
Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat subuh. Waktu dimana biasanya botol jin peliharaan Kaum Adam bangun dan bertransformasi menjadi kentongan pos ronda.
Begitu pun dengan si Otong, botol jin peliharaan Adam. Ia bangun mencari tempat untuk mencuci dirinya karena sudah setahun tidak di cuci di mesin pencucian botol dan hanya di cuci manual oleh lima jari Adam.
Adam mengerjapkan matanya saat merasakan botol jin yang tidak ada akhlak itu sudah berubah menjadi kentongan pos ronda dan meronta-ronta minta di masukkan ke dalam mesin pencuci botol milik Sonia.
Dengan nyawa yang belum terkumpul semua, Adam merapatkan dirinya dengan Sonia yang tidur membelakangi dirinya.
"Son..." bisik Adam di telinga Sonia.
"Hemh..." balas Sonia dengan mata yang masih tertutup lalu membalikkan tubuhnya untuk menghadap Adam.
Perlahan Sonia mengerjapkan matanya.
"Astaga." Kaget Sonia begitu membuka matanya dan melihat wajah Adam hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Sontak Sonia pun memundurkan wajahnya dari wajah Adam.
"Bikin kaget aja ikh!!!" Omel Sonia.
"Kenapa?" Tanya Sonia saat melihat wajah Adam yang aneh.
Adam tak menjawab, ia malah menutup matanya berusaha menahan hasratnya.
"Kamu sakit mas?" Tanya Sonia khawatir.
Adam menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa? Kok muka kamu aneh kayak gitu?"
"Aku horny Son." Jawab Adam dengan suara berat nan seraknya.
"Ekhem... ho-ho-horny? Te-terus ke-na-pa?" Tanya Sonia tergagap-gagap.
"Yuk." Ajak Adam singkat, jelas, padat dan langsung ke intinya.
"Ta-ta-tapi..."
"Apa kamu mau aku jajan susu sama tempe di luar? Bukannya kamu juga yang dosa kalau aku sampai kayak gitu?"
Sonia terdiam memikirkan kata-kata Adam. Dan tak lama pun Sonia menganggukkan kepalanya tanda kalau ia menyanggupi ajakan suaminya itu.
Melihat Sonia menganggukkan kepalanya, tanpa improvisasi, Adam pun langsung menarik tangan Sonia dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Sonia, lalu mengunyah bibir itu dengan lembut.
Sonia yang sudah tau cara kerja mengunyah bibir pun membalas kunyahan bibir Adam, yah meski masih sangat kaku.
Kunyahan bibir pun semakin memanas, kunyahan yang tadinya lembut lama kelamaan menjadi sangat kasar dan tak beraturan. Dan membuat Sonia tidak bisa mengimbangi permainan Adam.
Sonia yang hampir kehabisan stok oksigen di dalam paru-parunya pun refleks mendorong Adam. Untungnya Sonia mendorong Adam pelan, kalau tidak sudah di pastikan Adam akan terjungkal ke belakang dan mood Adam kembali drop.
Untuk kali ini Adam tidak melayangkan protesnya, karena tau alasan Sonia mendorongnya. Adam yang sudah kesurupan arwah genderuwo yang ngebet kawin pun kembali menyerang Sonia, kali ini serangan Adam berikan di area leher sang istri.
Tak puas hanya menyengat di bagian leher, Adam pun hendak memberi sengatan kenikmatan di bagian susu gantung Sonia, tapi sebelum ia memberi sengatan di area sana, dengan satu tangannya, Adam menaikkan kedua tangan Sonia ke atas kepala, tujuannya agar tangan yang gampang refleks itu tidak memelintir tangan Adam atau bahkan memukul kepala Adam sampai pingsan.
"Mas..." lirih Sonia dengan nafas yang memburu.
"Sst, jangan ribut, nanti Cantika bangun." Kata Adam.
"Tapi...hemph..." belum sempat Sonia protes, Adam sudah kembali mengunyah bibir Sonia dengan sangat rakus.
Tangan Adam yang sebelah pun juga sudah mulai merayap ke balik piyama Sonia dan jari-jarinya merangkak naik menuju kompeng kenyal Sonia yang masih di bungkus saringan susu.
Merasa tidak nyaman dengan saringan susu yang menghalangi telapak tangannya menyentuh kompeng kenyal, tangan Adam pun beralih ke punggung Sonia untuk membuka pengait saringan susu itu.
Tak. Bunyi pengait yang terlepas.
__ADS_1
Setelah pengait terlepas, Adam pun membuka semua bagian atas Sonia sebatas lehernya agar ia bisa bebas mengeksplor kompeng kenyal Sonia.
"Mmmhhh aaaah.." desau Sonia. Tubuhnya pun membusur merasakan sensasi yang luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan itu saat Adam dengan buasnya menghi•sap kompeng kenyalnya dan lidahnya dengan mahir nya memilin kismis yang ada di puncak kompeng kenyal.
Hasrat semakin meninggi, permainan semakin panas, Adam pun melepaskan tangannya yang sedang memegang tangan Sonia agar bisa tangan itu bermain dengan kompeng kenyal yang satu lagi. Agar tidak terjadi kecemburuan sosial.
"Mas... sssh ah.." desau Sonia lagi.
"Pelankan suara mu." Kata Adam lagi memperingatkan.
"Boleh yah?" Tanya Adam yang sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya. Ia ingin segera melakukan ritual pencucian botol.
Sonia mengangguk malu. Meski malu tetap saja, ia juga merasa ada sesuatu yang harus segera di tuntaskan.
Melihat Sonia mengangguk, Adam pun turun dari atas ranjang dan membuka semua kain yang menempel di tubuhnya. Setelah sudah dalam keadaan polos, baru lah Adam kembali naik ke atas ranjang.
Melihat suaminya sudah dalam keadaan polos dan sedang merangkak ke arahnya, Sonia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu.
Kini Adam sudah tepat berada di atas tubuh Sonia. Ia menarik tangan Sonia yang sedang menutupi wajahnya.
"Gak usah malu-malu gitu. Lihat aja kalau mau lihat, mainin aja kalau mau di mainin." Kata Adam.
"Ish... apaan sih!!" Balas Sonia masih dengan malu-malu.
"Aku buka yah?" Ijin Adam.
Sonia mengangguk malu-malu.
Tapi Adam tidak sekedar membuka kancing piyama Sonia, melainkan sambil mengunyah bibir Sonia, agar Sonia tidak merasa malu. Tau-tau sudah terbuka saja.
Setelah kancing semua sudah terlepas, Adam pun menarik saringan susu yang sudah tidak terkait itu dan membuangnya kesembarang arah sedangkan piyama, Adam biarkan menempel di tubuh Sonia.
Adam pun menurunkan permainan bibirnya ke leher lalu ke kompeng kenyal Sonia.
Puas memberi sengatan di bagian kompeng kenyal Sonia. Adam pun hendak membuka bagian bawah Sonia.
"Aku buka yah." Ijin Adam lagi.
Sonia menganggukkan kepalanya sambil melipatkan kedua tangannya untuk menutupi dua kompeng kenyalnya yang terpampang nyata.
Adam pun mulai menurunkan celana tidur panjang yang Sonia kenakan, tapi baru juga turun beberapa centi dari pinggul, tiba-tiba suara rengekan Cantika mengalihkan perhatian Sonia.
Sonia pun mendorong Adam, hendak turun dari atas ranjang dan melihat Cantika.
"Tunggu." Adam langsung menahan pinggang Sonia.
"Itu Cantika bangun." Protes Sonia pelan.
"Bentar lagi diem kok." Balas Adam.
Adam pun melanjutkan menurunkan celana Sonia, tapi baru juga turun beberapa centi, Cantika malah menangis kencang.
Tak perlu di tanya lagi bagaimana respon Sonia. Ia langsung mendorong Adam sampai terjungkal ke belakang, lalu menurunkan kakinya dari atas ranjang lalu menaikkan celana yang sudah sempat Adam turunkan beberapa centi itu. Sonia pun berjalan menuju box bayi Cantika sambil mengancing lagi piyamanya. Ingin memasang saringan susu terlebih dulu, sudah tidak sempat karena tangisan Cantika sudah semakin kencang.
"Aaargh Cantika!!!!!!" Geram Adam.
Adam pun berdiri dari atas lantai dan berjalan menuju kamar mandi untuk menenangkan botol jin yang sudah ngences-ngences.
✨✨✨
Di ruang kerjanya.
Adam nampak tak bersemangat kerja. Bagaimana mau bersemangat kalau niatnya ingin menjadikan Sonia sebagai istri yang seutuhnya selalu gagal. Bahkan dalam satu malam sudah dua kali gagal.
__ADS_1
Adam menghela nafasnya. Entah sudah berapa kali ia menghela nafasnya kasar sambil mengacak-acak rambutnya.
TRING. Bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Adam pun mengambil ponselnya dan membuka pesan itu.
Ternyata pesan dari Ayu yang memberitahu kalau hari ini ia dan suaminya berangkat honeymoon.
"Aha. Gue ada ide!!" Kata Adam setelah membaca pesan dari kakaknya itu.
Cepat-cepat Adam keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ruang kerja pak Zidane.
Tok Tok Tok. Adam mengetuk pintu ruang kerja pak Zidane.
"Masuk." Jawab pak Zidane dari dalam.
Ceklek. Adam pun membuka pintu ruang kerja pak Zidane.
Pak Zidane menoleh ke arah pintu ruang kerjanya.
"Ada apa Dam?" Tanya pak Zidane.
"Adam mau cuti pah." Jawab Adam.
Pak Zidane yang sedang memeriksa berkas-berkas di meja kerjanya sontak menjeda aktifitasnya.
"Cuti? Kenapa tiba-tiba minta cuti? Apa kamu sakit?" Tanya pak Zidane.
Adam menggelengkan kepalanya.
"Terus?"
"Mmm.... anu... itu..." Adam nampak ragu mengatakan keinginannya yang ingin honeymoon dengan Sonia.
"Apa sih kamu!!! Ngomong tuh yang jelas!!" Omel pak Zidane.
"Adam mau honeymoon pah." Jawab Adam pelan.
"Oh... mau honeymoon. Kok lama banget kamu minta cuti honeymoonnya? Papa pikir satu atau dua minggu setelah papa maksa kalian berdua tidur sekamar, kamu akan langsung minta honeymoon." Kata pak Zidane dengan santainya.
Adam diam tak menanggapi kata-kata pak Zidane.
"Ya sudah. Kamu pulang lah sekarang dan bersiap lah ke Kota L. Papa sudah menyiapkan honeymoon untuk kalian berdua. Tapi kalian hanya bisa honeymoon seminggu, karena papa harus ke Singapore untuk kontrol." Kata pak Zidane.
Adam ternganga mendengar kata-kata pak Zidane.
Ia tak menyangka kalau papa mertuanya itu sudah mempersiapkan semuanya.
"Kenapa kok bengong? Gak mau ke Kota L? Mau ke luar negri? Kalau mau ke luar negri, tunggu papa pulang dari Singapore kalau gitu." Kata pak Zidane lagi.
"Ekh... gak kok pah, mau kok. Adam cuma kaget aja papa udah nyiapin semuanya untuk Adam."
"Kan udah papa bilang, papa pengen punya cucu banyak dari kalian berdua. Makanya jauh-jauh hari papa udah nyiapin ini semua. Udah sana pergi!!"
"Tapi Cantika gimana?"
"Kan ada Bik Narti, ada baby sitter juga yang jaga. Ada papa juga. Jadi kamu gak perlu pusing mikirin Cantika."
Tanpa banyak bicara lagi, Adam pun langsung keluar dari ruang kerja pak Zidane untuk pulang kerumah.
"Kota L, kami dataaaaang." Jerit Adam dalam hati.
BERSAMBUNG...
__ADS_1