
Kini Ayu sudah di pindahkan ke kamar rawat.
"Selamat yah nak. Kamu udah jadi ibu sekarang." Ucap bu Endang saat melihat Ayu masuk ke dalam kamar rawatnya. Berhubung Ayu masih lemas, jadi Ayu di bawa menggunakan kursi roda.
"Maafin Ayu yah buk, kalau Ayu sering gak nurut sama ibu, bikin ibu marah-marah, bikin ibu pusing. Hari ini Ayu tau, bagaimana sakitnya perjuangan ibu waktu ngelahirin Ayu. Maafin Ayu yah buk." Ayu memeluk ibunya dengan isak tangis.
"Kamu gak perlu minta maaf sayang, karena kehadiran mu adalah keinginan ibu bukan atas kemauan mu. Begitu pun dengan kehadiran putri cantik kalian, itu karena keinginan kalian, jadi sudah seharusnya sebagai orangtua memberikan yang terbaik untuk anak. Percayalah Yu, selagi anak-anak kita bahagia, dunia seorang ibu masih baik-baik saja." Jawab bu Endang sambil mengelus rambut anak perempuannya yang hari ini sudah sah menjadi seorang ibu.
"Kamu jangan nangis lagi, gak baik ibu yang baru melahirkan sedih-sedih, harus happy." Lanjut bu Endang.
Ayu pun melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibu kemudian menyeka air matanya.
Setelah drama melow antara Ayu dan bu Endang selesai, Lucky kembali mendorong kursi roda Ayu ke arah ranjang. Lalu menggendong Ayu dan membaringkan istrinya di atas ranjang.
"Ini dia si cantik." Ucap mama Tyas sambil meletakkan bayi cantik hasil main dokter-dokteran Lucky dan Ayu.
"Astaga...mukanya mirip banget sama kamu mas." Ucap Ayu setelah melihat dengan jelas wajah putrinya. Karena saat imd tadi, Ayu tidak terlalu jelas melihat jelas wajah putrinya.
"Ya namanya juga anak aku Yu." Jawab Lucky sambil menatap wajah putrinya bangga. Bangga karena tak ada satu pun bagian dari Ayu menempel di wajah putri mereka.
"Pyiiiuuuut." Suara ken•tut mendecit dari putri mereka
"Tuh kan, bahkan sampe suara ken•tutnya aja mirip sama kamu mas." Keluh Ayu saat mendengar suara ken•tut anaknya.
Sedangkan mama Tyas, papa Lutfi, pak Andar dan buk Endang tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Ayu.
"Kalian udah punya nama untuk si cantik?" Tanya mama Tyas di tengah-tengah tawa mereka.
"Udah mah." Jawab Lucky.
"Namanya Kya Aleeza mah." Lanjut Lucky.
"Nama yang cantik." Balas mama Tyas.
"Eeeh.." seolah mengerti telah mendapat pujian dari sang oma, baby Kya tersenyum sambil mengeluarkan sedikit suara merdu khas bayi nya.
"Mas." Panggil Ayu.
"Ya sayang, kenapa?"
"Katanya mau beliin sup buntut." Ayu mengingatkan ucapan suaminya saat ada di kamar bersalin.
"Oh iya." Lucky menepuk jidatnya karena hampir lupa dengan yang ia katakan pada istrinya.
"Mah, buk. Lucky titip Ayu sama Kya yah. Lucky mau beliin Ayu sup buntut di jalan xxx." Ucap Lucky.
"Pergi lah nak, istri dan anak mu aman sama ibu dan mama mu." Jawab bu Endang.
"Ibu sama mama gak mau nitip apa gitu?" Tanya Lucky.
__ADS_1
"Terserah kamu mau beliin kami apa." Sahut mama Tyas yang diangguki bu Endang.
"Ya udah Lucky pergi yah mah, buk." Pamit Lucky pada mama dan ibu mertuanya.
Cup. Satu kecupan mendarat di kening Ayu.
"Aku pergi yah." Pamit Lucky pada istrinya.
Ayu pun menganggukkan kepalanya.
Cup. Satu kecupan kini Lucky berikan pada Kya.
"Papa pergi dulu yah nak, beliin sup untuk mama mu, biar ASI mama mu keluar banyak." Ucap Lucky pada putri cantiknya.
Baby Kya tersenyum seolah memberi izin pada sang papa untuk pergi.
Setelah berpamitan pada istri dan anaknya Lucky pun pergi dari kamar rawat Ayu.
✨✨✨
KRIIING...KRIIING...KRIIING. Nada dering panggilan masuk di ponsel Lucky memecah keheningan di dalam mobil saat Lucky hendak pulang ke rumah sakit setelah membeli sup buntut untuk istrinya.
Lucky pun melihat layar ponselnya yang ia letakkan di stand holder.
Panggilan dari nomor baru.
Lucky pun menggeser tombol hijau dan menekan tombol speaker.
"Apa benar ini dengan bapak Lucky." Tanya seorang pria yang ada di seberang telepon.
"Iya. Ini siapa?"
"Kami dari kepolisian pak. Ingin memberitahukan, bahwa tersangka atas nama Billy sedang sekarat di rumah sakit kepolisian. Dan tersangka Billy meminta kami untuk menghubungi bapak sebagai kerabat terdekatnya. Apa bapak Lucky bisa datang ke rumah sakit sekarang?"
Lucky menghela nafasnya.
"Nanti saya pikirkan pak, karena sekarang istri saya baru melahirkan dan tidak mungkin saya pergi ke rumah sakit kepolisian untuk melihat orang yang sudah melakukan percobaan pembunuhan pada istri saya." Jawab Lucky.
"Baik pak saya paham. Nanti akan saya sampaikan kepada tersangka Billy."
Panggilan pun berakhir.
Setelah panggilan berakhir, berkali-kali Lucky menghela nafasnya. Meski dirinya masih sangat marah pada Billy, tapi sebagai sesama manusia, ia juga tidak tega mengingat Billy sebatang kara di rumah sakit tanpa ada sanak saudara yang menjenguk Billy.
Apalagi setelah keluarga Billy tau kalau Billy melakukan tindakan kejahatan yang sangat keji, keluarganya seolah tak menganggap Billy bagian dari kelurga mereka.
Setelah hampir dua puluh menit di jalan menuju rumah sakit Ayu melahirkan, akhirnya mobil yang Lucky kendarai terparkir mulus di parkiran rumah sakit.
Dengan menenteng dua kresek, Lucky berjalan masuk menuju gedung rumah sakit.
__ADS_1
Ting. Pintu lift terbuka.
Lucky pun berjalan menuju kamar rawat Ayu.
Ceklek. Lucky membuka pintu kamar rawat istrinya.
Sontak semua orang yang duduk di sofa dekat pintu menoleh ke arah pintu.
"Ayu tidur mah?" Tanya Lucky pada mama Tyas.
Mama Tyas mengangguk.
"Kamu kok lama banget sih?" Omel mama Tyas.
"Ya lama lah mah, perjalanan dari sini ke jalan xxx aja makan waktu hampir dua puluh menit. Belum lagi antri nya, belum lagi perjalanan pulang." Jawab Lucky sambil memberikan dua kantong kresek kepada mama Tyas.
"Itu ada puyunghai sama sate ayam untuk mama, papa, ibu dan bapak makan. Kalau sup buntut nya untuk Ayu." Ucap Lucky.
Lucky pun berjalan mendekati ranjang Ayu dimana Ayu dan baby Kya sedang tertidur.
"Sayang, bangun sayang, katanya mau makan sup buntut." Ucap Lucky sambil mengelus pipi istrinya.
"Eugh." Ayu melenguh sambil mengerjapkan matanya.
"Kamu udah datang mas." Ucap Ayu dengan suara seraknya.
"Mau makan sekarang? Apa masih mau lanjut tidur?"
"Makan sekarang lah mas, aku laper."
"Oke. Tunggu yah, aku ambil dulu."
Lucky pun berjalan ke arah sofa dimana sup buntut beserta nasi putih untuk Ayu sudah di sajikan mama Tyas.
Dengan satu mangkok dan satu piring di tangan Lucky, Lucky kembali berjalan menuju ranjang Ayu.
Lucky meletakkan mangkok dan piring di atas nakas untuk menaikkan sandaran ranjang Ayu.
Baru saja Lucky ingin kembali mendekati Ayu, tiba-tiba suara tangis baby Kya menghentikan langkah kaki Lucky.
"Biar ibu aja Ky, kamu urus Ayu aja." Ucap bu Endang saat melihat menantunya hendak mengambil baby Kya yang ada di box bayi.
Tapi sayangnya baby Kya tidak mau di gendong oleh neneknya. Mau tak mau Lucky kembali berjalan mendekati baby Kya yang sedang di tenangkan oleh buk Endang.
BERSAMBUNG...
💋💋 Hai para readers solehot dan smarthot, othor mau promo novel temen othor nih, judulnya Living Together With My Enemy karya EL Freya. Dimohon kesudiannya untuk singgah yah mak-emak, pak-bapak, kak-akak, bang-abang, dek-adek 🙏🙏🙏 💋💋
Yang begini nih penampakannya. 🙏🙏
__ADS_1