
Tok
Tok
Tok
"Quenna! Kau ada di dalam?!" seru orang dibalik pintu begitu tergesa-gesa.
Viktor yang sedang bersamanya pun menghentikan aktivitasnya pada tubuh Quenna. Ia menatap pintu tersebut dengan padangan kesal. Pria itu melihat Quenna yang tengah memandangnya dengan permohonan besar.
"Rigel siala.n!"
Terpaksa Viktor harus menghentikan perbuatannya dan menyingkir dari tubuh Quenna. Senyum Quenna terukir tipis. Ia sangat bersyukur Viktor paham dengan keinginannya.
"Terimakasih," lirih wanita itu dan memandang Viktor agar segera bersembunyi sebelum Rigel mengetahui keberadaannya.
Wanita itu sekilas tersenyum lalu membenahi pakaiannya yang sedikit melorot. Ia beranjak dari tempatnya lalu menuju pintu. Sejenak ia menoleh ke seluruh ruangan memastikan Viktor telah pergi, ia bersyukur ternyata pria tersebut sudah tidak ada.
Asal kalian tahu, Quenna sangat cemas ketika di tengah kebersamannya dengan sang kakak tiba-tiba Rigel datang kemari.
Entah hal apa yang ditakuti Quenna padahal jika Rigel masuk dan melihat Viktor sedang di dalam tentu itu akan membawa kebaikan untuknya. Ia tidak lagi terperangkap dengan Viktor.
Nyatanya Quenna memiliki rasa takut jika hal itu benar-benar terjadi. Segenap penuh perasaan, Quenna berusaha meyakinkan diri untuk membuka pintu kamar tersebut.
Ceklek
Ia menatap Rigel yang sedang memandang dirinya dengan pandangan lega. Quenna juga tidak tahu kenapa pria ini setiap kali masuk ke kamarnya pasti dengan wajah cemas.
"Kenapa lambat sekali?" tanya Rigel sembari melirik seluruh kamar Quenna.
Quenna menyadari jika tatapan Rigel seperti tengah menyelidiki kamarnya dan itu membuat Quenna merasakan gugup di dadanya. Wanita itu pun mengambil inisiatif melindungi pandangan Rigel dengan tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa. Eumm... Kenapa kau datang ke kamar ku?" tanya Quenna berusaha mengalihkan perhatian Rigel.
Ia tidak tahu jika Viktor sudah keluar dari kamarnya apa belum. Tapi perempuan tersebut besar harapan jika Viktor telah meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
"Aku hanya kelelahan saja dan sedikit merindukan mu," ujar Rigel sembari menunjukkan senyuman terbaiknya.
Wajah tampan serta aura yang dikategorikan sangat sempurna jelas berhasil menghipnotis mata Quenna. Ia memang terpana dengan senyuman Rigel tapi ia tidak mengerti kenapa sedikit terasa hambar dan seketika ia membandingkan Rigel dengan Viktor.
"Kenapa kau merindukan ku?" tanya Quenna penuh selidik. Ia sedikit tersipu dengan kata-kata pria itu.
"Apakah aku tidak boleh merindukan mu?" tanya Rigel sambil mengedipkan matanya.
Quenna tertawa karenanya. Ia membiarkan laki-laki tersebut masuk ke dalam kamarnya. Ia mengikuti Rigel dari belakang.
Rigel mengistirahatkan dirinya dan berbaring di kasur Quenna. Ia menatap seluruh ruangan ini begitu teliti.
"Kau suka kan dengan kamar mu? Jika ada hal yang membuat mu tak nyaman kau bisa mengatakannya pada ku, aku akan mendekor ulang ruangan ini untuk mu."
Quenna membulatkan matanya. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak sedang menginginkan itu. Sebenarnya yang sedang diharapkan Quenna Rigel keluar dari kamar ini.
"Eummm ku rasa tidak ada, semuanya begitu sempurna untuk ku," tutur Quenna sangat lembut didengar.
Rigel bangkit dan menatap Quenna dengan serius. Melihat Quenna yang duduk di dekatnya membuat Rigel jelas bisa mengamati wanita ini dengan jarak yang sangat dekat. Dadanya seketika tanpa diminta berdetak tak sesuai dengan biasanya.
Mata dan wajah yang memandangnya polos membuat adrenalin Rigel teruji. Sudah lama ia menahan perasaannya dan kini ia sedang dihadapi dengan tantangan ujian terberat.
Penuh dengan usaha ia menahan hasratnya dan mengepalkan tangannya. Melihat Quenna yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan tanpa terduga menyentuh wajahnya membuat dada Rigel bak meledak.
"Kenapa wajah mu memerah sekali? Apakah kau kedinginan?" tutur Quenna dengan perasaan penuh khawatir.
Ia menyentuh wajah itu dan mengusapnya. Rasanya memang panas, suhu tubuh Rigel tak sesuai dengan normalnya. Jelas di wajah Quenna menunjukkan tanda khawatir berat. Wanita ini beranjak dari tempatnya dan membuka seluruh bilik di kamar ini untuk mencari obat.
Rigel masih tidak bisa berkata-kata di tempatnya. Melihat Quenna yang panik karena dirinya Rigel sedikit senang.
Wanita itu kembali ke tempatnya dan mengoleskan obat berbentuk gel ke wajah Viktor.
"Semoga ini dapat menyembuhkan mu!"
Setelah mengobati Rigel, perempuan tersebut berdiri dan ingin meletakkan obat itu kembali. Tapi, tangan Rigel menarik lengannya hingga membuat Quenna yang tak dapat menahan keseimbangannya terjatuh dalam pelukan Rigel.
__ADS_1
Quenna sangat terkejut dan hendak menjauh. "Diamlah!"
Perempuan itu tidak mengerti dengan ucapan Rigel. Kenapa pria ini memintanya berdiam diri sedangkan ia berada di pangkuan Rigel.
"Maksud mu?"
Rigel tersenyum miring menatap wajah Quenna yang berjarak beberapa senti saja darinya. Ia semakin terpesona dengan keintiman mereka.
Quenna merasa tidak nyaman ketika harus sedekat ini dengan Rigel. Ingin menjauh tapi pria itu menahan dirinya, mana mungkin ia bisa menandingi Rigel dalam segi ketangguhan.
Jantung Quenna tidak karuan saat melihat wajah Rigel yang semakin menghapus jarak dengannya, pria itu dengan lancang mendekatkan wajahnya dan merenggut dirinya dengan sebuah ciuman.
Mata Quenna terbelalak, ia menepuk dada Rigel serta mendorongnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Quenna dengan wajah ketakutan.
Sementara Rigel sendiri tidak percaya dengan apa yang diperbuatnya barusan. Ia mengerjapkan matanya untuk menyadarkan diri sendiri yang telah mabuk karena Quenna.
Ia memalingkan wajahnya malu karena ulah pria itu sendiri. Sementara Quenna resah di tempat. Ia mencengkram selimutnya dengan erat dan menatap ke jendela.
Tidak sengaja ia melihat ada Viktor di sana. Rupanya pria itu belum pergi, Quenna sangat terkejut dengan hal barusan. Viktor melihat semuanya.
"Quenna maafkan aku," mohon Rigel seraya menyentuh tubuh Quenna dan meraih tangan wanita itu. Sayangnya ucapannya tidak didengar oleh Quenna. Wanita itu masih terpusat ke jendela. Merasa tak dihiraukan, Rigel mengikuti arah tatapan Quenna. Ia mengernyit heran padahal tidak ada apa-apa di sana. "Kau tidak apa-apa?"
Quenna terkejut dan menoleh ke Rigel. Ia menggeleng kepalanya dan membuat jarak dengan Rigel.
"Aku tidak apa."
_____
Tbc
Hay teman aku punya rekomendasi baru nih buat kalian. Dijamin bagus ceritanya, kalian bisa masukin ke favorit ya.
__ADS_1