
Suasana menegangkan begitu kentara di malam sunyi. Ruangan bawah tanah yang sangat lembab dan juga dingin begitu mengerikan bagi mereka yang disiksa tanpa henti.
Viktor menggenggam erat tangannya dan meraih besi yang sudah dipanaskan lalu memukulkan kepada dua orang secara bergantian.
Orang-orang tersebut adalah orang yang telah berani mengintai perusahannya. Amarahnya tak dapat dibendung lagi dan sudah barang tentu nasib mereka tidak akan berakhir dengan mudah.
Mereka tidak dibiarkan mati dan juga tidak dibiarkan tenang. Viktor tidak akan memberikan celah sedikitpun mereka dapat bernapas dengan damai.
Plakkk
Suara nyaring akibat dari pukulan besi panas di tubuh salah satu dari kedua orang itu. Suara teriakan dan permohonan menggema memenuhi ruangan kedap ini.
Viktor membuang asal besi itu dan berjalan cepat ke arah mereka. Ia mencengkram kedua rahang milik pria tersebut dan mencekik leher mereka.
Keduanya tersengal-sengal dan berusaha melepaskan diri dari siksaan Viktor.
Viktor menjauhkan tangannya dan mengamati kedua orang itu. Wajah mereka tidak pernah dilihat oleh Viktor sebelumnya dan saingannya mana yang mengirimkan dua orang ini.
"Katakan siapa orang yang menyuruh kalian?!" tanya Viktor penuh selidik dan penuh intimidasi.
Kedua orang itu menatap Viktor dan tidak sama sekali berniat menjawab pernyataan pria itu. Viktor geram dibuatnya dan meraih gelas wine yang dipegang Prima.
Ia menghancurkan gelas kaca tersebut dan memungut belingnya. Ia tersenyum miring dan mendekati mereka.
"Masih tidak ingin mengaku? Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya aku bisa menyelidikinya sendiri. Tentunya kalian tidak akan selamat dari sini, bagaimana kau menikmati cemilan dari ku dulu? Bukannya tamu harus disambut ya?" Viktor mengelilingi tubuh mereka dan menatap pecahan kaca di tangannya.
Ia mengambil air yang sangat panas dan sudah dituangkan di dalam gelas. Pria itu meletakkan di depan kedua orang itu.
"Aku tahu kau sangat kehausan. Kalian juga boleh meminumnya, bagaimana aku baik hati, bukan?"
Orang itu bergidik ngeri ketika mulutnya hendak dibuka paksa dan beling kaca itu hendak dimasukkan ke dalam mulutnya.
Mereka berusaha melawan tapi tak bisa. Tidak ada pilihan lain selain mengakui segalanya.
"Tuan maafkan saya, saya akan memberitahu Anda," lirih salah satunya.
Rekannya melirik temannya yang hendak mengaku. Ia melarang pria itu tapi ia tidak memiliki cara untuk menghentikan temannya.
Viktor melirik kesal orang tersebut dan menampar wajahnya sangat keras.
__ADS_1
"Jangan mengacau," ucapnya.
Orang tersebut merintih kesakitan akibat tamparan Viktor yang terbilang sangat keras. Ia sudah tak berdaya dan lemah, sekedar berucap pun sudah tak sanggup.
Tubuh mereka disalib hingga tak memungkinkan keduanya untuk bergerak dengan bebas.
Orang yang hendak mengaku tadi menatap Viktor dengan dalam. Ia menarik napas dan mengatakan semuanya.
"Yohana Kim yang mengirim kami, dia meminta kami memata-matai Anda Tuan. Saya sudah mengaku dan mohon maafkan saya," pintanya dengan lirih.
Viktor sejenak terdiam di tempatnya. Ia seperti tengah berpikir keras. Yohana Kim? Viktor rasa nama itu sangat familiar di telinganya. Setelah diingat-ingat lagi Yohana Kim adalah wanita yang pernah dekat dengannya.
Bahkan wanita itu pernah mengklaim dirinya adalah pacar dari laki-laki tersebut di awak media. Viktor menggenggam tangannya erat, berani-beraninya wanita itu berurusan dengannya.
Viktor berjalan meninggalkan tempat itu. Prima menatap sang tuan lalu mendekati keuda orang tersebut. Ia pun menembak mati keduanya dalam hitungan detik.
"Bereskan semuanya dan pastikan tidak ada yang tahu. Alihkan semua media dan mutilasi jasad mereka hingga tak dikenali. Lalu berikan kepada peliharaan tuan," perintah Prima kepada anak buah yang lain.
________
Mata Viktor menggelap melihat tangan Quenna yang disentuh oleh seorang pelayan pria. Ia berjalan dengan amarah yang berkabut di matanya dan menampar pelayan itu penuh tenaga.
"Viktor hentikan dia bisa mati," pinta Quenna dan berusaha menolong pelayan pria yang dipukul Viktor hingga babak belur.
Viktor menjauhkan kasar tangan Quenna yang menghalangi dirinya. Ia menatap wanita itu tajam lalu beralih kepada tubuh yang sudah tak berdaya.
Ia mencengkram kerah baju orang tersebut lalu menatapnya dengan marah.
"Berani-beraninya kau menyentuh tangannya!!" marah Viktor lalu meninju sekali lagi wajah pria itu.
Viktor hendak menembakkan pistol di tangannya ke pelayan itu. Pelayan tersebut juga sudah pasrah dengan takdirnya, ia siap ditembak mati. Tapi Quenna tak akan tinggal diam.
Sekuat tenaga ia menghentikan Viktor dan merebut pistol dari tangan Viktor. Quenna membuang pistol milik pria tersebut dengan jauh.
"Viktor hentikan perbuatan mu!! Dia bisa mati! Kau benar-benar gila Viktor, apa salahnya? Dia hanya menolong ku mengobati luka di tangan ku!!" ujar Quenna dengan Isak tangis seraya mengulurkan tangannya untuk memperlihatkan luka di telunjuknya. "Kau memang benar-benar tak punya hati. Kau hanya bisa membunuh dan membunuh!!"
Viktor menarik napas dan melepaskan orang tersebut. Ia meraih tangan Quenna dan menariknya tergesa-gesa menuju ruang tamu.
Ia mengulum tangan Quenna yang terluka. Quenna terkejut melihat jarinya berada di mulut pria itu.
__ADS_1
Ia berusaha menarik tangannya dari kulum*an Viktor tapi ditahan oleh pria itu. Laki-laki tersebut melihat luka di telunjuk Quenna.
"Kenapa kau bisa sampai terluka?"
Quenna diam tidak menjawab sama sekali. Kenapa Viktor peduli dengan luka itu? Bahkan pria tersebut sering memberikan luka di tubuhnya tapi tak pernah khawatir berlebihan seperti ini.
Viktor menyentuh luka Quenna dan menarik napas panjang. Ia tersenyum dan menyentuh wajah Quenna.
"Quenna jawab pertanyaan ku!"
"Aku terluka saat membuatkan makanan untuk mu," ucap Quenna terus terang. Ia tersenyum masam lalu menatap pria itu dengan serius, "apakah kau sudah puas?"
"Maafkan aku."
Viktor memeluk tubuh Quenna sangat erat. Ia mengusap punggung wanita tersebut dengan lembut.
"Ada apa? Ada yang menggangu pikiran mu?"
"Aku merindukan mu," aku Viktor dan menatap manik indah milik adiknya.
"Kaka."
Viktor mendekatkan wajahnya kepada Quenna. Wanita itu mencengkam baju Viktor dengan kuat. Ia memejamkan matanya melihat Viktor makin mengikis jarak di antara keduanya.
Bibir lembut milik Viktor bersentuhan dengan bibir merah milik Quenna. Pria itu melum*at kasar bibir Quenna hingga wanita itu merasa tubuhnya hendak ambruk.
Cepat Viktor menahan tubuh Quenna dan membaringkannya di atas sofa. Viktor bermain liar dan begitu memabukkan.
Perempuan tersebut sampai kelelahan dan ia tidak membalas tapi sangat menikmati. Tangan Viktor juga telah menjelajah di dada Quenna.
Quenna mengeluarkan desahannya yang sangat lembut di telinga Viktor. Lelaki itu tersenyum mendengarnya.
Ana yang hendak menemui Quenna terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Nampan yang berada di tangannya jatuh ke lantai akibat sangat syok.
Ia menutup mulutnya tak percaya. "Apa aku tidak salah lihat? Mereka.... Oh Tuhan.."
_______
Tbc
__ADS_1