
Setelah hampir setengah jam melihat Cantika yang kini berat badannya sudah semakin naik dan semua organ tubuhnya juga mulai berfungsi dengan baik, Adam pun keluar dari dalam ruang perawatan intensif Cantika.
Seperti perintah dari Adam yang meminta di tunggu, Sonia pun menunggu Adam di luar ruang rawat.
Melihat Adam keluar dari dalam ruang intensif Cantika, Sonia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ikut aku." Ucap Adam saat berada tepat di hadapan Sonia. Adam pun berjalan terlebih dahulu dan diikuti Sonia dari belakang.
"Apa kau kesini memakai mobil?" Tanya Adam.
"Tidak Tuan, saya naik ojek online tadi karena harus cepat mengambil ASI untuk Nona Cantika." Jawab Sonia.
"Kalau begitu, naik ke mobil ku dan ikut bersama ku." Kata Adam lagi
"Ta..." belum sempat Sonia menolak, Adam sudah berjalan menuju mobilnya. Mau tak mau Sonia pun mengikuti Adam dari belakang.
"Sini, Tuan biar saya saja yang menyetir." Ucap Sonia yang merasa tidak enak jika Adam yang harus membawa mobil.
"Masuk lah." Adam tidak menghiraukan kata-kata Sonia dan malah memerintahkan Sonia masuk dengan nada tegasnya.
"Tapi Tuan." Sonia masih berusaha menolak.
"Aku bilang masuk, yah masuk!!" Tegas Adam lagi dengan nada agak sedikit meninggi.
Sonia pun terdiam seketika dan mau tak mau masuk ke dalam mobil Adam dan duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Seandainya Adam bukan berstatus bos nya, sudah ia tempeleng dari tadi Adam itu.
Setelah Sonia masuk, Adam pun masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Sonia saat tau jalur yang Adam pilih bukan lah jalur menuju rumah Tuan Zidane.
"Gak usah banyak tanya, nanti kamu juga tahu." Jawab Adam ketus.
Seandainya Sonia adalah gadis biasa mungkin sekarang jantung Sonia sedang berdetak kencang, takut-takut Adam akan membawanya ke tempat sepi dan merudapaksa dirinya setelah itu menghabisi nyawanya dan membuangnya ke jurang. Tapi sayangnya Sonia bukan lah gadis biasa, yang takut dengan hal itu, malah harusnya sekarang Adam lah yang ada dalam bahaya jika berani berbuat macam-macam padanya.
Setelah hampir setengah jam berputar-putar dan Sonia tidak tau kemana tujuan Adam, akhirnya mobil yang Adam kendarai tiba diparkiran taman kota.
Setelah memarkirkan mobilnya, Adam pun keluar dari dalam mobil dan disusul Sonia.
Adam pun berjalan mengitari taman untuk mencari tempat duduk kosong, dan diikuti Sonia dari belakang.
Kursi kosong pun telah Adam dapatkan, Adam langsung duduk di kursi itu, tapi tidak dengan Sonia. Dia malah tetap berdiri disamping Adam dengan gagahnya.
"Duduk lah." Perintah Adam sambil menepuk bagian kosong yang ada di sebelahnya.
"Tapi Tuan.."
"Haish... daritadi kau itu kenapa sih tapi-tapi terus? Apa gak bisa langsung mengerjakan apa yang aku suruh!!!" Omel Adam.
"Kita ini sekarang bukan dalam lingkungan pekerjaan, jadi kau tidak usah terus-terusan bergaya seperti bodyguard." Omel Adam lagi.
__ADS_1
"Tapi memang saya bodyguard Tuan." Celetuk Sonia.
Mendengar celetukan Sonia, Adam pun langsung memberikan tatapan tajam pada Sonia.
"Cepat kau duduk disini!! Ada yang harus kita bicarakan serius." Ucap Adam tegas.
Sonia pun menuruti perintah Adam. Bukan karena nyalinya ciut dengan tatapan tajam Adam, melainkan karena Adam mengatakan ada hal yang harus mereka bicarakan lah yang membuat Sonia akhirnya menuruti perintah Adam. Sonia yakin kalau yang ingin Adam bicarakan adalah tentang surat wasiat Karen.
"Apa kau sudah membaca surat dari Karen?" Tanya Adam tanpa basa-basi.
Sonia menganggukkan kepalanya.
"Saya tidak tau kenapa Karen memilih kamu untuk menjadi ibu sambung Cantika. Tapi saya butuh waktu untuk memikirkan semua ini."
"Saya bisa mengerti Tuan. Kalau saya jadi Tuan, saya juga tidak akan langsung menerima permintaan itu. Kalau pun Tuan ingin menolak, saya juga bisa mengerti, tapi ijinkan saya tetap menjaga Nona Cantika dan memberikan kasih sayang untuk Nona Cantika seperti yang Nona Karen inginkan." Kata Sonia.
"Terimakasih karena kamu sudah mau memahami saya. Kita berdua harus sama-sama memikirkan hal ini, karena ini menyangkut Cantika. Jangan sampai demi memenuhi permintaan Karen, kita berdua malah saling menyakiti. Bukan kah itu juga tidak baik untuk perkembangan Cantika nanti?"
"Benar Tuan."
"Ya sudah, ayo kita pulang." Adam pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan terlebih dahulu lalu diikuti Sonia dari belakang.
✨✨✨
Saat sedang dalam perjalanan menuju rumah Tuan Zidane, tiba-tiba ponsel Adam berbunyi, Adam pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
Terlihatlah nama Bik Narti di layar ponsel.
"Halo Bik."
"Tuan, Tuan Zidane drop, dan kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit." Kata Bik Narti dengan suara bergetar.
"Apa!!! Iya Bik, saya kesana. Kita ketemu di rumah sakit." Jawab Adam.
"Ada apa Tuan?" Tanya Sonia.
"Papa drop, dan sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit." Jawab Adam.
Adam pun memutar arah kembali ke rumah sakit.
Tak berapa lama, mobil yang Adam kendarai tiba di rumah sakit dan ternyata mobil yang membawa pak Zidane juga baru sampai di rumah sakit.
"Bik Narti.." teriak Adam memanggil Bik Narti sambil berlari mendekati Bik Narti. Sedangkan pak Zidane sudah di bawa masuk ke ruang gawat darurat menggunakan brankar.
"Tuan Adam. Sonia." Lirih Bik Narti saat melihat Adam dan Sonia yang berlari ke arahnya.
"Kenapa bisa papa drop lagi Bik?"
"Saya juga gak tau Tuan. Waktu perawat Tuan Zidane masuk ke kamar untuk mengantar obat, perawat sudah menemukan Tuan Zidane pingsan." Jawab Bik Narti.
__ADS_1
"Astaga papa." Lirih Adam.
"Ini Tuan, dari tangan Tuan Zidane. Sepertinya itu surat dari Nona Karen." Kata Bik Narti lagi sambil memberikan surat yang tadi ada dalam genggaman Tuan Zidane.
Adam pun menerima surat itu. Tapi tidak langsung membacanya dan melanjutkan langkah mereka menuju ruang gawat darurat dimana pak Zidane sedang mendapat pertolongan pertama.
Tak sampai sepuluh menit menunggu, dokter pun keluar dari ruang gawat darurat.
"Bagaimana papa saya dok?" Tanya Adam dengan raut wajah panik.
"Tuan Zidane tidak kenapa-kenapa, hanya syok dan kelelahan." Jawab dokter.
Adam, Bik Narti dan Sonia kompak menghela nafas lega.
"Apa saya boleh masuk dok?" Tanya Adam.
"Nanti yah pak, tunggu Tuan Zidane di pindahkan ke kamar." Jawab dokter. Setelah mengatakan itu dokter pun pergi dari hadapan Adam, Bik Narti dan Sonia.
Kini pak Zidane sudah berada dalam kamar rawat.
"Eugh.." lenguh pak Zidane sambil mengerjapkan matanya.
"Papa." Panggil Adam yang sejak tadi setia duduk di sebelah papa mertuanya.
"Adam." Lirih pak Zidane.
"Ada senang papa gak kenapa-kenapa." Kata Adam.
"Apa kamu sudah melihat Cantika?"
Adam menganggukkan kepalanya.
"Dia cantik kan? Sangat mirip dengan Karen waktu bayi." Kata pak Zidane.
Adam menganggukkan kepalanya lagi.
"Tapi papa tidak mau nasib Cantika sama dengan Karen. Kamu mengerti kan maksud papa?"
"Tapi pah..."
"Adam, menikahlah dengan Sonia. Penuhi lah permintaan terakhir Karen, agar Karen bisa tenang disana. Dan agar disaat papa harus menyusul Karen dan mama nya, papa juga bisa tenang karena cucu papa di asuh oleh orang-orang yang tepat. Dan cucu papa tidak perlu merasakan apa yang anak papa rasakan. Papa mohon Adam, menikah lah dengan Sonia, Sonia bukan orang lain di keluarga kami, dia sudah papa anggap seperti anak kandung papa sendiri." Kata pak Zidane.
"Tapi Adam gak cinta sama Sonia pah. Lagipula, Karen baru empat puluh hari meninggal, mana mungkin Adam menikah lagi dalam waktu secepat ini."
"Cinta bisa datang kalau kamu membuka hati mu. Kalau soal menikah dalam waktu secepat ini, papa rasa Karen akan senang kalau kamu dan Sonia bisa secepatnya memenuhi permintaan terakhirnya. Apalagi sebentar lagi Cantika juga sudah bisa kita bawa pulang. Jadi dia bisa langsung merasakan kasih sayang orangtua yang lengkap."
Adam menghela nafasnya, ia tak tau harus mengatakan apalagi. Jika terus menolak, pasti papa mertuanya itu akan semakin drop dan dia juga merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan Karen. Mau tak mau Adam pun menyetujui pernikahannya dengan Sonia.
"Baik lah pah. Kalau itu mau papa dan demi memenuhi permintaan terakhir Karen serta demi kebahagiaan Cantika, Adam akan menikah dengan Sonia." Jawab Adam pasrah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...