
Ia menggelengkan kepala lemah seraya menghapus bulir air mata dengan kekuatan tenaga yang tersisa.
Jiwa yang begitu menyedihkan hanya tinggal fisik yang terlihat hidup tapi nyatanya perasaannya mati. Quenna tak tahu arah mana hidupnya.
Kenyataan yang baru saja diterimanya sukses membuat Quenna merasa jika ia sudah benar-benar hancur. Padahal dirinya sudah berhasil kabur dari pria itu.
Tapi, ternyata keegoisan Viktor masih meninggalkan jejak hidup bersamanya. Buah hasil perbuatannya dengan Viktor kini ada di dalam dirinya.
Lelehan di sudut matanya bak tiada arti dan terus mengalir bagaikan sumber mata air. Hanya dirinya sendiri yang mengerti sakitnya, bahkan orang yang melihatnya tak dapat merasakannya.
Quenna terus mengusap perutnya sambil otaknya membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Ia tidak ingin anak itu terus bersamanya, Quenna harus melenyapkannya sebelum anak itu terlanjur hidup.
Quenna bisa merasakan sakitnya jika anak itu akan tumbuh. Tentu ia tak sesempurna yang lainnya, dan cemoohan harus diterima. Dari pada ia melihat anak itu menderita lebih baik ia akan membunuhnya.
Quenna yakin bahwa ia hamil. Lagi pula ia jarang meminum pil yang diberikan Viktor dulu. Tapi yang membuat Quenna salut itu adalah anaknya bisa bertahan pas ia masih dalam kondisi kritis.
Sekarang Quenna berharap anak itu harusnya tiada dulu, tapi Tuhan berkehendak lain.
Quenna memejamkan matanya berbarengan dengan luruhnya bulir air mata. Rigel yang menatap Quenna dari tadi hanya bisa diam.
Ia menghampiri Quenna dan menyentuh tangan wanita itu lembut. Rigel yang biasanya penuh dengan aura kelam dan dingin secara tiba-tiba berubah menjadi sosok yang hangat.
"Quenna!"
"Rigel bunuh aku, hiks, aku tidak ingin ada di dunia ini," rintih Quenna sambil terisak-isa.
Rigel menatap Quenna tak percaya. Ia meminta suster di ruangan itu memanggil dokter. Dirinya tak menyangka dengan ucapan Quenna, tapi wajar jika wanita itu ingin mengakhiri hidupnya.
Jika ia memiliki posisi yang sama dengan Quenna mungkin dia juga bakal berpikir sama dengan Quenna.
"Quenna tenanglah, jangan katakan itu lagi, aku tak suka mendengarnya. Kau sudah aku bebaskan dari Viktor, kau bisa menikmati hidup mu dengan sesukamu. Lupakan masa lalu dan bukalah lembaran baru." Rigel mengusap kepala Quenna dan memberikan secerah harapan untuk Quenna berpikir jernih.
Tangis Quenna terhenti, tapi tangannya senantiasa mengusap perut tersebut. Kenapa ia bisa hamil? Quenna menarik napas panjang dan menatap Rigel.
"Kau tidak mengerti perasaan ku. Diam lah Rigel, jangan membuatku seolah-olah memiliki hutang dengan mu. Aku keluar bukan atas permintaan ku, jadi ku anggap ini keberuntungan," ujar Quenna dengan suara lemahnya.
Ia menatap ke atas dengan rasa sakit yang terus menyerang di area perutnya. Wanita tersebut berusaha melawannya dengan bantuan Rigel.
__ADS_1
"Quenna kau turuti lah keadaan sekarang."
"Aku ingin mati Rigel. Jangan seolah-olah kau paling mengerti aku, kau tidak tahu anak ini akan menjadi sial."
Rigel diam dan meletakkan telunjuknya di bibir Quenna. Ia menatap dalam mata wanita itu.
"Quenna yang ku kenal orangnya baik dan tidak tega untuk membunuh, apalagi dia anak mu."
Quenna menjauhkan telunjuk Rigel lalu meremas tangan pria itu.
"Yang ku tahu Rigel adalah pria yang dingin dan tidak pernah peduli sesamanya, jika kau bisa berubah kenapa aku tidak?"
Rigel terdiam dan kehabisan kata-kata. Ia menatap wanita itu dengan lirih. Satu hal yang membuatnya sadar, rupanya ia telah berubah banyak.
Sejak kapan ia menjadi peduli dengan wanita? Rigel juga heran dengan dirinya sendiri.
Tidak lama datanglah dokter dengan jalan terburu-buru habis memeriksa pasien lain. Ia menghadap Rigel dan mohon maaf dengan keterlambatannya.
"Suntik dia dengan obat penenang," kata Rigel sambil melirik Quenna yang hendak memukuli perutnya.
"Menjauh lah!" dokter itu tak menghiraukan Quenna dan tetap menyuntikan cairan penenang ke dalam tubuh Quenna.
Quenna yang semula hendak melawan langsung merasa kantuk dan tertidur. Rigel pun bernapas lega dan menatap dokter itu dalam.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Rigel dengan aura dinginnya yang kembali, wajahnya bahkan bak tembok datar tak memiliki ekspresi.
Dokter tersebut tersenyum dan menjelaskan jika Quenna dalam keadaan lemah. Ia tidak boleh banyak setres karena itu akan memengaruhi kepada anaknya dan juga kepada imunnya.
Bagaimanapun Quenna baru sadar, tapi dengan membuatnya tidur kembali itu juga pilihan tepat.
_________
Viktor keluar dari ruang rapat dengan langkah gontai. Lingkaran hitam di matanya serta tubuhnya yang makin terlihat kurus sudah pasti menandakan jika ia tidak banyak tidur dan kelelahan.
Tapi sepertinya pria tersebut sama sekali tak memperdulikan kesehatannya. Ia terlalu banyak bekerja hingga melupakan hal-hal penting tersebut.
Pria itu yang dulu sangat gagah dan berani serta cerdas saat rapat sekarang malah kebalikannya. Rapat tadi tak memberikan hasil apa pun untuk menghadapi Yohana Kim yang terang-terangan ingin menjatuhkan dirinya dan perusahaannya.
__ADS_1
"Tuan beristirahatlah dulu!" pinta Prima yang menuntun tuannya.
Viktor sampai geram sendiri dengan Prima yang berani memerintah nya. Ia menatap Prima dengan sengit dan karena tatapan itu telah membuat Prima mundur dan menutup mulutnya.
"Aku tidak ingin kau memerintah ku! Aku bisa mengatasinya sendiri."
Nasehat dari Prima diabaikan dan Viktor masuk ke dalam ruangannya. Matanya melirik pada pajangan gambar yang cukup besar di ruangan itu.
Viktor mendekati fotonya dan Quenna. Senyumnya terukir tapi jelas matanya tidak bisa membohongi jika ada kesedihan di dalam sana.
Prima menunduk tapi masih dapat melirik foto itu. Ia melirik sang tuan lalu menghela napas panjang.
"Apa ada kabar darinya?"
"Tuan dari penyelidikan kami, kami menemukan jika Nona tidak ada di Amerika melainkan di luar dari negara. Kekuatan Rigel tidak dapat diremehkan dan kami memiliki anggapan jika Yohana dan Rigel bekerjasama dari bukti-bukti yang sudah dikumpulkan. Mereka juga memiliki jebakan, tapi saya akan berusaha tetap melindungi Tuan."
"Kau harus melindungi Quenna, cari dirinya jika kau masih ingin melihat matahari besok."
Viktor berjalan menuju kursinya dan menatap semua berkas di mejanya. Ia menarik napas lelah lalu melanjutkan untuk bekerja.
Akhir-akhir ini kesehatannya menurun. Ia lebih banyak merasakan pusing bercampur mual. Viktor juga tak mengerti dengan tubuhnya yang sangat sensitif.
Mual diiring pusing kembali menyerangnya. Viktor menyentuh kepalanya lalu berlari ke kamar mandi.
Ia memuntahkan cairan kental ke dalam wastafel. Pria itu meremas kepalanya dan menarik napas panjang.
"Ada apa dengan ku? Kenapa belakangan ini sering mengalami hal serupa? Apakah ada penyakit baru?" Pertanyaan-pertanyaan pun timbul.
Viktor keluar dari kamar mandi tersebut dan mencari Prima agar pria itu bisa memanggilkan nya dokter.
_______
Tbc
Hay teman-teman aku bawain rekomendasi baru nih buat kalian, jangan lupa mampir juga yah, difavoritkan. seru bgt
__ADS_1