
Sesampainya di dalam kamar mandi, Adam dan Karen yang sudah sama-sama horny langsung saling mengunyah bibir dengan sangat rakus. Dan dengan gerakan cepat juga tangan mereka saling membuka kain yang menempel pada tubuh pasangan mereka.
Kini keduanya sudah sama-sama polos. Adam pun mendudukkan Karen di toilet duduk, kemudian memberi sengatan kenikmatan mulai dari leher, kompeng kenyal, lalu turun ke paha dan naik lagi sampai ke tempat mesin pencucian botol.
"Sshh.. ah..kak.." racau Karen sambil tangannya menekan kepala Adam agar makin dalam memberi sengatan di bagian mesin pencucian botol.
Puas mencuci bibir dan lidahnya di mesin yang harusnya tempat mencuci botol, Adam pun menjauhkan wajahnya dan gantian sekarang giliran botol jin nya lah yang harus di cuci.
Namun baru saja Adam hendak mengangkat kedua kaki Karen, Karen sudah melarang Adam.
"Jangan kak." Larang Karen.
"Jangan kenapa? Kamu bilang tadi udah nyut-nyutan. Ini jin iprit juga udah rembes ini." Tanya Adam terheran-heran.
"Biar aku aja yang mimpin. Kalau kakak yang mimpin kayak orang lagi kesurupan kuda lumping soalnya." Jawab Karen sambil berdiri dari dudukan toilet lalu mendudukkan Adam ke dudukan toilet.
Karen tak langsung memasukkan botol jin ke dalam mesin pencuci botol, tapi Karen terlebih dulu memasukkan botol jin ke dalam goa bergiginya.
"Ssh.. ah.. pelan-pelan aja sayang, biar gak kena gigi." Racau Adam saat mulut Karen mulai bermain dengan botol jin.
"Sssh... ah.. uh.. udah sayang, cepetan masukin!! Gak tahan nih." Racau Adam lagi. Botol jin nya sudah tidak sabar untuk masuk kedalam mesin pencuci botol.
Karen pun menyudahi permainan mulutnya, selain karena Adam sudah tidak tahan, Karen pun juga sudah tidak tahan. Pokoknya mereka berdua adalah pasangan pantang ditahan.
Karen pun naik ke atas pangkuan Adam dan mulai mengarahkan botol jin yang membuat dirinya merem melek itu ke dalam mesin pencuci botol miliknya.
"Ssh.. aaahh.." desau keduanya saat botol jin menancap sempurna di dalam mesin pencuci botol.
Karen pun mulai melakukan gerakan naik turun, putar kanan-putar kiri, untuk mencuci botol jin suaminya. Suara desauan, racauan, erangan dan suara plak plak plak yang di hasilkan dari dalam mesin pencuci botol menjadi pengiring ritual pencucian botol di dalam kamar mandi ruang kerja Adam.
Karen mempercepat gerakannya, karena ia sudah merasakan dirinya yang hampir sampai di puncak kenikmatan.
"Kamu mau keluar?" Tanya Adam di sela-sela gerakan Karen yang ada di atas pangkuannya.
"Mmm." Jawab Karen sambil menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian..
"Aaaaaargh.." erangan panjang pun keluar dari mulut Karen tanda kalau ia sudah mendarat di puncak kenikmatan dengan sempurna.
Karen langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Adam karena lemas. Tapi sayangnya saat Karen sudah sampai di puncak kenikmatan, Adam masih di pertengahan jalan.
"Gantian, giliran aku." Ucap Adam sambil mengangkat bokong Karen untuk mengeluarkan botol jinnya, lalu mendudukkan Karen ke dudukkan toilet.
"Balik badan." pinta Adam sambil memutar tubuh Karen agar membelakanginya.
__ADS_1
"Jangan kenceng-kenceng yah kak, ada anak kita di dalam. Jin ipritnya juga jangan buang di dalam." Karen memberi peringatan pada Adam sebelum botol jin Adam kembali masuk ke dalam mesin pencuci botol miliknya.
"Iya sayang." Jawab mulut Adam. Tapi dalam hatinya "Kalau masih sadar, kalau udah kesurupan yah gak janji."
Adam pun mulai memasukkan botol jin nya untuk dicuci ulang.
"Ssh.. ah.." racau keduanya. Meski Karen sudah satu kali sampai di puncak kenikmatan, tapi saat botol jin masuk lagi ke dalam mesin pencuci botolnya, rasanya masih sangat enak, tidak perih.
Adam pun mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur seperti sedang membawa gerobak sodor.
Suara racauan, desauan, erangan dan bunyi plak plak plak pun terdengar kembali dan memenuhi seisi kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, gerakan pinggul yang tadinya pelan dan lembut makin lama semakin kencang dan kasar, itu tandanya jin iprit sudah siap menyembur.
"Pelan-pelan kak." Karen memberi peringatan pada Adam yang sedang kesurupan kuda lumping.
"Tahan sayang, udah mau keluar." Jawab Adam dengan suara berat dan rendahnya.
"Inget, jangan sembur di dalam." Sekali lagi Karen memberi peringatan pada Adam.
"Hemh.."
Tak sampai dua menit, jin iprit pun hendak menyembur, cepat-cepat Adam mengeluarkan botol jin nya yang sudah di penuhi cairan berlendir yang keluar dari mesin pencuci botol. Sedangkan Karen langsung mendudukkan dirinya di dudukan toilet sangking lemasnya.
"Aaargh.." erang Adam sambil menyemburkan jin iprit dari dalam botol jin nya.
Setelah jin iprit sudah tersembur semua, Adam pun kembali mendekati Karen dan langsung memeluk Karen dan mengecup puncak kepala Karen bertubi-tubi.
"Makasih sayang." Ucap Adam.
Karen hanya menganggukkan kepalanya, lalu memeluk pinggang Adam.
"Kamu mandi dulu sana, kan tadi pagi kamu gak mandi. Aku telpon Bik Narti dulu, suruh anter makan siang sama pakaian ganti untuk kita." Ucap Adam sambil melepaskan pelukan Karen.
Karen pun menganggukkan kepalanya.
Adam pun memunguti dan memakai pakaiannya kembali lalu keluar dari dalam kamar mandi untuk menghubungi Bik Narti agar mengirimkan makan siang untuk Karen serta pakaian ganti untuk mereka berdua. Untungnya dalam kamar mandi ada stok handuk dan bathrobe, jadi sambil menunggu Bik Narti datang, Karen bisa memakai bathrobe terlebih dahulu.
✨✨✨
Siang pun berganti malam.
Jika ibu hamil pada umumnya sangat manja dan banyak maunya, kalau pasangan Adam-Karen berbeda. Karena sekarang bukan Karen yang manja atau banyak maunya, melainkan Adam.
Seperti saat ini, Adam ingin sekali mengepang rambut Karen, tapi Karen tidak mau karena hari sudah malam dan Karen sudah mengantuk.
__ADS_1
"Ayo dong sayang, sini aku kepangin rambut kamu."
"Iikh.. kak, aku ngantuk. Besok pagi aja yah."
"Aku maunya sekarang, ayo dong sayang."
"Aaargh.. ya udah deh iya!!" Geram Karen. Mau tak mau Karen pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju meja rias.
Sedangkan Adam, senyum sumringah penuh kebahagiaan terbit dari bibir nya.
Adam pun mulai mengambil sisir dan menyisir rambut Karen, kemudian membelah dua rambut Karen lalu mulai mengepang belahan yang pertama.
"Kak Adam aneh banget sih, tumben-tumbenan mau ngepangin rambut aku?" Tanya Karen.
"Gak tau, pengen aja." Jawab Adam.
"Aneh." Gumam Karen dalam hati.
Setelah belahan rambut pertama berhasil terkepang, sekarang giliran belahan rambut yang kedua. Tak lama, Adam pun selesai mengepang belahan rambut yang kedua. Kini rambut Karen sudah terkepang dua.
Karen pun melihat hasil karya Adam di cermin.
"Bagus. Rapih." Lirih Karen.
"Kakak udah biasa yah ngepangin rambut mantan pacar kakak? Kok rapih gini? Biasanya kan kalau laki-laki gak pernah rapih ngiket rambut perempuan." Tanya Karen.
"Eike kan pernah kerja di salon cyiiin.." jawab Adam dengan nada gemulai ala-ala mbak Betty.
"Ish.. apaan sih!!" Kaget Karen saat mendengar Adam menjawab dengan nada mbak Betty.
"Hahahaha. Aku tuh gak punya mantan pacar Ren, yang ada cuma partner ranjang. Aku tuh dulu sering banget disuruh mbak aku ngepangin rambut dia. Mbak aku itu dulu rambutnya gak pernah lepas dari kepangan. Kalau ibu sama bapak gak ada, aku deh sasaran mbak aku untuk ngepangin rambut dia. Biar aku lagi main bola, dateng tuh mbak aku kelapangan teriak-teriak minta di kepangin rambutnya. Kalau aku gak mau, di lempar aku pake sendal atau gak batu." Adam menceritakan kronologi mengapa dirinya sekarang mahir mengepang.
"Kak Adam punya kakak? Kok kak Adam gak pernah cerita?" Tanya Karen dengan raut wajah kaget.
Karena selama mereka menikah, Adam sama sekali belum pernah membahas tentang keluarganya.
"Masa sih aku belum pernah cerita?" Adam pura-pura bertanya balik.
"Emangnya sebelum kita nikah papa gak pernah cerita apa-apa tentang aku?" Tanya Adam lagi.
Karen menggelengkan kepalanya.
Adam menghela nafasnya kasar, mau tak mau ia harus bercerita juga pada Karen tentang keluarganya, tentang hubungan dirinya dengan keluarganya dan juga tentang misi Adam untuk keluarganya.
"Sini, aku cerita tentang keluarga aku." Adam menarik tangan Karen ke arah sofa lalu mendudukkan Karen di sofa itu, setelah itu barulah Adam duduk disebelah Karen.
__ADS_1
Adam pun mulai menceritakan tentang keluarganya pada Karen, termasuk pertemuannya dengan sang kakak, Ayu.
BERSAMBUNG...