
Lucky pun menyerahkan baby Kya dalam gendongan Ayu. Dengan sigap Lucky mengambil bantal ibu menyusui, lalu meletakkan bantal itu di depan perut Ayu. Kemudian memasangkan kain penutup ibu menyusui.
Lucky membuka sedikit kain itu untuk mengintip posisi baby Kya saat sedang menyusui.
"Ssh...auw.." ringis Ayu.
Mendengar ringisan Ayu, Lucky langsung menarik kepala istrinya dan meletakkan di pundaknya. Mengelus kepala istrinya dengan sangat lembut. Mengecup kepala itu berkali-kali. Sampai rasa sakit karena mengASIhi hilang.
"Mau aku suapin buah gak?" Tanya Lucky setelah Ayu tak merasa sakit lagi.
Ayu mengangguk.
"Tunggu yah."
Lucky pun berjalan menuju meja dimana tas bekalnya tadi ia letakkan. Lalu kembali berjalan menuju ranjang. Mengeluarkan kotak bekal yang berisi buah pepaya dan pisang yang sudah di potong-potong.
Menyuapi buah itu satu persatu sambil Ayu mengASIhi baby Kya.
Semua buah dalam kotak bekal pun habis, baby Kya pun sudah tertidur lelap kembali, sepertinya baby Kya sudah benar-benar kenyang karena produksi ASI Ayu bertambah sedikit.
"Tuh Kya nya kenyang kan." Ucap Lucky sambil menatap wajah putrinya yang tertidur pulas.
"Makanya kalau lagi nyusui jangan sambil nangis, itu berpengaruh sama kuantitas ASI. Coba kamu nyusui sambil nonton film komedi atau novel komedi, pasti ASI kamu keluar banyak." Ucap Lucky lagi memberi saran.
Ayu tak menjawab, ia hanya memanyunkan bibirnya.
"Sini biar aku pindahin Kya nya." Lucky mengambil baby Kya dari gendongan Ayu lalu meletakkan baby Kya di dalam box bayi.
KRIIING..KRIIING..KRIIING. Nada dering panggilan masuk di ponsel Lucky berbunyi setelah Lucky berhasil meletakkan baby Kya dalam box bayi. Untung saja baby Kya tidak terbangun mendengar nada dering ponsel papa nya itu.
Cepat-cepat Lucky mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana.
Nomor tidak di kenal tapi Lucky tau itu nomor dari kepolisian.
"Aku keluar dulu yah, angkat telepon." Izin Lucky pada Ayu.
Ayu menganggukkan kepalanya, tapi dalam hatinya merasa curiga pada sikap suaminya yang tak biasa menjauh jika ingin menjawab panggilan telepon.
Di luar kamar rawat Ayu.
Setelah jauh dari depan kamar rawat istrinya, Lucky menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo."
"Pak Lucky, kami dari kepolisian pak."
__ADS_1
"Iya pak saya tau. Ada apa pak?"
"Kami ingin memberi tahu pak Lucky, kalau keluarga almarhum Billy tidak mau menerima almarhum Billy kembali ke negaranya. Jadi kami meminta keluarga almarhum membuat surat pernyataan penolakan almarhum Billy dan mengizinkan jenasah almarhum Billy di kebumikan di negara ini."
"Baik lah pak, saya mengerti. Tolong urus semuanya dan kabari saya kalau semua dokumen-dokumen sudah lengkap."
"Saya mau tanya pak, almarhum Billy mau di kebumikan atau di kremasi?"
Lucky diam sejenak memikirkan. Lucky ingat kalau waktu mereka masih menjadi sepasang kekasih, Billy pernah berkata jika suatu saat ia meninggal lebih dulu dari Lucky, Billy ingin jenasahnya di kremasi.
"Di kremasi saja pak. Itu permintaan almarhum saat masih hidup. Dan tolong beritahu juga keluarganya kalau jenasah Billy akan di kremasi." Jawab Lucky.
"Baik pak, saya mengerti. Nanti saya hubungi kalau dokumen untuk pengkremasian almarhum Billy lengkap, termasuk surat penolakan dari keluarga almarhum."
Panggilan pun berakhir.
Lucky kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya dan berjalan menuju kamar rawat Ayu.
Ceklek. Lucky membuka pintu kamar rawat Ayu.
Tatapan tajam langsung Lucky dapatkan dari mama Tyas. Bukan karena mama Tyas tau Lucky menyembunyikan masalah Billy, melainkan mama Tyas marah karena ulah anaknya yang menerima telpon di luar, membuat Ayu curiga dan sekarang Ayu sedang menangis sesunggukkan.
"Ayu kenapa mah?" Tanya Lucky panik saat mendengar tangisan Ayu dan disaat bersamaan baby Kya menangis lagi.
Ibu Endang yang sedang menenangkan Ayu langsung berjalan ke box bayi dan mengambil baby Kya dari box bayi.
"Kok mama ngomongnya gitu? Lucky jawab panggilan di luar karena Lucky gak mau suara Lucky bangunin Kya mah."
"Memang nya telepon dari siapa itu?" Selidik mama Tyas lagi.
"Nanti Lucky jelasin." Jawab Lucky sambil berjalan mendekati ibu mertuanya yang sedang berusaha menenangkan baby Kya, tapi sayangnya baby Kya tak kunjung berhenti menangis.
"Sini buk Lucky aja."
Bu Endang pun memberikan baby Kya pada Lucky.
Setelah baby Kya berada dalam gendongannya, Lucky pun berjalan menuju Ayu yang masih menangis di atas ranjang.
"Sayang." Panggil Lucky sambil sebelah tangannya mengelus rambut Ayu.
"Jangan pegang-pegang." Ayu langsung menyentak tangan suaminya.
"Kita keluar yuk jeng, biar mereka menyelesaikan masalah mereka." Bisik mama Tyas pada besannya itu.
Bu Endang menganggukkan kepalanya, ia juga tak ingin ikut campur masalah rumah tangga anaknya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Ngomong dong, jangan begini." Tanya Lucky lagi.
Ayu memutar tubuhnya.
"Siapa yang nelpon? Kenapa mas ngejawab telponnya di luar? Gak biasanya mas kayak gitu? Pasti mas punya selingkuhan kan? Kali ini selingkuhan mas laki-laki atau perempuan?" Rentetan tuduhan Ayu berikan pada Lucky.
"Semuanya gak benar. Yang nelpon tadi itu pihak kepolisian." Jawab Lucky.
"Pihak kepolisian? Masalah laki-laki itu?"
Lucky menganggukkan kepalanya.
"Apa laki-laki itu kabur mas?" Tanya Ayu dengan sorot mata ketakutan, bahkan semua bulu yang ada di tubuh Ayu berdiri karena pemikirannya sendiri.
Cup. Lucky mengecup kening Ayu.
"Nanti aku ceritain. Aku tenangin Kya dulu." Ucap Lucky sambil mengelus kepala istrinya.
Setelah Ayu tenang, sekarang giliran baby Kya yang harus ditenangkan.
Tak butuh lama buat Lucky menenangkan baby Kya. Setelah tenang, Lucky meletakkan baby Kya di dalam box bayi. Kemudian berjalan menghampiri Ayu yang ada di atas ranjang.
"Kita bicara di sofa yah, aku akan panggil mama sama ibu, biar mereka juga tau." Ucap Lucky sambil menggendong Ayu dari atas ranjang. Tak ada lagi infusan di tangan Ayu.
Setelah mendudukkan Ayu di sofa, Lucky pun memanggil mama dan ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi depan kamar Ayu.
Kini mama Tyas, bu Endang, Ayu dan Lucky sudah duduk di sofa yang ada di kamar rawat Ayu.
"Sebenarnya ada apa sih mas? Jangan bikin penasaran deh, kamu tau gak, sekarang tuh aku takut banget tau!" Ucap Ayu.
"Iya Ky, sebenarnya ada apa sih?" Tanya mama Tyas yang juga penasaran.
Sedangkan bu Endang lebih memilih diam meski sebenarnya bu Endang juga penasaran.
"Kamu gak usah khawatir sayang, dia gak akan ganggu kita lagi." Ucap Lucky menenangkan Ayu yang ketakutan.
"Dia siapa Ky?" Tanya mama Tyas.
"Billy mah. Dia udah meninggal." Kata Lucky.
Mata Ayu, mama Tyas dan bu Endang membelalak saat Lucky memberitahu informasi itu.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Yu kalau tadi pagi aku gak langsung pulang ke rumah, aku singgah ke rumah sakit kepolisian tempat Billy di rawat. Sebenarnya aku gak mau datang sebelum dapat izin dari kamu, tapi polisi bilang kondisinya kritis. Aku mau izin sama kamu gak enak, karena kamu kan melahirkan, hormon masih turun naik. Jadi aku mutusin untuk pergi tanpa izin dari kamu. Gak taunya waktu aku kesana, dan kami sempat berbicara sebentar, gak lama dia menghembuskan nafas terakhirnya." Lucky mengucapkan pengakuan dosa di depan tiga wanita yang Lucky sayangi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
💋💋 Sekali lagi othor mengucapkan Selamat Natal buat readers Teronghot yang solehot smarthot yang merayakan Natal. 💋💋