Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 88


__ADS_3

Yohana pergi membawa sejuta luka di dadanya. Wanita itu berusaha tegar selama ini akan tetapi orang-orang seakan tengah mengkhianatinya.


Ia wanita juga punya hati dan perasaannya juga sebenarnya sangat lembut akan tetapi ia dipaksa kejam oleh keadaan yang tak berpihak padanya.


Bolehkah ia ingin bahagia dan juga ingin bersanding dengan pria yang dicintainya? Tapi kenapa alam seakan-akan menolaknya mentah-mentah dan mengejeknya dengan penuh tawa.


Yohana merasa sangat rapuh. Ia berusaha menghentikan aliran air yang terus keluar deras dari netra indahnya. Yohana sangat membenci keadaan ini.


Ia menghela napas berat dan mengahapus air matanya kasar. Perempuan itu yang baru saja tadi datang langsung tidak mood dan ingin pulang. Lagian tidak ada yang ingin ia bicarakan, ia tidak berguna lagi.


Bukan Yohana tak tahu jika Rigel sangat ingin menyingkirkan dirinya setelah pria itu berhasil menyerang Viktor.


"Kenapa takdir ku benar-benar semenggenaskan ini? Aku membenci diriku," ujar Yohana dan meneguk air liurnya kasar.


Ia berjalan dengan menangis hingga tak melihat ia telah menabrak seseorang yang sangat kecil darinya.


Yohana melirik dan menatap Carol yang juga menatapnya dengan wajah polos. Yohana sangat membenci wajah anak itu yang benar-benar mirip ibunya dan juga ayahnya.


Dendam Yohana belum usai, ia ingin melihat Viktor menderita. Apalagi wajah Carol mirip dengan Viktor membuat Yohana ingin mencabik wajah sok polos Carol.


"Tante," ujar Carol menyapa Yohana.


Ia sudah sangat lama melihat Yohana wara wiri di rumah ini akan tetapi ia tak berani menegurnya dan Carol memberanikan diri hari ini untuk mencoba dekat dengan Yohana.


Yohana menatap sinis Carol lalu berjalan begitu saja membuat Carol merasa sangat sedih. Ia mengikuti Yohana dan membujuk wanita itu agar bisa bermain bersamanya.


Yohana merasa kesal melihat dirinya yang terus diikuti oleh Carol. Anak itu sangat polos hingga tak tahu jika Yohana membencinya.


"Tante, boleh aku tahu nama Tante?" tanya Carol dengan berani membuat Yohana naik pitam.


Wanita itu sontak menatap tajam wajah Carol dan mendesis marah. Dan kini barulah disadari Carol jika Yohana membencinya.


"Kau tahu? Aku sangat membencimu." Wajah Carol sangat sedih mendengar ucapan Yohana barusan.


Ia menunduk dan tetap kekeh membujuk Yohana.


"Tante kenapa kau membenciku? Padahal aku hanya ingin tahu siapa namamu," ujar Carol dan meraih tangan Yohana.


Yohana yang moodnya telah rusak tak bisa mengendalikan emosinya. Wanita itu mencengkam keras bahu Carol membuat anak tersebut tersentak.

__ADS_1


"KAU TAHU KENAPA AKU MEMBENCIMU? KARENA KAU ANAK DARI VIKTOR DAN QUENNA! ORANGTUAMU SANGAT BAJ.INGAN!!" bentak Yohana dan mendorong kasar tubuh Carol.


Carol terduduk di lantai dan menangis keras. Kebetulan Ana yang tak sengaja lewat melihat Carol yang sedang dianiaya oleh Yohana dan ia sangat marah besar.


Ia berlari menghampiri Carol dan menggendong anak itu. Carol menangis keras di ceruk leher Ana.


"Hey ular kenapa kau membentak keponakan ku? Dasar kau ular pergi dari rumah Kakaku." Yohan melirik Ana dari atas hingga bawah.


Ia baru tahu jika adik Rigel berpenampilan seperti Ana ini. Ia mendecih menertawakan Ana membuat Ana tak paham.


"Apa katamu? Ular? Julukan ku lebih mulia dari pada kau anak haram yang lahir dari selingkuhan ibu mu," ceplos Yohana membuat Ana sangat marah.


Plakk


Ia menampar kuat pipi Yohana yang telah berbicara seenaknya. Wanita itu sangat marah saat dikatai seperti itu.


"KAU!! JANGAN PERNAH MENGHINA IBU KU!!"


"TAPI APA YANG KU KATAKAN BENAR!!" teriak Yohana yang tidak ingin kalah dari Ana.


Ana mengepalai tangannya ia lebih dulu menurunkan Carol dari gendongannya dan meraih rambut Yohana kencang dan wanita itu langsung memekik tertahan.


Yohana berusaha menahan sakit di kepalanya karena tarikan keras Ana. Belum lagi wajahnya yang masih merah karena tamparan Ana.


Yohana tidak tinggal diam tatkala ia diperlakukan sangat buruk oleh Ana. Ia pun membalas hingga keributan terjadi di ruang tengah membuat Carol makin menangis kencang.


Dari arah dapur Rigel dan Yohana berlari cepat ke ruang tengah dan sangat terkejut melihat Yohana dan Ana beradu mekanik.


"Ana!! Yohana jangan bersikap seperti kekanak-kanakan," marah Rigel menengahi pertengkaran itu.


Keduanya sama-sama dalam kondisi yang sangat menggenaskan membuat keduanya terlihat kacau dan rambut acak-acakan.


Ana berlari ke dalam pelukan Quenna. Sementara Carol juga tengah digendong oleh Quenna.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya lembut Quenna pada Ana sambil melirik Yohana.


Tidak Ana saja yang ingin beradu duel dengan Yohana akan tetapi Quenna juga sangat geram pada wanita itu ingin menghabisinya dengan tangannya.


Sedangkan Rigel benar-benar pusing kemarin ia menemukan Quenna berkelahi dengan Yohana sekarang ia menemukan adiknya juga tengah berkelahi dengan Yohana.

__ADS_1


"Dia membentak Carol dan mengatai ku anak haram," tangis Ana pecah.


Quenna menutup mulutnya dan matanya menatap nyalang Yohana. Yohana mendecih dan pergi begitu saja.


Rigel menahan napas dan menatap Quenna agar mengurus adiknya sementara ia akan mengurus Yohana.


"Kau tenangkan Carol dan Ana." Quenna mengangguk dan melihat Rigel yang mengejar Yohana.


Quenna membawa Ana ke kamarnya. Caroline juga sudah berhenti menangis. Anak itu tak lagi rewel dan mulai tenang.


"Kau tak apa?" tanya Quenna dengan penuh hati-hati memeriksa tubuh Ana takut jika terdapat cedera.


Ana tak bisa menghentikan tangisnya. Ucapan Yohana benar-benar memengaruhi mentalnya.


"Aku tidak terima dikatai seperti itu meksipun itu kenyatannya," ujar Ana membuat Quenna bersimpati.


"Tenanglah, kau akan aman bersama ku. Terimakasih sudah membela anak ku," senang Quenna dan memeluk tubuh Ana.


Ana mengangguk dan mengahapus air matanya. Ia melihat Carol yang baik-baik saja sudah membuat Ana sangat senang.


"Aku beruntung bisa mengenalmu," ucap Ana dan tersenyum simpul.


Ana menarik napas dalam lalu menatap ke arah luar jendela yang tampak terlihat sangat bebas. Ia melirik Quenna juga menatap ke arah situ.


"Bagaimana ya Viktor di sana? Apa dia akan marah jika tahu aku keguguran." Quenna tersenyum pahit dan melirik Ana yang juga wanita kuat sanggup berhadapan dengan masalah besar. "Aku benar-benar salut dengan mu yang kuat menghadapi keadaan."


"Apa katamu? Aku juga tidak sekuat itu. Aku terlalu cengeng hingga bisa ditindas."


Mereka tertawa bersama melihat masa depan yang sangat curam dan tak memiliki harapan. Keduanya adalah wanita yang sangat putus asa.


"Viktor tidak mungkin marah jika tahu kau keguguran, dia sangat mencintai dirimu pastinya dia akan menyemangati mu," ujar Ana yang juga bertanya-tanya bagaimana kondisinya Viktor.


"Maafkan aku juga mencintai orang yang sama seperti mu," batin Ana berbicara.


__________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2