
Setelah panggilan telepon dengan suaminya berakhir, Ayu pun meminta Sonia untuk memutar laju mobilnya.
"Sonia, kita pulang dulu yah kerumah. Ada barang yang ketinggalan." Ucap Ayu pada Sonia yang sedang mengendarai mobil.
"Barang apa buk?" Tanya Sonia. Ia tak mau sembarangan memutar laju mobilnya kalau barang yang ketinggalan tidak lah penting.
"Susu ibu hamil, vitamin sama obat penguat kandungan." Jawab Ayu.
"Kita beli aja di apotik kalau gitu buk."
"Enak aja beli-beli terus, kamu gak tau apa harga susu, vitamin dan obat penguat kandungan itu mahal? Aku gak mau membuang-buang uang untuk sesuatu yang masih ada stoknya. Cepat putar arah." Perintah Ayu.
Sonia menghela nafasnya.
"Baik buk." Mau tak mau Sonia mengikuti perintah Ayu. Ia pun memutar laju mobilnya untuk kembali ke rumah.
Tin..tin..tin. Sonia membunyikan klakson mobilnya agar satpam rumah membuka pintu pagar.
Satpam pun membuka pintu pagar.
Sonia pun memasukkan mobil Ayu ke dalam halaman rumah.
"Kok ibu balik lagi?" Tanya si satpam saat Ayu turun dari dalam mobil.
"Ada yang ketinggalan pak." Jawab Ayu
Ayu dan Sonia pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah sebelum suara klakson mobil Ayu terdengar oleh Billy, Billy sedang asyik mengelilingi rumah baru Lucky dan Ayu.
"Harusnya aku yang menikmati ini semua. Bukan wanita itu! Harusnya aku yang menjadi teman hidup Luck, bukan wanita itu!! Dasar wanita sialan, kau sudah menghancurkan mimpi ku bersama Luck. Kalau aku tidak bisa memiliki Luck, tidak ada seorang pun yang bisa memiliki Luck!!" Ucap Billy sambil mengelilingi rumah Lucky dan Ayu.
Saat sedang asyik mengelilingi rumah kekasihnya, tiba-tiba saja suara klakson mobil terdengar nyaring di telinganya.
Billy mengintip dari balik jendela, untuk melihat siapa yang datang.
Senyum licik terbit di bibir Billy saat ia melihat Ayu keluar dari dalam mobil.
Billy pun lari ke ruang televisi dan bersembunyi di balik dinding.
Ceklek. Pintu rumah terbuka.
"Kamu ambilin susu di dapur, biar aku naik ke atas ambil vitamin dan obat." Ucap Ayu pada Sonia.
"Biar saya aja buk, bu Ayu kan gak boleh naik turun tangga sama pak Lucky, jadi biar saya aja yang ke atas, ibu ke dapur."
"Ya udah."
Ayu dan Sonia pun berpencar, Sonia naik ke lantai atas dan Ayu meneruskan langkahnya ke dapur.
Billy yang melihat Ayu masuk ke dapur pun perlahan keluar dari dalam ruang televisi dan menyusul Ayu ke dapur.
"Ish..susu nya di taro dimana sih." Lirih Ayu sambil membuka laci-laci kitchen set.
__ADS_1
Merasa ada orang di belakangnya, yang ia pikir Sonia, Ayu pun menoleh.
"Kok ce-.." suara Ayu tertahan saat melihat sosok Billy yang ternyata ada di belakangnya.
Matanya membulat, jantungnya berdebar kencang, tubuh nya bergetar hebat, karena saat ini Billy sedang memegang pisau dapur.
"Jangan berteriak, atau aku akan langsung menghujamkan pisau ini ke tempat dimana janin mu berada." Ancam Billy.
"Ja-jangan, aku mo-hon." Mohon Ayu dengan suara bergetar.
Billy mendekati Ayu dan langsung menjambak rambut Ayu, menyeret Ayu masuk ke dalam gudang.
"Aaargh.." sontak saja Ayu menjerit begitu Billy menjambak rambutnya.
"Sudah ku bilang diam!!!" Bentak Billy.
Sontak Ayu pun menutup mulutnya rapat-rapat menahan suara keluar dari dalam mulutnya.
Ceklek. Billy membuka pintu gudang dengan kasar.
Mata Ayu membulat saat melihat asisten rumah tangganya sudah terkapar di atas lantai. Ayu pikir si asisten rumah tangga sudah tak bernyawa.
Billy pun mendorong Ayu kasar, sehingga membuat Ayu terjatuh ke lantai.
"Aargh..." pekik Ayu.
Billy menutup pintu gudang dan menguncinya.
Melihat Billy mendekatinya, Ayu mundur perlahan.
"Aku mohon, jangan sakiti aku." Mohon Ayu.
"Apa kau bilang, jangan menyakiti mu? Kau sadar tidak kehadiran mu sudah menghancurkan ku!!" Ucap Billy dengan tatapan sadis.
"Kau sudah merebut Luck dari ku, kau sudah menghancurkan mimpi yang ku bangun bersama Luck. Jika aku tidak bisa mewujudkan mimpi ku bersama orang yang kucintai, maka tak ada satu orang pun yang bisa membangun mimpinya bersama Luck!!" Bentak Billy.
Disaat nyawa Ayu sedang terancam, ada Sonia yang sibuk mencari keberadaan Ayu.
Sonia panik mencari keberadaan Ayu.
Disaat Sonia sedang menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah, tiba-tiba saja suara teriakan Ayu dari dalam gudang terdengar di telinga Sonia.
Sonia pun berlari menuju gudang.
Sonia memutar handle pintu gudang, tapi tidak bisa karena pintu gudang terkunci.
BRAK. Dengan sekali tendangan, Sonia berhasil membuka pintu.
"Bu Ayu. Lila" Teriak Sonia sambil membelalakkan mata saat melihat Ayu dan Lila sudah terkapar di lantai.
Sonia pun berlari mendekati Ayu dan Lila yang sudah di tumpuk Billy. Sonia memeriksa denyut nadi Ayu, ternyata masih ada detakan denyut nadi istri bos nya itu.
"Bu..bu Ayu, sadar bu." Sonia menepuk-nepuk pipi Ayu, tap sayangnya Ayu tak sadar-sadar.
__ADS_1
Saat Sonia sedang panik dengan keadaan Ayu, Billy yang bersembunyi di balik pintu berjalan perlahan mendekati Sonia dengan sebilah pisau di tangannya, Billy siap menghujam Sonia.
BUGH..BUGH..BUGH..
Adam langsung memberikan tinjuan bertubi-tubi pada Billy, bahkan sampai Billy terkapar di lantai pun, Adam masih mendaratkan bogem mentahnya pada Billy.
"Cepat bawa mbak Ayu kerumah sakit." Teriak Adam pada semua anak buahnya.
Sonia pun menggendong Ayu, dan satu anak buah Adam menggotong Lila.
Membawa Ayu dan Lila keluar dari dalam gudang.
"Siapa kau? Saya tidak punya urusan sama mu!!!"
"Jelas kau berurusan dengan ku, karena wanita yang kau sakiti adalah kakak ku!!! Harusnya sebelum kau berniat menyakiti kakak ku, kau cari tau dulu tentangnya!!!"
"Cih..buat apa aku mencari tau tentang wanita sialan itu!! Yang aku mau wanita sialan itu musnah dari dunia ini, karena wanita sialan itu sudah merenggut kebahagiaan ku!!"
Adam mengernyitkan keningnya, mencerna kata-kata Billy.
"Merenggut kebahagiaan? Apa mbak Ayu sudah memperkosa laki-laki ini? Lalu mbak Ayu gak mau bertanggung jawab dan malah menikahi mas Lucky? Kalau memang begitu kan, seharusnya tidak jadi masalah. Malah si tengik ini yang untung." Adam menerka-nerka kalimat yang Billy katakan.
"Aakh..tidak mungkin, masa iya seperti itu." Namun setelah Adam pikir-pikir lagi, tidak mungkin laki-laki yang ada di hadapannya itu dendam pada kakaknya karena hal itu.
Otak Adam yang cetek tak sanggup memikirkan maksud perkataan Billy yang sesungguhnya. Adam pun berniat menanyakan langsung kenapa Billy apa yang membuat Billy sangat dendam pada kakaknya.
Namun saat Adam ingin menanyakan, tiba-tiba saja ponsel Adam berbunyi.
Adam pun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Tertera nama Lucky yang menghubunginya, kemudian menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Ha-" Belum selesai Adam menyapa kakak iparnya, Lucky sudah memberi perintah pada Adam.
"Dam, kamu tahan Billy disitu. Jangan ada yang lapor polisi. Biar aku yang memberi pelajaran langsung dengan tangan ku." Perintah Lucky.
"Oke. Baik mas." Jawab Adam.
Panggilan pun berakhir.
"Ambilkan tali dan lakban. Kita sekap dulu laki-laki ini sampai mas Lucky datang." Perintah Adam pada anak buahnya.
"Baik pak."
"Dan kau, bersiap-siap lah menerima amukan kakak ipar ku karena sudah menyentuh istrinya. Dan satu lagi, kalau sampai terjadi apa-apa pada calon keponakan ku, habis kau ditangan ku.!" Ancam Adam.
Tak lama anak buah Adam pun datang membawa tali dan lakban yang di perintahkan Adam padanya. Anak buah Adam pun mengikat kaki dan tangan Billy, menyumpal mulut Billy dengan kaos kaki salah satu anak buah Adam yang sudah seminggu tidak di cuci.
"Kalian jaga disini jangan sampai orang ini kabur." Perintah Adam.
"Baik pak." Jawab anak buah Adam.
Adam pun keluar dari dalam gudang, membiarkan Billy di jaga ketat oleh tiga anak buah Adam.
BERSAMBUNG...
__ADS_1