
Pada malam itu terasa tenang dan tak ada kecurigaan sama sekali pada saat di mana Rigel baru saja berhasil menjalankan rencana liciknya. Dokter dan para suster bekerja seperti biasanya dan berlalu-lalang tanpa tahu ada kejanggalan di dalam kamar Viktor. Seolah-olah mereka telah terhipnotis.
Tampak seorang wanita yang sedang berjalan santai sembari lengkap dengan seragam susternya. Wanita itu menyapa ramah suster yang lain kala berpapasan dengannya.
Suster itu menghela napas panjang lalu melirik jam di tangannya. Entah hasrat dari mana ia malah berjalan ke kamar inap Viktor padahal dia tidak memiliki tugas lagi.
Perempuan itu berhenti sejenak di depan pintu ruangan tersebut. Keningnya berkerut karena biasanya ada banyak bodyguard yang akan berjaga di depan pintu ini secara bergantian, akan tetapi entah kenapa malam ini tidak ada satupun di antara mereka.
"Kemana mereka?" gumamnya.
Semakin bingung lagi ketika ada suara napas orang tersengal-sengal dari dalam ruangan yang dihuni oleh Viktor.
Tanpa banyak pikir suster tersebut langsung masuk ke dalam dan betapa terkejutnya dia melihat Viktor yang benar-benar di ujung maut.
Ia segara memencet bel darurat agar suster dan dokter yang lain segera membantunya. Wanita itu malah jadi panik sendiri dan bingung akan melakukan apa. Sebab dalam keadaan cemas semacam ini otak sangat sulit berjalan dengan lancar.
"Oh Tuhan apa yang harus ku lakukan," lirihnya dan memegang kepalanya dengan kedua telapak tangan.
Ia menatap ke arah pintu dan sangat bersyukur melihat segerombolan tim medis yang berlari cepat ke dalam kamar ini.
Mereka terkejut melihat kondisi Viktor. Dokter itu pun bertanya kepada suster tersebut kenapa bisa menjadi seperti itu.
"Kau tahu kenapa pasien seperti ini?"
Dokter itu melirik oksigen Viktor yang tidak terhubung. Sontak saja mata mereka melotot dan cepat memasangnya.
"Saya sungguh tidak tahu kenapa pasien tidak memakai oksigen. Dokter maafkan saya, saya sungguh tidak tahu." Dokter itu mengehela napas dalam melihat suster tersebut.
Ia melirik suster satunya agar menutup pintu sebab mereka akan melakukan pertolongan secara cepat. Salah seorang suster memberikan kepada dokter wanita itu pacemaker.
"Terimakasih." Setelah mengucapkan kalimat tersebut lantas ia menggunakan alat tersebut untuk memacu jantung Viktor sebab akibat kurangnya oksigen membuat detak jantung pria itu melemah.
Dokter berusaha sekeras mungkin hingga menghabiskan waktu sebanyak setengah jam hingga akhirnya detak jantung Viktor kembali normal.
"Untung tidak terjadi apa-apa. Pasien hampir kehilangan nyawanya. Kasus ini harus diselidiki jika tidak maka nyawa kita bisa menjadi taruhannya."
Dokter itu meminta salah seorang untuk tinggal menjaga Viktor. Ia pun keluar dan melihat Prima yang berlari ngos-ngosan dengan penuh keringat di keningnya.
__ADS_1
"Dokter apa yang telah terjadi? Tidak terjadi sesuatu, 'bukan?" khawatir Prima sebab ia tadi ditipu oleh seseorang yang mengatakan jika ada orang yang ingin menemuinya di luar akan tetapi saat ia keluar malah punggungnya dipukul dan dia jatuh pingsan.
Dan karena itu Prima takut jika sesuatu telah terjadi. Pasti orang yang memukulnya itu tengah merencanakan sesuatu.
Dokter itu melirik suster. Ia tersenyum tipis lalu mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kami tidak tahu pasti kenapa oksigen di tubuh Pasien terlepas. Seolah-olah ada yang sengaja ingin mencelakainya."
Mata Prima membulat. Jadi benar dugaannya seseorang telah melakukan aksi dan mereka kebobolan? Kekonyolan yang sangat patut diacungi jempol. Prima menggenggam telapak tangannya dengan erat. Amarah pria itu tak terbendung lagi.
Prima lari ke kamar Quenna dan sangat terkejut mendapati kamar itu kosong. Napasnya memburu dan ia menatap satu persatu orang yang ada di sekitar.
Dokter tersebut yang penasaran ikut melihat ke dalam dan betapa terkejutnya dia melihat ruangan itu kosong dan alat-alat kesehatan juga sudah terlepas.
"BA.JINGAN!!"
Prima lari lagi ke kamar Carol ingin memastikan bahwa anak itu baik-baik saja. Akan tetapi napasnya tertahan karena melihat Carol juga tidak ada di sana.
Prima sekali menyimpulkan juga tahu siapa yang telah melakukan hal ini. Rigel benar-benar telah berani menampakkan taringnya di saat tuannya lemah.
"RIGEL!!"
____________
Apa yang selama ini ia impikan akhirnya tercapai. Sungguh di pikirannya hanya dipenuhi dengan acara pernikahan dirinya dan Quenna.
Wajahnya tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri. Ia meraih tangan Quenna dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan hikmat sambil melirik wajah pucat Quenna.
Ia mengamati seluruh yang ada di diri Quenna yang semuanya tampak sempurna. Jakun pria itu naik turun melihat tubuh Quenna yang benar-benar ideal dan idaman para lelaki.
"Kau boleh dulu sangat beruntung memilikinya, sekarang aku yang akan merasakan semuanya. Meskipun aku bukan yang pertama tapi akan ku pastikan akulah yang terlahir baginya," ujar Rigel dengan sangat penuh percaya diri.
Ia tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya dengan Quenna. Sejengkal lagi maka bibir pria itu akan bersentuhan dengan pemilik bibir mungil yang terbaring lemah.
"Jika diamati seperti ini kau jauh lebih cantik. Aku jadi tidak sabar ingin tidur berdua dengan mu."
Laki-laki tersebut tidak sadar bahwa raut wajah Quenna sangat masam. Wanita itu tampak mengerutkan wajahnya namun tertutupi dengan wajahnya yang pucat.
Rigel menarik napas panjang dan melihat ke ranjang satunya menatap Carol yang tertidur. Ia sengaja membawa anak itu karena tahu Quenna tidak akan bisa berpisah dengan Carol.
__ADS_1
Oleh karenanya ia membawa anak tersebut sebagai penghibur Quenna nanti. Lagian ia juga sangat menyayangi Carol dengan sepenuh hati.
"Aku berjanji akan membahagiakan mu dan menganggap mu sebagai anak kandung ku sendiri," ujar Rigel lalu tersenyum ke arah anak kecil tersebut.
Pria itu keluar dari kamar dan melihat anak buahnya yang duduk di kursi dengan sejajar.
Ia melirik Yesaya yang ikut bersamanya. Laki-laki tersebut menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Rigel.
"Kapan kita akan sampai ke Korea Selatan? Sudah pastikan jika Yohana benar-benar telah mencarikan tempat aman untuk kita?"
"Nona Yohana sudah mendapatkan lokasi yang baik." Rigel mendengus kasar. Ia terpaksa bersembunyi di Korea Selatan dan memulai hidup baru di sana.
Ia tahu Yohana sangat tidak setuju dengan keputusannya. Apalagi rencana dirinya yang akan menikah dengan Quenna, itu benar-benar ditentang oleh Yohana.
Wanita itu mengamuk kepadanya dan pada akhirnya menyerah juga. Tidak tahu rencana licik apa yang bakal dijalankan oleh Yohana nanti.
Tapi Rigel berharap ia bisa menyingkirkan wanita itu secepat mungkin sebelum Yohana mengacau semua rencananya.
Yohana adalah alat bagi dirinya. Cukup banyak peran Yohana hingga akhirnya ia benar-benar berhasil mengalahkan Viktor.
"Yohana kau bodoh sekali."
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
QUENNA
VIKTOR
RIGEL
__ADS_1
Carol