
Di Singapura.
Setelah mendapat kabar dari David tentang kondisi Karen, pak Zidane yang sedang dalam masa pemulihan tanpa pikir panjang langsung meminta David menyiapkan pesawat pribadinya untuk membawanya pulang ke Indonesia.
Dokter yang menangani pak Zidane awalnya melarang keberangkatan pak Zidane, tapi karena ini kondisi darurat dan pak Zidane juga memaksa, mau tak mau dokter pun memberi ijin pada pak Zidane untuk pulang dengan di temani dua orang perawat yang sejak awal memantau kondisi pak Zidane.
Setelah kurang lebih tiga jam dalam perjalanan, akhirnya pesawat pribadi pak Zidane pun tiba di bandara kota P.
Pak Zidane dan rombongan pun langsung naik ke mobil yang sudah menunggu rombongan pak Zidane dari satu jam yang lalu.
Kini pak Zidane dan rombongan sudah berada di rumah sakit tempat Karen di rawat.
"Tuan Zidane." Ucap Bik Narti saat melihat pak Zidane berjalan menuju ruang rawat intensif dimana Karen sudah di pindahkan ke ruangan itu.
"Bagaimana Karen?" Tanya pak Zidane.
Bik Narti hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, seakan berkata semua tidak baik-baik saja.
"Saya ingin masuk." Ucap pak Zidane. Pak Zidane pun kembali berjalan mendekati pintu ruang rawat intensif Karen.
"Maaf pak, pasien belum bisa di kunjungi." Kata perawat yang berjaga di depan kamar rawat Karen.
"Saya ini papa nya!!! Apa melihat anak saya saja harus perlu izin dari kamu, hah!!!" Teriak pak Zidane emosi. Walau dalam keadaan lemah, tapi kalau sudah menyangkut soal anak, seketika kekuatan orangtua akan terisi 100%.
"Tuan, tenangkan diri anda." Kata Bik Narti mengingatkan pak Zidane.
"Minggir, saya ingin melihat anak saya!!" Pak Zidane yang kesal terhadap perawat itu mendorong tubuh perawat pelan dan hendak membuka pintu.
Tapi baru saja pak Zidane memegang handle pintu, ada orang yang membuka pintu kamar rawat Karen dari dalam.
Ternyata yang membuka pintu adalah dokter yang tadi mengoperasi Karen.
"Ada apa ini?" Tanya dokter karena sempat mendengar keributan dari luar kamar.
"Saya ingin melihat anak saya." Ucap pak Zidane tanpa basa-basi.
"Jadi bapak ini, orangtua dari Nona Karen. Silahkan masuk pak, nanti saya jelaskan kondisi Nona Karen." Dokter pun membuka pintu dan mempersilahkan pak Zidane masuk.
"Karen.." lirih pak Zidane saat melihat putri tunggalnya terbaring lemah dengan banyak alat yang menempel ditubuhnya.
"Tadi Nona Karen sempat mengalami pendarahan hebat, untung saja rumah sakit ini memiliki banyak stok darah yang sama dengan Nona Karen."
Mendengar penjelasan dokter, isak tangis pak Zidane pun tak bisa lagi ia tahan.
"Kasihannya kamu nak. Kenapa nasib mu begini sekali. Kenapa harus kamu yang menerima karma atas kelakuan buruk papa dulu, kenapa... kenapa... kenapa!!!!" Ucap pak Zidane histeris di samping ranjang Karen.
"Kita berdoa saja pak semoga ada keajaiban untuk Nona Karen." Ucap dokter.
Mendengar dokter menyebut kata keajaiban, otak pak Zidane memberikan sinyal ketidakberesan pada Karen.
"Maksud dokter dengan keajaiban apa? Apa anak saya dalam keadaan yang lebih parah dari kritis?"
Dokter menganggukkan kepalanya lemah.
Melihat dokter mengangguk, seluruh tubuh pak Zidane bergetar hebat, tubuhnya lemas. Sangking lemasnya, kaki pak Zidane tak sanggup menopang tubuh paru baya nya. Pak Zidane terduduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Karen.
__ADS_1
"Katakan, separah apa kondisi putri saya?" Kata pak Zidane sambil menatap wajah Karen.
"Saya rasa pasti anda sudah tau resiko melahirkan pada penderita autoimun. Apalagi Nona Karen melahirkan tidak pada waktunya sampai harus di lakukan operasi darurat. Seperti yang saya khawatirkan dari awal, saya takut hal ini akan terjadi dan penyakit autoimun Nona Karen sampai menyerang organ vital Nona Karen sehingga mengancam nyawa Nona Karen." Ucap dokter.
"Maksud dokter dari awal apa? Apa dari awal kondisi kandungan anak saya tidak baik-baik saja? Tapi bukan kah Karen rajin kontrol dan meminum vitamin yang dokter berikan?" Tanya pak Zidane keheranan.
Dokter menghela nafasnya sejenak.
"Sebenarnya, sejak kehamilan Nona Karen memasuki empat bulan, kami sudah menyarankan Nona Karen untuk merelakan janinnya, tapi Nona Karen tidak mau dan tetap ingin mempertahankan janinnya meskipun nyawanya dalam bahaya." Lanjut dokter.
Mata pak Zidane membelalak.
"Jadi selama ini Karen tau kalau nyawanya dalam bahaya? Kenapa dokter tidak memberitahu saya atau suaminya?"
"Maaf pak, ini permintaan Nona Karen. Kami sangat menjaga privasi pasien. Kalau pasien meminta kami merahasiakan ini dari keluarga, maka itu lah yang kami lakukan. Bahkan Nona Karen juga menandatangani surat kerahasiaan. Apa tujuannya Nona Karen melakukan ini, kami pun tidak tau. Tapi sebagai dokter saya selalu berusaha menyelamatkan anak dan ibunya."
"Astaga Karen, kenapa kamu melakukan itu nak?! Apa yang berharga itu hanya anak mu saja? Lalu papa mu ini tidak berharga sampai-sampai kamu tidak memperdulikan keselamatan mu!!! Harusnya kamu juga mikirin perasaan papa, Karen!!!" Tangis pak Zidane pun pecah.
"Sabar pak, kita harus terus berdoa. Semoga saja obat yang saya masukkan ke dalam tubuh Nona Karen bisa melindungi organ vital Nona Karen dari sel-sel yang akan merusak organ vital tersebut." Kata dokter memberi harapan pada pak Zidane. Setelah mengatakan itu dokter pun keluar dari dalam ruang rawat intensif Karen.
Lima belas menit setelah dokter keluar, pak Zidane pun berhasil mengatasi kepedihannya, ketegaran kembali datang padanya. Pak Zidane pun keluar dari dalam ruang rawat Karen dan hendak melihat cucu pertamanya.
Ceklek. Dengan mata sembab dan tubuh lemah, pak Zidane keluar dari dalam kamar.
"Tuan, bagaimana keadaan Nona Karen?" Tanya Bik Narti.
"Doakan saja yang terbaik." Jawab pak Zidane sambil menepuk pundak Bik Narti.
Mata pak Zidane berkeliling mencari keberadaan seseorang. Siapa lagi orang itu kalau bukan menantunya.
"Tuan Adam ada di kamar rawat Tuan."
"Pasti Adam syok juga dengan keadaan Karen." Lirih pak Zidane pelan tapi masih bisa di dengar Bik Narti.
Bik Narti menggelengkan kepalanya.
"Tuan Adam saja belum tau keadaan Nona Karen yang kritis Tuan."
"Maksudnya?"
"Tuan Adam di ruang rawat karena tadi sewaktu Nona Karen mengalami pendarahan Tuan Adam hampir membuat rusuh di ruang operasi, dan Sonia refleks memukul tengkuk Tuan Adam sampai Tuan Adam pingsan. Dan saat sadar, Tuan Adam kembali histeris dan ngotot ingin masuk ke ruang operasi, mau tak mau perawat menyuntikkan obat penenang pada Tuan Adam." Jawab Bik Narti.
"Wajar kalau dia seperti itu, itu tanda nya dia sangat mencintai Karen." Balas pak Zidane.
"Ya sudah, tolong antarkan saya ke ruangan cucu saya." Ucap pak Zidane lagi.
Bik Narti pun mengantarkan pak Zidane untuk melihat cucu pertamanya ke ruang NICU.
✨✨✨
Meninggalkan pak Zidane yang sedang mengharu biru melihat cucu pertamanya. Ada Adam yang kembali tersadar dari obat penenang dosis rendah yang tadi di suntikkan perawat ke tubuhnya.
"Eugh...." lenguh Adam sambil matanya mengerjap.
Sonia yang sejak tadi menunggui Adam di ruang rawat pun bangun dari duduknya di sofa dan berjalan mendekati ranjang Adam.
__ADS_1
"Tuan.."
"Bagaimana istri saya? Apa sudah keluar dari ruang operasi?" Tanya Adam dengan suara lemah.
Sonia menganggukkan kepalanya.
"Apa sudah di pindahkan ke kamar? Saya ingin melihat istri saya." Kata Adam lagi sambil mendudukkan dirinya lalu menurunkan kakinya ke lantai.
"Tuan..." lirih Sonia. Melihat Adam dua kali histeris karena keadaan Karen, Sonia jadi tidak tega memberitahu Adam tentang kondisi Karen yang kritis.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Karen?" Tanya Adam curiga.
"Mmm..."
"Pasti ada yang tidak beres!!" Meski kondisinya masih lemah karena efek obat penenang, Adam langsung berlari keluar dari dalam kamar rawatnya.
"Tuan..." Karen berlari secepat kilat mengejar Adam dan langsung menangkap tangan Adam.
"Tolong jangan histeris lagi. Karena kalau Tuan histeris lagi, karena akan mengganggu pasien yang lainnya dan..."
"Dan apa?"
"Dan akan membuat kondisi Nona Karen semakin memburuk."
"Jadi benar Karen dalam keadaan buruk?!"
Mau tak mau Sonia menganggukkan kepalanya lemah..
"Dimana dia? Ayo antar saya ke ruangan Karen." Adam menarik tangan Sonia.
Mereka pun berjalan menuju ruang rawat intensif Karen.
Kini Adam sudah berada di dalam ruang rawat Karen. Tubuh Adam lemas seketika melihat tubuh Karen banyak terpasang alat-alat.
Dengan berderai air mata, Adam pun berjalan mendekati ranjang Karen dan duduk di kursi yang ada disamping ranjang itu.
Adam menciumi punggung tangan Karen.
"Kenapa jadi begini sayang?" Lirih Adam sambil terisak.
"Ayo bangun sayang, Inces kita udah lahir. Dia butuh kamu." Kata Adam lagi.
Seperti merasakan kesedihan Adam, air mata keluar dari pelupuk mata Karen.
"Kamu bilang, setelah aku dinas dari luar kota, kamu mau cari perlengkapan untuk Inces. Sekarang Inces kita udah lahir tapi perlengkapan Inces belum lengkap. Kamu harus bangun sayang, biar kita beli perlengkapan untuk Inces. Kasihan. Inces kita belum punya baju yang cantik-cantik." Kata Adam lagi.
Tiba-tiba saja....
BERSAMBUNG...
💋💋💋 Promo bentar yah... 💋💋💋
Dengan tidak mengurangi rasa sayang dan rasa hormat serta rasa yang tak pernah hilang. Othor mohon kesudiannya mampir di karya othor yang satu ini. Kenapa? karena ini adalah karya lomba pertama othor. Jangan lupa di jadiin FAVORITE dan tinggalin jejak kalian dengan kasih LIKE, KOMEN, HADIAH dan VOTE.
MAKASIH 🙏🙏🙏 💋💋💋
__ADS_1