. Lihatlah dia." Carol pun mengangguk paham.
_____________
Sesuai dengan ucapan pria itu tempo lalu, Rigel benar-benar memenuhi janji yang diikrarkannya. Iya bersama seluruh pasukannya bersiap siaga melakukan penculikan.
Pria itu akan membawa Quenna jauh dari Amerika dan memulai hidup baru dengan wanita tersebut.
Ia juga telah menyewa dokter khusus untuk menangani Quenna agar wanita itu terjamin keselamatannya.
Tidak ada yang mengetahui rencana licik Rigel ini. Semua orang mengira keadaan baik-baik saja. Dia beraksi di pukul tengah malam dengan cara mengecoh para penjaga dengan kopi yang berisi obat tidur.
Iya masuk ke dalam ruang kamar inap Quenna dan melihat wanita itu yang hendak dipindahkan.
"Lakukan dengan baik jangan sampai kau melukainya. Jika terjadi sesuatu padanya maka akan terjadi sesuatu juga kepadamu," ancam Rigel dengan penuh penekanan di setiap nadanya.
Pria itu melirik anak buahnya yang bekerja keras untuk membawa Quenna agar tetap aman. Kabel-kabel di tubuhnya dibuka dan dipasangkan dengan kabel-kabel yang sudah disiapkan.
Mereka pun mendorong brankar rumah sakit ini melalui jalan pintas yang sudah diancang-ancang Rigel.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa memiliki mu. Oke honney, kita akan hidup bersama dan bahagia. Aku akan membuatmu melahirkan anak ku juga." Rigel tersenyum bangga. Ia menyuruh agar anak buahnya membawa Quenna lebih dahulu sebab ada hal yang masih ingin diurusnya.
Rigel berjalan pelan ke kamar Viktor. Ia tersenyum miring melihat tubuh Viktor yang lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
"Ternyata ini pria yang sok ingin melawan ku malah sekarang terbaring seperti mayat di atas ranjang. Hahhaha!" gelak tawa Rigel seraya menyeringai dan mendekati ranjang pria itu.
Ia melihat-lihat kabel yang terpasang di seluruh tubuh Viktor. Rencana liciknya pun dimulai.
"Quenna," gumam Viktor sangat kecil hampir tak kedengaran.
Rigel terkejut dan menatap wajah Viktor. Bisa-bisanya pria itu menyebut nama calon istrinya. Tangannya mengepal kuat.
"Kau!!! Kau tidak boleh menyebut nama calon ku! Kau hanyalah pria payah."
Dengan kesal Rigel mencabut salah satu kabel tersebut hingga membuat Viktor kesusahan bernapas.
Pria itu tersengal-sengal sedangkan Rigel tersenyum bahagia.
"Rasakan kau!! Dasar ba.jingan! Akhirnya kau mati juga," bahagia Rigel lalu pergi begitu saja tak peduli dengan Viktor yang benar-benar sekarat.
Tidak ada yang menyadari bahwa sesuatu telah terjadi pada Viktor. Dan bisa saja pria itu bakal mengehentikan kehidupannya sampai malam ini saja.
______
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
VIKTOR
Mbak QUENNA
BABANG RIGEL
NONA MUDA CAROL😎
__ADS_1