
Quenna tak dapat menggerakkan tubuhnya dengan baik. Bahkan ia tidak bisa berjalan dan kesulitan untuk melangkah hingga ia pun menggunakan kursi roda.
Viktor mendorong kursi roda Quenna ke meja makan. Ia mencium puncak kepala wanita itu dan merapikan penampilan Quenna.
Quenna sangat merasa hina bahkan orang yang melayaninya hingga ke hal yang paling pribadi adalah kakaknya. Quenna hancur melihatnya, ia bak orang rendahan dan tidak bisa melakukan apa pun dengan kondisinya yang lemah.
Quenna menatap kakaknya. Ia tersenyum melihat topeng sang kakak, bagaimana rupa kakaknya sekarang? Apakah sangat tampan seperti dulu? Quenna sangat penasaran.
Viktor mengangkat alisnya tidak mengerti dengan tatapan sang adik. Ia menyentuh wajahnya dan sadar apa yang tengah diperhatikan sang adik.
"Aku tidak akan membukanya," ujar Viktor dingin dan menjauh dari Quenna. Ia menyiapkan makanan untuk wanita itu.
Quenna tertunduk dan meneguk ludah kasar. Kakaknya sangat egois apa pun segala hal darinya harus diketahui oleh lelaki itu, tapi segala hal yang ia ingin ketahui dari kakaknya menjadi larangan keras.
Quenna merasa semua ini tidak adil, tapi bagaimana cara ia protes? Semuanya telah digariskan dan manusia hanya tinggal menerima takdirnya.
"Ya aku tahu," jawab Quenna lemah nyaris tidak terdengar, tapi Viktor dapat mendengar gumaman wanita itu.
Diam-diam ia tersenyum dan memasukkan beberapa lauk pauk kesukaan Quenna ke dalam nasi yang akan disantap Quenna.
"Kau harus makan, aku tidak ingin kau menjadi sakit." Quenna mengangkat kepalanya dan memandang pria itu tidak percaya.
Apa katanya tadi? Dia tidak ingin Quenna sakit? Nyatanya lelaki itu sumber penyakitnya. Menghukum dan hobi mencambuk tubuhnya apakah itu selama ini adalah vitamin untuk tubuhnya?
Omong kosong dari mana. Quenna jijik mendengarnya, ia memandang intens sang kakak dan hendak meraih piring di tangan sang kakak. Ia bisa makan sendiri tanpa perlu bantuan pria itu.
"Aku bisa melakukannya sendiri, serahkan itu pada ku," ujar Quenna merebut piring di tangan Viktor dan pastinya Viktor tidak segampang itu menuruti keinginan Quenna.
Ia menarik napas panjang dan menahan dahi Quenna. Quenna menatap mata Viktor dengan mata bulatnya. Sejenak otaknya berhenti bekerja karena terpana dengan bola mata indah pria itu.
Melalui bola matanya saja kakaknya bisa menghipnotis dirinya dan menghancurkan pertahanan Quenna.
"Aku yang akan menyuapi mu," ujar Viktor dan menyodorkan sendok ke mulut Quenna.
Dengan mata masih memandang sang kakak ia membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya tadi.
"Kaka."
"Ada apa dengan mu? Kau sakit?" tanya Viktor khawatir dan menyentuh kening Quenna.
Tatapan panik begitu pekat di mata Viktor, badan Quenna memang panas. Viktor berteriak memanggil para pelayan. Ia menggerutu marah melihat keleletan pelayannya.
__ADS_1
"Kau membuat obat atau mengambil obat?" pungkas Viktor yang sudah termakan api emosi.
Pelayan tersebut tidak berani berbuat apa-apa dan menunduk sambil menggeleng. Quenna meminta Viktor agar tak memarahi pelayan yang tak bersalah itu.
"Kak."
"Ya?" Viktor memberikan obat tersebut dan meminta Quenna memakannya.
Tidak ingin memperpanjang masalah Quenna lantas meraih obat itu dan meneguknya.
"Aku suka kau menurut seperti ini."
"Kak," lirih Quenna seperti hendak mengungkapkan sesuatu.
Viktor menaikkan alisnya dan menunggu perihal apa yang ingin disampaikan Quenna.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Ya." Quenna menundukkan kepalanya dan mendongak kembali, "sikap mu yang seperti ini mengingatkan ku dengan sosok kakak yang sangat aku sayangi dan sekarang aku tidak tahu kemana sosoknya pergi. Aku merindukannya untuk kembali."
Viktor menarik napas dalam dan melemparkan sendok ke atas piring hingga menghasilkan dentingan keras.
"Aku kakak mu dan aku masih sama."
"Tidak, aku tak merasakannya," sangkal Quenna cepat dan tertawa kecil.
Ia menatap masam dirinya sendiri dan mengingat hal yang selalu diperbuat Viktor, itukah yang disebut kakak? Apa yang telah Viktor lakukan selama ini padanya adalah sikap seorang kakak sesungguhnya?
Ia tidak tahu bagaimana cara menyadarkan Viktor. Selain itu juga Quenna masih sangat penasaran kenapa Viktor bisa berubah seperti ini.
"Quenna, jangan membuatku marah. Hentikan pembahasan itu. Apakah kau bisa tidak membahasnya setiap kita bersama? Aku lelah dan ingin menikmati waktu ku bersama mu dengan tenang."
Prang
Quenna menjatuhkan piring makannya dan menatap makanan yang tertumpah itu dengan perasaan kecewa.
"Aku manusia Kak, aku bukan budak mu, aku adik mu. Bagaimana bisa aku tidak mengungkitnya setiap hari, aku tidak bisa Kak. Aku ingin mengejar mimpi ku, dan menikah dengan orang lain."
Mata Viktor membulat dan tangannya mengepal. Refleks ia menampar Quenna membuat Quenna terkejut dan menyentuh wajahnya yang memerah.
"Kak, kau bisa tidak menampar ku sehari saja?"
__ADS_1
"Ini semua salahmu yang mengungkit hal itu setiap hari. Satu lagi yang perlu kau ingat, aku tidak akan pernah membiarkan kau menikah dengan orang lain."
Quenna tertawa gelak dengan ucapan sang kakak. Ia yakin pria di depannya ini memang sudah tidak waras. Tidak mungkin ia mengabdi di rumah ini selamanya.
"Kak, apakah kau akan mengurung ku selamanya di sini? Bagaimana dengan anak istri mu nanti? Kau pasti akan memiliki keluarga juga, bukan?" Quenna merasa benar dengan ucapannya. Umur kakaknya sudah matang dan sudah saatnya kakaknya itu melepaskan masa lajangnya.
Viktor tidak menjawab dan ia lebih fokus mengintimidasi dirinya. Quenna menelan ludahnya dan menggigit bibirnya.
Mata Quenna terbelalak dengan aksi sang kakak yang tiba-tiba menyerangnya dengan sebuah ciuman kasar. Ia tidak membalas ******n bibir sang kakak yang terkesan terburu-buru dan menuntut.
Quenna menepuk dada Viktor dengan keras. Ia kehabisan napas di bawah kendali Viktor. Viktor pun bersedia melepaskannya dan membiarkan Quenna menghirup udara dengan rakus.
"Kak," rintih Quenna dan menatap dirinya lalu sang kakak bergantian.
"Hm?" Viktor meraih dagu Quenna dan ia mendekatkan ke arah dirinya.
Ia memandang serius bibir Quenna yang merah dan bengkak karena ulahnya. Viktor tersenyum miring dan mengusap bibir Quenna yang masih tertinggal salivanya.
"Ini hanya milik ku, tidak boleh yang lain menyentuhnya." Viktor mengulangi lagi perbuatannya.
Quenna terkesiap dan kali ini ia lebih siap. Ia membiarkan sang kakak melakukan itu sepuasnya. Quenna mencengkram dada Viktor untuk menguatkan dirinya.
"Kakak berhenti aku kehabisan napas."
Viktor melepaskan tautan mereka dan mencium leher Quenna sekilas hingga menyisakan jejak merah.
"Aku sudah menyediakan pelayan pribadi untuk mu." Viktor menoleh ke samping dan memanggil pelayan pribadi tersebut, "Ana!!!!"
Ana yang dipanggil cepat memenuhi panggilan dan menghampiri sang majikan. Ia menunduk hormat, terlihat wanita itu sebaya Quenna.
Sengaja Viktor memilihnya untuk menjadi teman Quenna. Ia tahu wanita itu sangat kebosanan.
"Ya Tuan."
Viktor melirik Quenna lalu tersenyum simpul, "sekarang dia adalah pelayan mu, dan Kau Ana harus melayaninya dengan baik. Jangan biarkan dia pergi dan tetap awasi dia, laporkan setiap saat tentang dirinya pada ku."
Ana mengangguk patuh. Quenna merasakan dua hal sekaligus, ia merasa bahagia karena memiliki teman di sini, tapi di sisi lain ia juga sedih karena Ana secara tidak langsung adalah mata-mata Viktor.
_______
Tbc
__ADS_1