
Tiba-tiba saja pintu ruang rawat Karen terbuka.
Sontak Adam menoleh ke arah pintu, ternyata pak Zidane yang membuka pintu.
"Papa.." Ucap Adam sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu udah sadar?" Tanya pak Zidane sambil berjalan mendekati Adam.
"Papa udah lama nyampe?"
"Kira-kira setengah jam lah." Jawab pak Zidane.
"Kamu yang kuat yah. Karena kekuatan kita semua orang-orang yang mencintainya juga akan membuat Karen kuat melawan masa kritisnya." Kata pak Zidane menguatkan hati menantunya.
Adam menganggukkan kepalanya.
"Papa baru lihat anak kalian. Meski tubuhnya sangat kecil tapi anak kalian sangat cantik. Mirip Karen waktu masih bayi." Kata pak Zidane.
"Iya pah. Makanya Karen kasih namanya Princess Cantika begitu kita tau kalau jenis kelamin anak kami perempuan." Balas Adam.
"Nama yang cantik. Semoga saja kecantikan yang di miliki sama seperti kecantikan mamanya, cantik wajah dan hatinya." Kata pak Zidane.
Adam menganggukkan kepalanya setuju dengan kata-kata pak Zidane.
"Karen, ayo bangun nak. Kamu gak mau lihat Princess Cantika mu? Dia cantik seperti kamu." Ucap pak Zidane sambil menggenggam tangan Karen yang di tusuk jarum infus.
Bip.. Bip.. Bip.. Tiba-tiba saja alat pendeteksi jantung berbunyi sangat cepat dan grafik yang ada di dalam monitor sudah tak beraturan, saturasi oksigen Karen pun juga turun.
Sontak hal itu membuat Adam dan pak Zidane panik. Pak Zidane langsung memencet tombol untuk tim medis yang menangani Karen.
Belum sempat tim medis datang, grafik yang ada di monitor berubah menjadi garis lurus dan bunyi lengkingan panjang dari alat pendeteksi jantung begitu menyayat hati Adam dan pak Zidane.
BRAAK. Pintu ruang rawat Karen terbuka kasar.
"Siapkan kejut jantung!!!" Perintah dokter.
"Baik dok." Perawat pun menyiapkan alat kejut jantung.
Sambil perawat menyiapkan alat kejut jantung, dokter pun melakukan pertolongan pertama dengan memompa jantung Karen secara manual.
Hasilnya nihil, jantung Karen tetap tak mau berdetak.
"AED siap dok." Kata perawat yang menyiapkan alat kejut jantung.
Dokter pun berhenti memompa jantung Karen dan turun dari atas ranjang lalu mengambil AED itu.
"Menjauh!" Perintah dokter pada pak Zidane dan Adam yang ada di dekat Karen.
__ADS_1
Adam dan pak Zidane memundurkan langkah mereka.
ZZTT. Dokter menempelkan alat kejut jantung itu di dada Karen.
Nihil. Jantung Keren tetap tidak mau berdetak.
"Tambah daya!!" Perintah dokter pada perawat.
Perawat pun menambah daya listrik pada AED
"Siap dok."
Dokter pun melakukan percobaan sekali lagi.
Dan hasilnya tetap nihil.
"Tambah daya penuh!" Perintah dokter lagi.
Perawat pun menambah daya listrik dengan kekuatan penuh.
Dan penambahan daya penuh itu adalah upaya terakhir dokter membuat jantung Karen kembali berdetak.
Tapi sayangnya di upaya dokter yang terakhir pun jantung Karen tetap tidak berdetak.
Melihat monitor jantung Karen tak kunjung berubah, Adam dan pak Zidane pun histeris.
"Pukul 15.15, Nona Karen kami nyatakan meninggal." Kalimat keramat yang paling tidak ingin dokter ucapkan pun, terpaksa harus dokter itu ucapkan.
Adam dan pak Zidane pun semakin menangis histeris, jeritan mereka memanggil nama Karen terasa pilu sampai ke dasar lubuk hati terdalam.
Bik Narti dan Sonia yang sejak tadi merasa cemas di luar ruangan pun menerobos masuk ke dalam ruang rawat Karen.
Sama seperti Adam dan pak Zidane, Bik Narti dan Sonia pun ikut menangis histeris melihat tubuh Karen sudah terbujur kaku, bahkan sekarang tim medis sedang melepas alat-alat yang menempel di tubuh Karen.
✨✨✨
Empat puluh hari kemudian.
Setelah kepergian Karen selama-lamanya, kondisi kesehatan pak Zidane sempat drop dan harus kembali di rawat intensif di rumah sakit kurang lebih dua minggu lamanya, tapi setelah itu pak Zidane kembali tegar seperti waktu dirinya kehilangan sang istri karena Karen meninggalkan Princess Cantika yang harus ia rawat dan besarkan.
Tidak seperti pak Zidane yang hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk kembali kuat, Adam malah sampai depresi.
Di hari ke empat puluh Karen, disaat pak Zidane mengadakan doa bersama untuk kepergian Karen yang keempat puluh hari, Adam tak terlihat di tengah-tengah acara, dia mengurung diri di dalam kamar sambil terus memeluk foto mendiang istrinya.
Acara doa bersama di adakan di rumah utama pak Zidane yang ada dikota besar. Sedangkan jenasah Karen di kubur di kampung halaman mama Karen di kota B. Sengaja pak Zidane menguburkan Karen disana karena sang istri juga di kubur disana. Padahal jauh hari sebelum Karen meninggal, pak Zidane sudah menyiapkan liang untuk dirinya sendiri tapi ia tak menyangka kalau liang itu diisi oleh putri semata wayangnya.
Kembali ke Adam.
__ADS_1
Sangking depresi karena kehilangan Karen, tubuh Adam sampai kurus dan tak terawat, matanya hitam cekung seperti orang yang memakai narkoboy. Bukan hanya dirinya yang tidak ia rawat, tapi Princess Cantika pun tidak pernah Adam tengok di rumah sakit semenjak kepergian Karen. Untungnya ada Sonia dan Bik Narti yang berganti-gantian datang kerumah sakit mengantar ASI yang mereka ambil dari Bank ASI.
Acara doa bersama pun usai, orang-orang yang datang untuk ikut mendoakan Karen pun berpulangan. Kini di rumah itu hanya ada pak Zidane, Adam, para bodyguard termasuk Sonia dan staf dapur.
Setelah rumah sepi, datanglah David dan Indra, pengacara yang ternyata menyimpan wasiat dari Karen.
Melihat kedatangan asisten pribadi Tuan Zidane dan Pengacara Indra, Sonia pun memanggil pak Zidane yang sudah sempat masuk ke dalam kamar.
"Selamat sore Tuan Zidane." Sapa Indra saat pak Zidane masuk di ruang tamu.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Nona Karen." Ucap Indra.
"Terimakasih." Balas pak Zidane.
"Ada apa ini? Apa ada hal yang penting?" Tanya pak Zidane. Karena selain menjadi pengacara yang di tunjuk Karen untuk menyimpan wasiatnya, Indra juga pengacara untuk perusahaannya yang di kota P. Dan pak Zidane pikir kedatangan Indra karena ada masalah pada perusahaannya di kota P.
"Kedatangan saya kesini, untuk menyampaikan wasiat yang Nona Karen tuliskan sebelum meninggal." Ucap Indra.
Dan ucapan Indra itu terdengar di telinga Adam yang baru saja turun dari kamarnya karena merasa lapar.
"Apa? Wasiat yang Karen tulis sebelum meninggal?!! Sedangkan sebelum meninggal saja Karen koma dan saya terus berada di rumah sakit!! Jangan mengada-ngada anda!!!" Teriak Adam. Ia tak terima dengan kata-kata Indra yang mengatakan kalau Karen menulis wasiat, seolah-olah Karen sudah tau akan kepergiannya.
"Adam tenang!!! Kita dengarkan dulu penjelasan pak Indra!!!" Bentak pak Zidane.
"Duduk kamu sini, kita dengarkan sama-sama!!" Perintah pak Zidane lagi.
Mau tak mau Adam pun duduk di sofa yang ada diruang tamu itu.
"Lanjutkan pak Indra." Kata pak Zidane setelah Adam duduk.
Indra pun mengeluarkan lima amplop dari dalam tas nya. Satu amplop untuk pak Zidane, satu untuk Adam, satu untuk Sonia, satu untuk Bik Narti dan satu lagi untuk dibacakan Indra.
"Satu amplop ini Nona Karen tulis untuk saya bacakan. Saya harap kita semua bisa mendengar dengan seksama." Kata Indra.
Pak Zidane, Adam, Sonia dan Bik Narti menyimpan terlebih dahulu amplop yang di berikan Indra pada mereka.
Saya Karenina Zidane, menulis surat ini masih dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Adapun isi surat ini adalah wasiat saya untuk papa, suami, pengasuh dan bodyguard saya, terkhususkan untuk papa dan suami saya.
Papa, Kak Adam, Bik Narti, Sonia, mungkin disaat kalian mendengar pak Indra membacakan surat ini, saya sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kalian. Tapi saya berharap, disaat saya pergi saya meninggalkan hal yang paling berharga dari saya untuk kalian, yaitu anak saya. Princess Cantika. Tapi kalau saat kalian mendengar surat ini Princess Cantika juga ikut dengan saya, saya mohon maaf kalau kepergian saya hanya meninggalkan kesedihan untuk kalian.
Kita langsung intinya.
Papa, jika Princess Cantika tidak ikut bersama Karen pindahkanlah saham Karen dari keseluruhan perusahaan papa atas nama kak Adam 35% dan atas nama Sonia 35%.
Sontak semua orang yang ada di ruang tamu itu termasuk Sonia menganga kaget mendengar wasiat Karen yang dibacakan Indra.
"Kenapa Sonia?" Tanya Adam dengan wajah kesal. Feelingnya ada sesuatu di balik pembagian saham 35% itu. Dipikiran Adam, Sonia sudah mencuci otak Karen untuk membagi sebagian sahamnya pada Sonia.
__ADS_1
BERSAMBUNG...