
Kini Adam sudah berada di kediaman papa Zidane.
Dengan tergesa-gesa Adam keluar dari dalam mobil. Dan setelah Adam turun barulah dua bodyguard yang mengantar Adam langsung pergi dari rumah pak Zidane.
"Karen... Karen sayang..." teriak Adam sambil menaikki anak tangga menuju kamar mereka.
Ceklek. Adam pun membuka pintu kamar.
"Sayang... Karen sayang.. Istri ku.." panggil Adam.
"Di kamar mandi kak." Jawab Karen.
Adam pun berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek. Begitu Adam sampai di depan pintu kamar mandi, Karen pun membuka pintu kamar mandi.
Adam melihat istrinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kamu baru selesai mandi jam segini? Kamu kan lagi hamil, kok baru mandi jam segini? Berapa jam kamu mandi, hah?" Rentetan pertanyaan Adam lontarkan pada istrinya.
"Apaan sih, siapa juga yang baru selesai mandi. Aku tuh habis cukur kumis tau gak." Jawab Karen sambil memanyunkan bibirnya dan berjalan menuju ruang ganti.
Adam pun mengekori Karen dari belakang.
"Hah... cukur kumis? Emangnya kamu punya kumis? Kok aku baru tau kamu punya kumis. Coba aku lihat." Ucap Adam penasaran.
"Hish... bukan kumis yang disini kak, tapi kumis yang disini." Karen yang kesal karena suaminya agak telmi, mau tidak mau membuka mengangkat bagian bawah bathrobe nya dan menunjukkan area mesin pencuci botol jin yang sudah gundul dan tak ada lagi serabut kelapa yang lebat.
"Ooooo..." Adam pun membulatkan mulutnya tanda kalau ia sudah paham maksud 'kumis' yang Karen maksud.
"Kok kamu gundulin gitu?" Tanya Adam heran.
"Aku kan tadi nonton cara melahirkan normal, terus aku tuh kepikiran buat nyukur kumis yang bawah, biar mata bidan atau dokter yang bantu persalinan aku nanti gak sepet karena lihat kumis bawah yang brekele." Jawab Karen.
"Astaga. Kenapa gak di kepang aja sekalian, biar bidan atau dokter terkesima sama kumis bawah kamu." Balas Adam.
"Cih..." decih Karen sambil memutar bola matanya malas.
"Terus kalau nanti kumis bawah gak bisa tumbuh gimana?"
"Kan ada shampo Metal yang bisa bikin rambut cepet tumbuh. Tinggal di keramasin pake itu aja tiap hari." Jawab Karen dengan gampangnya.
"Lagian kalau kumis bawah gak tumbuh lagi, kakak gak mau lagi nyuci botol di tempat aku?" Tanya Karen sambil tolak pinggang.
"Sembarangan. Ya tetap mau lah. Tapi kan gesekannya kurang greget aja sayang." Jawab Adam.
"Oh.. iya aku ada sesuatu untuk kamu." Ucap Adam untuk mengalihkan kemarahan Karen.
"Ayo sini." Adam menarik tangan Karen dan membawa Karen keluar dari ruang ganti menuju meja rias dimana tadi Adam meletakkan plastik yang berisi mainan power rangersnya.
"Ini." Adam menyerahkan kantong plastik itu pada Karen.
"Ini apa?"
__ADS_1
"Buka aja dulu."
Karen pun membuka kantong plastik itu.
"Power rangers?" Tanya Karena dengan mimik wajah bingung. Bingung untuk apa suaminya membelikan power rangers untuknya. Karen lupa kalau tadi pagi Adam janji akan membelikan mainan power rangers untuk anaknya yang masih dalam kandungan.
"Iya. Tadi pagi kan aku janji sama anak kita kalau dia gak minta makanan yang aneh-aneh sama kamu, aku pulang bawain mainan." Jawab Adam.
"Oooo." Mulut Karen membulat, ia baru ingat.
"Tapi kenapa cuma beli warna pink sama kuning kak? Kenapa yang warna merah, biru, hijau, hitam dan putih gak di beli sekalian?"
"Jangan deh, mereka pemain anggar."
"Hah.. Maksudnya?"
"Adalah. Udah sana pake baju sana, nanti masuk angin. Atau kamu mau aku yang masukin?"
"Ya mending kakak lah yang masukin." Jawab Karen asal.
Tapi jawaban Karen yang asal itu malah di tanggapi serius oleh Adam.
Tanpa basa-basi lagi, Adam pun langsung menggendong Karen dan membaringkannya ke tempat tidur.
Dan semua barang-barang yang mengisi kamar itu menjadi saksi bisu ritual pencucian botol yang begitu khidmat dan nikmat.
✨✨✨
Keesokan paginya.
Sama dengan Adam, Karen pun juga masih tertidur.
Sampai akhirnya Adam dan Karen terbangun karena bunyi nada dering di ponsel Adam.
"Kak... ponsel kamu bunyi tuh." Ucap Karen dengan suara serak khas orang bangun tidur sambil menyenggol tubuh suaminya tapi dengan mata yang masih tertutup.
Adam pun meraba nakas sebelahnya untuk mengambil ponselnya.
Perlahan ia membuka matanya untuk melihat siapa yang menelpon dirinya.
"Pak David." Lirih Adam saat melihat nama asisten pribadi papa mertuanya itu.
Adam pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo."
"Selamat pagi Tuan Adam. Maaf mengganggu. Apa bisa Tuan Adam datang ke rumah sakit xxx sekarang. Tapi saya mohon Tuan Adam merahasiakan ini dari Nona Karen."
"Kenapa?"
"Datang lah kesini, nanti Tuan Adam akan tau."
Belum sempat Adam menjawab apa dirinya bisa atau tidak, David sudah mengakhiri panggilan telepon mereka.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya yang terjadi? Apa ini jawaban akan kegelisahan ku sepanjang malam?" Gumam Adam dalam hati.
"Siapa kak?" Tanya Karen sambil memeluk manja tubuh suaminya.
"Pak David. Aku disuruh cepet-cepet datang ke kantor karena ada klien yang mau ketemu aku." Jawab Adam berbohong.
"Ish.. dari kemaren kakak berangkat pagi terus."
"Ya namanya juga kerja sayang. Ini kan buat kamu dan anak kita juga."
"Tapi itu kan perusahaan papa, mertua kakak. Ya bisa lah kalau kakak datengnya jam sepuluh aja."
"Jangan gitu dong sayang. Sedangkan papa aja yang pemilik perusahaan selalu dateng jam sembilan, masa iya aku cuma menantu mau dateng jam sepuluh. Lagian kamu gak inget apa yang di pesanin papa sama aku dulu? Kalau di rumah, aku menantunya tapi kalau di kantor aku pekerjanya. Kamu mau kalau gaji aku di potong? Kalau gaji aku di potong, terus uang darimana mau nyicil beli stroller kayak punya anaknya Rafi Ahmad?" Kata Adam.
Cup. Adam mengecup kening istrinya.
"Nanti aku cepet pulang kok. Doain aja semoga kerjaan aku cepet selesai, klien gak rewel, dan jalanan sore nanti gak macet, pasti jam enam aku udah di rumah. Oke." Kata Adam lagi.
Meski dengan bibir manyu, tapi Karen tetap menganggukkan kepalanya.
"Aku mandi dulu yah. Kalau kamu masih ngantuk tidur aja. Nanti aku suruh Bik Narti anter sarapan ke kamar." Setelah mengatakan itu, Adam pun beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Tak sampai sepuluh menit Adam pun keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti, saat berjalan menuju ruang ganti, Adam melihat Karen yang tertidur lagi.
Kini Adam telah selesai memakai pakaian kerjanya. Adam pun keluar dari dalam ruang ganti. Karena Adam hendak keluar dari kamar, Adam pun berniat untuk berpamitan pada Karen. Tapi niatnya itu Adam urungkan saat mendengar dengkuran halus Karen, itu tandanya Karen sudah sangat lelap dalam tidurnya. Adam pun hanya mengecup kening Karen.
"I love you." Sambil mengucapkan kata cinta di telinga istrinya itu.
Setelah itu ciuman Adam turun ke perut Karen.
"Jaga mama yah. Jangan minta yang macem-macem sama mama, minta buah aja yah." Pesan Adam pada janin yang ada dalam kandungan Karen.
Setelah berpamitan pada istri dan calon anaknya Adam pun keluar dari dalam kamar.
✨✨✨
Kini Adam sudah berada di rumah sakit xxx. Begitu sampai di rumah sakit, Adam pun langsung menghubungi David dan memberitahu David kalau dirinya sudah ada di lobi rumah sakit.
Tak sampai lima menit menunggu David pin datang menghampiri Adam.
"Sebenarnya ada apa pak David menyuruh saya datang ke rumah sakit ini? Apa ada klien yang butuh pengamanan di kamar rawatnya?" Tanya Adam. Sejak dirinya keluar dari rumah sampai detik ini, hanya itu lah yang terus Adam pikirkan.
"Mari ikut saya, nanti Tuan Adam juga tau alasan saya memanggil Tuan Adam kesini." Jawab David.
David pun berjalan terlebih dahulu dan Adam pun mengikuti David dari belakang.
Kini mereka sudah berada di depan pintu kamar VVIP yang ada di rumah sakit itu.
Ceklek. David pun memutar handle pintu.
"Silahkan masuk Tuan." Pinta David.
Adam pun masuk ke dalam kamar VVIP itu.
__ADS_1
Mata Adam membelalak kaget saat melihat orang yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
BERSAMBUNG...