
Wajah berparas selembut salju itu terus berekspresi dengan wajah datarnya serta bibir mungil yang melengkung masam. Sang petinggi yang ada di ruangan itu hanya menghela napas beberapakali melihat perempuan itu yang lebih mirip disebut dengan mayat hidup.
Sudah beberapa kali ia menegur Quenna dan mengajak sang wanita itu berbicara akan tetapi ia malah dianggap oleh wanita itu seolah-olah tak ada.
Bahkan Quenna sendiri tidak ingin menyantap makanan yang sudah disediakan untuknya. Ia hanya membiarkan makanan tersebut begitu saja tanpa minat.
Sementara, padahal makanan itu adalah makanan mahal yang sengaja dimasak oleh Rigel sendiri khusus untuk Quenna. Akan tetapi dirinya tak dihargai.
Rigel ingin marah tetapi ia tersadar siapa dirinya ini. Quenna sudah mengetahui kelakuan bejatnya bahkan Quenna sendiri merasakan secara langsung betapa kejamnya seorang Rigel.
Ia bahkan selalu menerima penyiksaan fisik meskipun tidak sebrutal Viktor tapi itu sungguh menghancurkan ekspektasi tinggi Quenna kepada Rigel.
"Quenna," lirih Rigel sekali lagi menegur wanita tersebut.
Tapi ia harus menelan kekecewaan yang sangat mendalam tatkala tak mendapatkan respon apa pun dari Quenna.
Rigel pun tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri. Mungkin saat ini Quenna sangat ketakutan padanya karena sifat kasarnya ini. Ia harus merubahnya dan sebentar lagi juga ia akan menjadi suami wanita itu dan ia harus bisa bersikap layaknya suami yang sangat diidamkan Quenna.
Rigel mendekat pada Quenna dan memasukkan beberapa lauk tambahan ke piring wanita itu. Ia meraih piring Quenna dan menyendok makanan tersebut lalu menyodorkan sendok tersebut di depan mulut Quenna.
Quenna melirik Rigel yang telah melakukan itu padanya. Mata wanita tersebut berkaca-kaca dan tangannya di bawah sana mengepal erat karena menahan amarah pada Rigel.
Bahkan Quenna sangat tidak sudi untuk menatap Rigel yang bersikap sok baik akan tetapi sifatnya tak jauh lebih dari iblis.
Wanita itu menolak pemberian Viktor dan mendorong sendok tersebut menjauh. Ia lebih baik tidak makan ketimbang harus menerima makanan dari Rigel.
Wanita itu beranjak dari tempatnya lalu berjalan meninggalkan Rigel. Rigel terkejut bukan main dan segera mengejar Quenna. Pria tersebut menahan satu tangan Quenna dan menatapnya dengan tatapan penuh permohonan.
"Quenna, ku mohon," pinta Rigel dan tersenyum lirih kepada sang wanita.
Quenna dengan wajah datar menyingkirkan tangan Rigel yang menyentuh tangannya. Rigel meringis melihat reaksi Quenna.
"Pergi dari hadapanku, aku tak sudi menatap wajah busuk mu itu," gumam Quenna pelan tapi penuh dengan nada intimidasi seolah tengah mengancam sang pemilik rumah tersebut.
__ADS_1
Rigel tertegun melihat Quenna yang akhirnya ingin mengeluarkan suaranya. Pria itu tanpa memikirkan bagaimana marahnya Quenna menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan wajah tak menyangka.
"Kau baru saja berbicara? Quenna kau sungguh tadi berbicara?" ujar Viktor dengan wajah syoknya.
Quenna membulat merasakan tubuhnya yang berada di dalam dekapan Rigel. Ia berusaha ingin lepas dari lingkup pria itu. Segala usaha ia lakukan dan mendorong tubuh Rigel dengan kuat.
Namun hasilnya sangat mengkhianati yang ada dirinya malah makin dipeluk kuat oleh pria itu. Quenna memejamkan mata dan terpaksa harus menyerah.
"Lepaskan aku, dada ku sangat sesak," pinta Quenna dengan wajah merahnya.
Rigel langsung terkejut mendengar ucapan Quenna. Ia pun sadar telah memeluk Quenna terlalu erat, lantas pria itu cepat melepaskan Quenna dan meletakkan kedua tangannya di bahu perempuan tersebut.
"Quenna," lirih Rigel dan memperhatikan dengan detail pahatan wajah Quenna yang sangat sempurna di wajahnya.
Quenna tertegun dengan mata bulatnya ditatap dengan serius oleh Rigel. Tiba-tiba dadanya bergemuruh gugup ditatap seperti itu oleh pria tersebut.
Tangan Quenna bergetar tetapi ia berusaha menepis perasaan gugupnya itu. Ia menjauh dari Rigel dan tersenyum kikuk.
"Aku ingin ke kamar Carol ingin membantu anak itu mengerjakan pr nya, tolong pergilah dari hadapan ku," mohon Quenna dengan mendalam. Itu terlihat dari tatapan matanya yang sangat kelam.
Ia mengusap wajah Quenna yang langsung ditepis sang wanita. Rigel mengangguk paham dengan refleks Quenna.
"Maafkan aku terlalu memaksamu," ujar Rigel lalu mengecup singkat kening Quenna lalu pergi.
Tes
Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Quenna. Wanita itu menghapus air mata tersebut yang terus mengalir di wajah cantiknya. Kenapa ia harus bertemu orang-orang seperti Rigel? Kenapa ia selalu dikelilingi pria yang sangat hobi membunuh?
Membunuh? Bukankah dirinya juga merupakan seorang pembunuh hebat yah? Kenapa ia berlagak sok suci.
Ah iya dia baru menyadari jika dirinya seorang pembunuh. Kenapa ia tak menggunakan skill tersebut untuk kabur dari sini? Ada benarnya juga nanti Quenna akan mencobanya, namun terlebih dahulu ia harus mengatur strategi.
Tidak mungkin dirinya langsung melakukan hal itu dengan strategi yang tidak matang yang ada dirinya bak menyerah begitu saja.
__ADS_1
"Aku pantas bahagia. Aku pantas memilih jalan ku sendiri," gumam Quenna dan tersenyum miris.
Ia harus kuat dan tak mu boleh menyerah begitu saja. Quenna menunduk dan berjalan ke arah kamar anaknya.
Di perjalanan ia dikejutkan dengan teriakan seorang wanita yang sangat cempreng. Quenna kaget bukan main pasalnya ia sangat hapal suara ini. Quenna berbalik dan tepat pada saat itu seseorang memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Mata Quenna membulat dan melirik orang yang tengah memeluknya.
Benar apa yang ditebaknya, jika Ana di sini berarti juga ada Viktor, bukan? Seketika wajah Quenna bersemangat, ia berpikir mungkin kah Viktor ada di sini karena ingin menyelamatkan dirinya?
"Quenna!" Ana melepaskan pelukannya dan melirik Quenna dari atas hingga ke bawah.
Ia berdecak kagum dengan keindahan Quenna. Bohong jika Ana tidak iri kepada Quenna. Quenna sangat cantik dan bahkan memikat banyak pria dengan parasnya yang sangat cantik, selain itu pria yang dicintainya juga mencintai Quenna.
Ana tahu diri dan harus mengalah. Ia hanyalah orang baru dalam kehidupan Viktor berbeda dengan Quenna yang sudah sangat lama bersama Viktor bahkan sejak dari ia lahir.
"Ana?" tanya Quenna dan tersenyum bahagia. " Kau ada di sini? Kau ingin membawa ku pergi dari sini, kan? Apa Viktor juga ada di sini?" Quenna celengak celenguk mencari keberadaan Viktor, "di mana pria itu?" tanya Quenna sibuk mencari keberadaan Viktor.
Quenna melirik Ana yang terdiam pucat. Ia mengernyitkan keningnya dengan rekasi Ana yang ditunjukkan.
"Kau tidak akan menemukannya, aku datang ke sini sendiri setelah mendengar kau ada di sini. Rigel adalah kakakku," lirih Ana dan mengangkat wajahnya.
Ia bisa melihat wajah Quenna yang sangat syok mendengar kenyataan tersebut. Quenna mengatup bibirnya tak bisa membalas ucapan Ana lagi.
Harapannya seolah dijatuhkan dari ketinggian dan dihancurkan oleh harapan yang telah membubung tinggi.
Ia tertawa masam lalu menangis. Wanita itu kesal pada dirinya sendiri yang terlalu berharap. Kenapa ia bisa melupakan fakta jika Ana adalah adik dari Rigel. Padahal Viktor dahulu pernah menceritakan padanya.
"Kau tahu keberadaan Viktor?" tanya Quenna yang sangat ingin tahu bagaimana keadaan prianya itu.
"Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu. Aku juga dilarang mencaritahu tentang Viktor oleh kakakku," sesal Ana yang lagi-lagi menghancurkan harapan besar Quenna.
"Oh."
_____________
__ADS_1
tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA