
Sekedar mengingatkan, ini bukan kelanjutan kisah keluarga kecil Lucky dan Ayu, melainkan cerita tentang Adam, adiknya Ayu.
Kenapa di buat sih thor ceritanya si Adam? Othor gak akan buat kalau gak ada yang minta.
Kenapa gak buat kamar baru untuk cerita Adam? Ini cerita gak akan othor panjangin, jadi lebih baik othor satuin disini.
Jadi nikmatin aja yah para readers solehotππ.
πππππ
Adam, anak dari pasangan Andar dan Endang ini adalah anak yang sering sekali membuat onar dan sakit kepala orangtuanya.
Mulai dari berhutang setelah memakai jasa kupu-kupu malam, berjudi online dan terakhir berkelahi dengan teman kerjanya di kota P.
Sudah banyak uang yang di keluarkan Pak Andar dan Bu Endang menyewa pengacara untuk mengurus kasus Adam. Pak Andar dan Bu Endang pun menyerah mengurus Adam.
Bukan hanya orangtuanya, kakaknya, Ayu, juga sudah menyerah mengurus adik satu-satunya itu.
Namun nasib orang siapa yang tau. Justru karena kenakalannya lah, sekarang Adam bisa bersanding dengan Karen Zidane, putri tunggal Tito Zidane, bos perusahaan penyedia jasa bodyguard dan perusahaan tambang di kota P dan kota K.
Ini lah kisah Adam..
Seminggu setelah Adam berurusan dengan polisi karena berkelahi dengan teman kerjanya di pabrik kayu di kota P, Adam pun memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi di kota P itu.
Entah kebetulan atau memang hari itu Adam bernasib baik, Adam pun langsung di terima kerja sebagai buruh harian di perusahaan tambang Zidane Group.
Berkat kerja keras dan kegigihan Adam, dalam waktu tiga bulan menjadi buruh harian, akhirnya Adam pun diangkat menjadi karyawan kontrak. Meski hanya menjadi karyawan kontrak tapi Adam bersyukur, setidaknya kini dirinya memiliki penghasilan bulanan.
Dan semenjak Adam bekerja di perusahaan tambang itu, Adam jadi memiliki niat untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Niatnya itu datang karena curhatan-curhatan teman kerjanya yang notabene sudah berkeluarga. Mendengar curhatan seorang ayah yang mati-matian membanting tulang untuk menafkahi keluarganya, disitulah hati Adam terketuk untuk berubah, Adam menjadi sadar di balik tingkahnya yang suka seenaknya sendiri ada hati orangtua yang hancur.
Maka dari itu, Adam pun bertekad untuk menjadi anak yang bisa di banggakan orangtuanya.
Hari ini pekerja tambang di hebohkan dengan kedatangan Tuan Zidane dan anak gadisnya. Tuan Zidane memang selalu datang memantau perusahaan tambangnya di kota P tiga bulan sekali. Namun baru kali ini Tuan Zidane datang dengan anak gadisnya, Karen.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, bel istirahat makan siang pun berbunyi. Adam dan pekerja tambang lainnya mulai meninggalkan lokasi tambang dan berjalan ke arah dapur umum untuk mengambil jatah makan siang mereka.
"Kalian udah denger belum kalau hari ini pak Zidane datang?!" Tanya Rizal teman kerja Adam. Selain Adam, ada Rizal, Jani, Yofie dan Alan, pekerja tambang yang masih lajang.
"Pak Zidane kan emang tiga bulan sekali dateng. Terus kenapa heboh?!" Tanya Yofie.
"Tapi kali ini kedatangan pak Zidane beda Yof."
__ADS_1
"Bedanya?"
"Yang aku denger, kali ini pak Zidane datang bareng anak gadisnya."
Mendengar itu, Jani dan Alan yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan Yofie dan Rizal, kini ikut menajamkan telinganya, mereka merasa tertarik dengan berita yang dikatakan Rizal. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Adam, ia merasa tidak tertarik dengan berita yang di bawa Rizal.
"Yang bener Zal?" Tanya Jani.
"Beneran. Aku denger tadi waktu pak Agus telponan, kayaknya telponan sama asistennya pak Zidane."
"Akhirnya, bisa cuci mata kita nih." Timpal Alan dengan raut wajah berseri-seri.
"Kok muka mu seneng banget Lan? Memangnya kamu udah pernah lihat anaknya pak Zidane?" Tanya Jani penasaran.
Alan menggelengkan kepalanya.
"Ngeliat langsung sih belum, tapi kalau lihat di foto pernah." Jawab Alan.
"Ngeliat di foto?" Tanya Rizal, Yofie dan Jani bersamaan.
"Kok bisa? Kamu lihat fotonya dimana?" Tanya Rizal penasaran.
"Tunggu, aku tunjukkin." Alan pun mengeluarkan ponselnya dan membuka sosial medianya kemudian mencari nama Karen Zidane. Dan keluarlah foto profil yang menampilkan foto Karen dan pak Zidane.
"Waaah...bening euy.." puji Yofie ternganga dengan kecantikan Karen.
Mendengar pujian Yofie, mata Adam pun ikut melirik foto itu.
"Cantik." Gumam Adam dalam hati.
"Udah...udah jangan di liatin terus fotonya, gak bikin kenyang. Mending lanjutin makannya, keburu jam istirahat habis." Ucap Adam agar teman-temannya kembali mengisi perut mereka.
Alan pun menyimpan kembali ponselnya. Dan mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka.
β¨β¨β¨
Jam kerja pun usai. Para pekerja tambang pun berpulangan. Ada yang pulang ke mess ada juga yang pulang ke rumah mereka masing-masing, bagi mereka yang memang penduduk asli setempat. Tapi bagi perantau seperti Adam, perusahaan telah menyediakan mess. Sayangnya mess ini hanya di peruntukkan bagi karyawan tetap dan karyawan honor saja. Diantara Adam dan keempat temannya yang masih lajang tadi, hanya Adam lah yang tinggal di mess, sedangkan keempat temannya yang lain, pulang ke rumah kontrakan yang mereka kontrak dengan uang patungan.
Dari selesai jam makan siang sampai jam pulang kerja, kedatangan Karen yang paling di tunggu-tunggu para pekerja tambang laki-laki termasuk keempat teman Adam, harus pupus karena ternyata Karen tidak ikut pak Zidane ke proyek, Karen hanya menunggu di rumah yang bersebelahan dengan mess karyawan.
Dan itu membuat raut wajah kecewa terlihat jelas di wajah keempat teman Adam. Sedangkan Adam malah terlihat biasa saja karena memang ia tidak berharap untuk bisa melihat Karen.
__ADS_1
Kini Adam sudah ada dalam kamar mess nya, kamar yang berukuran 3x3 yang ia tinggali sendiri.
Sebelum mandi, Adam merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Ia memejamkan sejenak matanya hanya untuk melepas penat akibat bekerja seharian.
"Pasti lelah nya bapak lebih dari ini." Gumam Adam membandingkan rasa lelahnya dengan rasa lelah bapaknya dalam mencari nafkah. Ia kembali teringat akan bapak dan ibunya yang ada di kota M.
Adam sudah sangat merindukan kedua orangtuanya. Tapi ia tak ingin menghubungi orangtuanya ataupun kakaknya, sebelum ia berhasil menjadi karyawan tetap di perusahaan tambang itu. Sangking tak ingin keluarganya tau tentang dirinya sebelum dirinya menjadi orang sukses, sampai-sampai Adam mengganti nomor ponselnya.
Setelah dirasa sebagian rasa penatnya menguar, barulah Adam beranjak dari tempat tidurnya, membuka pakaiannya dan melingkarkan handuk di pinggangnya lalu keluar dari dalam kamar mess nya menuju kamar mandi yang letaknya di luar kamar.
Ada lima bagian mess di situ, mess A, mess B, mess C, mess D dan mess E. Dan masing-masing mess ada dua belas kamar dengan kamar mandi di luar kamar. Dan masing-masing mess hanya menyediakan tiga kamar mandi dan satu dapur. Dan Adam sendiri tinggal di mess E
Berhubung kamar mandi hanya tiga, jadi mau tak mau Adam tidak bisa berlama-lama di dalam kamar mandi karena banyak teman se mess Adam yang juga ingin menggunakan kamar mandi.
Tak sampai sepuluh menit, Adam pun selesai membersihkan tubuhnya. Dengan handuk yang kembali melilit di pinggangnya dan peralatan mandi dalam tentengannya, ia berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Adam pun membuka handuk yang ia lilitkan di pinggangnya untuk mengeringkan tubuh dan rambutnya. Setelah itu Adam pun berjalan menuju kopernya untuk mengambil pakaiannya yang hanya lima pasang. Tak ada lemari di kamar itu, yang ada hanya meja kecil di samping tempat tidurnya.
"Ah...sial, gak ada semβ’vak lagi!!" Umpat Adam saat melihat tak ada pakaian dalam di kopernya.
Adam pun kembali melilitkan handuk di pinggangnya dan keluar dari dalam kamar, ia berjalan keluar dari mesa menuju tempat jemuran yang terletak di samping mess tersebut.
Karena mess E tempat Adam tinggal adalah mess yang paling ujung dan yang paling dekat dengan rumah pak Zidane, maka gerakan Adam yang berjalan menuju tempat jemuran dengan handuk yang melilit di pinggangnya terlihat jelas dari kamar Karen.
Karen yang sedang berdiri di jendela kamarnya untuk melihat pemandangan area pertambangan perusahaan papanya, tak sengaja netranya melihat Adam.
"Tampan." Gumam Karen saat melihat Adam, apalagi sekarang Adam sedang bertelanjang dada, jadi memperlihatkan jelas tubuh kekar Adam yang memiliki roti sobek di tambah tato mata elang di punggung Adam, membuat tubuh Adam terlihat lakik banget.
"Nona, Tuan Besar meminta Nona untuk turun ke bawah." Tiba-tiba suara wanita paruh baya memecah konsentrasi Karen yang sedang asyik memandang Adam yang sedang sibuk mencari pakaian dalamnya.
"Ish..mengganggu saja." Gerutu Karen dalam hati.
Karen pun memutar tubuhnya untuk menoleh ke arah Bik Narti, kepala pelayan yang selalu pak Zidane bawa jika pak Zidane pergi membawa Karen, karena Karen tidak bisa makan makanan sembarang, karena Karen memiliki penyakit autoimun.
"Iya Bik, sebentar lagi Karen turun, Bik Narti duluan aja kebawah." Jawab Karen lembut..
Bik Narti pun keluar dari dalam kamar Karen.
Saat Bik Narti keluar, Karen pun kembali melihat ke arah jemuran tempat tadi dirinya melihat Adam, tapi sayangnya Adam sudah tidak ada lagi disana. Sepertinya Adam sudah menemukan pakaian dalamnya.
"Ah...sial, laki-laki itu udah gak ada lagi!!" Kesal Karen.
__ADS_1
Karen pun kembali menutup tirai jendela, lalu keluar dari dalam kamarnya menuju lantai bawah untuk menemui papanya.
BERSAMBUNG...