
Di rasa cukup membahas hal yang unfaedah, Adam pun kembali ke topik utama.
"Karen, apa kamu gak keberatan pak Zidane mau menikahkan kamu dengan aku? Kamu tuh cantik, kaya, sedangkan aku? Aku tuh biasa aja, kerja juga masih karyawan kontrak. Ibaratnya nih, kamu tuh toples crystal sedangkan aku cuma kaleng Engkok Gua yang udah peyot-peyot. Masa iya kamu mau nikah sama aku?!"
"Aku gak keberatan kok kak, dari awal aku ngelihat kak Adam di tempat jemuran, aku tuh udah suka sama kak Adam."
"Ngeliat aku di tempat jemuran? Kapan?" Tanya Adam yang lupa akan momen saat ia mengambil changcut dari jemuran.
"Kemaren sore, sebelum kita resmi kenalan di depan mess kak Adam."
"Ooo.." Adam membulatkan mulutnya ketika ingat dengan momen itu.
"Jadi ceritanya cinta ku bersemi di tempat jemuran lah yah." Guyon Adam.
Yang di respon dengan tawa kecil dari Karen.
"Tapi ini nikah loh Ren, orang nikah itu bukan cuma seminggu dua minggu barengan. Tiap hari Ren. Dan tiap hari juga nanti kamu liat muka aku yang tak seberapa ini. Aku takut kamu nanti nyesel nikah sama aku."
"Aku gak pernah seserius ini kak dengan perasaan aku. Makanya waktu papa bilang mau nikahan kak Adam sama aku, aku langsung mau, karena aku yakin kak Adam lah orang yang aku cari selama ini." Jawab Karen, entah sedang jujur atau sedang menggombal.
"Jadi usulan ini udah kamu setujui sebelumnya?" Tanya Adam meyakinkan Karen.
Dengan mantap Karen menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku ini cuma kuli loh Ren. Aku takut gak bisa memenuhi kebutuhan kamu. Aku takut jadi beban untuk kamu." Ucap Adam yang merasa insecure dengan dirinya sendiri.
"Kamu gak akan jadi beban untuk Karen atau keluarga ini, selama kamu bisa menjaga dan menyayangi Karen seperti saya menjaga dan menyayangi Karen." Ucap pak Zidane tiba-tiba.
Karena terlalu lama menunggu Adam dan Karen bicara empat mata, pak Zidane yang penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan Adam dan Karen pun memilih untuk menguping dari balik tembok.
Pak Zidane pun masuk ke dalam ruang tamu dan kembali duduk di tempatnya semula.
"Dan soal pekerjaan, kamu gak usah takut. Kamu akan saya beri kuasa untuk menggantikan saya. Ingat, hanya kuasa untuk menggantikan saya bukan untuk menggantikan saya." Ucap pak Zidane lagi.
"Jadi bagaimana, apa kamu setuju untuk menikah dengan Karen?"
Adam terdiam, ia masih bingung harus menjawab apa.
Umurnya masih sangat muda, ia takut mengecewakan Karen dan pak Zidane, takut tidak bisa menggantikan tugas pak Zidane dengan baik. Apalagi dirinya langsung di suguhkan dengan kekayaan melimpah, ia takut jiwa liarnya kembali meronta-ronta dan menghabiskan harta mertuanya dengan berjudi serta jajan susu dan tempe di luar sana.
Ditambah lagi bukan ini lah cara yang Adam inginkan untuk membahagiakan bapak dan ibunya. Ia ingin membahagiakan bapak dan ibunya dengan hasil kerja kerasnya bukan dengan cara menikahi putri tunggal boss kaya raya. Adam takut, orangtuanya nanti berpikir kalau Adam menikahi putri boss kaya raya karena Adam telah berbuat kesalahan pada putri boss itu sehingga si boss memaksa Adam untuk menikahi putrinya.
Sekalipun Adam cerita tentang kebenarannya, Adam yakin orangtuanya tidak akan percaya, karena pikiran orangtuanya tentang Adam sudah terlanjur buruk.
Adam bingung setengah mati.
Di satu sisi, ia juga menyukai Karen dan ingin menjadikan Karen miliknya tapi di sisi lain, ia ingin membahagiakan orangtuanya dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Melihat wajah Adam yang bingung mengambil keputusan, pak Zidane tau ada sesuatu yang mengusik pikiran Adam, tapi pak Zidane tak mau memaksa Adam untuk menceritakan apa yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Saya akan beri kamu kesempatan untuk berpikir. Jadi sekarang, kamu pulang lah dan pikirkan baik-baik permintaan saya ini." Ucap pak Zidane agar Adam tak menunjukkan raut wajah bingungnya di depan Karen. Karena takutnya nanti Karen berpikir macam-macam dan membuat Karen menjadi kecil hati.
Adam menatap wajah pak Zidane, kemudian menatap wajah Karen sekilas.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu pak Zidane, Nona Karen. Saya akan memikirkan baik-baik permintaan pak Zidane." Pamit Adam.
"Nona Karen, maaf saya tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Bukan karena saya tidak suka dengan Nona Karen. Tapi ini masalahnya tentang pernikahan, jadi harus di pikirkan matang-matang. Saya harap Nona Karen jangan berpikir yang macam-macam." Ucap Adam pada Karen karena melihat wajah kecewa Karen.
Meski sebenarnya kecewa dan sedih, Karen menganggukkan kepalanya dan membiarkan Adam pergi tanpa memberi jawaban.
Adam pun keluar dari ruang tamu dengan diantar anak buah pak Zidane.
Setelah Adam pergi dari rumah pak Zidane, Karen pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan beranjak dari ruang tamu dengan raut wajah kecewa.
"Karen..." panggil pak Zidane.
Tapi Karen tak menghiraukan panggilan papanya dan tetap berjalan menuju kamarnya.
Tau kalau anaknya sedih, cepat-cepat pak Zidane menyusul Karen.
"Karen, kamu gak pa-pa sayang?" Tanya pak Zidane.
Kini mereka sudah berada dalam kamar Karen.
"Karen gak pa-pa kok pah." Jawab Karen berbohong.
"Jangan bohong sayang, papa tau kamu gak baik-baik saja. Jangan sedih sayang, kan tadi Adam bilang dia bukannya gak suka sama kamu, tapi dia harus memikirkan matang-matang dengan permintaan papa ini. Papa yakin, besok pasti Adam akan datang kembali dan memberikan jawaban sesuai kemauan kamu. Jadi untuk hari ini biarkan Adam berpikir dulu yah, dan kamu berdoa saja semoga saja malam ini pikiran Adam tidak buntu jadi besok dia sudah datang memberi jawaban." Ucap pak Zidane menenangkan putri semata wayangnya.
Setelah melihat wajah Karen sedikit lebih tenang, pak Zidane pun keluar dari dalam kamar Karen.
Tapi ternyata, Karen tak benar-benar dalam kondisi baik.
Setelah papanya keluar, cepat-cepat Karen naik ke atas tempat tidur dan menutup semua tubuhnya dengan selimut. Ia menangis dalam diam di bawah selimut.
"Pasti kak Adam gak mau sama aku karena aku udah gak suci lagi." Lirih Karen. Di pikirnya kalau susu cap nona nya sudah di icip laki-laki lain, itu berarti dirinya sudah tidak suci lagi.
Karen tidak tau saja, kalau sebelumnya Adam juga pernah cuci botol jin nya di mesin yang sudah bau karat.
Lama Karen menangis dalam diam, sampai-sampai membuat ia tertidur.
Meninggalkan Karen yang ketiduran karena menangis, ada Adam yang sedang pusing memikirkan jawaban atas lamaran pak Zidane.
Jika biasanya perempuan lah yang pusing memberikan jawaban atas lamaran laki-laki yang melamarnya, tapi kali ini berbeda, justru si laki-laki lah yang pusing memberikan jawaban untuk lamaran orangtua si perempuan.
"Mimpi apa gue semalem di lamar sama boss buat jadi menantunya?!" Gumam Adam sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Aduuuh... gimana ini, gue harus jawab apa?! Masa iya gue tolak. Kesempatan gak datang dua kali Dam." Gumam Adam mengingatkan dirinya sendiri.
"Tapi ibu sama bapak gimana? Pasti mereka bakal mikir yang macam-macam kalau tau gue mau nikah sama anak bos. Mereka mana percaya dengan ucapan gue, sekalipun gue bicara jujur."
__ADS_1
"Lagian bukan ini yang gue inginkan untuk membahagiakan bapak dan ibu."
"Aaarrrghhh.... gimana ini?!"
"Apa gue rahasiain aja yah pernikahan gue dari ibu dan bapak. Nanti kalau gue udah benar-benar sukses dengan hasil keringat gue sendiri, baru gue kasih tau ibu sama bapak?!"
"Oke. Kayaknya emang harus begitu. Besok gue akan ngomong sama pak Zidane, agar pernikahan gue dirahasiakan dari ibu sama bapak."
Dan keputusan yang menurut Adam terbaik pun sudah Adam putuskan.
Menerima menikah dengan Karen tanpa memberitahu kedua orangtuanya.
✨✨✨
Keesokan paginya.
Waktu baru menunjukkan pukul enam subuh, tapi Adam sudah mendatangi rumah pak Zidane.
Dengan dada yang membusung meski belum mandi dan sisa belek khatulistiwa masih bersarang di sudut mata Adam, tetap saja Adam nekat mendatangi rumah pak Zidane.
Dipikiran Adam, sebelum pak Zidane berubah pikiran memintanya untuk menjadi menantu, lebih baik cepat-cepat ia memberikan jawaban untuk pak Zidane.
"Saya ingin bertemu pak Zidane." Ucap Adam pada anak buah pak Zidane yang berjaga di depan pintu rumah pak Zidane.
Rumah pak Zidane tak memiliki pagar tinggi serta pos satpam seperti rumahnya yang ada di ibukota. Hanya saja rumah pak Zidane ini memiliki halaman yang cukup luas dan semenjak kejadian perampokan kemaren, yang biasanya pak Zidane hanya mengerahkan tiga atau empat pasukan berjasnya untuk menjaga bagian dalam rumah saja, tapi mulai malam tadi pak Zidane mengerahkan lebih dari sepuluh pasukan berjas nya untuk menjaga rumahnya di bagian dalam dan luar rumah.
"Ada perlu apa pagi-pagi begini ingin bertemu Tuan Zidane?" Tanya salah satu pasukan berjas pak Zidane yang berjaga di depan pintu.
"Katakan saja pada pak Zidane kalau Adam ingin bertemu dan ingin memberikan jawaban." Jawab Adam.
Dua orang pasukan berjas itu pun saling berpandangan, lalu tak lama salah satu dari mereka menganggukkan kepalanya.
"Baik lah. Tunggu sebentar. Saya tanyakan dulu pada Tuan Zidane apa beliau mau menemui anda atau tidak." Jawab salah satu pasukan berjas itu. Setelah mengatakan itu, pasukan berjas itu pun masuk ke dalam rumah menuju kamar pak Zidane.
Tok Tok Tok.
"Ada apa?" Sahut pak Zidane dari dalam kamar.
"Tuan Zidane, ada yang ingin bertemu dengan anda. Namanya Adam, katanya ingin memberikan jawaban pada anda." Ucap pasukan berjas itu.
"Suruh dia masuk." Jawab pak Zidane lagi.
Setelah mendapat izin untuk memperbolehkan Adam masuk, pasukan berjas itu pun kembali menemui Adam yang masih menunggu di depan pintu depan.
"Silahkan masuk." Ucap pasukan berjas itu.
Adam pun masuk ke dalam rumah dan menunggu pak Zidane di ruang tamu.
Tak sampai lima menit Adam menunggu, pak Zidane pun muncul. Kali ini pak Zidane muncul sendiri tanpa Karen.
__ADS_1
BERSAMBUNG...