
Setelah memarkirkan motor besarnya, Adam pun turun motornya dan melepas helm nya lalu berjalan menuju pintu masuk rumah.
Ternyata sudah ada Sonia yang menunggu Adam di depan pintu.
"Selamat pagi Tuan Adam." Sapa Sonia pada Adam.
"Sst..jangan panggil saya Tuan. Panggil saja saya Adam atau mas Adam, atau pak Adam atau apalah, yang penting jangan Tuan. Kakak saya tidak tau kalau saya sudah menikah, apalagi menikah dengan anak bos. Paham kamu." Ucap Adam memberi peringatan pada Sonia.
"Baik Tu- , eh..maksud saya mas Adam." Jawab Sonia.
"Oh..iya kakak saya mana?" Tanya Adam.
"Pak Lucky dan Bu Ayu masih di kamarnya, mungkin mereka belum bangun." Jawab Sonia.
"Bisa kamu panggilkan? Karena saya tidak bisa lama tinggal disini." Pinta Adam.
"Baik mas." Sonia pun meninggalkan Adam di ruang tamu dan melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju lantai atas.
Adam pun langsung mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu.
Sambil menunggu sang kakak datang, Adam pun mengambil ponselnya, niatnya ia ingin melihat-lihat foto Karen yang sudah ia dandani seperti barbie lokal tapi niatnya itu terjeda karena samar-samar mendengar suara ghoib, yang dia sangat tau itu bukan suara ghoib yang keluar dari mulut hantu melainkan suara ghoib yang keluar dari mulut orang yang sedang kesurupan kenikmatan.
"Astaga, bukannya di pasang peredam dulu kek itu kamar!! Kasihan amat penghuni yang jomblo disini, cuma bisa nyut-nyut an doang!" Dumel Adam.
Adam pun kembali melanjutkan niatnya untuk membuka album foto yang ada di ponselnya.
Sedang asyik senyam-senyum sendiri melihat foto Karen yang sudah ia dandani dengan berbagai gaya ala-ala barbie lokal, tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan masuk ke ruang tamu.
Adam pun memutar lehernya untuk melihat siapa yang masuk ke ruang tamu. Dan ternyata yang datang adalah Sonia sambil membawa nampan yang berisi secangkir teh untuk Adam.
"Silahkan di minum mas." Ucap Sonia sambil meletakkan secangkir teh di meja ruang tamu.
"Apa mereka sudah benar-benar selesai waktu kamu kasih tau aku ada disini?" Tanya Adam pada Sonia.
"Hah..maksudnya?" Tanya Sonia grogi. Dia tau apa maksud pertanyaan Adam.
"Hais...begini..plak..plak..plak.." Ucap Adam sambil menepuk tangannya sebagai isyarat orang sedang berkuda.
Blush. Wajah Sonia memerah seketika mendapat isyarat dari Adam. Bukan dia yang berkuda, tapi dia yang malu.
"Em...itu.." Sonia jadi salah tingkah di buat Adam.
Lebih baik dia di hadapkan dengan gengster daripada harus menjawab masalah ranjang tetangga.
"Ekhem.." Tiba-tiba saja suara berat Lucky memecahkan perasaan canggung yang Sonia rasakan.
"Huft.." Sonia bernafas lega begitu bos nya datang ke ruang tamu.
Sonia pun mundur teratur dari ruang tamu.
"Udah selesai mas?" Kini mulut lemes Adam bertanya pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Menurut mu? Kalau belum selesai kan tidak mungkin aku ada disini sekarang." Jawab Lucky dengan nada datarnya.
Lucky pun mendudukkan bokongnya di sofa yang bersebelahan dengan Adam.
"Kenapa baru muncul? Apa kamu mau membuat kakak mu stres karena takut hal buruk menimpa mu?" Tanya Lucky.
"Baru ada waktu mas."
"Mbak Ayu mana?"
"Lagi mandi. Sebentar lagi juga dia turun."
Dan benar saja tak sampai sepuluh menit, Ayu turun dari lantai atas dengan rambut yang masih basah.
"Keramas terus sekarang yah mbak." Sindir Adam saat melihat kakaknya masuk ke ruang tamu.
"Cih.." decih Ayu mendengar sindiran adiknya itu.
Ayu pun melangkahkan kakinya menuju sofa tempat suaminya duduk.
"Minggir." Perintah Ayu pada suaminya agar Ayu bisa duduk berdekatan dengan adiknya yang duduk di single sofa.
Sengaja Ayu melakukan itu agar bibit penyakit suaminya tidak tumbuh karena berdekatan dengan Adam.
"Kamu kok baru dateng sih Dam? Mbak tuh khawatir tau gak sama kamu. Mbak takut kamu bikin ulah lagi."
"Gak lah mbak. Adam udah puas lah bandel. Sekarang sibuk ngisi pundi-pundi, biar bisa bahagian ibu sama bapak."
"Oh iya mbak, Orang yang mau berbuat jahat sama mbak masih neror?" Tanya Adam.
"Iya mas, apa yang ngancem mbak Ayu masih suka neror?" Tanya Adam pada Lucky.
Lucky hanya menggelengkan kepalanya. Ia berbohong karena Billy masih terus meneror Lucky dengan ancaman akan menghabisi nyawa Ayu. Bukan lewat pesan atau telepon, melainkan melalui surat kaleng yang Billy kirim ke rumah sakit.
Dan hal itu membuat Lucky semakin yakin kalau Billy ada di negaranya. Tapi Lucky tidak mau memberitahu Ayu, mengingat Ayu yang sedang hamil, yang tidak boleh di buat stress apalagi Ayu masih hamil muda.
Meski Lucky merahasiakan dari Ayu, tapi Lucky tidak merahasiakan dari Sonia dan meminta Sonia untuk tidak memberitahu Ayu.
Melihat wajah kakak iparnya yang aneh, Adam tau ada sesuatu yang tidak beres yang sedang di sembunyikan suami kakaknya.
"Mbak, Adam laper nih, bikinin nasi goreng dong." Pinta Adam, tujuannya agar dirinya dan sang kakak ipar bisa membicarakan hal yang sedang kakak iparnya sembunyikan.
"Duuh Dam, mbak lagi gak bisa nyium bawang-bawangan. Gimana kalau Sonia aja yang bikinin kamu nasi goreng?" Tawar Ayu.
"Tapi Adam maunya nasi goreng buatan mbak Ayu." Rengek Adam sambil memberikan kode pada Lucky dengan matanya untuk membantunya membujuk kakaknya.
Lucky yang paham akan kode mata yang di berikan Adam pun, mulai membujuk Ayu.
"Bikinin lah Yu, manatau aja Adam kena kehamilan simpatik karena baru ketemu sama kamu." Bujuk Lucky.
"Emang bisa gitu mas? Bukannya kehamilan simpatik hanya menimpa suami yang istrinya hamil?" Tanya Ayu menolak percaya.
__ADS_1
"Kamu sama Adam kan sedarah Yu, kehamilan simpatik itu kan karena ikatan batin, jadi bisa aja setelah ngeliat kamu Adam jadi ngidam." Jawab Lucky.
"Tapi aku gak bisa nyium bawang-bawangan mas."
"Pake masker Yu, terus maskernya tetesin minyak kayu putih jadi bau bawangnya gak kecium. Minta tolong juga sama Sonia untuk potong bawang." Kata Lucky memberi ide cemerlang.
Ayu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ide sang suami.
"Jangan macem-macem yah mas sama Adam." Bisik Ayu memberi peringatan pada suaminya sebelum beranjak dari tempat duduk.
"Iya sayang." Jawab Lucky sambil mencubit gemas pipi istrinya.
Ayu pun berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruang tamu menuju dapur.
Sepeninggal Ayu dari ruang tamu, Adam pun mulai mendekati suami kakaknya itu dan duduk di tempat yang Ayu duduki tadi.
Melihat Adam yang pindah tempat duduk, jantung Lucky jadi deg deg ser, bukan karena bibit penyuka terong tumbuh lagi dalam dirinya, melainkan takut tiba-tiba Ayu kembali ke ruang tamu dan melihat Lucky dan Adam duduk bersebelahan, bisa-bisa Ayu jadi salah paham lagi dengan dirinya.
"Jujur mas, sebenarnya orang itu masih neror kan?" Tanya Adam dengan suara yang sangat pelan.
Lucky tak menjawab, ia memilih untuk pindah tempat duduk dulu, mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
"Mas..jujur dong mas." Paksa Adam sambil terus mendempeti kakak iparnya.
"Kamu bisa diem gak di tempat mu. Jaga jarak.!!" Perintah Lucky tegas pada adik iparnya.
"Kalau kejauhan nanti mbak Ayu denger."
"Yah di pelanin lah suara mu!! Aku gak budeg kok!! Udah sana jauh-jauh.!" Perintah Lucky lagi.
Mau tak mau Adam pun menjauh dari Lucky.
"Sekarang mas Lucky jujur sama aku, orang itu masih neror mbak Ayu kan?"
Lucky menganggukkan kepalanya.
Lucky pun mulai menceritakan rangkaian teror yang Billy berikan padanya di rumah sakit.
Mendengar cerita Lucky, tangan Adam pun mengepal, rahangnya mengeras, ia sangat emosi.
"Kalau gitu kita harus kasih pengamanan super ketat buat mbak Ayu mas. Satu bodyguard aja gak cukup mas untuk jagain mbak Ayu dari psikopat."
"Aku juga maunya begitu Dam, tapi takutnya mbak mu curiga. Aku gak mau mbak mu stres karena ketakutan, mbak mu kan lagi hamil."
"Itu gampang mas, aku akan minta bantuan sama teman-teman aku untuk mengawasi mbak Ayu dari jauh."
"Serius?"
"Serius mas, serahin aja sama Adam."
Lucky pun menganggukkan kepalanya mempercayakan keselamatan istrinya di tangan adik iparnya.
__ADS_1
Setelah kurang lebih dua jam di rumah sang kakak, Adam pun kembali berangkat bekerja.
BERSAMBUNG...