Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 35


__ADS_3

"Kenapa Sonia?" Tanya Adam dengan wajah kesal. Feelingnya ada sesuatu di balik pembagian saham 35% itu. Dipikiran Adam, Sonia sudah mencuci otak Karen untuk membagi sebagian sahamnya pada Sonia.


"Kita dengar dulu." Ucap pak Zidane dengan nada tegas pada Adam.


"Silahkan terus kan pak Indra." Kata pak Zidane lagi pada Indra.


Dengan syarat Kak Adam dan Sonia menikah. Jika mereka menolak untuk menikah, maka saham atas nama Karen, mutlak jatuh ke tangan Princess Cantika, itu pun kalau Princess Cantika tidak ikut bersama Karen, tapi kalau Princess Cantika ikut bersama Karen, berikan lah saham Karen untuk kak Adam 25%, untuk anak yatim piatu dan anak-anak penderita autoimun 25%, Bik Narti 10% dan Sonia 10%.


Alasan mengapa saya membagi saham saya seperti dia atas ada pada surat yang saya tulis untuk masing-masing orang.


Demikian lah surat wasiat dari saya, tidak ada unsur paksaan saat saya membuatnya, wasiat ini saya tulis dengan pemikiran yang matang. Kiranya kalian semua bisa menerima dan menjalankan wasiat dari saya ini.


Maaf kalau saya meninggalkan kalian secepat ini.


Salam cinta Karen.


Indra pun selesai membacakan surat wasiat dari Karen.


"Wasiat ini berkekuatan hukum, jika ada yang tidak terima dengan wasiat ini, bisa mengajukan keberatan melalui proses hukum." Kata Indra sambil menyerahkan surat wasiat dari Karen pada pak Zidane agar pak Zidane melihat langsung tulisan tangan Karen.


"Dari tanggal yang tertera, Nona Karen menulisnya dua bulan sebelum Nona Karen meninggal. Jadi bisa saya pastikan saat menulis ini Nona Karen dalam keadaan sadar." Kata Indra lagi.


Pak Zidane menghela nafasnya. Ia terlihat tidak kaget dengan surat wasiat yang di buat Karen dua bulan lalu, karena sebelumnya dokter yang menangani Karen sudah lebih dulu memberitahu padanya kalau Karen sudah mengetahui kondisinya dari dua bulan yang lalu.


"Gak mungkin dua bulan lalu!!! Apa Karen udah tau kalau dia akan pergi?" Adam bertanya-tanya tidak percaya.


Adam menoleh ke arah pak Zidane, terlihat raut wajah yang biasa saja. Adam pun curiga pada papa mertuanya itu kalau papa mertuanya itu mengetahui sesuatu.


"Pah.. kok papa diem aja? Apa papa sebenarnya udah tau ini semua?" Tanya Adam.


"Bagaimana caranya papa bisa tau, kalau papa selama ini ada di Singapura? Seharusnya papa yang bertanya sama kamu, kenapa kamu bisa sampai tidak tahu keadaan Karen, kemana kamu!!!" Pak Zidane malah membalikkan pertanyaan pada Adam dengan wajah dinginnya.


Sebenarnya ia tidak menyalahkan Adam atas apa yang terjadi pada Karen, tapi melihat Adam yang terus-terusan seperti ini dan seolah tidak menerima takdir, membuat pak Zidane menjadi emosi. Apalagi semenjak Karen di kebumikan sampai dengan hari ini Adam belum sama sekali menjenguk Princess Cantika di rumah sakit.


"Dimana kamu saat dokter meminta Karen untuk merelakan janinnya agar Karen bisa bertahan hidup? Sampai-sampai Karen bisa merahasiakan ini dari kita semua?!" Tanya pak Zidane lagi.


Seketika Adam terdiam.

__ADS_1


Ia kembali mengingat hari-hari kebelakang, dimana ia terlalu sibuk mengurus usaha pak Zidane di berbagai kota karena pak Zidane sedang berobat di Singapura. Ia baru ingat kalau selama itu dirinya sudah dua atau tiga kali membiarkan Karen kontrol kandungan sendiri. Dan mungkin disaat itu lah Adam kecolongan informasi.


"Apa ada keluarga yang ingin bertanya?" Tanya Indra memecah keheningan.


"Tapi kenapa Nona Karen meminta saya menikah dengan Tuan Adam?" Lirih Sonia pelan tapi masih bisa di dengar orang-orang yang ada disana.


"Kalau itu, mungkin jawabannya ada dalam surat yang Nona Karen tuliskan untuk anda Nona." Jawab Indra.


"Baik lah, jika tidak ada yang ingin ditanya kan lagi, kalau begitu saya pamit undur diri. Tolong kabari saya kalau Tuan Adam sudah siap menerima wasiat dari Nona Karen." Kata Indra lagi.


Setelah itu Indra dan David pun keluar dari rumah pak Zidane.


✨✨✨


Di dalam kamarnya, Adam yang masih tidak percaya dengan surat wasiat Karen yang memintanya untuk menikah dengan Sonia memilih berendam dalam bathub untuk menenangkan pikirannya. Adam pun memejamkan matanya.


Begitu Adam memejamkan matanya, terlihat sangat jelas wajah Karen yang sedang tersenyum.


"Karen.. Karen sayang, kembali sayang. Jangan tinggalkan aku!!!" Teriak Adam saat melihat sosok Karen dalam mimpinya. Sosok Karen begitu dekat tapi tak bisa Adam gapai.


"Jaga Inces yah kak, berikan kebahagiaan yang lengkap untuk Inces." Begitu lah pesan yang Karen ucapkan dalam mimpi Adam.


Setelah mengucapkan itu Karen pun pergi dari hadapan Adam dan saat Adam mengejarnya sosok Karen sudah menghilang entah kemana.


Mata Adam pun langsung terbuka, nafasnya terengah-engah seperti habis berlari, mimpinya itu terasa sangat nyata.


Saat sadar kalau pertemuannya hanya mimpi, Adam pun kembali menangis sesunggukkan.


Puas menumpahkan air matanya, Adam pun keluar dari dalam bathub dan membilas tubuhnya setelah itu keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.


Adam berdiri di depan cermin sambil melihat pantulan keseluruhan tubuhnya.


"Kasihan banget sih nasib loe Dam, masih dua puluh satu tahun udah jadi duda satu anak." Gumam Adam dalam hati.


Saat ia bergumam mengucapkan duda satu anak, seketika dirinya teringat akan Princess Cantika yang tidak pernah lagi ia tengok setelah kematian Karen.


"Inces..." lirih Adam.

__ADS_1


Cepat-cepat Adam pun memakai pakaiannya dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat buah cintanya dengan Karen yang masih harus mendapat perawatan intensif.


Adam mengambil kunci mobil dan dompet yang ia letakkan di meja rias dan tanpa sadar ia juga menyambar amplop yang diberikan Indra tadi untuk dirinya, amplop yang sama sekali Adam belum buka lalu memasukkannya ke dalam kantong celananya.


✨✨✨


Di kamar pak Zidane.


Setelah cukup lama menatap amplop yang di berikan Karen khusus untuknya, dan setelah merasa hatinya sudah cukup kuat untuk membuka amplop itu, pak Zidane pun mulai membuka amplop itu perlahan.


Terlihat lah selembar surat dengan tulisan tangan Karen sendiri.


Hai Papa....


Karen yakin kalau papa sedang membaca surat ini pasti papa butuh waktu lama kan untuk membukanya?


Maafkan Karen yah pah kalau selama menjadi anak papa, Karen banyak menyusahkan papa dengan penyakit Karen. Papa sampai harus meninggalkan pekerjaan papa berminggu-minggu hanya untuk menjaga Karen kalau penyakit Karen kambuh.


Tapi sekarang Karen udah sembuh pah, jadi papa gak perlu mencemaskan Karen lagi.


Pah...


Kalau Princess Cantika tidak ikut bersama Karen, tolong jaga Inces yah pah seperti papa menjaga Karen dulu. Dan tolong bujuk Kak Adam untuk mau menikah dengan Sonia.


Bukan tanpa alasan Karen memilih Sonia menjadi ibu sambung Inces. Itu semua karena Karen yakin Sonia akan menyayangi dan menjaga Inces seperti menjaga anak kandungnya sendiri. Hanya Sonia lah satu-satunya wanita yang Karen percaya untuk menjadi ibu sambung Inces.


Karen gak mau nasib Inces sama dengan Karen. Walau papa memberikan seluruh waktu dan perhatian papa untuk Karen tapi jujur, Karen iri pah dengan teman-teman Karen saat mereka menceritakan tentang liburan mereka dengan orangtua mereka yang lengkap, Karen iri saat mereka memamerkan masakan ibu mereka, Karen iri saat ibu mereka memanggil nama mereka. Dan Karen tidak ingin Inces merasakan hal yang sama dengan Karen.


Bukan kah papa sudah menganggap Sonia seperti anak papa sendiri? Jadi Karen harap papa bisa menerima Sonia sebagai pengganti Karen dan menjadi ibu untuk Inces. Tolong bujuk kak Adam yah pah.


Jangan sedih berkepanjangan yah pah, sekarang udah waktunya Karen bersama mama, setelah sembilan belas tahun Karen bersama dengan papa, dan suatu saat nanti kita bertiga akan berkumpul lagi.


Salam cinta dari putri tercantik mu, Karen.


Pak Zidane pun menangis sesunggukkan setelah membaca surat dari Karen.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2