
"Mamaaaaa...." teriak Lingga, Leo dan Lucky saat melihat mama mereka jatuh pingsan lagi.
Sontak Ayu pun memutar tubuhnya dan membelalakkan matanya saat melihat mama mertuanya jatuh pingsan.
Meski ia sangat marah dan kesal dengan kedua mertuanya, tapi di hati Ayu yang paling dalam ia sangat menyanyangi orangtua suaminya itu. Rasa sayang lah yang mengalahkan amarah dalam diri Ayu.
Ayu pun berlari mendekati mama Tyas.
"Ayo cepat kita bawa mama ke rumah sakit." Teriak papa Lutfi panik.
Lingga, Leo dan Lucky yang sedang mengerubungi mama Tyas pun langsung menggotong mama Tyas menuju mobil Lingga.
Mama Tyas di baringkan di kursi belakang dan di temani papa Lutfi, sedangkan Lingga yang berada di kursi pengemudi. Lingga langsung menancapkan gas mobilnya keluar dari halaman rumah orangtuanya.
Setelah mobil Lingga keluar dari halaman rumah, Leo dan Lucky pun berlari menuju mobil mereka masing-masing.
"Ayo Yu." Ajak Lucky sambil menarik tangan Ayu.
"Lepas!!! Aku sama bang Leo aja." Tolak Ayu sambil menyentak tangan suaminya.
Ayu pun berjalan mendekati mobil abang iparnya dan cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
Setelah Ayu masuk, Leo pun langsung tancap gas meninggalkan rumah orangtuanya.
Tersisa Lucky yang masih berdiri di depan mobilnya sambil melihat kepergian mobil Leo.
"Aaaarrrgghhh!!!!" Teriak Lucky frustasi.
Bugh..bugh..bugh..
Sangking marahnya pada dirinya sendiri ia sampai menendang bumper mobilnya.
Setelah puas meluapkan emosi karena kebodohannya, Lucky pun masuk ke dalam mobilnya dan menancapkan gas mobilnya keluar dari dalam rumah orangtuanya menyusul mobil kedua abangnya yang menuju rumah sakit.
✨✨✨
Leo dan Ayu berlari menuju tempat dimana mama Tyas mendapat penanganan. Sudah ada papa Lutfi dan Lingga di depan ruang tindakan sambil mondar-mandir. Meski mereka semua dokter yang terbiasa tenang menghadapi pasien, tetap saja kalau pasiennya itu orang yang mereka sayangi mereka pasti panik.
"Mama gimana pah?" Tanya Leo.
"Sedang di periksa." Jawab papa Lutfi.
Tak lama Lucky pun datang.
Sama seperti Leo dan Ayu, Lucky pun juga berlari ke tempat dimana keluarganya berkumpul menunggu dokter keluar dari dalam ruang pemeriksaan.
"Pah..." belum selesai Lucky menanyakan kondisi sang mama, papa Lutfi langsung mengangkat tangannya memberi kode pada Lucky untuk diam.
__ADS_1
Sepertinya papa Lutfi sangat marah pada anak bungsunya itu karena diam-diam masih menjalin hubungan terlarang dengan Billy.
Lucky pun membungkam mulutnya dan mengalihkan pandangan matanya untuk melihat Ayu yang sedang duduk di kursi depan ruangan mama Tyas sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Lucky hendak berjalan mendekati Ayu, tapi dengan cepat Leo menahan langkah Lucky.
"Jangan ganggu dia, biarkan dia menenangkan dirinya dulu." Ucap Leo yang tau tujuan langkah adik bungsunya itu.
Lucky pun diam terpaku di tempatnya berdiri sambil memandang Ayu yang Lucky yakini istrinya itu saat ini sedang menangis.
Ceklek. Pintu ruang pemeriksaan mama Tyas terbuka.
Keluarlah dokter yang menangani mama Tyas.
"Istri saya gimana dok?" Tanya papa Lutfi.
"Tenang Prof, istri Prof sudah bisa kami atasi, denyut jantungnya juga sudah mulai normal, tapi kalau bisa jangan di buat syok dulu." Jawab dokter muda yang menangani mama Tyas dan juga yang mengenal papa Lutfi.
Papa Lutfi, Lingga, Leo, Lucky dan Ayu bernafas lega mendengar penjelasan dokter muda itu.
"Kami bisa masuk kan dok?" Tanya Lingga yang sudah tidak sabar melihat kondisi sang mama.
"Kami pindahkan dulu di kamar rawat yah pak." Jawab dokter muda itu.
Lingga pun menganggukkan kepalanya.
Tinggal lah Lucky dan Ayu di depan ruang pemeriksaan itu. Tak ada yang membuka suara, malahan mereka duduk berjauhan.
Tak lama mama Tyas pun keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Dalam keadaan terbaring di atas ranjang pasien, mama Tyas di bawa ke kamar rawat VVIP.
Lucky dan Ayu pun mengikuti dua perawat dan papa Lutfi yang membawa mama Tyas ke kamar rawat dari belakang.
Meski jalan berdampingan, hawa dingin masih terasa di tengah-tengah mereka. Bahkan saat tangan Lucky menggandeng tangan Ayu, cepat-cepat Ayu menghentakkan tangan suaminya agar terlepas dari tangannya.
Kini mama Tyas sudah berada di kamar rawat.
Asisten rumah tangga pun juga sudah datang membawa perlengkapan yang di butuhkan mama Tyas selama di rawat di rumah sakit.
Meski keadaan mama Tyas sudah lumayan membaik, tapi mama Tyas masih enggan membuka suaranya, apalagi saat melihat Lucky, mama Tyas lebih memilih memalingkan wajahnya.
Tak jauh beda dengan mama Tyas, papa Lutfi pun sama, ia tidak mau melihat wajah Lucky. Hanya Lingga dan Leo yang terlihat biasa saja pada Lucky, itu karena mencoba bersikap netral. Menurut mereka, Lucky memang salah karena diam-diam masih menjalin hubungan terlarangnya, tapi mama Tyas dan papa Lutfi juga salah karena langsung menikahkan Lucky dengan wanita yang tidak tau apa-apa, padahal mereka tau bagaimana tahapan-tahapan yang harus di lalui untuk menyembuhkan orang mengalami penyimpangan. Sekalipun mereka ingin membuat Lucky sembuh dengan cara menikahkan Lucky dengan lawan jenis, harusnya si lawan jenis yang akan di nikahkan dengan Lucky di beri tahu kondisi Lucky yang sebenarnya, bukan malah menyembunyikannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Lingga dan Leo sudah pulang dari satu jam yang lalu karena harus bekerja. Tinggal lah Ayu dan Lucky yang masih setia menunggu mama Tyas meskipun mama Tyas maupun papa Lutfi tidak mau berbicara dengan Lucky.
Ceklek. Pintu kamar rawat mama Tyas terbuka.
Setelah mama Tyas tertidur, papa Lutfi keluar menghampiri Ayu dan Lucky yang duduk di depan kamar rawat. Masih seperti saat pertama datang, Ayu dan Lucky masih saling diam dan masih duduk berjauhan.
__ADS_1
"Kalian pulang lah, biar papa yang jaga mama." Ucap papa Lutfi pada Lucky dan Ayu.
Setelah mengatakan itu, papa Lutfi pun kembali masuk ke dalam kamar rawat.
Ayu pun berdiri dari tempat duduknya, begitu pun Lucky yang juga ikut berdiri tempat duduknya.
Melihat istrinya sudah jalan terlebih dahulu, dengan langkah lebar Lucky berjalan menghampiri istrinya.
"Yu, kita bareng aja pulangnya." Tawar Lucky.
Ayu tak menjawab dan tetap berjalan menelusuri lorong kamar rawat VVIP.
"Yu, jangan gini dong. Aku tau kamu marah, tapi jangan diamin aku kayak gini Yu." Ucap Lucky sambil menarik tangan Ayu.
"Lepas!!!" Ayu menghentakkan tangan Lucky dari tangannya dan kembali berjalan tanpa memperdulikan Lucky.
Lucky meninju udara untuk meluapkan emosinya, bukan emosi terhadap Ayu melainkan emosi pada dirinya sendiri karena sudah membuat keadaan jadi rumit seperti saat ini.
Dengan setengah berlari, Lucky menghampiri Ayu yang sudah berdiri di depan lift.
Kali ini Lucky tidak mengusik Ayu, ia hanya berdiri di samping istrinya yang tidak menganggapnya ada.
Ting. Pintu lift terbuka.
Kini Ayu dan Lucky sudah berada di lobi rumah sakit.
"Yu, kamu pulang sama aku, oke." Ajak Lucky sekali lagi.
Ayu pun menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya untuk menghadap suaminya.
"Aku bisa pulang naik taksi dan lagi pula aku gak mau pulang ke apartemen." Jawab Ayu ketus. Kemudian ia berjalan lagi menuju pelataran rumah sakit.
"Terus kamu mau pulang kemana? Ke rumah orangtua ku? Ya udah biar aku anter."
Ayu kembali menghentikan langkah kakinya dan kembali memutar tubuhnya untuk menghadap Lucky.
"Terserah aku mau kemana. Mas urus aja laki-laki itu, gak usah peduliin aku!!!" Jawab Ayu lagi ketus, kemudian kembali berjalan.
"Taksi.." panggil Ayu saat melihat taksi yang baru saja menurunkan penumpang.
Cepat-cepat Ayu berjalan menuju taksi.
Tau istrinya masih marah dan perlu waktu sendiri, Lucky sengaja tidak mengejar Ayu yang sekarang sudah berada dalam taksi.
Setelah taksi yang Ayu tumpangi tidak terlihat, baru lah Lucky berjalan menuju parkiran tempat ia memarkirkan mobilnya.
Tujuan Lucky bukan lah apartemen melainkan rumah orangtuanya, selain jarak rumah sakit dengan rumah orangtuanya dekat, Lucky juga tidak mau kembali ke apartemen mengingat pasti ada Billy yang sedang menantinya dengan seribu satu pertanyaan dan segudang tingkah yang akan membuatnya jengkel. Dan untuk menghindari itu, Lucky memilih untuk menghindar daripada harus menghadapi Billy yang suka berbuat nekat kalau kemauannya tidak terwujud.
__ADS_1
BERSAMBUNG...