Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 56


__ADS_3

Suara kicauan burung yang berterbangan di atas atap rumah membuat seseorang terganggu karenanya. Ia membuka matanya secara perlahan dengan cahaya silau yang membuat kepalanya berdenyut menyambut penglihatannya pertama kali.


Sontak langsung saja ia menutup matanya kembali dengan rapat-rapat. Ia menyentuh kepalanya yang amat pening itu lalu menarik napas panjang menyesuaikan dengan keadaan.


Perlahan ia kembali membuka matanya dan sedikit lebih baik dari sebelumnya. Wanita itu menyipitkan mata menatap sekitar ruangan yang sangat asing.


Tapi nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ia masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Ia pun bangkit dari tidur panjangnya dan bersandar pada belakang ranjang.


Kini ia bisa melihat dengan jelas dan wanita tersebut sangat terkejut saat mengetahui tempat ini tidak dikenalnya sama sekali.


Ia pun mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Setelah berpikir sangat keras Quenna pun mulai mendapatkan seluruh ingatannya. Terkahir kali ia bersama Viktor dan pria itu tiba-tiba membekapnya dan setelah itu Quenna pun tak ingat apa-apa.


Ia menyentuh kepalanya dengan panik. Lantas perempuan tersebut beranjak dari ranjang dan menghampiri bibir pintu kamar.


Ia ingin membukanya tapi tampaknya pintu itu dikunci dari luar. Quenna mendesah panjang dan berjalan gontai menuju jendela. Apa ini bagian dari seluruh rumah Viktor yang ada di Inggris? Tapi kenapa ia melihat pemandangan di tempat ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Sebenarnya ia ada di mana?


Quenna sibuk bertanya-tanya akan hal itu. Tapi yang lebih ia khawatirkan bagaimana keadaan Carol sekarang.


"Seharusnya aku memang tidak harus percaya laki-laki itu. Ia adalah iblis," lirih Quenna yang sekarang hanya tersisa penyesalan.


Telinganya terangsang saat mendengar suara decitan pintu. Ia berbalik dan menatap dari arah tersebut seorang pelayan masuk ke kamarnya.


Quenna mengerutkan kening pasalnya ia belum pernah melihat pelayan ini selama tinggal di rumah kakaknya. Apakah pria itu memperkerjakan pelayan baru?


Tapi entah kenapa ia langsung teringat dengan rumahnya. Ia belum pulang ke tempat itu beberapa Minggu ini. Sama juga ia belum pergi ke markasnya di Inggris. Ia sangat rindu untuk melakukan pekerjaannya kembali.


"Bibi kau tahu di mana tempat ini?" tanya Quenna dengan lembut mengimbangi lawan bicaranya yang berkepribadian halus.


Pelayan itu yang semula menunduk lantas sedikit mengangkat kepalanya. Ia tersenyum kepada majikan lalu memberitahu kepada nona baru mereka itu dengan suara yang sangat halus.


"Nona, Anda ada di rumah pak Viktor."


"Oh syukurlah. Aku pikir aku dibawa ke mana ternyata masih di Inggris saja," lega Quenna dan duduk di sisi ranjangnya.


Wanita itu membenahi rambutnya dan menyanggul. Ia menatap ke kaca yang tak jauh berada dari tempatnya lalu menarik napas saat melihat penampilannya sangat tak terurus.


"Maksud Nona? Kau tidak sedang di Inggris Nona, tapi kau sedang di Amerika," beritahu sang pelayan yang tidak mengerti ucapan Quenna yang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan.


Quenna langsung berdiri dari tempatnya. Ia sangat syok mendengar kenyataan itu. Tubuhnya bergetar dan wajahnya berubah panik.

__ADS_1


Wanita itu menelan ludah dengan perasaan tak nyaman. Napasnya beberapa kali berhembus kasar. Ia menatap pelayan itu lalu merebut nampan yang dibawanya dan memakan makanan itu dengan lahap untuk menimalisir perasannya.


"Laki-laki itu memang gila. Kenapa aku bisa dibawa olehnya ke Amerika." Quenna memikirkan berbagai hal yang akan diterima di negara terkutuk ini.


Ia menatap kesal pelayan itu dan membalikkan nampan di tangannya kepada pelayan tersebut dan meminta ia pergi dari kamarnya karena Quenna ingin menyendiri terlebih dahulu.


"Apa maksudmu, Kak." Quenna menarik napas panjang. Jadi ini alasan Viktor membuatnya pingsan agar bisa membawanya ke Amerika kembali.


Padahal tidak pernah sekalipun ia berniat datang ke Amerika lagi jika bukan karena urusan penting. Kini tanpa ia sadari ia telah memijak tanah itu lagi.


Wanita itu berjalan mondar-mandir memikirkan cara kabur dari tempat ini. Ia menggigit jarinya lalu mendesah panjang saat tak mendapatkan ide apa pun.


"Kenapa aku menjadi bego seperti ini? Kakak si.alan!!" Tapi meski begitu ia mencintainya meskipun juga membencinya.


____________


Dor


Dor


Dor


Pria itu menelan ludahnya kasar dan mengumpat sembari sangat marah besar saat mengetahui wanita tersebut hilang.


Ia terjatuh tak berdaya bagaikan orang rapuh. Baru kali ini anak buahnya melihat bos mereka sangat lemah.


Viktor menangis sejadi-jadinya sambil melempar benda apa pun ke mana pun. Ia mengamuk seperti orang kesetanan menembaki para bodyguard yang tidak bersalah.


Lantas mereka lari luntang lantung membiarkan Viktor melupakan amarahnya terlebih dahulu.


"Biji.ngan, ban.gsat, to.lol!!! Fuc.k u!!!" Ia meremas rambutnya lalu berdiri dengan sangat lemah. "RIGEL!!! KAU AKAN MATI SEKARANG JUGA, HAHAHAHAHHAHA!!"


Viktor meremas gelas yang ada di tangannya hingga gelas itu pecah tetapi ia tetap mencengkam pecahan dari kaca tersebut.


Darah menetes dari tangannya, itu adalah bentuk saksi akan janji Viktor yang akan membunuh Rigel dengan tangannya.


Tidak sekalipun Rigel pantas hidup. Laki-laki tersebut membuatnya tersudut.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan Viktor mengernyit heran saat melihat nomor yang tidak dikenal menelponnya.

__ADS_1


Ia pun mengabaikan dan ingin melemparkan ponsel tersebut, namun tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak pria itu.


Ia pun mengurungkan niatnya dan mengangkat telepon orang itu. Awalnya tak ada suara tapi si penelpon meminta agar melakukan panggilan video. Viktor pun setuju dan matanya kontan membesar saat melihat wanita tua bernama Celine tersebut tengah dibekap dan diborgol.


"WOI BANGS.AT!!! LEPASKAN DIA!!" marah Viktor yang menggebu-gebu. Napasnya memburu dan cepat keluar dari ruangannya menuju parkiran.


Tiba-tiba suara devil penuh tawa gelak pun muncul di layar ponsel tersebut. Viktor sangat geram melihat Rigel yang penuh dengan senyum kemenangan tersebut.


"Kau ingin wanita ini, ya?" tanya Rigel pura-pura bodoh. Ia tersenyum lirih dan menatap sendu Viktor di seberang sana. "Sayangnya aku tak bisa memberinya begitu saja!"


"Rigel... Kau!!"


"Kenapa?"


Viktor memukul stir mobilnya dan mendesis sangat marah. Ia mengepalkan tangannya dan hatinya gundah gelisah tidak tenang.


"Aku akan membunuh mu!"


"Omong kosong macam apa ini. Jika kau ingin wanita ini gampang saja. Aishh, aku baru tau jika hidup mu sangat broken home. Ternyata wanita lusuh ini adalah ibu mu? Dan kau dimanfaatkan oleh orang tua angkat mu ya rupanya. Hahahaha, dan dia juga yang membunuh keluarga mu, ayah, adik, kakak mu, ya? Kasihan sekali, pasti selama ini kau sangat menderita! Hahahha!!"


Viktor sangat marah. Ia menggeretak Rigel di seberang sana. Hatinya terbakar oleh ucapan Rigel.


"Katakan apa yang kau inginkan, bang.sat!!"


"Aku menginginkan pelayan mu itu! Aku tahu kau sudah menemukannya!"


Viktor langsung mematikan sambungan telepon itu dan membuang telepon selulernya tersebut.


Ia membuka pintu mobil dan keluar menyiapkan pasukannya. Viktor sangat marah masih terbayang akan ucapan Rigel tadi.


Ia menatikkan air matanya dan menjatuhkan senjatanya.


"Maafkan aku ibu belum bisa melindungi mu!"


__________


Tbc


BUDAYAKAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMEN UNTUK MEMBERIKAN DUKUNGAN KEPADA KARYA INI

__ADS_1


__ADS_2