
Setelah hampir setengah jam mama Tyas menunggu anak dan menantunya di ruang makan, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang juga.
Dengan wajah ceria dan senyum sumringah yang selalu terpancar di wajahnya, Lucky berjalan mendekati mama Tyas yang ada di meja makan. Jika wajah Lucky terus memancarkan senyum, lain hal dengan Ayu, ia terus menunduk karena malu dengan mama mertuanya.
Sedangkan mama Tyas hanya tersenyum melihat menantunya yang terus tertunduk.
"Mentang-mentang baru pulang bulan madu, main dokter-dokterannya keterusan sampe disini." Sindir mama Tyas.
Lucky terlihat biasa saja mendengar sindiran mama Tyas, malahan Lucky menjawab sindiran mama Tyas dengan senyuman.
Sedangkan Ayu, wajahnya makin merah saja.
Jika waktu Ayu ingin sekali merasakan belah duren Ayu sama sekali tidak malu bicara blak-blakan dengan mama mertuanya, tapi setelah ia merasakan belah duren, ia jadi sangat pemalu jika ada yang menanyakan masalah peranjangan dirinya dengan suaminya.
"Sekarang kalian makan, isi bahan bakar dulu. Manatau nanti habis makan kalian masih mau lanjut ke surga dunia." Sindir mama Tyas lagi.
Ayu diam saja, mencoba menebalkan urat malunya sebesar tali tambang agar bisa tetap berada di ruang makan untuk mengisi perutnya yang memang sudah meronta minta diisi.
Ayu pun mulai menyendokkan nasi dan lauk pauk yang suaminya inginkan ke dalam piring, lalu menyodorkan piring itu kepada suaminya. Setelah melayani Lucky, baru lah Ayu menyendokkan nasi dan lauk pauk ke dalam piringnya.
"Makan yang banyak Yu, biar ada tenaga kalau suami mu lagi nyuntik." Goda mama Tyas.
Ayu hanya tersenyum menjawab godaan mama mertuanya itu.
"Jangan di godain terus dong mah, kasihan Ayu. Lihat tuh muka nya udah merah, nanti kalau Ayu nutup tempat praktek nyuntik Lucky sementara gimana?" Bela Lucky.
__ADS_1
Mendengar kata-kata suaminya, bukannya merasa tenang, wajah Ayu malah semakin memerah.
"Sebenarnya mas Lucky mau ngebela atau mau ikutan ngegoda sih?!" Gerutu Ayu dalam hati.
Mereka pun makan dengan tenang.
Setelah kurang lebih setengah jam berada di ruang makan, kini mereka pindah ke ruang televisi.
"Papa mana mah?" Tanya Lucky karena tak melihat papa nya di rumah sejak ia bangun tadi.
"Ya di tempat prakteknya lah Ky." Jawab mama Tyas.
"Hubungan kalian udah benar-benar baik kan? Kalian bukan lagi bersandiwara kan di depan mama seperti dulu?" Tanya mama Tyas to the point. Nampaknya mama Tyas takut kecolongan seperti kemaren-kemaren.
"Iya mah. Mama harus percaya dong sama kita." Jawab Lucky.
Mendengar pertanyaan mama Tyas, Ayu dan Lucky pun saling tatap sesaat lalu kembali menatap mama Tyas.
"Doain aja yah mah, biar usaha Lucky dan Ayu gak sia-sia." Jawab Lucky sambil menggenggam tangan Ayu.
"Pasti Ky." Balas mama Tyas.
"Oh iya Ky..Yu..walau kalian menikah sudah delapan bulan lebih, tapi rumah tangga kalian yang sebenarnya kan baru di mulai baru-baru ini. Mama hanya pesan sama kalian, belajar lah dari kesalahan kalian yang dulu agar kejadian dulu tidak terulang lagi. Kalian harus saling terbuka satu sama lain, bukan hanya terbuka saat main dokter-dokteran saja." Ucap mama Tyas memberi nasehat.
"Kamu Yu, kalau ada sifat atau sikap suami kamu yang gak kamu sukai, ajak suami kamu duduk berdua, bicarakan dengan lisan yang bagus, buat lah suami kamu mengerti dengan apa yang sedang kamu rasakan. Kalau kamu berkata dengan lisan yang baik tapi suami kamu tidak mengerti dan malah memaki kamu, diam kan saja, tapi jangan kamu pendam juga, cerita sama mama, jangan cerita sama orangtua kamu, apalagi cerita ke tetangga. Karena aib suami mu hanya boleh di ketahui keluarga suami mu." Kini mama Tyas menasehati Ayu.
__ADS_1
Ayu hanya menganggukkan kepala mendengar nasehat mama mertuanya itu.
"Begitu juga kamu Ky, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu dengan sikap atau sifat istri kamu, ajak istri kamu duduk berdua dan bicarakan baik-baik. Walaupun mama tau kamu belum bisa mengontrol emosi kamu, tapi itu bukan alasan untuk kamu menyakiti istri kamu dengan nada bicara yang keras dan kasar. Kalau kamu sudah bicara baik-baik tapi istri kamu yang malah menaikkan satu oktaf suaranya, lebih baik kamu diam dan tinggalkan, tapi jangan pergi dari rumah, cukup pergi ke ruangan yang berbeda dengan istri mu. Dan kalau istri mu makin membangkang, ceritakan lah pada mertua mu, jangan kamu ceritakan pada mama. Karena aib istri mu cukup di ketahui orangtuanya, tapi lebih bagus lagi kalau kamu bisa menyimpan aib istri mu untuk dirimu sendiri." Kini mama Tyas menasehati Lucky.
"Ingat, suami memang lah kepala rumah tangga tapi, istri adalah leher dalam rumah tangga. Kepala tidak mungkin bisa belok kalau bukan leher yang membelokkan. Leher juga tidak berfungsi kalau tidak ada kepala. Istri memang lah tulang rusuk, tapi suami adalah jantung. Meski fungsi tulang rusuk adalah membantu pernafasan, tapi fungsi lain dari tulang rusuk adalah melindungi jantung. Mama harap dalam berumah tangga kalian bisa saling menjaga, melindungi, saling percaya dan saling terbuka." Lanjut mama Tyas menasehati anak dan menantunya.
"Iya mah. Makasih nasehatnya. Lucky dan Ayu akan berusaha menjaga rumah tangga kami sampai kakek-nenek seperti mama dan papa." Jawab Lucky.
"Ya udah mama istirahat dulu. Gara-gara nungguin kalian selesai main dokter-dokteran, jam istirahat mama jadi ngaco." Lagi dan lagi mama Tyas memberi sindiran halus pada anak dan menantunya itu.
Mama Tyas pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang televisi.
Suasana ruang televisi pun hening sejenak setelah mama Tyas beranjak dari ruang televisi.
Dalam keheningan, Lucky memikirkan nasehat yang di berikan mama nya, nasehat yang di berikan mama Tyas pas sekali dengan apa yang sedang di rasakan Lucky. Ia sedang menyimpan kegundahan dalam hati, kegundahan karena teror dari Billy. Kegundahan yang sebenarnya ingin ia simpan sendiri, tapi setelah mendengar ceramah singkat mama Tyas, Lucky pun memutuskan untuk memberitahu Ayu. Karena ia tidak ingin menyimpan rahasia dengan istrinya.
"Ekhem.." Lucky berdehem untuk memecah keheningan.
"Kenapa mas?" Tanya Ayu. Ayu yang sedang membolak-balikkan majalah langsung menoleh ke arah Lucky.
"Ada yang mau aku tunjukkin sama kamu."
Ayu memicingkan matanya curiga. Di otak Ayu sekarang suaminya ingin menunjukkan sesuatu yang mesum padanya.
CLETAK. Lucky menyentil kening Ayu karena menatapnya aneh. Lucky tau apa yang sedang istrinya pikirkan saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG...