Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 22


__ADS_3

Saat sedang serius menceritakan tentang keluarganya, samar-samar Adam mendengar suara dengkuran halus.


Adam pun menoleh ke arah Karen yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Adam, dan ternyata Karen malah tertidur.


"Eh.. buset, di kirain gue lagi ngedongeng kali yah." Ucap Adam saat melihat Karen sudah tertidur.


Adam menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Untung gue sayang sama loe Ren, kalau gak udah gue jitak kepala loe!" Ucap Adam lagi.


Perlahan Adam memindahkan kepala Karen dan mengangkat tubuh Karen menuju tempat tidur. Adam membaringkan Karen perlahan di atas ranjang dengan sangat perlahan agar istrinya itu tidak terbangun dari tidurnya. Tak lupa Adam juga membuka kepangan yang ada di rambut Karen, lalu menyelimuti tubuh istrinya itu.


Adam memandang wajah Karen sambil mengelus wajah istrinya penuh kasih sayang.


"Maaf sayang belum bisa kenalin kamu ke keluarga aku. Tapi aku janji, setelah aku merasa diri aku sudah mapan dari hasil keringat aku sendiri, aku akan memperkenalkan kamu ke keluarga aku. Aku gak mau keluarga aku salah sangka dengan pernikahan kita kalau aku memperkenalkan kamu sekarang." Ucap Adam.


Cup. Adam pun mengecup kening istrinya.


Kini Adam turun ke perut Karen dimana ada satu kehidupan lagi didalamnya. Ada darah dagingnya disana.


"Hai anak papa. Maaf yah kalau tadi papa sempet kecewa dengan kehadiran kamu. Bukan karena papa gak suka kamu ada atau papa gak mau bertanggung jawab. Tapi papa hanya merasa papa belum siap untuk menjadi ayah panutan untuk kamu. Sedangkan menjadi anak yang berbakti pada orangtua aja papa belum bisa, dan papa juga belum bisa menjadi suami teladan untuk mama mu, apalagi kalau kamu lahir nanti, papa takut malah nanti papa akan menelantarkan mu. Tapi itu tadi sayang. Setelah papa pikir-pikir lagi, mungkin dengan kehadiran mu, rejeki papa akan melimpah dan jalan menuju kesuksesan papa akan semakin terbuka. Ya walaupun harta kakek mu banyak, tapi itu semua kan bukan jerih payah papa. Papa gak mau nafkahin kamu dan mama dari hasil jerih payah kakek mu. Karena papa ingin menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk kalian berdua, bukan menjadi suami dan ayah pecundang yang hidup dari harta mertua. Sekarang, kamu dan mama adalah penyemangat papa untuk mencari nafkah dan menggapai kesuksesan. Sehat-sehat terus di dalam sana yah nak sampai waktunya kamu lahir kedunia." Ucap Adam pada janin yang ada di dalam perut Karen sambil mengusap perut istrinya dengan sangat lembut.


Adam pun mematikan lampu ruang tidur lalu membaringkan tubuhnya di samping Karen, menarik tubuh Karen dan memeluk tubuh istrinya itu sepanjang malam.


✨✨✨


Malam berganti pagi.


Sama seperti hari kemarin, Adam bangun terlebih dulu dari Karen. Mungkin karena hormon ibu hamil membuat Karen tidak bisa bangun pagi seperti saat mereka baru-baru menikah. Tapi itu semua tidak masalah untuk Adam, toh yang membuat Karen KSP juga dirinya.


"Sayang, bangun." Adam membangunkan Karen dengan mengusap pipi istrinya itu.


Mata Karen pun mengerjap.


"Eugh..." Karen melenguh sambil menguletkan tubuhnya.


"Kakak udah mandi?" Tanya Karen saat melihat Adam sudah memakai handuk di pinggangnya.


Adam menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ayo bangun. Mandi terus sarapan bareng. Aku gak tenang berangkat kerja kalau belum lihat kamu sarapan." Ucap Adam.


Perlahan Karen pun mendudukkan dirinya dan menurunkan kakinya.


"Kamu mandi air hangat aja yah, kasihan dedeknya kalau kamu mandi air dingin." Ucap Adam.


Karen hanya menganggukkan kepalanya tanda kalau ia setuju dengan kata-kata suaminya.


Adam pun menggendong Karen ala bridal style menuju kamar mandi, dan hendak membuka pakaian Karen. Tapi cepat-cepat Karen mencegah tangan Adam. Karen pikir, suaminya itu mau mengajak ritual cuci botol.


"Kenapa?" Tanya Adam aneh.


"Biar aku aja yang buka. Kakak siap-siap aja sana. Nanti kakak nepsong lagi ngeliat tubuh aku." Jawab Karen.


"Emang kenapa kalau aku nepsong liat tubuh kamu? Kan tinggal sorong. Lagian si dedek jadi makin kenal sama papanya, jadi pas lahir nanti kalau di gendong papanya gak bakalan nangis." Balas Adam.


"Iikh gak mau. Pokoknya sebelum kakak beli pengaman, kakak gak boleh jenguk si dedek. Takut nanti kakak keramasin si dedek. Kan bu dokter bilang si dedek belum bisa di keramasin." Itu lah perdebatan Karen dan Adam kemaren setelah mereka melakukan ritual pencucian botol di kamar mandi ruang kerja Adam.


Adam yang mengaku hampir tak sadarkan diri sangking enaknya, hampir saja membuang bibit jin iprit di dalam mesin pencuci botol, untungnya didetik-detik penyemburan, Karen mengingatkan Adam, kalau tidak sudah di pastikan bibit jin iprit tersembur di dalam. Dan yang menjadi bahan perdebatan kedua adalah cara Adam menshake botolnya di dalam mesin pencuci yang tidak bisa terkontrol, padahal bu dokter juga sudah memberi peringatan pada Adam di usahakan bermain selembut mungkin. Tapi kalau lagi enak, siapa yang ingat dengan peringatan dokter. Dan di putuskan lah mulai kemarin sampai kandungan Karen trimester ketiga, Adam harus menggunakan pengaman disaat mereka melakukan ritual pencucian botol.


"Iya...iya bawel. Lagian siapa juga yang mau ngajakin ritual sih, orang aku cuma mau bukain baju kamu doang kok." Balas Adam.


"Ya udah. Mandinya jangan lama-lama, kasihan dedeknya." Adam pun keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti.


Ia pun memilah-milih pakaian yang akan ia pakai untuk berangkat kerja. Selain memilah-milih pakaian untuknya, Adam juga memilah milih pakaian untuk Karen. Dan saat Adam membuka lemari Karen, mata Adam langsung jatuh cinta dengan dress berwarna dasar merah muda dengan corak polkadot hitam.


"Kalau Karen pake ini pasti cantik." Gumam Adam. Adam pun mengeluarkan dress itu dari dalam lemari. Dan setelah itu ia mengambil pakaian dalam untuk Karen. Setelah pakaian untuk Karen sudah siap, barulah Adam mamakai pakaian yang tadi ia pilih.


Tak sampai sepuluh menit Karen di kamar mandi, akhirnya Karen keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan handuk kecil di kepalanya.


Adam yang sedang menyisir rambutnya pun langsung berjalan mendekati Karen dan langsung menarik Karen menuju ruang ganti, sepertinya Adam sudah tidak sabar melihat Karen menggunakan dress yang pilih tadi.


"Apaan sih kak, kok main tarik-tarik." Omel Karen.


"Aku gak sabat lihat kamu make dress pilihan aku." Jawab Adam.


Karen mengernyitkan keningnya bingung.


"Tadaaaa... ini dia dress nya." Ucap Adam dengan wajah berseri-seri sambil menunjukkan dress yang ia gantung.

__ADS_1


Mata Karen membelalak saat melihat dress yang Adam pilihkan untuknya. Karena dress yang Adam pilihkan untuknya itu adalah dress saat dirinya masih duduk di bangku kelas tiga SMP, dan pada masa itu motif polkadot memang sangat trend sekali. Tapi itu dulu pada jamannya, kalau Karen memakai itu sekarang, sudah pasti akan terlihat jadul dan pasti dress itu sudah tidak muat lagi.


"Kakak serius nyuruh aku pake dress itu? Ini tuh dress jaman aku SMP kak, ini tuh jadul banget dan lagian gak bakalan muat." Protes Karen.


"Ya gak pa-pa, kan makenya di rumah aja." Balas Adam.


"Kita coba dulu masih muat apa gak. Kalau memang gak muat lagi, berarti kamu emang udah gak cocok jadi anak SMP." Kata Adam lagi.


"Udah ayo cepetan pake." Paksa Adam.


Mau tak mau Karen pun memakai dress pilihan Adam itu.


"Tuh kan, perfect." Ucap Adam saat dress merah muda dengan corak polkadot hitam itu menempel di tubuh Karen.


"Perfect apaan kayak gini." Dumel Karen dalam hati sambil melihat pantulan dirinya dari dalam cermin.


"Kamu tuh kayak barbie tau gak kalau kayak gini." Puji Adam sambil melingkarkan lengannya di pinggang Karen dari belakang.


Blush. Karen yang tadinya kesal, rasa kesalnya seketika menguar entah kemana saat mendapat pujian dari Adam.


"Ayo. Biar aku keringin rambut kamu." Adam pun menarik tangan Karen keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju meja rias.


Adam mendudukkan Karen di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambut Karen dengan hairdryer.


Sayangnya Adam bukan hanya mengeringkan rambut Karen, melainkan juga mendandani Karen.


"Oke selesai." Ucap Adam saat wajah Karen yang ia poles dengan bedak tipis dan bibir Karen ia poles dengan warna nude telah selesai.


Tapi ternyata Adam masih ada yang kurang.


"Kayaknya lebih bagus deh kalau rambut kamu aku kepang ala-ala putri Elsa yah." Ucap Adam.


"Kakak nonton film putri Elsa juga?" Tanya Karen terheran-heran, karena Adam tau tentang film kartun itu.


"Nonton sih gak, tapi karena sering denger jadi aku cari tau siapa si putri Elsa, terus aku cari di internet, ya udah cuma gitu doang." Jawab Adam jujur.


"Oh.. kirain." Balas Karen.


Dan Adam pun mulai mengepang rambut Karen yang panjangnya sebatas tali penutup kompeng kenyal Karen ala-ala putri Elsa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2