Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 19


__ADS_3

Meninggalkan Adam dan Karen, ada pak Zidane yang sedang berada dalam kamar rawat VIP. Setelah tiga jam melakukan kemoterapi, pak Zidane pun di bawa ke kamar rawat itu untuk beristirahat. Dan rencananya di kamar rawat VIP itu lah pak Zidane akan beristirahat sampai waktu tiga hari yang ia katakan pada Adam habis.


Pak Zidane mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan pada orang yang ia suruh untuk memantau Karen dan Adam.


"Bagaimana? Apa kau sudah tau apa yang terjadi pada putri ku?" Tanya pak Zidane tanpa basa-basi begitu orang suruhannya itu menjawab panggilannya.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, kalau saat ini Nona Karen sedang hamil Tuan." Jawab orang suruhan pak Zidane itu.


Mata pak Zidane membelalak.


"Benarkah?" pak Zidane terkejut mendengar informasi dari orang suruhannya itu.


"Benar Tuan. Tuan Zidane silahkan mengkonfirmasinya pada Tuan Adam dan Nona Karen." Jawab orang itu.


"Baik lah." Pak Zidane pun langsung mengakhiri panggilannya. Dan langasung beralih melakukan panggilan video ke nomor Karen.


Tapi baru nada sambung pertama pak Zidane cepat-cepat mengakhiri panggilannya karena sadar kalau saat ini dirinya sedang ada di rumah sakit. Kalau ia melakukan panggilan video pada Karen, bisa-bisa Karen tau kalau dirinya bukan ada di kota B melainkan ada dirumah sakit.


Pak Zidane pun kembali melakukan panggilan ke nomor Karen, tapi kali ini hanya panggilan biasa.


Tuut... tuuut... tuuut. Sampai nada sambung habis, Karen tak menjawab panggilannya.


Pak Zidane pun melakukan panggilan sekali lagi, dan hasilnya pun tetap sama, Karen tak menjawab panggilan pak Zidane.


Karena rasa penasaran yang terus bergejolak dalam dirinya, pak Zidane pun tidak putus asa dan kembali melakukan panggilan ke nomor Karen, bahkan sampai sepuluh kali pak Zidane melakukan panggilan ke nomor Karen, hasilnya pun tetap sama.


Dan akhirnya pak Zidane pun memutuskan untuk menghubungi Adam.


Tuut.. Tuut.. Tuut. Bunyi nada sambung ke ponsel Adam.


Baru tiga kali nada sambung berbunyi, panggilan pun tersambung.


"Halo pah." Jawab Adam.


"Kamu dimana? Papa dapet kabar dari orang kantor kamu lagi di rumah sakit? Apa benar? Apa penyakitnya Karen kambuh?" Tanya pak Zidane tak putus-putus.


"Tadi memang kami kerumah sakit pah, tapi sekarang lagi mau perjalanan ke kantor kok." Jawab Adam.


"Terus siapa yang sakit? Karen sakit?" Tanya pak Zidane sekali lagi.


"Bukan sakit pah, tapi..." Adam menggantung kata-katanya.


"Tapi apa? Cepat katakan, jangan bikin saya penasaran." Pak Zidane gregetan karena Adam menggantung kata-katanya.


"Tapi papa sebentar lagi jadi kakek." Jawab Adam.


Krik.. Krik.. Krik. Sejenak suasana menghening karena pak Zidane terdiam.

__ADS_1


"Ma-maksud kamu, Karen hamil?" Tanya pak Zidane. Suaranya bergetar saat menanyakan itu karena tak percaya dengan apa yang Adam katakan.


"Iya pah." Jawab Adam.


"Mana Karen, papa mau ngomong."


"Karen lagi tidur pah. Kalau papa mau lihat, alihkan aja ke panggilan video." Ucap Adam.


Pak Zidane langsung gelagapan waktu Adam menyuruhnya mengalihkan menjadi panggilan video. Karena itu tidak mungkin, walau sebenarnya pak Zidane sangat ingin melihat wajah putrinya itu.


"Akh.. tidak usah. Kalau gitu nanti aja papa telpon lagi." Jawab pak Zidane.


"Ya sudah, jaga Karen yah. Dan tetap pantau makanannya, biasanya kalau ibu hamil suka ngidam makanan yang aneh-aneh. Kalau bisa kamu bujuk Karen untuk gak nurutin ngidamnya, tapi kalau Karen maksa, kasih aja tapi jangan terlalu banyak." Nasehat pak Zidane.


"Iya pah. Tadi juga dokter udah ngasih peringatan itu sama Karen." Jawab Adam.


"Ya sudah. Salam aja sama Karen." Pak Zidane pun mengakhiri panggilannya dengan Adam.


"Aku akan jadi kakek. Dita, putri kecil kita sebentar lagi akan jadi ibu. Seandainya kau masih disini Dita, pasti rasa bahagia mu melebihi rasa bahagia ku saat ini." Lirih pak Zidane. Air mata lolos begitu saja mengaliri pipinya saat dirinya membayangkan wajah istrinya yang bahagia mendengar kabar bahagia ini.


✨✨✨


Kini Adam dan Karen sudah sampai di tempat parkir perusahaan pak Zidane.


"Sayang bangun." Adam mengelus pipi istrinya yang sedang tertidur pulas di pangkuannya. Karena sejak masuk ke dalam mobil, Karen langsung tertidur di pangkuan Adam. Mungkin karena pengaruh hormon ibu hamil yang membuat Karen jadi gampang mengantuk atau karena mereka habis kerja lembur semalam makanya Karen mengantuk.


"Kita udah sampe?" Tanya Karen.


"Udah sayang, ayo bangun." Adam pun membantu mendudukkan Karen dengan perlahan.


Adam pun keluar dari mobil terlebih dahulu, setelah itu baru Karen. Mereka pun berjalan menuju gedung.


"Huuh lemes banget." Celetuk Karen pelan saat mereka baru beberapa langkah meninggalkan mobil. Tapi celetukan Karen itu masih bisa di dengar oleh Adam.


Mendengar celetukan Karen, naluri Adam sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya pun terpanggil. Seketika Adam pun berubah menjadi Super Adam, ia langsung menggendong istrinya ala bridal style.


"Iikh.. kak turunin!!! Ini tuh kantor kak, kakak harus jaga wibawa kakak." Bukannya senang mendapat perlakuan manis dari suaminya, Karen malah melayangkan protesnya.


"Denger, wibawa laki-laki itu gak hanya di lihat ketika dia menjadi pemimpin, tapi juga di lihat dari cara si laki-laki memperlakukan wanitanya." Jawab Adam.


"Udah gak usah protes. Tadi kan kamu bilang lemes, makanya aku gendong. Kan kamu lemes gara-gara aku juga, iya kan?!" Ucap Adam sambil mengerlingkan sebelah matanya genit.


"Ish.." Karen memukul dada Adam pelan karena tau apa maksud perkataan suaminya itu.


Dan dengan bangganya Adam berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan dengan Karen dalam gendongannya.


Jelas saja Adam merasa bangga, karena diantara ratusan bahkan ribuan lebah yang memandang dan mengincar madu Karen, tapi justru dirinya lah pemenangnya. Laki-laki munafik yang dulu mengatakan Karen biasa saja, tapi begitu melihat senyum Karen, kakinya sampai gemetaran, dan dalam tidur pun terus memimpikan Karen, dan akhirnya sekarang menjadi suami bucin akut.

__ADS_1


Kini Adam dan Karen sudah berada dalam ruang kerja Adam.


Adam mendudukkan Karen di sofa ruang kerjanya.


"Tunggu sini yah, aku periksa kerjaan dulu." Ucap Adam.


Cup. Tak lupa Adam mengecup kening Karen sebelum dirinya berjalan ke meja kerjanya.


Karen menganggukkan kepalanya.


Ia pun membuka tas nya, niatnya ingin mengambil ponselnya dari dalam tas. Tapi ternyata ponselnya tidak ada dalam tas.


"Kak, ponsel aku mana yah?" Tanya Karen.


"Gak ada dalam tas kamu?" Adam malah bertanya balik.


"Iya gak ada. Kakak gak masukin tadi?"


"Aku gak ada masukkin apa-apa tadi. Aku pikir ponsel kamu udah masuk ke tas."


"Emangnya ponselnya bisa masuk sendiri apa kalau gak di masukkin." Dumel Karen.


Mendengar Karen ngedumel, Adam hanya diam saja. Ia pun mulai membuka lembaran kertas yang harus ia periksa. Tapi bukan perempuan namanya kalau berhenti ngedumel dalam waktu kurang dari lima belas menit.


Karen terus saja ngedumel sambil membolak-balikkan majalah yang ia asal tarik dari atas meja.


Adam yang sedari tadi pura-pura tuli akhirnya pun tak sanggup lagi mendengar dumelan Karen. Walau sebenarnya Karen mendumel sangat pelan, tapi justru suara pelan itu yang membuat ngilu telinga Adam, ibaratnya suara pelan Karen itu seperti suara nyamuk yang sedang kawin.


Adam menghela nafasnya kasar. Lalu berjalan mendekati Karen yang masih ngedumel disofa.


"Ini pake ponsel ku aja." Ucap Adam sambil memberikan ponselnya pada istrinya. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk membuat Karen berhenti ngedumel.


Dan benar saja, wajah Karen pun langsung berubah ceria kembali dan suara yang membuat ngilu telinga pun berhenti.


"Passwordnya apa?" Tanya Karen sambil mengambil ponsel itu dari tangan Adam.


"Tanggal pernikahan kita." Jawab Adam. Dan Adam pun memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke meja kerjanya.


Tau kalau password ponsel Adam adalah tanggal pernikahan mereka, Karen jadi malu. Pasalnya password ponsel Karen adalah tanggal pertama kali ia menonton konser BTS, karena itu lah pertama kalinya papanya mengizinkan Karen keluar rumah sampai larut malam, yah.. walaupun harus dengan pengamanan super ketat karena waktu itu Karen masih duduk dibangku dua SMU.


Satu menit, dua menit, Adam masih belum sadar kalau ada hal yang tak boleh Karen tau dalam ponselnya.


Tiga menit, empat menit, perasaannya sudah memberi sinyal kejanggalan. Tapi ia masih belum tau apa yang menjanggal itu.


Tapi di menit kelima, wajah Adam seketika berubah saat menyadari apa yang ada di dalam ponselnya. Cepat-cepat Adam berdiri dari tempat duduknya dan berlari mendekati Karen.


"T I D A A A A K!!!" Teriak Adam lebay.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2