
Tujuh jam kemudian.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kontraksi yang datang juga sudah semakin sering dan semakin beraturan.
Penampilan Ayu juga sudah tidak beraturan. Jika penampilan Ayu saja tidak beraturan lagi, lalu bagaimana dengan Lucky? Kaos oblong yang Lucky pakai sudah robek-robek karena ulah Ayu, tangan kanan dan kiri Lucky juga sudah penuh dengan goresan cakaran Ayu, wajahnya juga sudah merah-merah karena bekas salam lima jari dari Ayu.
"Akkkh mas, gak sanggup!!! Sakit mas!!! Ibu....bapak..tolong Ayu!!! Mas Lucky tega biarin Ayu kesakitan!!!" Racau Ayu saat kontraksi datang menyerang. Tangannya juga sudah menjambak rambut sang suami.
"Udah pembukaan sembilan setengah Yu, dikit lagi. Kamu pasti sanggup kok." Ucap Lucky sambil berusaha menahan sakitnya karena jambakan maut Ayu.
"Aaargh...tega kamu mas!!!" Teriak Ayu sambil menggoyang-goyangkan kepala Lucky yang ia jambak.
"Tarik nafas sayang, buang perlahan. Ayo kamu bisa." Ucap Lucky berusaha menenangkan istrinya.
"Aaakh..ini tuh sakit banget mas."
"Denger Yu, jangan teriak-teriak gitu nanti tenaga kamu habis duluan. Kalau tenaga kamu habis, gimana dedek bisa keluar."
Ayu pun menuruti kata-kata suaminya, menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Lucky pun naik ke atas ranjang tempat Ayu berbaring dan memeluk istrinya dari belakang. Mengelus perut dan mengelus punggung istrinya, untuk memberi rasa nyaman pada sang istri.
Rasa sakit yang di hasilkan akibat induksi sangat lah berbeda dengan sakit yang di hasilkan jika kontraksi alami. Rasa sakit akibat induksi, dua kali lipat sakitnya dari sakit kontraksi normal. Apalagi ini adalah persalinan pertama Ayu yang tidak mempunyai gambaran tentang rasa melahirkan.
"Ssh...auw mas..aku pengen bo•ker." Ucap Ayu saat kontraksi kembali datang tapi rasanya seperti ingin buang air besar.
Otak Lucky langsung terkoneksi cepat. Pembukaan sudah lengkap, begitulah menurut Lucky.
"Tunggu yah aku panggil bidan." Ucap Lucky sambil turun dari atas ranjang lalu berjalan menuju pintu.
Ceklek. Lucky membuka pintu ruang bersalin.
Ruangan yang hanya ada Ayu disana, sedangkan orang tua Lucky dan orang tua Ayu menunggu di luar ruangan.
Melihat pintu ruangan terbuka, sontak orangtua Ayu dan orangtua Lucky yang sedang duduk gelisah di depan ruangan langsung berdiri.
"Ayu udah gimana Ky?" Tanya mama Tyas.
"Kayaknya udah lengkap bukaannya, Lucky mau panggil bidan dulu." Jawab Lucky.
Lucky pun pergi ke pos yang tak jauh dari ruang bersalin. Saat Lucky pergi, mama Tyas dan bu Endang masuk ke dalam untuk melihat keadaan Ayu.
"Astaga Ayu..." pekik mama Tyas dan bu Endang bersamaan karena melihat Ayu yang turun dari atas ranjang dan berjongkong di lantai.
"Kamu ngapain nak?"
"Ayu mau bo•ker buk." Jawab Ayu sambil meringis.
__ADS_1
"Itu bukan mau bo•ker Yu, itu tandanya anak kamu udah sampe di depan pintu." Ucap mama Tyas.
"Ayo naik lagi ke ranjang." Lanjut mama Tyas sambil berusaha memapah Ayu dan di bantu oleh bu Endang.
Belum sampat Ayu berdiri, tiba-tiba saja Lucky datang bersama dua orang bidan.
"Ayu kenapa mah?" Tanya Lucky panik saat melihat Ayu tidak berbaring di ranjang. Lucky pikir, Ayu jatuh dari atas ranjang.
Lucky pun berjalan mendekati Ayu dan langsung menggendong tubuh istrinya yang beratnya tiga kali lipat beras dua puluh lima kilo.
"Dia mau bo•ker katanya. Makanya dia jongkok disini." Jawab mama Tyas.
Kini Ayu sudah kembali berbaring di atas ranjang.
"Kita periksa dulu yah buk." Ucap bidan setelah Ayu kembali berbaring di atas ranjang.
Bidan pun membuka kaki Ayu.
"Tarik nafas buk." Instruksi bidan.
Ayu pun menarik nafasnya.
Saat Ayu menarik nafasnya, dua jari bidan masuk ke dalam lubang BuAyu.
Dan tiba-tiba saja dokter kandungan laki-laki pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Sudah bukaan lengkap dok." Jawab bidan.
"Oke siapkan semuanya." Perintah dokter laki-laki itu pada dua bidan yang akan membantunya.
"Dan untuk keluarga, silahkan menunggu di luar, dan hanya satu orang saja yang menemani pasien." Ucap sang dokter pada mama Tyas dan buk Endang.
Mama Tyas dan Bu Endang pun tau diri dan mereka pun keluar dari dalam ruang bersalin meninggalkan Lucky yang akan menemani Ayu melahirkan buah cinta mereka.
"Semua siap dok." Ucap salah satu bidan.
Dokter pun memakai apron medisnya lalu mendekati Ayu yang sedang meraung-raung di atas ranjang.
"Ibu, tenang ibu. Ikuti instruksi saya yah." Ucap dokter.
"Tarik nafas." Lanjut dokter.
Ayu pun menarik nafasnya.
"Buang perlahan." Lanjut dokter lagi.
Ayu pun membuang nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Kalau saya bilang ngejan, ngejan yah. Tapi kalau belum ada aba-aba dari saya untuk ngejan, jangan ngejan yah buk. Nanti kepala anaknya peyang-peyang. Ibu mau kepala anaknya peyang-peyang?"
Ayu menggelengkan kepalanya.
"Oke kita mulai yah."
Ayu menganggukkan kepalanya.
Dokter pun mulai memegang perut Ayu, mengelus-elus perut Ayu untuk merangsang anak yang ada dalam kandungan Ayu bergerak dan mendorong kepala keluar.
Setelah dokter merasakan perut mengeras, dan itu menandakan kontraksi barulah sang dokter menyuruh Ayu mengejan.
"Ayo buk, ngejan buk." Instruksi sang dokter.
Ayu pun mengejan.
"Aaaakh..." Bukannya menekan otot perutnya, Ayu malah menekan otot lehernya.
"Mengejannya di perut buk, bukan di leher." Ucap bidan yang berdiri di sisi kiri Ayu. Karena Lucky berada di sisi kanan Ayu.
"Suaranya gak usah keluar Yu. Gimana kamu bo•ker, begitu cara ngejannya. Oke." Timpal Lucky.
Padahal Ayu sudah ikut kelas ibu hamil, tapi tetap saja saat tiba hari melahirkan, semua ilmu yang ia dapat saat kelas ibu hamil blank seketika.
"Sekali lagi yah buk." Ucap sang dokter karena ngejan pertama tak berhasil membuat kepala bayi keluar dari jalan lahir.
Dokter pun kembali mengelus perut Ayu untuk memberi rangsangan. Ketika perut Ayu mengeras karena kontraksi, dokter kembali memberi aba-aba untuk Ayu agar mengejan.
"Ayo buk, ngejan buk."
"Mmmmmm.." Ayu melipat bibir agar suara tidak keluar dari mulutnya. Dan di percobaan kedua ini cara mengejan Ayu sudah benar, tapi sayangnya Ayu mengangkat bokongnya. Dan di percobaan kedua ini masih belum bisa membuat si dedek mendobrak jalan lahir.
"Jangan di angkat bokongnya yah buk." Ucap dokter memberi peringatan pada Ayu.
"Buk bidan, tolong di bantu dorong yah." Perintah dokter pada dua bidan yang ada di ruangan itu.
Dua bidan itu pun naik ke atas ranjang di sisi kanan dan kiri Ayu sedangkan Lucky berpindah ke atas kepala Ayu.
Dokter pun melakukan percobaan ke tiga. Dan berhasil, dedek bayi sudah menunjukkan rambutnya yang lebat.
"Bagus buk, rambutnya si dedek udah keliatan nih. Ayo buk semangat, kita coba lagi yah." Ucap sang dokter.
"Kamu denger kan Yu, rambut anak kita udah keliatan. Ayo semangat." Bisik Lucky di telinga Ayu.
Dan dokter pun melakukan percobaan ke empat. Dan...
"Oeeek...oeeeek...oeek." suara tangis bayi begitu menggelegar memenuhi ruang bersalin.
__ADS_1
BERSAMBUNG...