
Keesokan paginya.
Anak buah yang pak Zidane suruh untuk mencari tau tentang Adam pun masuk ke dalam kamar rawat Karen.
"Tuan, ini informasi yang Tuan minta." Ucap anak buah pak Zidane sambil menyerahkan satu amplop coklat pada pak Zidane.
"Bagaimana dengan Bimo? Apa sudah di urus?" Tanya pak Zidane sambil mengambil amplop coklat dari tangan anak buahnya.
"Sudah Tuan, Tuan David sudah datang mengurusnya." Jawab anak buah pak Zidane.
David adalah asisten pribadi pak Zidane. Ia tidak ikut ke kota P karena harus mengurus perusahaan bodyguard pak Zidane dan usaha-usaha pak Zidane yang lainnya di ibukota.
"Bagus kalau begitu."
"Saya permisi Tuan." Pamit anak buah pak Zidane.
Setelah anak buahnya keluar, pak Zidane pun membuka amplop coklat yang tadi di berikan anak buahnya.
Pak Zidane membaca laporan tentang latar belakang Adam dengan seksama dan sesingkat-singkatnya.
"Tidak terlalu buruk. Hanya masalah kenakalan remaja biasa." Gumam pak Zidane.
"Pah...." suara lirih Karen mengalihkan pandangan pak Zidane dari yang tadi nya menatap lembaran kertas, sekarang pak Zidane menoleh ke arah Karen. Pak Zidane pun memasukkan kembali kertas ke dalam amplo dan meletakkan amplop di atas meja.
"Kamu sudah bangun." Ucap pak Zidane sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Apa yang papa baca tadi?" Tanya Karen.
"Bukan apa-apa sayang, hanya laporan tentang perusahaan." Jawab pak Zidane berbohong.
"Tunggu yah biar papa suruh Bik Narti antar sarapan mu." Ucap pak Zidane lagi.
Karen pun menganggukkan kepalanya.
Mau dimana pun Karen berada, Bik Narti lah yang harus memasakkan makanan untuk Karen, termasuk di rumah sakit sekalipun.
✨✨✨
Sedangkan di perusahaan tambang, gosip tentang perampokan yang terjadi di rumah pak Zidane pun sudah tersebar luas di kalangan karyawan. Dan yang paling mengejutkan ternyata empat orang dari lebih sepuluh orang pasukan bertopeng Bimo adalah teman-teman Adam, siapa lagi kalau bukan Rizal, Jani, Yofie dan Alan. Dan ternyata keempat orang itu lah yang di maksud Bimo adalah orang-orangnya yang menyamar sebagai pekerja harian di perusahaan tambang pak Zidane.
Jelas saja kabar itu membuat Adam terkejut, ia tak menyangka keempat temannya di tempat kerja itu adalah mata-mata Bimo, pasalnya tingkah laku mereka di tempat kerja terlihat biasa saja dan tidak mencurigakan sama sekali.
Polisi pun datang ke perusahaan tambang untuk meminta keterangan dari Adam, karena pasukan berjas pak Zidane menyebut nama Adam saat pengintrogasian, apalagi Adam lah yang membuat Bimo menggelepar bergelimang darah di kepala.
"Dam.. di panggil ke kantor pak Zidane loe." Ucap salah satu teman kerja Adam.
"Mau ngapain?" Tanya Adam balik.
"Ya mana tau. Tapi yang gue denger banyak polisi di kantor pak Zidane." Jawab teman Adam itu.
"Loe gak ada kaitannya kan sama perampokan di rumah pak Zidane kemaren? Kan empat pelaku nya temen loe semua Dam." Tanya teman Adam itu dengan tatapan menyelidik.
"Ya gak lah. Gue aja gak nyangka kalau mereka berempat mata-mata." Jawab Adam. Ia tak menyombongkan dirinya kalau dirinya lah yang menyelamatkan Karen.
"Udah akh, gue kantor pak Zidane dulu." Ucap Adam lagi sambil melepas alat kerja yang sedang ia pegang.
Sesampainya di kantor pak Zidane, benar saja sudah ada empat polisi yang sedang menunggu Adam untuk di mintai keterangan. Selain empat polisi ada juga asisten pribadi pak Zidane, David.
__ADS_1
Ternyata polisi memanggil Adam bukan hanya untuk meminta keterangan Adam tentang aksi heroiknya, melainkan polisi juga meminta keterangan Adam terkait keempat teman Adam yang menjadi mata-mata itu.
Untungnya polisi hanya sekedar meminta keterangan pada Adam tanpa mencurigai Adam sebagai salah satu mata-mata yang menyamar.
Setelah satu jam lebih Adam di kantor pak Zidane, akhirnya Adam di perbolehkan untuk bekerja kembali.
Kembali ke rumah sakit.
Kini Karen sudah selesai sarapan, pakaian yang menempel di tubuh Karen pun sudah terganti dengan pakaian yang di bawa Bik Narti dari rumah.
"Bik, pakaian yang tadi Karen pake mana?"
"Udah saya buang Non."
"Kok di buang sih Bik!!! Cepet ambil lagi!! Itu tuh pakaian berarti banget buat Karen, jangan asal buang dong Bik!!" Omel Karen. Bagaimana tidak berarti kalau pakaian yang tidak mahal yang di beli dari pasar subuh adalah pemberian dari Adam saat ia sedang polos-polosnya.
Mendengar suara Karen yang ngomel-ngomel, pak Zidane pun langsung masuk ke dalam kamar rawat Karen.
"Ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah sayang?" Tanya pak Zidane sambil berjalan mendekati Karen.
"Ini Bik Narti pah, masa baju yang di beliin mas Adam main buang aja." Jawab Karen sambil memasang wajah kesalnya.
"Maaf Tuan, saya pikir Nona Karen tidak akan menyukai baju itu, makanya tadi langsung saya buang." Ucap Bik Narti sambil menundukkan kepalanya menyesal.
"Cepat cari baju itu!" Perintah pak Zidane.
"Baik Tuan." Bik Narti pun keluar dari kamar rawat Karen untuk mencari baju yang tadi ia buang di tempat sampah di depan kamar Karen.
"Sudah sayang jangan marah-marah lagi, gak baik untuk imun kamu." Ucap pak Zidane setelah Bik Narti keluar.
Tetap saja Karen memanyunkan bibirnya.
"Apa kamu menyukai laki-laki itu?" Tanya pak Zidane to the point.
"Hah..." Karen kaget mendengar pertanyaan papanya.
"Apa kamu menyukai laki-laki yang sudah memberikan kamu baju itu? Siapa lagi namanya?"
"Namanya Adam pah." Jawab Karen malu-malu.
"Jadi benar kamu suka sama dia?"
"Kalau Karen bilang iya, emang papa ngizinin Karen sama Adam?"
Tanpa Karen duga, pak Zidane menganggukkan kepalanya.
"Hah... serius pah?" Kaget Karen melihat papanya mengangguk.
Pasalnya Karen tau persis kalau papanya sangat protektif dengan laki-laki yang Karen suka atau pun yang berusaha mendekati Karen.
Maklum duda satu anak itu tidak mau putri semata wayangnya ada di tangan laki-laki yang salah, apalagi Karen memiliki penyakit autoimun, jadi pak Zidane ingin anaknya berada di tangan laki-laki yang mau menerima Karen apa adanya bukan ada apanya.
"Apa kamu mau papa menikahkan mu dengan laki-laki itu?" Pertanyaan pak Zidane kali ini bukan hanya membuat Karen kaget, melainkan juga senang tapi juga sedih.
Raut wajah Karen pun berubah lagi.
"Kenapa? Kamu gak mau menikah dengan laki-laki itu? Atau kamu hanya mau berpacaran saja? Kalau hanya berpacaran saja, papa gak setuju. Gaya orang pacaran zaman sekarang itu ngeri, lebih-lebih dari suami istri. Nanti kalau laki-laki itu udah mendapatkan semua yang dia mau dari dalam diri kamu, dia akan langsung ninggalin kamu. Giliran dituntut tanggung jawab, nanti dia bilang kalau kalian melakukan atas dasar suka sama suka. Kalau sudah begitu siapa yang rugi? Kamu juga kan?" Ucap pak Zidane panjang lebar.
__ADS_1
"Kalau kalian menikah kan, sudah di pastikan dia tidak bisa lari dari tanggung jawab." Ucap pak Zidane lagi.
"Bukan gitu pah, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi Karen kan masih muda, masa udah mau di nikahin sih. Lagian Karen sama Adam kan belum saling mengenal, kalau ternyata Adam cuma baik di luarnya aja gimana?"
"Karen sayang... apa mungkin papa akan menikahkan mu dengan laki-laki itu kalau laki-laki itu tidak layak untuk mu? Semua sudah papa cari tau sayang. Laki-laki itu memang memiliki catatan kriminal, tapi selama catatan kriminal laki-laki itu bukan membunuh dan korupsi, papa menganggap itu hanya kenakalan remaja biasa. Karena papa juga dulu juga seperti itu."
"Papa tidak menemukan laporan tentang laki-laki itu yang suka gonta-ganti perempuan, yah...walaupun..." Pak Zidane menggantung kata-katanya, ia tak enak hati untuk memberi tahu Karen kalau Adam pernah menggunakan jasa kupu-kupu malam tapi ngutang.
"Walaupun apa pah?"
"Walaupun sebenarnya wajah laki-laki itu cukup ganteng." Jawab pak Zidane berbohong. Pak Zidane memutuskan untuk merahasiakan pada Karen hal yang satu itu. Biarlah nanti Adam yang menceritakan pada Karen sendiri kalau memang Adam ingin menceritakan masa lalunya pada Karen.
Yang di puji Adam, yang merona malah Karen.
"Tapi pah, kalau Adam tau Karen penyakitan gimana?" Tanya Karen, itu lah yang Karen takutkan sedari tadi. Ia merasa minder pada dirinya yang mengidap penyakit autoimun.
"Tenang saja sayang, nanti papa akan menanyakan dulu pada laki-laki itu, kalau laki-laki itu juga menyukai mu dan mau menerima mu apa adanya, papa akan langsung menikahkan kalian."
"Langsung pah?"
Pak Zidane menganggukkan kepalanya.
"Lebih cepat lebih baik sayang." Jawab pak Zidane sambil mengelus rambut putrinya.
"Sebelum papa pergi, papa ingin ada lelaki yang bertanggung jawab yang menggantikan tugas papa. Agar papa bisa pergi dengan tenang." Gumam pak Zidane dalam hati.
Tak ada yang tau kalau sebenarnya pak Zidane tengah mengidap leukimia.
✨✨✨
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Karen juga sudah keluar dari rumah sakit dan pulang kerumah.
Sebenarnya pak Zidane tidak ingin membawa Karen pulang kerumah dan ingin membawa Karen ke hotel yang jaraknya satu jam lagi dari rumah sakit, tapi karena Karen ngotot ingin pulang kerumah jadi mau tak mau mereka pun pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, Karen tak tidur di kamarnya, karena masih trauma dengan adegan penyedotan susu cap nona Karen, maka dari itu, pak Zidane memindahkan kamar Karen di lantai bawah.
Setelah makan malam, pak Zidane pun menyuruh anak buahnya untuk memanggil Adam datang kerumahnya. Ia tak bisa menunggu lama untuk menanyakan pada Adam apakah Adam juga menyukai Karen dan bisa menerima kondisi Karen.
"Pah.. kalau nanti Adam gak suka sama Karen dan gak bisa nerima kondisi Karen, papa jangan pecat Adam yah. Kasihan pah." Karen memperingatkan sang papa agar tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
"Iya sayang. Kamu tenang aja." Jawab pak Zidane.
Di kamar mess Adam.
"Ssh..ah...uh..." desau Adam sambil mengelus-elus botol jin nya.
Kebiasaan para kaum lelaki, jika tidak ada tempat pelampiasan untuk menyemburkan bibit jin nya, maka mereka sendiri yang akan mengelus-elus botol jin mereka sampai bibit jin tersembur dengan bantuan blue film.
Sedang enak-enaknya dan hampir pada puncaknya, tiba-tiba suara ketukan pintu mengganggu ritual rutin yang biasa Adam lakukan dua hari sekali itu. Sepertinya ia sudah trauma memakai jasa kupu-kupu malam, makanya sekarang ia lebih suka mengeluarkan bibit jin nya sendiri di banding memakai jasa kupu-kupu malam, kecuali ada wanita yang sukarela membuka paha nya lebar-lebar untuk Adam jadikan tempat cuci botol nya, mungkin Adam tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dan bunyi ketukan pintu itu berhasil membuat botol jin Adam kembali meleyot.
__ADS_1
BERSAMBUNG...