Obsesi Kakaku Kepadaku

Obsesi Kakaku Kepadaku
Part 17


__ADS_3

Dengan keberanian penuh dan mumpung rumah sedang sepi, Quenna memanfaatkannya untuk menjelajahi seluruh sudut di rumah ini yang bisa dikatakan megah dan lebih layak dikatakan istana.


Bahkan Quenna yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya di sana tidak banyak mengetahui tentang rumah ini.


Ia ingin mengeksplor setiap ruangan yang ada di rumah ini. Mencari tahu hal-hal yang tidak diketahuinya atau sengaja dirahasiakan namanya.


Sebenarnya hal ini sudah sering dilakukan wanita muda tersebut tanpa diketahui para penjaga berkat kepintarannya.


Ia menyelinap dengan apik bak orang yang sudah terlatih. Perempuan itu mempelajari semuanya dari novel-novel yang dibacanya.


Ia bisa menggunakan strategi yang ada di novel tersebut di kehidupan nyata dan semua itu sudah ia buktikan keampuhannya.


Wanita tersebut berpakaian begitu tertutup dan wajah yang dilindungi dengan kain tipis yang menutupi wajahnya.


Takut sewaktu-waktu ada orang yang akan menangkapnya. Quenna menarik napas dalam dan berjalan mengendap-endap.


Semua telah berhasil ia lakukan dan hanya satu yang tidak bisa ia lakukan, kabur dari rumah ini. Sepintar-pintarnya dirinya tetap Viktor akan menemukannya esoknya.


Bukan satu dua kali ia coba melarikan diri bahkan sudah banyak kali dan semuanya berakhir dengan sama, kegagalan.


Quenna sempat menyerah tapi ia selalu membaca buku yang bisa memotivasi dirinya. Hal itu lumayan membuat tekad Quenna semakin menggebu.


"Huftt," deru napas Quenna yang melihat para penjaga yang begitu ketat mengawasi perpustakaan.


Ia hendak ke sana terlebih dahulu dan menjelajahi tempat itu. Mencuri buku di sana untuk dipelajarinya. Viktor memiliki buku yang beragam dan semuanya sangat menarik.


"Aku tidak mungkin lewat di depan mereka. Aku harus mengalihkan perhatian penjaga itu," gumam Quenna kepada dirinya sendiri.


Perempuan itu merenung untuk menyusun strategi dan cara untuk berhasil masuk ke dalam perpustakaan itu.


Quenna melirik gucci di sampingnya. Ia tersenyum, perempuan tersebut berjalan ke tempat yang sedikit jauh dari depan pintu perpustakaan.


Ia masuk ke dalam lorong gelap membawa guci itu. Quenna menarik napas dalam lalu menjatuhkan guci tersebut hingga mengeluarkan bunyi hempasan yang begitu nyaring.


Buru-buru ia pergi sebelum penjaga datang untuk mencari tahu. Perempuan tersebut bersembunyi di balik tiang dan melihat penjaga yang semuanya langsung menghampiri arah suara dengan senjata api di tangan mereka.


"Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan pintar untuk kalian. Sesungguhnya aku juga sama bodohnya," ujar Quenna lalu tertawa kecil.


Quenna berjalan menuju perpustakaan dengan tergesa-gesa. Sudah tidak ada penjagaan di sana, wanita itu menekan beberapa digit angka hingga ruangan itu terbuka.


Ia sudah sering kali keluar masuk ruangan tersebut tanpa ada yang tahu. Tentunya sudah sangat hapal perempuan itu dengan sandi pintu tersebut.


Quenna tersenyum bangga dan masuk ke dalam sana. Ia mengambil beberapa buku tentang taktik strategi dalam dunia karate.


Entah kenapa Quenna merasa tertarik dengan buku tersebut. Ia yakin buku itu dapat membantu dirinya sewaktu-waktu saat dibutuhkan.


"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini." Quenna keluar dari perpustakaan itu sebelum bodyguard yang menjaga perpustakaan tersebut kembali.


Ia membuat semuanya tampak baik-baik saja dan tidak ada hal yang mencurigakan.


Wanita itu berlari ke arah lorong lain. Entah kenapa hatinya membawa untuk masuk ke dalam lorong menuju bawah tanah.


Yang ada di sana hanyalah penjara yang begitu menakutkan. Penjara yang bisa disebut dengan neraka. Kengerian yang tiada tara bahkan mereka lebih baik mati dari pada harus berada di sana.

__ADS_1


Quenna menahan napas ketika berhasil masuk dengan mengelabui para penjaga, tentunya dengan mengalihkan perhatian mereka.


Quenna berkeliling di tempat itu. Rasanya dadanya bak diremas melihat banyaknya manusia di dalam sana yang dalam keadaan menggenaskan.


"Kak aku tidak menyangka kau sekejam ini," lirih Quenna dengan raut sedih melihat mereka yang menangis terisak.


Quenna menatap kurungan yang lembab itu. Tubuh mereka tidak ada yang baik semuanya penuh dengan bau amis.


Wanita itu menghampiri salah satu sel yang terdapat pria renta dan rambutnya penuh uban.


Quenna menghampiri orang tersebut yang terbaring lemah di dalam sel. Quenna memanggil orang tersebut beberapa kali.


"Kek, Kakek," panggil Quenna yang membuat orang itu bangun dengan susah payah.


Orang itu menatap Quenna berkaca-kaca. Ia berusaha menggapai wajah Quenna tapi karena tenaganya yang lemah ia menjatuhkan tangannya.


"Kau? Siapa kau, pergilah sebelum ketahuan oleh iblis itu."


Quenna tersenyum kecut. Benar apa yang dikatakan orang itu jika Viktor memang iblis.


"Kenapa kau bisa berada di sini?"


Pria paruh baya itu menangis sesugukan. Ia menyandarkan tubuhnya dan menatap sisi penjara dengan lirih.


"Aku dulu sangat takut masuk sel tahanan polisi dan berusaha berbuat baik agar tidak masuk ke tempat itu, siapa sangka jika aku malah masuk ke sel tahanan yang lebih mengerikan dari pada milik polisi," ujarnya dengan pandangan yang mudah ditebak jika pria tua yang malang itu tengah bersedih.


Quenna tak kuasa menahan air matanya yang sedari tadi mulai dari ia memasuki tempat ini sudah mendobrak pertahanan dirinya.


Ia mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya. Perempuan itu menarik napas dan menyentuh wajah tangan pria itu yang dingin dan bergetar.


Kakek itu menggeleng. Quenna paham jika kakek ini tidak memiliki salah tapi karena keegoisan Viktor makanya ia berada di sini.


"Iblis itu mengurungku hanya karena aku berbeda pendapat tentang pernikahan dengan sesama saudara. Aku seorang pendeta dan iblis itu datang pada ku untuk bertanya bisakah menikah dengan adiknya, aku jelas menentangnya seusai dengan ajaran ku. Tapi ia malah mengancam ingin membunuh ku." Pria tua renta yang ternyata seorang pendeta itu menatap Quenna dengan lirih, "lalu bagaimana dengan mu Nona? Kenapa kau bisa sampai ke tempat ini?"


Quenna teramat kaget dengan ucapan sang pendeta. Tubuhnya bergetar wanita itu menatap nanar sang pendeta. Ia menghapus air matanya dengan kasar lalu menatap pendeta itu sebentar.


"Maafkan aku, aku harus pergi dari sini," ucapnya dan berlari meninggalkan sel tahanan.


"NONA BERHATI-HATILAH!!! ORANG DI SINI SANGAT MENGERIKAN!"


Quenna tersenyum simpul dan berbalik menatap pria tua itu. Ia mengangguk lalu berlari cepat kabur dari tempat itu.


Ia benar-benar syok dengan ucapan pendeta. Viktor memang sudah gila, ia tidak menyangka Viktor bisa bertindak sejauh itu.


"Tuhan akan menghukum mu."


_________


Wanita yang dipenuhi dengan aura keanggunan tersebut sedang sibuk dengan jahitannya. Malam tiba tapi ia sama sekali tidak berhenti dari pekerjaannya.


Ketika lelah menyerangnya maka wanita memiliki paras selembut salju itu akan membaca buku di sudut ruangan.


Waktunya dihabiskan dengan pekerjaan dan membaca. Sama sekali tidak memikirkan kondisinya yang akan kelelahan.

__ADS_1


Quenna berusaha mencari buku yang bisa membantunya untuk kabur dari rumah itu. Dengan membaca ia akan memiliki pengetahuan yang luas dan hal itu membuatnya semakin cerdas.


Quenna meletakan buku yang sedang dibacanya dan menatap Ana yang membawakan makanan untuknya.


"Nona istirahatlah, Anda belum makan seharian. Tuan pasti akan sangat marah." Quenna menghembuskan napas kasar.


Ia tersenyum tipis dan mengangguk agar Ana meletakkan makanan yang di bawanya. Jujur saja perutnya memang sudah keroncong dan mengamuk meminta asupan.


Ia memakan makanan yang dibawa Ana dengan lahap. Wanita itu meletakkan piring yang sudah tak bersisa lagi ke nampan tersebut.


Quenna menatap Ana dengan malu. Ia ingat pertemuan terakhirnya dengan Ana beberapa hari lalu.


Mulai sejak itu kebenciannya pada Viktor semakin bertambah.


"Ana!"


"Nona jangan membahasnya, saya tidak bertanya," jawab Ana lebih dulu dan hendak pergi.


Quenna berdiri dan menahan tangan Ana. Ia menatap wanita itu penuh mohon.


"Aku harus menjelaskannya pada mu."


"Saya bukan siapa-siapa Anda Nona, saya tidak pantas."


"Yang kau lihat memang itu adalah kenyatannya, menyakitkan memang. Kau tahu bukan bagaimana sifat Viktor? Bahkan ia menggauli adiknya sendiri."


Ana tentu sangat terkejut tapi ia berusaha mengelaknya.


"Jadi Nona dipaksa?"


"Tidak ada pilihan lain. Maka dari itu aku memohon kau membantu ku kabur dari sini."


Ana menatap Quenna ragu. Ia menggigit bibirnya dan menghela napas.


"Nona bagaimana jika Anda akan diketahui tuan?"


"Kau benar, maka dari itu aku sudah sejak lama memikirkannya. Tidak mungkin aku di sini dan terus menjadi budaknya. Aku sangat lelah Ana," lirih Quenna dan hendak membuka tubuh Ana.


"Nona semoga Tuhan dapat membantu Anda."


"Tidak mungkin. Buktinya sudah bertahun-tahun aku di sini dan tidak ada hal yang membawa keajaiban Tuhan, meskipun ada tapi hanya bentuk kecil," ujar Quenna menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan. "Ana bagaimana dengan mu? Viktor tidak melakukan sesuatu, kan?"


Ana diam dan menundukkan pandangannya. Ia menggelengkan kepala dan tersenyum meyakinkan.


Quenna meraih tangan Ana dan membuka lengan baju perempuan itu. Ia kaget melihat luka besar di dekat pergelangan tangan Viktor.


"Dia ingin memotong urat nadi mu? Oh Tuhan, aku tidak habis pikir dengannya. Tenanglah aku akan mencarikan keadilan untuk mu."


Ana menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Aku tidak apa-apa."


________

__ADS_1


Tbc


__ADS_2