
Tapi sayangnya, Ayu tak membawa kaos. Pakaian yang di bawa Ayu hanya lah daster dan dress khusus ibu menyusui.
Mama Tyas tak kehabisan akal. Mama Tyas pun mengambil salah satu dress milik Ayu yang berkancing depan dan berwarna biru navy.
"Kamu pakai ini aja." Ucap mama Tyas sambil menyerahkan dress itu pada Lucky.
"Mama nyuruh Lucky pake dress?" Tanya Lucky sambil menganga.
"Iya, nanti dressnya kamu masukin ke dalam celana, kalau di masukin kedalam celana kan kelihatannya kamu kayak make kemeja aja." Jawab mama Tyas menerangkan maksud kenapa ia memberikan dress itu pada Lucky.
Mau tak mau Lucky pun memakai dress itu. Dan benar saja, saat ia memasukkan bagian bawah dress ke dalam celana, Lucky terlihat seperti memakai kemeja.
Setelah memakai dress Ayu, Lucky pun keluar dari dalam kamar rawat Ayu.
✨✨✨
KRIING..KRIING..KRIING. Nada dering panggilan masuk di ponsel Lucky.
Lucky yang baru masuk ke dalam mobil pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Takut-takut itu telepon dari Ayu yang ingin memberitahu kalau baby Kya menangis mencari dirinya.
Ternyata dugaan Lucky salah. Yang menelpon adalah nomor yang tak di kenal, namun Lucky ingat itu nomor dari polisi yang meminta Lucky datang ke rumah sakit kepolisian untuk melihat keadaan Billy.
Lucky tak menjawab panggilan telepon itu dan membiarkan sampai panggilan itu berakhir sendiri. Setelah nada dering panggilan masuk habis, baru lah Lucky menyalakan mesin mobilnya.
Namun baru saja ia menyalakan mesin mobilnya, ponselnya kembali berdering, panggilan masuk dari orang yang sama.
Lucky memejamkan matanya dan berkali-kali menghela nafasnya. Ia dilema antara ingin menjawab panggilan masuk itu atau tidak, yang ia yakini pasti panggilan masuk ini ingin memberitahukan kabar Billy.
Sampai nada panggilan masuk berakhir, Lucky masih tak menjawab panggilan itu.
Tapi tak sampai sepuluh detik, nomor itu kembali menghubungi Lucky. Lucky pun membuang nafasnya kasar sebelum menjawab panggilan itu.
"Halo." Jawab Lucky.
"Dengan bapak Lucky?" Tanya seseorang di seberang telepon.
"Iya saya sendiri."
"Bagini pak saya dari kepolisian, ingin memberitahukan kepada bapak kalau tersangka yang melakukan percobaan pembunuhan pada istri bapak sekarang dalam keadaan kritis dan sangat memohon untuk di pertemukan dengan bapak."
Lucky diam sejenak untuk memikirkan keputusan apa yang ingin ia ambil.
"Halo pak. Apa bapak masih disitu?"
"Iya pak, saya akan segera kesana." Jawab Lucky.
Lucky memutuskan untuk memenuhi permintaan Billy, manatau ini adalah permintaan terakhir Billy. Lucky tidak mau membuat Billy menjadi hantu penasaran jika Lucky tidak datang memenuhi permintaan terakhir Billy itu.
"Oke, baik pak. Kami tunggu kedatangannya."
Panggilan pun berakhir.
Setelah panggilan berakhir, ia pun kembali dilema. Apa ia harus memberitahu Ayu atau merahasiakan hal ini sampai waktu yang tepat, mengingat kondisi psikologis ibu yang baru melahirkan sangat lah labil.
"Baik lah. Aku akan kasih tau Ayu nanti kalau Ayu sudah cukup tenang." Lirih Lucky. Dia pun memilih untuk tidak memberitahu Ayu.
Lucky pun mengendarai mobilnya keluar dari area rumah sakit dan kini tujuannya adalah rumah sakit kepolisian tempat Billy sedang di rawat.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam, mobil yang Lucky kendarai pun tiba di rumah sakit kepolisian. Dengan tangan kosong, Lucky berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Lucky pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar isolasi tempat Billy di rawat.
"Selamat pagi pak." Ucap Lucky pada tiga polisi yang berjaga di depan kamar isolasi.
"Pak Lucky?" Tanya polisi yang sebelumnya menghubungi Lucky untuk memastikan.
Lucky menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana keadaan Billy?" Tanya Lucky.
"Silahkan bapak lihat sendiri. Tapi sebelum bapak masuk, kami akan memeriksa bapak dulu."
"Oh silahkan pak."
Lucky pun merentangkan kedua tangannya untuk di lakukan pemeriksaan.
Setelah dinyatakan bersih dan layak untuk masuk ke kamar isolasi, polisi pun membuka pintu kamar isolasi yang sengaja mereka kunci dari luar.
Ceklek. Polisi membuka pintu kamar isolasi itu.
"Silahkan pak." Ucap salah satu polisi mempersilahkan Lucky masuk ke dalam kamar isolasi.
Lucky menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar sebelum melangkah masuk.
Dengan langkah perlahan Lucky pun berjalan masuk ke dalam kamar.
Tit..tit..tit. Bunyi monitor untuk mendeteksi detak jantung, kadar oksigen dan tekanan darah Billy.
Billy yang sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan banyak alat di dada nya serta ventilator atau biasa di sebut selang oksigen yang di masukkan kedalam hidungnya. Dari hasil monitor yang menunjukkan detak jantung, kadar oksigen serta tekanan darah Billy, Lucky tau persis kalau saat ini Billy sedang sekarat.
Sedangkan satu polisi yang ikut masuk ke dalam kamar isolasi menutup pintu kamar.
"Bill." Panggil Lucky dengan suara lirih. Melihat keadaan Billy yang seperti ini, ada rasa kasihan dalam diri Lucky. Kasihan karena disaat sekarat, tak ada keluarga yang menemani Billy.
"Aku datang Bill." Ucap Lucky lagi.
Perlahan mata Billy pun mengerjap setelah mendengar suara yang sangat ia rindukan. Suara Lucky, mantan kekasihnya.
"Ka-mu da-tang Luck." Ucap Billy dengan suara yang sangat pelan dan terengah-engah karena sesak yang ia rasakan.
"Te-rima-ka-sih Luck, ka-mu su-dah ma-u da-tang ke-si-ni." Ucap Billy lagi.
"Jangan banyak bicara Bill, nafas mu makin sesak nanti." Jawab Lucky karena melihat grafik asupan oksigen ke paru-paru Billy turun naik.
"Ba-gai-ma-na ka-bar is-tri mu? A-ku de-ngar is-tri mu su-dah me-la-hir-kan." Billy tak mau mendengarkan peringatan yang Lucky berikan dan tetap bicara.
"Kabar Ayu baik, dia sedang masa pemulihan." Jawab Lucky.
"Se-la-mat Luck ka-re-na su-dah men-ja-di se-orang a-yah."
Lucky menganggukkan kepalanya.
"Luck."
"Hemh."
__ADS_1
"Bo-leh a-ku me-nyen-tuh wa-jah mu?"
Lucky menghela nafasnya kemudian mengangguk, mengizinkan Billy untuk menyentuh wajahnya.
Lucky pun mendekatkan wajahnya kemudian mengambil tangan Billy agar bisa menyentuh wajahnya.
Billy memejamkan matanya, meresapi telapak tangannya yang menyentuh wajah mantan kekasihnya. Tak lama ia membuka matanya lagi.
"Ja-galah a-nak-a-nak mu de-ngan be-nar Luck, a-gar me-re-ka ti-dak se-per-ti ki-ta. Ja-di-lah o-rang tu-a yang se-la-lu a-da bu-at a-nak-a-nak mu, a-gar ki-sah ki-ta ti-dak ter-ulang pa-da a-nak-a-nak mu."
Lucky menganggukkan kepalanya, matanya pun juga sudah berkaca-kaca mendengar kata-kata Billy.
"Te-ri-ma ka-sih Luck, su-dah ha-dir da-lam hi-dup ku, mem-beri-kan ku ka-sih sa-yang yang se-harus-nya a-ku da-patkan da-ri se-orang a-yah."
Lucky kembali mengangguk, sekuat tenaga ia menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"A-ku per-gi Luck." Ucap Billy sambil menutup matanya dan tiga detik kemudian bunyi nyaring dari monitor terdengar begitu syahdu memenuhi kamar isolasi.
Jantung Billy sudah tidak berdetak.
"Bill...Billy.." Teriak Lucky sambil mengguncang-guncangkan tubuh Billy.
Polisi yang ada di dalam kamar isolasi itu pun keluar untuk memanggil dokter.
Tak lama dokter pun masuk ke ruangan itu bersama perawat yang membawa alat kejut jantung.
Lucky pun mundur untuk memberi ruang pada sang dokter untuk menangani Billy.
"Isi 120." Perintah dokter pada perawat.
Perawat pun mengisi daya defibrilator sebanyak 120 Joule.
"Siap dok."
Dokter pun mulai meletakkan alat kejut jantung di dada Billy.
Deg. Percobaan pertama tidak berhasil, grafik detak jantung tidak berubah.
"Isi lagi." Perintah dokter untuk mengisi dengan jumlah yang sama.
Deg. Percobaan kedua juga tidak berhasil.
"Isi 200." Perintah sang dokter untuk menambah pada daya maksimal.
Perawat pun mengisi daya defibrilator sebanyak 200 Joule.
"Siap dok."
Dokter pun melakukan percobaan ketiga. Jika di percobaan ketiga dengan daya maksimal juga tidak bisa membuat jantung Billy berdetak, maka Billy pun dinyatakan meninggal dunia.
Deg. Dan di percobaan ketiga ini...
BERSAMBUNG...
💋💋 Hai para readers solehot dan smarthot, othor mau promo novel temen othor nih, judulnya Living Together With My Enemy karya EL Freya. Dimohon kesudiannya untuk singgah yah mak-emak, pak-bapak, kak-akak, bang-abang, dek-adek 🙏🙏🙏 💋💋
Yang begini nih penampakannya. 🙏🙏
__ADS_1