
Mendengar suara pintu terbuka, pak Zidane yang sedang meminum obatnya cepat-cepat memasukkan kembali obatnya ke dalam laci.
Tapi sayangnya Karen sempat melihat papanya menenggak obat itu.
"Papa minum obat? Papa sakit?" Tanya Karen khawatir.
"Bukan obat sayang, tapi vitamin. Papa ini kan udah tua, jadi harus mengkonsumsi vitamin biar tubuh papa fit terus." Jawab pak Zidane setenang mungkin agar Karen tidak curiga.
"Oh.." Karen membulatkan mulutnya. Ia percaya saja dengan apa yang papanya katakan.
"Ada apa datengin papa ke kamar?" Tanya pak Zidane.
"Ini pah, Karen mau ngasih oleh-oleh untuk papa. Ini oleh-oleh yang Karen beli di toko oleh-oleh. Kalau ini oleh-oleh dari Tante Trisna, kata Tante Trisna, papa suka banget sama makanan ini." Ucap Karen sambil memberikan dua oleh-oleh pada papanya. Yang satu darinya dan yang satu dari adik mamanya yang berupa kerupuk khas kota B yang di buat sendiri oleh tangan adik mamanya Karen.
"Wah.. Trisna masih inget aja makanan kesukaan papa ini." Jawab pak Zidane sambil menerima oleh-oleh yang Karen bawa untuknya.
"Dan ini pah, titipan dari Tante Trisna." Karen memberikan kotak yang di bungkus dengan kertas sampul berwarna coklat.
"Apa ini?" Tanya pak Zidane sambil mengambil kotak itu dari tangan Karen.
"Karen juga gak tau. Coba papa buka." Ucap Karen.
Pak Zidane meletakkan oleh-oleh yang Karen berikan di atas meja dan membuka bungkus kotak itu.
Mata pak Zidane langsung berkaca-kaca melihat isi dari kotak itu. Ternyata kotak itu berisi bingkai dengan lukisan mama Karen waktu masih muda.
"Dita.." lirih pak Zidane dengan suara yang bergetar.
Karen pindah ke samping papanya dan merangkul sang papa.
"Mama cantik yah pah. Pantes Karen cantik, ternyata mama Karen juga cantik." Ucap Karen untuk menetralkan hati papanya, walau sebenarnya hati nya juga ingin menangis melihat lukisan sang mama.
"Bukan hanya cantik, tapi mama kamu wanita terhebat yang pernah papa temukan. Karena mama mu lah papa bisa sampai seperti ini. Tapi sayang hatinya terlalu rapuh, sangking rapuhnya mama mu sampai tidak kuat menerima hinaan dari keluarga papa."
"Papa tenang aja, Karen akan menjadi wanita yang cantik dan kuat, kan Karen perpaduan mama dan papa."
Pak Zidane tersenyum mendengar ucapan Karen dan membalas rangkulan putrinya.
"Bagi papa kamu sudah menjadi putri yang cantik dan kuat. Karena dari lahir kamu tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu tapi kamu berhasil tumbuh dengan baik. Maafin papa yah kalau papa tidak bisa menghadirkan sosok ibu pengganti untuk membesarkan mu, karena di hati papa, mama mu gak pernah bisa terganti dengan siapa pun."
"Gak perlu minta maaf pah, walaupun papa gak pernah memberikan Karen sosok ibu, tapi Karen gak pernah kekurangan kasih sayang. Papa aja udah cukup buat Karen. Apalagi sekarang ada kak Adam, kebanjiran kasih sayang deh Karen sekarang."
"Oh.. iya, ngomong-ngomong suami kamu, kamu tinggal sendirian dong di kamar? Cepet sana balik, nanti suami kamu kecarian."
"Iya pah, Karen balik ke kamar dulu yah."
Pak Zidane menganggukkan kepalanya. Dan Karen pun keluar dari dalam kamar papanya.
Setelah Karen keluar dari kamarnya, pak Zidane kembali memandang lukisan istrinya itu.
"Maaf membuat mu lama menunggu ku sayang, aku harus membesarkan anak kita dulu, memastikan dia mendapat pendamping yang menyayanginya seperti aku menyayanginya. Sabar sedikit lagi yah sayang, sebentar lagi kita akan bersama lagi." Lirih pak Zidane sambil mengelus lukisan istrinya itu.
✨✨✨
__ADS_1
Keesokan paginya.
Hari ini adalah hari pertama Adam bekerja di perusahaan pak Zidane. Tapi yang paling bersemangat adalah Karen.
Karen sudah bangun jam lima pagi dan langsung turun ke bawah untuk membantu Bik Narti dan staf dapur lainnya membuatkan sarapan untuk papa dan suaminya.
Setelah sarapan siap, baru lah Karen kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya kemudian membangunkan suaminya.
Dan disini lah mereka sekarang, di meja makan untuk mengisi perut mereka sebelum beraktifitas.
"Pah, Karen ikut yah ke perusahaan." Tanya Karen.
"Kok tanya papa, tanya suami kamu dong." Jawab pak Zidane. Tak etis saja kalau Karen masih meminta izin padanya sedangkan putrinya itu sudah menikah. Harusnya kemana pun Karen melangkahkan kakinya, Karen harus bertanya pada suaminya.
"Kak, aku ikut yah ke perusahaan." Kini Karen bertanya pada Adam.
"Aku kan kerja disana Ren, masa kamu mau ikut-ikut sih."
"Aku kan mau lihat kamu kerja kak. Boleh yah? Aku janji deh gak ganggu." Rayu Karen.
Adam menghela nafasnya. Ingin melarang istrinya itu ikut, tapi ada papa mertuanya di tengah-tengah mereka, nanti kalau Karen nangis karena di larang ikut, kan bisa panjang masalahnya.
Mau tak mau Adam pun mengijinkan Karen untuk ikut ke perusahaan.
Melihat anggukkan kepala Adam, Karen pun kesenangan seperti anak kecil yang di belikan kinderjoy oleh mamanya.
Karen pun cepat-cepat menyelesaikan sarapannya. Selesai sarapan tak lupa Karen meminum obatnya.
Setelah hampir setengah jam dalam perjalanan karena macet, akhirnya mobil yang membawa pak Zidane, Adam dan Karen pun sampai di perusahaan itu.
Mereka pun turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan.
Mata para karyawan langsung mengarah pada Adam yang baru pertama kali mereka lihat datang ke perusahaan itu apalagi Karen terus gelendotan pada Adam. Membuat para karyawan laki-laki maupun perempuan bergosip tentang siapa Adam. Mereka semua tau kalau pak Zidane baru saja menikahkan putri semata wayangnya, tapi mereka tidak tau dengan siapa pak Zidane menikahkan putrinya. Banyak yang berspekulasi kalau pak Zidane buru-buru menikahkan putrinya karena putrinya sudah hamil duluan karena mereka tau Karen masih sangat muda dan baru tamat SMA.
Jika Karen merasa tidak risih dengan tatapan para karyawan perusahaan papanya, Adam malah sebaliknya, ia merasa risih dengan tatapan mata para karyawan yang memandangnya, Adam menundukkan wajahnya karena malu.
"Angkat wajah mu, tegakkan punggung mu, tunjukkan wibawa mu. Ingat kamu adalah wakil saya di perusahaan ini." Ucap pak Zidane saat melihat menantunya itu menunduk.
Adam pun mengikuti apa yang di katakan papa mertuanya itu dan terus berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Ting. Pintu lift terbuka.
Pak Zidane, Adam, Karen dan tiga bodyguard pun masuk ke dalam lift.
"Lain kali kamu jangan seperti itu lagi, ingat Adam kamu adalah wakil saya, jadi kamu harus menegakkan kepala mu saat melintas di depan para karyawan. Sebagai wakil saya, kamu tidak boleh terlihat lemah. Paham kamu." Ucap pak Zidane memberi peringatan pada Adam.
"Paham pah." Jawab Adam.
"Jangan keras-keras sama kak Adam dong pah." Protes Karen saat suaminya di beri peringatan tegas oleh sang papa.
"Ini demi kebaikannya Karen." Jawab pak Zidane.
"Udah gak pa-pa." Bisik Adam di telinga istrinya agar istrinya tidak perlu mempermasalahkan hal yang tak perlu di permasalahkan. Apalagi yang pak Zidane katakan adalah pelajaran untuk dirinya.
__ADS_1
Ting. Pintu lift terbuka.
Mereka pun keluar dari dalam lift.
"Selamat pagi Tuan Zidane, Tuan Adam." Sapa David saat melihat atasannya itu keluar dari dalam lift.
"Selamat pagi David. Tolong kamu antar Adam ke ruangannya dan ajari apa-apa saja yang harus Adam kerjakan." Perintah Pak Zidane pada David, asistennya.
"Dan kamu Karen, ikut papa ke ruangan papa. Jangan kamu ganggu dulu suami kamu bekerja." Kini pak Zidane berbicara pada putri semata wayangnya.
Karen menganggukkan kepalanya.
Karen dan Adam pun berpisah. Adam mengikuti David menuju ruangan Adam dan Karen mengikuti sang papa ke ruangan sang papa.
✨✨✨
Bel jam makan siang pun berbunyi.
Cepat-cepat Karen keluar dari ruang kerja sang papa untuk menemui suaminya ke ruang kerjanya.
"Pah, Karen ke ruang kerjanya kak Adam yah." Pamit Karen sebelum keluar dari ruang kerja sang papa.
Pak Zidane geleng-geleng kepala melihat Karen yang langsung ngacir, padahal baru beberapa jam Karen dan Adam terpisah, tapi gaya Karen seperti berpisah sudah berhari-hari.
Baru saja Karen keluar dari ruang kerja papanya, Adam pun keluar juga dari ruang kerjanya.
"Kak.." panggil Karen sambil berlari kecil menghampiri Adam.
"Jangan lari-larian Ren. Kalau kepeleset gimana?" Ucap Adam panik.
"Kan ada kak Adam." Jawab Karen enteng.
Adam menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Karen.
"Kakak mau makan dimana? Mau cari makan diluar atau mau makan di kantin?" Tanya Karen.
"Di kantin aja deh. Aku males keluar-keluar." Jawab Adam. Maklum saja, Adam terbiasa makan di kantin perusahaan.
"Ya udah, kita ke kantin yuk." Karen pun menggandeng suaminya dan berjalan menuju lift.
"Eh.. tunggu, ngomong-ngomong papa makan dimana?" Tanya Adam.
"Papa makan di ruangannya."
"Ya udah kita bareng aja sama papa makan di ruangan papa."
"Ish.. tapi aku maunya makan berduaan aja sama kak Adam. Kalau makan sama papa, pasti nanti kak Adam tegang. Lagian aku udah bilang kok sama papa." Jawab Karen.
"Ya udah kalau gitu." Balas Adam pasrah.
Mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju lift untuk membawa mereka ke lantai dimana kantin perusahaan berada.
BERSAMBUNG...
__ADS_1