Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 11


__ADS_3

"Siapa sih, ganggu aja!!!" Geram Adam sambil merogoh kantong celananya.


Dan ternyata nama sang papa mertua lah yang tertera di ponsel Adam.


"Siapa kak?" Tanya Karen.


"Papa." Jawab Adam sambil memindahkan posisinya menjadi duduk di sebelah Karen.


Adam pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo pah." Jawab Adam.


"Turun dulu ke lobi, ada yang harus kita bicarakan." Kata pak Zidane tanpa basa-basi.


"Shiiit!!!" Umpat Adam dalam hati.


"Iya pah, Adam segera turun." Jawab Adam sambil menahan kekesalan karena harus menunda aktivitas cuci botol jin nya.


Pak Zidane pun mengakhiri panggilannya.


"Kenapa kak? Papa bilang apa?" Tanya Karen penasaran.


"Aku di suruh turun ke bawah." Jawab Adam.


"Kamu disini sendiri gak pa-pa kan?" Tanya Adam.


Karen mengangguk, nampak raut wajah kecewa yang terpancar dari wajah Karen. Sama seperti Adam yang kesal karena penyaluran hasrat harus tertunda, Karen pun merasakan dengan yang Adam rasakan, padahal hasratnya juga sudah di ubun-ubun, mesin pencuci botol juga sudah on fire dan siap dimasukkan botol.


"Kamu mandi aja dulu, nanti kita lanjut urusan kita." Ucap Adam sambil mengerlingkan matanya genit pada Karen, karena melihat raut wajah kecewa Karen.


Cup.


"Aku turun dulu yah." Pamit Adam.


Adam pun beranjak dari atas ranjang dan keluar dari dalam kamar suite room itu.


Setelah suaminya keluar, Karen pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


✨✨✨


Di lobi hotel.


Kini Adam sudah bersama dengan pak Zidane dan David.


"Adam kenalkan ini David, asisten saya." Pak Zidane memperkenalkan David pada Adam.


Meski Adam sudah tau David adalah asisten pak Zidane, tapi baru kali ini Adam berkenalan secara resmi dengan David. Dan pak Zidane memang sengaja memperkenalkan Adam secara resmi dengan David karena sekarang status Adam bukan lah pekerja tambang di perusahaan miliknya, melainkan sudah sah menjadi menantu satu-satunya.

__ADS_1


"Adam. David." Ucap keduanya sambil berjabat tangan.


"Ayo duduk." Pak Zidane mempersilahkan Adam dan David untuk duduk.


"Jadi Adam, karena sekarang kamu sudah menjadi menantu saya, maka mulai sekarang kamu akan menjadi wakil saya untuk membantu mengurus perusahaan saya. Perusahaan penyedia jasa bodyguard di ibukota dan perusahaan tambang yang ada disini dan usaha-usaha kecil-kecilan saya yang lainnya."


Mata Adam membelalak mendengar ucapan pak Zidane.


"Jangan salah tanggap. Saya bukannya meminta mu untuk menggantikan saya atau saya mewariskan perusahaan saya ke kamu. Saya rasa itu belum saatnya. Saya hanya meminta kamu menjadi wakil saya membantu mengurus usaha-usaha saya. Kamu juga akan saya gaji tiap bulan, jadi gaji kamu itu bisa kamu pakai untuk menafkahi putri saya. Di dalam rumah, kamu akan saya anggap sebagai menantu, tapi di luar rumah di lingkungan pekerjaan, kamu akan saya anggap sebagai pegawai saya sama seperti yang lain. Jadi kamu tidak perlu merasa kalau saya memberikan hak istimewa kepada kamu. Jadi saya butuh keprofesionalan kamu, dan buktikan pada saya kalau saya tidak salah menempatkan kamu pada posisi itu. Dengan begitu kamu bisa memamerkan jabatan kamu itu pada keluarga mu." Ucap pak Zidane panjang lebar.


"Dan David yang akan mengajari mu tentang seluk beluk perusahaan dan mengajari apa-apa saja yang harus kamu lakukan sebagai wakil saya." Lanjut pak Zidane.


"Dan berhubung Karen adalah putri saya satu-satunya, saya ingin kalian tetap tinggal bersama saya. Saya tidak bisa jauh dengan putri saya. Apalagi rumah saya yang di ibukota sangat besar, akan sangat sepi kalau kalian keluar dari rumah itu." Pinta pak Zidane.


"Baik pah, saya mengerti. Lagipula, kalau saya mau membawa Karen untuk tinggal terpisah dengan bapak, saya juga bingung harus membawa Karen kemana, saya kan gak punya tempat tinggal. Mau ngontrak rumah, uang saya gak cukup untuk ngontrak rumah, cukupnya cuma bayar kos-kosan, masa iya Karen saya bawa ngekos pak." Jawab Adam merendah.


"Bagus lah kalau itu keputusan mu." Balas pak Zidane.


"Ya sudah kamu kembali lah ke kamar mu, kasihan Karen kamu tinggal sendirian." Ucap pak Zidane.


"Baik pak." Adam pun berdiri dari tempat duduknya dan kembali naik ke kamar suite room.


Kini Adam sudah berada di depan kamar suite roomnya.


Mulai dari keluar dari lift, Adam terus bersiul-siul kerena senang. Senang karena sekarang ia memilik jabatan yang tinggi, dan senang karena sebentar lagi ia mencuci botol jin nya di mesin pencuci botol yang masih mengkilap dan keset, tidak seperti waktu dulu ia mencuci botol jin nya di mesin pencuci botol yang sudah bau karat dan sudah losdol.


Adam membuka pintu dengan kartu yang ia pegang.


Begitu ia membuka pintu, terdengar lah suara dua orang yang sedang tertawa. Jika suara yang pertama adalah Karen, maka suara yang satu lagi siapa?


Adam yang penasaran pun berjalan perlahan masuk ke ruang tengah, karena sumber suara terdengar dari ruang tengah.


Merasa ada yang mendekati mereka lawan bicara Karen itu menoleh kebelakang dan Karen pun mengikuti arah pandang lawan bicaranya.


"Eh.. kak Adam. Sini kak, aku kenalin sama temen aku." Ucap Karen.


Adam pun makin berjalan mendekati Karen dan temannya itu.


Saat Adam mendekati mereka, Karen dan temannya pun berdiri dari tempat duduknya.


"Kenalin, ini Sonia teman aku." Karen memperkenalkan Sonia pada Adam.


"Sonia. Adam." Mereka pun saling berkenalan.


"Aku pikir kamu sendirian disini, makanya aku cepet-cepet kesini." Ucap Adam yang agak sedikit kecewa karena kegiatan cuci botolnya terpaksa harus tertunda lagi.


"Tadi saya di suruh Bik Narti untuk antar obat untuk Nona Karen, Tuan." Malah Sonia yang menjawab.

__ADS_1


"Iikh, kan udah aku bilang jangan panggil nona, panggil Karen aja." Protes Karen.


Sonia hanya tersenyum menanggapi protes dari Karen.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Sampai ketemu di ibukota Nona." Pamit Sonia.


"Astaga Sonia, udah di bilang jangan panggil Nona." Omel Karen lagi.


Dan lagi Sonia hanya tersenyum menanggapi protes Karen, kemudian berlalu dari hadapan Karen dan Adam.


"Tadi ngomongin apa aja sama papa?" Tanya Karen setelah Sonia keluar dari kamar mereka.


"Ngomongin kerjaan. Papa ngangkat aku jadi wakilnya." Jawab Adam sambil mendudukkan dirinya di sofa.


"Serius kak?" Tanya Karen yang masih tak percaya kalau papanya langsung memberi kepercayaan segitu besar pada suaminya.


Adam hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Karen.


"Perempuan tadi teman mu? Tapi kenapa dia memanggil mu nona?" Tanya Adam.


"Namanya Sonia kak. Sonia itu kerja di perusahan penyedia jasa bodyguardnya papa."


"Oh.. di bagian apa di kerja disana?" Tanya Adam. Di pikiran Adam, Sonia itu sekretaris atau bekerja di bagian lain.


"Ya bodyguard lah kak. Waktu aku sekolah di Singapore, Sonia yang jadi bodyguard aku. Tapi semenjak aku selesai sekolah dan kembali ke negara ini, Sonia minta cuti karena pengen menghabiskan waktu sama orangtuanya di kampung. Kebetulan kampungnya Sonia di kota ini. Papanya Sonia itu dulu, sahabat karib nya papa waktu papa masih muda dan sebelum ketemu sama mama. Papa kenal sama mama juga karena papa nya Sonia. Semenjak papanya Sonia meninggal, papa lah yang membantu ekonomi keluarganya Sonia, waktu itu Sonia masih SD. Papa juga yang sekolahin Sonia. Tapi Sonia cuma mau di sekolahin sampe SMA, katanya dia mau berlatih jadi bodyguard di tempat papa, dia pengen bekerja jadi bodyguard ketimbang harus ngelanjutin kuliah." Jawab Karen panjang lebar menjelaskan siapa Sonia.


"Papa nya Sonia itu meninggal karena di bunuh perampok. Makanya Sonia pengen banget bisa bela diri dan jadi bodyguard, biar bisa melawan orang-orang jahat." Lanjut Karen.


"Oh.." Adam hanya membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Karen.


"Jadi dia datang kesini cuma karena mau nganter obat kamu? Emang Bik Narti kemana?"


"Alasan dia doang kak. Katanya dia mau ngucapin selamat sama aku, karena waktu di resepsi tadi dia gak dateng karena gak ada yang jaga mamanya yang lagi sakit, jadi dia datengin aku kesini, tapi dia segan sama kamu, makanya dia minta tolong sama Bik Narti biar dia aja yang nganterin obat kesini." Jawab Karen.


"Oh.." lagi dan lagi Adam hanya mengangguk menanggapi cerita Karen. Nampaknya ia tidak terlalu serius menanggapi cerita Karen tentang Sonia.


"Ren..."


"Hemh.."


"Lanjutin yang tadi yuk." Bisik Adam di telinga Karen.


Blush. Wajah Karen memerah seketika mendengar bisikan Adam.


"Iiikh... kak Adam mandi dulu sana." Jawab Karen malu-malu. Sebenarnya Karen ingin menjawab, "ayuk" tapi ia terlalu malu untuk menjawab begitu, makanya ia pura-pura meminta Adam untuk mandi terlebih dahulu.


"Oke kalau gitu aku mandi dulu. Kamu tunggu aku di ranjang." Balas Adam.

__ADS_1


Adam pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tidur, meninggalkan Karen yang masih merona karena otak Karen sudah traveling kemana-mana.


BERSAMBUNG...


__ADS_2