Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 40


__ADS_3

Waktu berlalu, sudah tiga bulan Adam dan Sonia tidur sekamar, meski belum tidur berdua tapi ini adalah sebuah perkembangan yang bagus untuk pernikahan mereka. Apalagi mereka tak pernah lagi berdebat, paling hanya perdebatan kecil tentang apa yang boleh untuk Cantika dan yang tidak boleh, selain itu mereka kompak membesarkan Cantika penuh kasih sayang. Tapi kalau urusan ranjang, mereka masih belum melakukan ritual pengguncangan ranjang.


Sama seperti malam-malam sebelumnya, Adam dan Sonia selalu bercanda dengan Cantika di atas ranjang, jika Cantika terlihat sudah mengantuk, Adam akan membacakan dongeng untuk Cantika.


Tak sampai lima belas menit Adam mendongeng, bayi cantik yang bulan depan akan genap setahun itu pun terlelap.


"Mas, bulan depan Cantika setahun, kira-kira ulangtahunnya mau di rayain dengan tema apa yah?" Tanya Sonia.


Adam menghela nafasnya, pertanyaan Sonia itu malah mengingatkan Adam pada sosok Karen, ibu kandung Cantika dan istri pertamanya yang sampai saat ini masih bertahta dalam hatinya. Karena dengan genapnya umur Cantika setahun itu sama saja, setahun sudah Karen meninggalkannya.


"Aku juga gak tau Son. Kamu tau kan dengan genapnya umur Cantika setahun, itu sama saja setahun sudah Karen pergi." Jawab Adam.


"Maaf mas, aku bukan bermaksud..." lirih Sonia.


"Iya, aku paham. Mungkin kalian sudah bisa keluar dari rasa sedih, tapi sepertinya aku belum bisa melupakan hari itu. Sampai detik ini aku terus menyalahi diri ku sendiri karena tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Karen. Seandainya aku waktu itu aku lebih ketat dengan kehamilan Karen, mungkin saat ini dia masih ada disini." Kata Adam.


"Dan Cantika juga tidak mungkin ada disini." Lirih Sonia pelan.


Adam menghela nafasnya.


"Ya kamu benar. Dan jika waktu di bisa di ulang kembali aku juga akan tetap mengorbankan Cantika dan akan mencari seribu satu cara untuk menyelamatkan nyawa Karen. Mungkin kamu berpikir aku egois, tapi itu semua karena aku sangat mencintai Karen. Dia adalah wanita pertama yang membuat aku merasakan jatuh cinta." Balas Adam.


Sonia diam. Entah kenapa hati merasa ngilu saat Adam mengatakan sangat mencintai Karen.


"Kalau begitu ulang tahun Cantika nanti, tidak perlu ada perayaan. Kita berdoa saja bersama anak yatim-piatu dan anak-anak pengidap autoimun." Saran Sonia.


"Boleh juga. Tapi kita adakan sehari atau dua hari setelahnya, karena tepat di hari ulang tahun Cantika, aku ingin membawa Cantika ke kota B, aku ingin ke makam Karen." Kata Adam.


"Apa aku boleh ikut?" Tanya Sonia.


Adam diam sejenak untuk berpikir. Setelah ia pikir-pikir kenapa dirinya harus terus melarang Sonia ke kota B, toh di kota B adalah kampung halaman Sonia.


Adam pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengijinkan Sonia untuk ikut berziarah ke makam Karen.


✨✨✨


Perayaan hari ulang tahun Cantika pun tiba dua hari setelah peringatan setahun meninggalnya Karen. Peringatan yang tadinya Adam ingin buat sederhana hanya dengan berziarah ke makam Karen dengan Cantika, Sonia dan pak Zidane, menjadi acara doa bersama di kota B bersama dengan di hadiri anak-anak yatim dan orang-orang penderita auto imun serta para keluarga dari pihak mama Karen. Tapi bukan hanya keluarga dari pihak mama Karen saja, acara doa bersama kali ini juga di hadiri keluarga besar pak Zidane, keluarga besar Sonia dan yang paling spesial keluarga besar Adam.


FLASHBACK ON.


Seminggu sebelum pergi ke kota B.


Adam termenung di dalam ruang kerjanya, ia merenungkan mimpinya yang sudah tiga hari berturut-turut datang padanya. Dimana Karen datang dalam mimpinya sedang duduk di sebuah taman dengan banyak bunga dan kupu-kupu beterbangan, taman itu sangat indah tapi wajah Karen malah terlihat bermuram durja. Di dalam mimpi itu Adam datang menghampiri Karen, tapi entah kenapa langkah kaki Adam tak pernah sampai di tempat Karen duduk seolah jarak mereka sangat jauh padahal dari pandangan mata Adam, Karen sangat lah dekat.


Merasa lelah tidak sampai di tempat Karen, Adam pun berteriak memanggil nama istrinya itu.


"Karen." Teriak Adam.


Karen pun menoleh. Dan disaat menoleh baru lah Karen terlihat tersenyum tapi Adam tau, senyum Karen sangat di paksakan.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Muka kamu kok sedih?" Tanya Adam dalam mimpinya itu.


Karen tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong. Bilang sama aku, apa yang membuat kamu sedih? Apa aku buat salah?"


Karen menggelengkan kepalanya.


"Kakak gak ada salah apa-apa kok. Malah aku mau berterimakasih sama kakak karena sudah mulai menerima Sonia dan kalian berdua menjaga Princess Cantika ku dengan sangat baik dan berlimpah kasih sayang." Jawab Karen.


"Terus kenapa muka mu sedih gitu?" Tanya Adam lagi.


"Aku sedih, karena gak semua keluarga ku datang mendoakan ku." Jawab Karen.


"Maksud kamu?" Tanya Adam.


Tapi belum sempat Karen menjawab maksud perkataannya di dalam mimpi, Adam langsung terbangun dari tidurnya. Dan mimpi itu terus datang dalam tiga hari belakangan ini, dan dalam tiga hari itu pun Karen tidak pernah menjelaskan maksud perkataannya.


"Keluarga? Apa maksud Karen dengan keluarga? Aku dan Cantika selalu rutin tiap bulan datang berziarah dan berdoa di makamnya, papa juga sering datang ke sana, keluarga almarhum mama Dita juga rajin datang kesana. Lalu apa maksud perkataan Karen dengan tidak semua keluarga datang mendoakannya?!" Gumam Adam berpikir.


Ceklek. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pak Zidane masuk ke ruang Adam.


Dan itu sukses membuat Adam terkejut.


"Kamu kenapa, kok muka mu kaget gitu lihat Papa?" Tanya pak Zidane sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"Jangan bohong. Raut wajah mu mengatakan ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiran mu. Apa ini soal perayaan ulang tahun Cantika?" Tanya pak Zidane.


Karena sebenarnya tujuan pak Zidane mendatangi Adam ke ruang kerjanya juga untuk membahas masalah itu. Disaat pak Zidane tau Adam tidak ingin membuat perayaan yang meriah untuk ulang tahun Cantika karena bersamaan dengan hari meninggalnya Karen, di satu sisi pak Zidane setuju tapi di sisi lain dirinya kurang setuju. Karena ini adalah ulang tahun pertama Cantika, harusnya ada perayaan meriah untuk merayakan itu mengingat perjuangan Cantika bertahan hidup mulai dari lahir sampai sekarang tidak lah mudah.


"Bukan soal itu Pah." Jawab Adam.


"Lalu soal apa?" Tanya pak Zidane agak sedikit terkejut dengan jawaban Adam.


"Ini tentang Karen."


"Karen? Kenapa Karen?" Tanya pak Zidane semakin penasaran.


Adam pun menceritakan tentang mimpinya yang datang tiga hari berturut-turut itu.


Setelah Adam selesai bercerita, pak Zidane hanya menghela nafasnya panjang. Ia tau apa yang di maksud Karen.


"Sepertinya ini sudah saatnya Adam." Lirih pak Zidane.


"Maksud Papa?" Tanya Adam dengan bodohnya.


"Kamu kan belum memperkenalkan Karen dengan keluarga kamu. Bahkan sampai Karen meninggal pun, kita tidak memberitahu keluarga mu. Mungkin itu yang membuat Karen sedih. Karena keluarga mu kan keluarga Karen juga. Dan Papa juga sepertinya harus bisa memaafkan orangtua Papa dan mengajak mereka ikut mendoakan Karen." Jawab pak Zidane.


"Sepertinya Papa benar." Balas Adam.

__ADS_1


"Kita juga harus memperkenalkan Sonia dan Cantika pada keluarga mu." Kata pak Zidane lagi.


"Baik lah Pah. Kalau begitu, bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah kakak saya, karena bapak dan ibu sepertinya nanti sore akan sampai ke kota ini, karena seminggu lagi kakak saya dan suaminya mau pergi honeymoon." Jawab Adam lagi.


"Benar kah? Bagus kalau begitu, semakin cepat, semakin baik." Balas Pak Zidane.


✨✨✨


Malam harinya.


Kini Adam, Sonia, Cantika dan Pak Zidane sedang dalam perjalanan menuju rumah Ayu-Lucky.


Adam, Sonia, Cantika berada dalam satu mobil sedangkan pak Zidane berada di mobil yang lain. Belum lagi dua mobil yang berisi bodyguard yang mengawal perjalanan mereka, jadi totalnya ada empat mobil.


"Kamu kenapa?" Tanya Adam saat melihat raut wajah Sonia yang aneh.


"Gak pa-pa mas." Jawab Sonia.


"Sakit perut?"


"Gak."


"Terus? Kenapa muka kamu kayak orang yang lagi nahan poop?"


"Enak aja. Aku cuma deg-deg an aja mas. Apa lah nanti yang ada di pikiran Bu Ayu tentang aku." Jawab Sonia.


"Mbak Ayu orangnya gak suka mikir yang aneh-aneh kok. Jadi santai aja. Nanti biar aku yang jelasin sama keluarga aku, kamu cukup mendengarkan dan menjawab kalau ditanya." Balas Adam.


Sonia menganggukkan kepalanya.


Tin Tin Tin. Supir yang membawa rombongan Adam membunyikan klakson agar satpam di rumah itu membukakan pintu pagar.


Tapi ternyata keamanan yang di berikan Lucky masih sama. Sebelum satpam membuka gerbang lebar-lebar, satpam harus mengecek dulu siapa yang datang dan meminta ijin dulu pada sang pemilik rumah apa boleh tamu itu masuk.


Tok Tok Tok. Satpam mengetuk kaca mobil di bagian supir.


Bukan pak supir yang menurunkan kaca mobilnya, melainkan kaca mobil Adam.


"Pak, ini saya Adam. Adiknya mbak Ayu." Kata Adam.


Pak Satpam melihat wajah Adam untuk memastikan.


"Oh.. iya mas. Maaf yah mas, saya gak tau. Habisnya rombongan sih." Kata pak Satpam.


"Silahkan-silahkan masuk kalau gitu." Pak Satpam pun membuka pintu gerbang lebar-lebar.


Dan keempat mobil itu pun masuk ke dalam halaman rumah Ayu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2