Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Bab 46


__ADS_3

Ayu dan Lucky pun sama-sama mengatur nafasnya.


Cup. Cup. Cup.


Kecupan bertubi-tubi Lucky daratkan di wajah Ayu, mulai dari kening, pipi, dan bibir.


"Makasih Yu, berkat kamu aku bisa jadi laki-laki seutuhnya." Ucap Lucky terharu karena rudal berhasil membawa sang istri terlempar ke langit angkasa.


"Sama-sama mas." Jawab Ayu.


Setelah rudal menciut kembali, baru lah Lucky mengeluarkan rudal dari dalam lubang BuAyu. Kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya lalu menarik istrinya ke dalam pelukan Lucky.


"Kayaknya aku udah gak perlu ikutan terapi lagi deh Yu. Gimana kalau kita fokus bulan madu. Mumpung waktu kita masih ada dua puluh lima hari lagi disini."


"Jangan dong mas, mas Lucky tetap harus ikut terapi. Tapi nanti mas Lucky bilang sama dokternya kalau rudalnya mas Lucky udah berhasil membelah cakrawala. Kalau nanti dokternya bilang mas Lucky udah gak perlu terapi, baru kita fokus bulan madu." Jawab Ayu.


"Iya deh, terserah ibu negara aja mau gimana. Tapi Yu..."


"Tapi apa mas?"


"Masa percobaan pernikahan kita gimana? Apa udah bisa kamu cabut masa percobaan tiga bulan itu?" Tanya Lucky.


"Tergantung, kalau dokter bilang mas Lucky udah gak perlu terapi, yah..berarti masa percobaan akan aku hapus."


"Ish..curang kamu. Rudal udah berhasil belah duren, masa harus nunggu keputusan dokter sih?!" Protes Lucky.


"Iikh kan bisa aja yang tadi si Rudal lagi khilaf makanya bisa tegangan tinggi terus. Besok-besok kan kita gak tau apa si Rudal bisa kayak tadi lagi apa gak."


"Gak usah nunggu besok, kalau kamu mau tes tegangan si Rudal lagi sekarang pun bisa kok."


Mata Ayu membelalak.


"Ma-maksud mas Lucky?"


"Iya kita tes sekali lagi."


"Sekali lagi?" Tanya Ayu meyakinkan dirinya sendiri.


Lubang BuAyu nya saja masih nyut-nyutan karena permainan suaminya yang brutal, lah ini sudah mau di obok-obok lagi. Apalagi rudal suaminya kekar dan berotot, jangan-jangan bibir lubang BuAyu sekarang sudah lecet karena ulah suaminya.


"Ta-tapi mas, ini masih sakit."


"Makanya biar gak sakit lagi, harus sering-sering biar lubang kamu bisa menyesuaikan rudal aku."


"Tapi mas.."

__ADS_1


"Gak ada tapi-tapian Yu, kamu pilih mana, rudal nya lemes atau rudalnya bertegangan tinggi kayak menara sutet?"


"Tegangan tinggi kayak menara sutet lah mas."


"Ya udah, ayo kita tes lagi. Rudal juga harus sering-sering di panasin Yu, biar gak amnesia lagi."


Ayu nampak memikirkan kata-kata suaminya. Benar yang di katakan suaminya, agar rudal sang suami bisa terus bertegangan tinggi, si Rudal harus sering-sering mendapat subsidi listrik dari lubang BuAyu.


Ayu pun menganggukkan kepalanya tanda ia mau melakukan mengisi daya rudal suaminya.


Melihat istrinya mengangguk, tanpa basa-basi lagi, Lucky langsung menyambar bibir Ayu dan mengunyahnya rakus. Sengatan-sengatan kenikmatan pun Lucky berikan di sekujur tubuh Ayu, begitu pun Ayu yang juga memberikan sengatan-sengatan di sekujur tubuh suaminya untuk kembali memancing rudal.


Hampir lima belas menit mereka saling memberi sengatan, rudal pun sudah berdiri tegak dan siap untuk di luncurkan ke dalam lubang BuAyu.


Merasa rudalnya sudah dalam tegangan tinggi, tanpa berlama-lama Lucky pun mengarahkan rudalnya masuk ke dalam lubang BuAyu.


"Aaargh..." desau Ayu saat rudal suaminya berhasil mendorong pintu lubang tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Lucky merasa lega, karena rudalnya tidak mati mesin saat di depan pintu lubang kramat istrinya.


Begitupun dengan Ayu, meski lubang kramatnya terasa sakit-sakit enak karena rudal suaminya asal main trobos, tapi ia senang karena rudal suaminya bisa kembali mengantarkannya mengelilingi angkasa.


Suara cepak-cepak jeder pun kembali terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan. Belum banyak gaya yang mereka peragakan, maklum keduanya sama-sama pemula, walaupun yang satunya adalah ahli mengolah terong, tapi kalau mengolah apem, baru kali ini.


✨✨✨


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang waktu setempat.


Ayu masih tertidur nyenyak di atas pembaringan yang acak-acakan karena gempa lokal berkekuatan yang hampir imbang dengan tsunami.


Sedangkan suaminya, pelaku yang sudah membuat Ayu belum bangun sampai siang ini, sudah mandi, sarapan dan membersihkan pecahan kaca meja ruang tamu yang ia banting semalam.


Lucky juga sudah membeli salep untuk bibir lubang BuAyu yang tadi pagi ia cek keadaannya sudah merah dan membengkak karena ulahnya.


Ceklek. Lucky membuka pintu kamar.


Dengan membawa nampan yang berisi roti tawar dengan selai stroberi dan susu coklat, Lucky masuk ke dalam kamar.


Ia berjalan mendekati ranjang dan meletakkan nampan di atas nakas, kemudian duduk di pinggir ranjang memperhatikan wajah istrinya dengan seksama.


Wajah lelah terlihat jelas dari wajah Ayu, bagaimana tidak lelah kalau Lucky baru benar-benar selesai mengisi daya rudalnya pukul empat subuh.


"Yu.." panggil Lucky sambil mengelus pipi Ayu.


Perlahan Ayu pun mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya.

__ADS_1


"Eugh..." Ayu melenguh sambil merentangkan kedua tangannya.


"Jam berapa ini mas?" Tanya Ayu.


"Tuh.." jawab Lucky sambil menunjukkan jam dinding di kamar mereka.


Mata Ayu membulat sempurna saat melihat jarum pendek di jam dinding ada di angka sebelas dan jarum panjang ada di angka empat.


"Astaga...mau setengah dua belas." Pekik Ayu, sambil berusaha mendudukkan dirinya.


Melihat istrinya yang sedang berusaha duduk, Lucky pun membantu istrinya.


"Kok kamu gak bangunin aku sih mas? Kamu kan hari ini ada jadwal terapi?" Omel Ayu.


"Aku udah minta di undur, minggu depan baru aku terapi lagi."


"Kok minggu depan? Emangnya gak bisa besok?"


"Emangnya kamu bisa jalan?"


"Ya bisa lah mas, kamu nyumpahin aku gak bisa jalan?"


"Coba buktiin."


Ayu mengernyitkan keningnya, berpikir kenapa tiba-tiba suaminya menantang dirinya untuk berjalan.


Penasaran dengan apa yang ada di pikiran suaminya sekarang, perlahan Ayu pun menggeser kakinya untuk ia turunkan ke lantai, tapi...


"Ssh..auw..." ringis Ayu.


"Sakit?" Tanya Lucky, padahal ia sudah tau jawabannya.


Ayu mengangguk.


"Rasanya tuh perih banget di bagian ini." Ucap Ayu sambil menunjuk lubang BuAyu nya yang masih tertutup selimut.


"Maaf yah udah buat kamu kesakitan. Tapi tenang aja, aku udah beli salep kok biar bibir lubang kramat kamu gak bengkak lagi." Ucap Lucky sambil mengelus puncak kepala Ayu.


"Sekarang kamu makan roti dan minum susunya dulu, habis itu mandi, nanti selesai mandi aku bantu olesin salepnya."


"Mas mau olesin salep ke itu aku?"


"Kenapa? Kamu malu? Gak usah malu, kan udah aku lihat semuanya, udah aku rasain lagi nikmatnya lubang kramat mu. Jadi apalagi yang membuat kamu malu sama aku? Bukan kah sekarang kita sudah sah sebagai pasangan suami-istri pada umumnya?"


Ayu menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepalanya malu mendengar kata-kata suaminya.

__ADS_1


Cup. Tiba-tiba saja Lucky mengecup kening Ayu karena gemas dengan ekspresi Ayu yang malu-malu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2