
"Papah gak di rumah?" Tanya Adam sambil mendudukkan bokongnya di sofa ruang keluarga.
"Kalau jam segini, papa mana pernah di rumah sih kak." Jawab Karen.
"Oh.." Adam membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepalanya.
Tak lama Bik Narti pun masuk ke ruang tengah dengan membawa nampan yang berisi teh dan cemilan sehat untuk Karen dan Adam.
"Silahkan di minum Tuan Muda, Nona Karen." Ucap Bik Narti sambil meletakkan teh dan cemilan di atas meja.
"Bik, bisa gak manggilnya jangan Tuan Muda, Tuan Adam, pak Adam. Panggil aja Adam gitu, saya geli Bik, di panggil begitu." Protes Adam yang sedari tadi risih dengan panggilan Bik Narti.
"Gak bisa Tuan Adam, perintah Tuan Zidane seperti itu, jadi saya hanya mengikuti perintah majikan saya saja." Jawab Bik Narti menolak untuk memanggil Adam tanpa embel-embel di depannya.
"Udah sih kak gak usah di protesin." Ucap Karen di sela-sela pembicaraan Adam dan Bik Narti.
"Saya permisi Nona, Tuan." Bik Narti pun berlalu dari hadapan Karen dan Adam, karena tak mau menjadi obat nyamuk di antara pasangan pengantin baru yang lagi hot-hot nya.
"Ternyata papa suka sama barang-barang antik yah."
Karen menganggukkan kepalanya.
"Pantes papa kamu milih aku jadi suami kamu, kan aku termasuk barang antik." Ucap Adam lagi penuh percaya diri.
"Cih. " Karen berdecih sambil memutar bola matanya malas.
"Rumah sebesar ini yang ninggalin cuma kamu, papa sama Bik Narti doang?" Tanya Adam penasaran.
"Gak. Kan ada pelayan yang lainnya, ada juga bodyguard. Kalau pelayan tinggal di paviliun belakang, kalau bodyguard di paviliun samping rumah." Jawab Karen.
"Ya tetap aja yang tinggal di rumah ini cuma kamu sama papa dan Bik Narti."
"Tapi kan sebentar lagi rumah ini jadi rame kak." Ucap Karen sambil memainkan jarinya di kancing kemeja Adam.
"Emang mau ada acara?" Tanya Adam tak mengerti maksud ucapan Karen.
"Iiikh.. bukan rame karena ada acara kak!!! Tapi rame karena ada anak-anak kita nanti." Jawab Karen.
Adam menelan salivanya susah payah saat Karen menyebut kata anak-anak kita. Ia tak kepikiran sampai sejauh itu. Menjadi suami saja ia masih belajar, sekarang harus memikirkan menjadi seorang ayah.
"Kenapa? Kok muka kakak gitu? Kakak gak mau punya anak dari aku?" Tanya Karen bingung saat melihat wajah Adam yang tiba-tiba saja berubah.
"Ng-gak kok. Siapa yang gak mau punya anak dari kamu. Aku cuma mikir aja, apa kita harus cepat-cepat punya anak? Kita kan baru kenal, baru nikah, masih sama-sama muda, apa gak lebih bagus kita saling mengenal sifat dan karakter masing-masing dulu sebelum kita punya anak."
"Tapi aku pengen cepet punya anak kak. Aku tuh suka banget sama anak kecil, jadi aku pengen cepat-cepat punya anak, biar ada temen main aku." Rengek Karen.
Adam menghela nafasnya kasar, ia baru sadar kalau istrinya itu masih delapan belas tahun, pemikirannya masih anak-anak, apalagi selama ini Karen sangat di manja pak Zidane, jadi Adam harus menambah tingkat kesabarannya dalam menghadapi pola pikir istrinya.
"Ya udah... ya udah.. tapi kamu juga jangan terlalu ngoyo, karena anak itu hadir bukan karena usaha kita berdua, melainkan karena pemberian yang di atas. Ngerti kan?" Jawab Adam.
Karen menganggukkan kepalanya paham dengan ucapan suaminya.
"Kak.."
"Hemh.."
"Gimana kalau kita coba bikin disini. Manatau berhasil."
"Bikin apa?"
"Ish.. yah bikin dedek lah."
Mata Adam membelalak mendengar ajakan Karen.
__ADS_1
"Kesambet setan apa nih anak, bisa-bisanya dia ngajak ritual duluan. Di ruang keluarga lagi." Gumam Adam dalam hati.
"Kamu sehat? Kok tiba-tiba ngomong gitu?!"
"Emangnya aku gak boleh ngomong gitu? Aku kan belajar dari kak Adam. Hitung-hitung ngelanjutin yang waktu itu gagal kak."
"Tapi ini ruang keluarga sayang."
"Yang bilang ruang makan siapa?! Kan waktu itu kita juga gagalnya di ruang keluarga."
"Gak.. gak.. aku gak mau ambil resiko lagi. Nanti kalau tiba-tiba papa atau Bik Narti dateng, malunya itu bukan main Ren. Kalau memang mau, kita pindah ke kamar aja."
"Gak pokoknya aku maunya disini. Titik. Kalau urusan Bik Narti, aku bisa urus." Karen pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Bik.. Bik Narti.." Teriak Karen dari depan pintu ruang keluarga.
"Iya nona." Jawab Bik Narti tak kalah berteriak.
"Jangan ada yang kesini yah Bik, siapa pun itu!!!" Teriak Karen lagi.
"Astaga Karen!!!" Pekik Adam saat mendengar perintah Karen pada Bik Narti.
Setelah mengatakan itu, Karen pun menutup pintu ruang tengah dan menguncinya dari dalam lalu berjalan mendekati Adam yang sedang memijat pangkal hidungnya karena tak percaya dengan sifat asli istrinya yang ternyata tak kalah mesum dari dirinya.
"Kak.." panggil Karen sambil memegang pundak Adam.
Adam pun mendongakkan wajahnya melihat Karen.
Dan saat Adam mendongakkan wajahnya Karen pun mendudukkan dirinya di atas pangkuan Adam, lalu menangkup wajah Adam dengan kedua tangannya, kemudian mendaratkan bibirnya di bibir suaminya, dan mengunyah bibir suaminya itu tipis-tipis.
Adam yang tadinya menolak gagasan Karen yang ingin melakukan ritual di ruang keluarga, akhirnya pasrah dengan apa yang sedang Karen lakukan pada dirinya, malah sekarang dirinya ikut membalas kunyahan bibir istrinya.
Kunyahan bibir pun semakin memanas, tangan Adam juga sudah tidak bisa diam dan menaikkan blouse yang Karen pakai sampai sebatas dada kemudian membuka pengait penutup kompeng kenyal Karen. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Adam pun langsung menghi•sap kompeng kenyal istrinya itu dengan sangat rakus.
Jari-jari lentik Karen pun mulai merambat ke celana Adam dan pelan tapi pasti jari-jari lentik itu membuka resleting celana suaminya.
Karen menjauhkan Adam dari kompeng kenyalnya dan berdiri dari atas pangkuan Adam untuk menurunkan celana suaminya. Setelah celana suaminya berhasil ia turunkan, Karen kembali duduk di pangkuan suaminya.
"Kamu mau mimpin?" Tanya Adam saat Karen kembali duduk di pangkuannya.
Karen menganggukkan kepalanya.
"Boleh kan?" Tanya Karen dengan nafas yang terengah-engah
"Boleh dong sayang, malah aku seneng banget kalau kamu mau mimpin." Jawab Adam.
Karen pun menggenggam botol jin suaminya dan mengarahkan botol jin itu ke mesin pencuci botol.
"Aaakkkh..." desau keduanya saat botol jin terbenam sempurna di dalam mesin pencucian.
Perlahan Karen pun mulai menggerakkan pinggulnya untuk menghasilkan sensasi nikmat yang luar biasa.
"Ough sayang, enak banget sayang." Racau Adam.
"Sssh.. ouh.. Kakak suka?" Tanya Karen di sela-sela gerakan pinggulnya.
"Aahm..uuuh.. Suka banget sayang." Jawab Adam.
"Kamu gimana? Ough... ah.. enak gak?" Tanya Adam balik.
"Sshh...ah.. Enak banget kak. Uuuhh..ah..Terasa banget kepalanya sampe di dalam." Jawab Karen.
Lima belas menit Karen menggerakkan pinggulnya, gerakan yang tadinya pelan makin lama makin cepat dan kasar.
__ADS_1
"Ssh..ah.. aku mau nyampe kak."
"Ough.. ah.. aku juga sayang. Ayo cepetin sayang, kita keluarin sama-sama." Balas Adam.
Karen pun makin mempercepat gerakan pinggulnya dan tangan Adam membantu menaik turunkan bokong Karen.
Dan...
"Aaargh..." erangan panjang keluar dari mulut keduanya.
Para bibit jin iprit pun menyembur dari dalam botol dan berlomba-lomba berenang untuk sampai pada pusat pabrik produksi.
Akhirnya mereka berhasil menyelesaikan ritual suci pencucian botol jin tanpa gangguan dan hambatan seperti jalan tol.
✨✨✨
Siang berganti malam.
Dan kini Adam, Karen dan Pak Zidane sudah duduk di meja makan yang panjang.
Jika dirumah pak Zidane di kota P, meja makannya hanya ada enam kursi, kalau di rumah pak Zidane yang ini ada sepuluh kursi.
"Dam."
"Iya pah."
"Besok kamu udah mulai kerja yah di perusahaan papa."
"Iya pah, siap."
"Dan kamu Karen, mulai besok Sonia akan kembali menjadi bodyguard mu." Kini pak Zidane berbicara pada Karen.
"Gak perlu pah, kan udah ada kak Adam yang jagain Karen." Tolak Karen halus.
"Tapi kan suami kamu ini udah mulai kerja besok. Jadi kalau kamu mau kemana-mana kan ada yang jagain."
"Karen gak akan kemana-mana kok pah kalau gak sama kak Adam. Kalau Karen mau kemana-mana, Karen akan nungguin kak Adam."
"Bener begitu?" Tanya pak Zidane menyelidik.
"Iya pah. Sekarang kan Karen udah jadi istri, kan gak baik kalau istri keluar rumah tanpa di dampingi suaminya."
"Baik kalau begitu."
Pembicaraan tentang bodyguard pun selesai dan mereka pun kembali menyantap makan malam mereka.
Setelah selesai mengisi perut mereka dan berbincang sejenak di ruang keluarga, Adam dan Karen pun naik ke lantai atas menuju kamar mereka.
Karen membuka koper yang berisi oleh-oleh untuk ia bagikan pada orang-orang yang ada dirumah.
"Kak, aku bagiin oleh-oleh dulu yah." Ucap Karen pada Adam yang sedang berada di dalam kamar mandi.
"Iya." Jawab Adam dari dalam kamar mandi.
Karen pun menutup kembali kopernya dan keluar dari dalam kamar untuk turun ke lantai bawah.
Setelah sampai di lantai bawah, Karen langsung pergi ke paviliun belakang tempat tinggal para pelayan untuk membagikan oleh-oleh pada para pelayannya itu. Setelah membagikan oleh-oleh kepada para pelayan, Karen pun pergi ke paviliun samping tempat tinggal para bodyguard penjaga rumah dan membagikan oleh-oleh pada para bodyguard itu.
Setelah oleh-oleh selesai Karen bagikan pada para pelayan dan bodyguard, sekarang Karen berjalan menuju kamar sang papa.
Ceklek. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Karen membuka pintu kamar sang papa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1