
"Aaaarrrrghhh.." teriak Lucky sambil menjambak rambutnya frustasi.
"Seandainya aku tidak ke apartemen Billy, mungkin Ayu tidak akan di sakiti Billy seperti tadi." Lirih Lucky saat kedua netra nya dengan jelas melihat Ayu yang hampir kehabisan nafas karena cengkraman tangan Billy di leher Ayu.
Ia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Tapi ternyata ponselnya tidak ada di dalam kantongnya, ia baru ingat kalau ponselnya berada di dalam tas dan tas nya itu tertinggal di dalam apartemen Billy.
Lucky pun bangkit dari tempat duduknya, mau tak mau ia kembali ke unit apartemen Billy untuk mengambil tas nya, karena takut Billy menyalah gunakan barang-barang pribadinya yang ada di dalam tas nya itu.
Sedangkan dari dalam kamar, Ayu menangis dalam diam. Tangis nya semakin menjadi-jadi saat mendengar pintu apartemennya terbuka kemudian tertutup kembali, Ayu yakin kalau suaminya itu keluar dari apartemen untuk kembali ke apartemen Billy.
✨✨✨
Kini Lucky sudah sampai di apartemen Billy.
Semua barang yang ada di apartemen Billy berantakan, bahkan meja di ruang tamu sudah pecah.
"Bill..." panggil Lucky sambil terus berjalan menuju kamar.
Namun langkah kakinya terhenti saat melihat Billy yang tergeletak di ruang televisi dengan tangan yang sudah berdarah-darah. Billy menyayat urat nadinya, ingin bunuh diri.
Mata Lucky membelalak dan langsung berlari mendekati Billy.
"Bill...." teriak Lucky.
Lucky pun mencari tas nya, kemudian kembali mendekati Billy.
Ia mengambil sapu tangan dari dalam tas nya dan mengikatkan sapu tangan itu ke pergelangan tangan Billy untuk menghentikan pendarahan.
Setelah melakukan pertolongan pertama pada Billy, Lucky langsung menggotong tubuh Billy keluar dari apartemennya dan segera membawa Billy ke rumah sakit.
"Bill, bertahan Bill." Ucap Lucky panik sambil terus berlari menuju lift.
Ting. Lift yang membawa Lucky turun pun terbuka.
Lucky kembali berlari menuju parkiran, tempat dimana mobilnya ia parkir.
Satpam yang melihat aksi Lucky pun ikut berlari mendekati Lucky.
"Kenapa ini pak?" Tanya si satpam.
"Mau bunuh diri kayaknya. Pak, tolong ambilin kunci mobil saya dari dalam tas." Jawab Lucky sekalian meminta tolong pada si satpam untuk mengambilkan kunci mobilnya, karena ia tidak bisa mengambil kunci mobil dari dalam tas.
Si satpam pun membantu Lucky untuk mengambil kunci mobil yang ada di dalam tas Lucky.
"Ini pak." Ucap si satpam sambil menyerahkan kunci mobil pada Lucky.
__ADS_1
Lucky pun mengambil kunci mobil itu dan menekan tombol remote kunci untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, Lucky membaringkan Billy di kursi belakang.
"Mau saya bantu antar pak?" Tanya si satpam menawarkan diri untuk membantu mengantar Billy ke rumah sakit.
"Gak usah pak, saya aja. Bapak jaga keamanan disini aja." Tolak Lucky halus.
Lucky pun melangkahkan kakinya ke pintu mobil bagian kemudi.
Setelah berada dalam mobil dan menyalakan mesin mobil, tanpa menunggu mobil itu panas, Lucky langsung tancap gas menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
CIIIIIT. Lucky memarkirkan mobilnya sembarangan di depan IGD.
Kemudian keluar dari dalam mobil dan mengeluarkan Billy yang masih dalam keadaan pingsan dari dalam mobil.
"Sus...." teriak Lucky sambil berlari memanggil perawat yang berjaga malam di IGD.
Suster yang berjaga malam pun berlarian menghampiri Lucky.
"Loh..dokter Billy kenapa dok?" Tanya salah satu suster.
"Sepertinya mau bunuh diri. Cepat ambilkan pavidone iodine dan perban." Perintah Lucky pada perawat itu.
Perawat pun dengan sigap mengambil segala yang di butuhkan Lucky untuk mengatasi sayatan di pergelangan tangan Billy.
"Kenapa kamu senekat ini Bill?" Lirih Lucky sambil menatap Billy.
Lucky sebenarnya ingin pulang ke apartemennya dan meninggalkan Billy sendiri di rumah sakit. Tapi ia takut saat sadar nanti, Billy akan berbuat yang lebih gila dari ini.
Lucky pun memilih untuk tetap berada di samping Billy. Ia menutup tirai bangsal IGD kemudian mendudukkan dirinya di kursi sebelah ranjang pasien.
Tak lama mata Billy pun mengerjap. Yang pertama kali ia lihat saat matanya terbuka sempurna, adalah sosok Lucky yang sedang tertidur di kursi sebelah ranjangnya.
"Luck...apa kamu yang menyelamatkan ku?" Lirih Billy.
"Ternyata kamu masih sangat mengkhawatirkan ku Luck." Lirih Billy lagi sambil mengelus rambut Lucky.
Merasa ada yang mengelus rambutnya, Lucky pun mengerjapkan matanya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Lucky sambil menegakkan tubuhnya.
"Apa kamu yang membawa ku kesini?" Billy malah balik bertanya.
"Menurutmu?" Tanya Lucky lagi dengan nada ketus.
__ADS_1
"Bill, apa sih yang ada di pikiran mu? Sampe-sampe kamu melakukan hal senekat ini?"
"Aku frustasi Luck, kamu lebih memilih perempuan itu dari pada aku!!"
"Itu karena salah mu, karena kamu mencoba membunuh Ayu. Kalau sampai tadi Ayu mati di tangan mu bagaimana? Bukan kah sumpah seorang dokter akan menggunakan tangannya untuk menolong sesama?"
"Kenapa kamu jadi menyalahkan ku? Itu karena wanita sia•lan itu mengatai ku..."
"Ssst...pelankan suara mu!!" Cepat-cepat Lucky menutup mulut Billy agar Billy mengontrol suaranya
"Sudah lah, kita bahas masalah nanti di rumah. Sekarang istirahatlah, besok kalau cairan infusmu sudah habis, kita langsung pulang." Lucky mencoba menahan emosinya karena ia sadar kalau sekarang mereka berada di rumah sakit.
Lucky kembali meradang karena mengingat bagaimana tadi Billy mencekik istrinya di tambah lagi Billy kembali mengatai Ayu wanita sia•lan.
Billy pun menurut, ia tak melanjutkan perdebatan mereka dan kembali mengistirahatkan tubuhnya.
"Aku istirahat di ruang dokter, kamu gak pa-pa kan kalau aku tinggal?" Tanya Lucky yang ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
Billy menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kamu istirahat, dan jangan berpikir yang macam-macam." Lucky pun keluar dari bangsal Billy menuju tempat istirahat dokter yang dinas malam.
✨✨✨
Keesokan paginya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ayu pun terbangun dari tidurnya setelah menangis semalaman.
Ia melihat sisi di sebelahnya, tempat itu masih kosong, sama seperti saat dirinya mulai memejamkan mata. Ayu yakin kalau suaminya tidak tidur di sisinya semalam.
"Apa mas Lucky tidur di apartemen laki-laki itu?" Gumam Ayu.
Otaknya kembali membayangkan hal-hal yang tidak wajar yang terjadi antara Lucky dan Billy. Membayangkan hal-hal tak wajar itu, Ayu kembali menangis.
Tangisnya harus terjeda karena tiba-tiba saja ia kebelet buang air besar.
Cepat-cepat Ayu beranjak dari atas tempat tidur dan berlari kemar mandi untuk buang hajat.
Prat prot prat prot. Suara yang keluar dari bokong Ayu menjadi backsound mengiringi Ayu buang hajat sekaligus mengiringi otak Ayu yang kembali memutar memori yang membuat Ayu dan Lucky terpaksa menikah.
Memori di kamar mandi rumah sakit saat mama Tyas di rawat.
"Seandainya hari itu aku gak ikut Risa ke rumah sakit... prooot.." Gumam Ayu dan di sahuti dengan backsound dari bokong Ayu.
"Mungkin hari ini gak akan terjadi... prooot.." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Nampaknya ia mulai menyesali pertemuannya dengan Lucky.
BERSAMBUNG...