
Tak lama setelah Lucky pergi dari dapur, si asisten rumah tangga yang mama Tyas suruh membeli testpack pun datang dan langsung memberi satu kantong plastik yang berisi lima testpack dengan merk yang berbeda pada mama Tyas.
Dengan testpack di tangan, mama Tyas pun naik ke lantai atas menuju kamar anak bungsunya itu.
Tok..tok..tok. Mama Tyas mengetuk pintu kamar anaknya.
Ceklek. Dari dalam kamar, Lucky membuka pintu kamar.
"Ayu tidur?" Tanya mama Tyas sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar anaknya.
"Gak kok mah, lagi rebahan." Jawab Lucky.
Mama Tyas pun berjalan mendekati ranjang.
"Yu.." panggil mama Tyas.
"Eh..mama." jawab Ayu lemas. Ia pun berusaha mendudukkan dirinya kembali.
"Pusing?" Tanya mama Tyas.
Ayu menganggukkan kepalanya.
"Mual?" Tanya mama Tyas lagi.
Ayu kembali menganggukkan kepalanya.
"Nih..coba periksa dulu." Ucap mama Tyas to the point sambil menyodorkan kantong plastik yang berisi testpack.
"Apa ini mah?" Tanya Ayu sambil mengambil kantong plastik itu dari tangan mama mertuanya tanpa melihat isi yang ada dalam plastik.
"Testpack." Jawab mama Tyas.
"Maksud mama, aku hamil gitu?"
Mama Tyas mengangguk.
"Kamu belum dateng bulan kan?"
Ayu menganggukkan kepalanya.
"Tapi baru telat sepuluh hari kok mah, Ayu biasa kayak gitu." Jawab Ayu. Ia menolak percaya kalau dirinya sedang hamil.
"Telat sepuluh hari versi kamu, tapi kalau dalam medis udah sebulan usia kandungan kamu, karena di hitung dari hari terakhir haid pertama kamu. Jadi sebaiknya kita tes aja dulu, semakin cepat mengetahui kehamilan semakin cepat juga kita memberi gizi pada anak yang kamu kandung. Karena kalau sampai telat mengetahui kehamilan, takutnya nanti perkembangan janin tidak sesuai dengan umut janin dan yang paling parah bisa menyebabkan keguguran. Apa kamu mau kayak gitu?"
( kalau othor salah hitung HTHP nya, tolong koreksi yah. ππ othor bukan bidan soalnya, othor hanyalah serpihan kacang telor di dalam toples plastik bekas sosis Sok Nice Loe π π π )
Ayu menggelengkan kepalanya.
"Tapi kalau nanti hasilnya gak sesuai harapan gimana mah?" Tanya Ayu yang masih pesimis.
__ADS_1
"Ya gak masalah lah Yu, kan kalian juga baru produksinya, walaupun kalian nikah udah lama tapi kan Lucky baru sebulan ini nyuntik kamu. Berarti Lucky harus lebih giat lagi ngasih vaksin ke kamu."
"Mas..." lirih Ayu sambil memandang suaminya.
"Coba aja Yu, aku juga penasaran. Emangnya kamu gak penasaran?"
"Penasaran sih, tapi aku takut hasilnya mengecewakan kamu dan mama."
"Hush...ngomong apa sih kamu. Kamu udah buat Lucky sembuh aja mama udah seneng banget, jadi gak mungkin mama kecewa cuma gara-gara hasilnya gak sesuai sama perkiraan mama. Udah sana periksa dulu, mau hasilnya negatif atau positif itu urusan belakangan." Paksa mama Tyas.
Ayu akhirnya menganggukkan kepala tanda menyetujui untuk memeriksakan dirinya menggunakan testpack.
Ayu pun turun dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dan diikuti Lucky dari belakang.
"Eiits..kamu nunggu di luar aja, kalau kamu ikut masuk nanti prosesnya lama." Mama Tyas langsung menarik baju Lucky saat Lucky hendak masuk ke dalam kamar mandi mengikuti Ayu.
"Lucky gak begitu juga kali mah." Ucap Lucky mematahkan prasangka mama Tyas.
"Cih..apa perlu mama ungkit lagi masalah yang di meja makan?" Sindir mama Tyas.
Dengan cepat Lucky menutup mulut mamanya agar mama nya tidak membahas masalah tragedi meja makan.
"Sst. Nanti Ayu denger. Bisa mencak-mencak nanti dia."
Lucky pun menarik sang mama untuk duduk di sofa menunggu Ayu selesai mengaplikasikan testpack yang mama Tyas berikan.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, mama Tyas dan Lucky kompak berdiri dari tempat duduknya.
"Gimana Yu?" Tanya mama Tyas dan Lucky serempak.
"Nih.." Ayu menunjukkan lima testpack yang ia celupkan sekaligus di dalam wadah yang berisi air seninya.
Mama Tyas langsung menyambar testpack yang Ayu pegang, tanpa memperdulikan kalau testpack itu masih beraroma khas air seni.
"Haaaaaaa..." teriak mama Tyas kegirangan.
"Tuh kan, mama bilang juga apa, kamu hamil kan." Ucap mama Tyas kegirangan.
Sedangkan Lucky, ia tak bicara satu patah kata pun, ia sangat kaget dengan hasil yang keluar dari testpack itu. Bukan kaget karena tidak suka istrinya hamil, hanya saja ia masih belum percaya kalau rudal nya bisa membuat lawan jenis nya kembung sekitar perut alias KSP.
Dan keterdiaman Lucky itu di tangkap Ayu kalau suaminya tidak suka dengan kehamilan Ayu.
"Mas Lucky kenapa? Mas Lucky gak suka yah aku hamil?" Tanya Ayu.
"Hah.."Mendengar pertanyaan Ayu, Lucky tersadar dari lamunannya.
"Huuuaaaa..." Ayu menangis kencang, ia terlalu mempercayai apa yang ia pikirkan.
"Loh..kok nangis sih Yu?!" Mama Tyas langsung memeluk Ayu yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1
"Habisnya mas Lucky gak seneng aku hamil mah. Mas Lucky gak mau anak ini." Jawab Ayu dalam pelukan mama Tyas masih dalam kondisi menangis.
"Astaga Yu..siapa yang gak seneng sih? Aku seneng Yu. Kamu jangan asal ngomong gitu ah.." Lucky menepis tuduhan istrinya.
"Terus kenapa mukanya mas Lucky kayak gitu?"
"Emang muka suami kamu itu kan datar Yu. Udah yah jangan nangis lagi. Suami kamu bukannya gak senang, mungkin suami kamu tuh kaget tau kamu hamil, apalagi suami kamu kan punya riwayat penyimpangan. Wajar itu Yu, sedangkan yang laki-laki sejati dari lahir aja tau istrinya hamil anak pertama reaksi pertamanya kaget, tapi kaget bahagia bukan kaget gak seneng. Apalagi laki-laki seperti Lucky yang baru jadi laki-laki sejati." Ucap mama Tyas menenangkan Ayu. Mama Tyas tau Ayu sedang di kuasai hormon ibu hamil yang super sensitif.
Perlahan tangis Ayu pun berhenti. Setelah tak lagi mendengar Ayu menangis, baru lah mama Tyas menjauhkan Ayu dari tubuhnya, kemudian menggiring Ayu ke tempat tidur lalu mendudukkan menantunya itu di atas tempat tidur.
"Kamu laper gak? Apa ada makanan yang mau kamu makan? Biar mama suruh mbak beliin makanan yang pengen kamu makan." Tanya mama Tyas.
Ayu nampak memikirkan apa yang sangat ingin dia makan.
"Mau makan batagor, boleh mah?" Tanya Ayu setelah menemukan makanan yang sangat ingin ia makan.
"Boleh dong sayang. Ya udah, tunggu yah biar mama suruh mbak beliin batagor." Jawab mama Tyas sambil mengelus rambut menantunya itu.
Beda dengan mama Tyas yang mengizinkan Ayu memakan batagor, Lucky langsung melayangkan protesnya.
"Gak boleh..gak boleh!! Ayu gak boleh makan sembarangan. Satu hari ini kamu gak mau denger aku, alhasil kamu muntah-muntah. Jadi kali ini kamu harus dengerin aku." Larang Lucky tegas.
"Ish..kamu tuh Ky, orang istri lagi hamil juga, intonasi bicaranya turunin dong. Ibu hamil itu sensitif. Jangan kan kamu ngomong dengan suara tegas begitu, kamu kenβ’tut aja istri kamu bisa tersinggung tau gak!" Omel mama Tyas karena Lucky memberi larangan dengan nada yang tegas.
"Lagian istri kamu tuh muntah-muntah karena hormon, bukan karena makanannya. Kamu kasih sayur-sayuran dan buah-buahan pun akan tetap muntah Ky. Kamu tuh dokter gimana sih." Lanjut mama Tyas.
"Lucky dokter bedah mah, bukan dokter kandungan. Justru karena Lucky dokter, makanya Lucky gak mau Ayu makan sembarangan, kasihan dong anak Lucky di kasih makanan yang gak sehat." Lucky tetap pada prinsipnya.
"Mas Lucky jahat!! Padahal Ayu kan cuma minta batagor yang harganya cuma sepuluh ribuan, bukan minta di beliin berlian." Teriak Ayu sambil menangis lagi.
"Ish..tuh kan nangis lagi!!!" Geram mama Tyas sambil memukul anak bungsunya yang tak berperasaan pada istrinya yang sedang hamil.
"Cup..cup..cup. Udah Yu jangan nangis, gak usah dengerin suami kamu. Mama akan tetap beliin. Udah yah, kamu jangan nangis lagi, istirahat aja sampe batagor pesanan kamu datang, jangan kamu dengerin suami kamu itu." Ucap mama Tyas menenangkan Ayu.
Mama Tyas pun membantu Ayu membaringkan tubuhnya. Setelah Ayu berbaring di atas ranjang, mama Tyas langsung menarik tangan Lucky untuk ikut keluar bersamanya.
"Kamu tuh yah, udah di bilang istri lagi hamil perasaannya sensitif, bukannya di bikin seneng malah di bikin nangis terus. Kamu pikir kamu bikin nangis istri kamu, anak yang ada dalam kandungan kamu gak ngerasain apa? Mau kamu nanti pas anak kamu lahir dia gak mau sama kamu, hah?" Omel mama Tyas.
"Lucky kan cuma gak mau Ayu makan sembarangan mah, Lucky mau Ayu makan makanan yang sehat biar anak Lucky juga dapet gizi di dalam sana."
"Lucky sayang, anak mama yang udah tua tapi jalan pikirannya masih kayak bocah. Istri kamu tuh lagi hamil muda, bisa masuk makanan aja udah syukur, jadi harusnya kamu iya in aja apa mau nya istri kamu selagi dia mau makan, kalau soal gizi kan bisa di bantu susu dan vitamin. Nanti kalau udah jalan empat bulan, baru deh kamu batasi makanan yang macem-macem yang pengen dimakan Ayu. Gak usah terlalu overprotektif lah Ky, kasihan istri kamu." Ucap mama Tyas memberi nasehat panjang lebar.
Mendapat nasehat panjang lebar dari mamanya, Lucky hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya Lucky harus bisa menerima fase seperti ini.
"Terserah mama aja deh." Ucap Lucky pasrah.
Mama Tyas pun turun ke bawah untuk menyuruh asisten rumah tangga membelikan batagor untuk menantunya. Sedangkan Lucky, setelah mama Tyas turun, ia langsung masuk ke kamar.
BERSAMBUNG...
__ADS_1