Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 12


__ADS_3

Quenna menangis tersedu-sedu di balik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia benci dengan dirinya yang lemah tak bisa berbuat apa-apa.


Viktor yang sudah terlelap seketika terbangun mendengar suara Isak tangis yang dikeluarkan Quenna.


Laki-laki itu membuka matanya dan menatap lurus ke atas dengan pandangan kosong. Ia menarik napas panjang.


"Bunda, Quenna kangen bunda. Quenna ingin sama bunda," lapor Quenna kepada kegelapan malam. "Bagaimana kabar bunda di sana?" tanya Quenna lirih dan tertawa sembari menangis.


Ia berusaha tegar tapi nyatanya ia tak bisa menutupi kelemahannya. Quenna adalah sosok yang rapuh dan wanita menyedihkan yang harus menerima dengan suka rela takdirnya.


Viktor memeluk tubuh Quenna dan memberikan beberapa kali kecupan di puncak kepala sang adik. Ia tersenyum dengan tulus.


"Quenna, ibu pasti bangga dengan mu. Kau tumbuh sangat cantik." Quenna diam mendengar ucapan Viktor.


Ia tidak tahu kenapa ingin tertawa mendengar ucapan pria tersebut. Semua ini karena pria itu makanya keadaan jadi seperti ini.


Quenna membalikkan tubuhnya hingga bertatapan langsung dengan dada telanjang Viktor. Ia tersenyum masam dan berani menatap mata sang kakak.


"Kak."


"Ya," jawab Viktor sangat lembut.


Quenna tersenyum lalu angkat bicara.


"Kenapa kau membunuh ayah dan ibu hari itu?" jawab Quenna sembari memandang jauh ke dalam manik Viktor. Pertanyaan ini sudah lama di benaknya.


Viktor menghilangkan ekspresinya dan membuang pandangannya. Pria itu seperti tengah menutupi sesuatu dan merasa marah dengan pertanyaan Quenna yang tak sepantasnya ditanyakan.


"Ada hal yang tak perlu kau tahu. Ibu dan ayah telah membuat ku kecewa. Lagian aku sengaja melakukannya agar aku bisa memenuhi permintaan mu untuk menikah dengan ku. Jika mereka masih hidup mungkin kita tidak akan bisa bersama. Aku mencintaimu Quenna, sesuai keinginan mu dulu menikah dengan orang yang dicintai."


Quenna bahkan sudah lupa ia pernah mengatakan kalimat seperti itu. Sudah sangat lama sukar ia mengingat tentang masa lalu.


"Aku pernah mengatakannya?"


Viktor terlihat kecewa dengan ucapan Quenna. Ia tersenyum hambar dan tak menyangka jika Quenna telah melupakan kalimat yang diucapkannya sendiri. Kalimat itulah yang membuat Viktor mencintai adiknya melebihi batas wajar.


Pria itu bangkit dari baringnya dan bersandar di kepala ranjang. Ia mengangkat kepala Quenna dan meletakkan di pahanya. Pria itu sambil mengusap kepala Quenna dengan sayang.


"Kau sudah melupakannya rupanya. Tak apa, aku tidak memaksa mu untuk mengingatnya," ucap Viktor dan mengusap puncak kepala Quenna.

__ADS_1


Quenna memperhatikan kakaknya yang bertindak lemah lembut setelah perbuatan keji ia lakukan kepadanya.


"Kenapa kau sering melukai orang yang kau cintai? Bahkan kau tak segan-segan memukuli dan mencambuknya, apakah itu yang dikatakan cinta?" tanya Quenna hendak tertawa terbahak-bahak.


Viktor terdiam dan mengamati Quenna beberapa saat. Ia tersenyum kecil kepada gadis itu.


"Kau tidak menyadarinya? Itu karena kau membangkang," ucap Viktor seraya mengacak gemas rambutnya. "Tidurlah. Aku tau kau lelah. Jangan pikirkan hal yang membuat mu tak nyaman dan maafkan aku, ini semua ku lakukan demi kebaikan mu."


Kebaikan Quenna? Kenapa Quenna ingin muntah mendengarnya. Kebaikan dari mana yang ada hanya keburukan.


"Aku tidak bisa menjamin jika kau melakukan itu akan membuat diri ku baik-baik saja, bukan kah malah sebaliknya?"


"Quenna aku sudah lelah. Diamlah."


Viktor menutup matanya dan hanyut dalam dunia mimpi. Quenna menjatuhkan sebutir kristal dari matanya.


"Kenapa kau tidak mengerti perasaan ku Kak?"


________


Quenna merasakan tubuhnya sudah nyaman direnggangkan. Ia juga merasa lebih baik dari hari sebelumnya.


Wanita itu berjalan gontai menuju meja makan. Ia menatap sekitar seperti tengah mencari sesuatu.


Ia melihat Viktor yang berjalan ke meja makan sambil memasang dasi. Quenna yang melihat pria itu kesusahan mengenakannya lantas membantunya.


Viktor menyerahkan dasi tersebut pada Quenna dan tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Kau sudah lebih baik?" tanya Viktor sembari meneliti kondisi tubuh Quenna.


Ia juga merasa wanita itu sudah membaik. Syukurlah yang penting tidak terjadi apa-apa dengan adiknya ini. Ia sangat khawatir ketika Quenna terserang demam beberapa hari hingga tak bisa berjalan.


"Kak dimana Ana? Kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi?" heran Quenna sambil celengak celenguk ke sana kemari.


Viktor tak menjawab pertanyaan Quenna. Ia terus melahap makanan yang ada di depannya.


Quenna membulatkan mata ketika menyadari sesuatu dan menatap Viktor tidak percaya. Napasnya memburu tidak mungkinkan? Pikirannya beradu tidak menyangka dan sekaligus ketakutan jika hal itu benar adanya.


Wanita tersebut menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Tak terasa air matanya jatuh. Viktor yang sadar dengan keanehan sang adik menatap Quenna yang tengah berusaha lari dari meja makan.

__ADS_1


"Apa yang membuat mu ketakutan seperti itu?"


"Dimana Ana?" tanya Quenna to the point.


Ia meremas sisi pakainya dan menarik napas panjang. Wanita tersebut menggeleng tidak percaya.


"Kau tidak perlu tahu. Kau makan ini dengan benar, jangan memikirkan pelayan rendahan."


Quenna tidak habis pikir dengan pria ini. Kenapa begitu kejam? Quenna, wanita itu langsung berlari ke penjara bawah tanah.


Viktor terkejut dan mengejar Quenna. Ia memang tidak pernah memberitahukan Quenna di mana penjara bawah tanah tempat penyiksaan orang tersebut, tapi Quenna memang anak yang pintar hingga ia berhasil menemukan tempat yang sangat rahasia itu.


"Quenna berhenti!!!" Teriakan Viktor tidak dihiraukan oleh wanita itu.


Ia terus berlari dan melewati para penjaga begitu saja. Sesampainya di ruangan bawah tanah ia mencari di mana tempat Ana dikurung.


Wanita tersebut menatap satu demi satu kurungan dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Quenna hendak ambruk saking tak sanggupnya melihat pemandangan berdarah dan sangat menggenaskan. Air matanya luruh membayangkan mereka yang ketakutan sambil menunggu ajal.


"Quenna!!" Wanita tersebut menoleh ke arah Viktor yang mengejarnya.


Quenna sebisa mungkin menghindari Viktor. Ia berlari ke arah lain dan matanya menatap Ana yang sedang dicambuk dengan besi yang dibakar ke bara api.


Quenna langsung berteriak histeris mendengar teriakan Ana yang kesakitan serta tubuh wanita itu yang tidak berbentuk lagi.


"Hentikan!!! Jangan pukul Ana lagi," tangis Quenna dan berlari ke arah Ana.


Ia menatap tubuh Ana dan menangis tersedu-sedu melihat Ana yang sudah hampir sekarat.


"Lepaskan dia! LEPASKAN!!" marah Ana kepada orang yang ada di sana.


Viktor yang baru sampai menarik napas panjang. Ia menatap Quenna yang menangis untuk orang lain.


Terpaksa Viktor meminta anak buahnya melepaskan Ana dan meminta mereka untuk membawa Ana ke ruang rawat.


"Tenanglah!" ujar Viktor mengusap pundak Quenna.


"Tidak semudah yang kau ucapkan!"

__ADS_1


_______


tbc


__ADS_2