Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 2


__ADS_3

Sesampainya di lantai bawah, mata Karen mencari-cari keberadaan sang papa yang katanya sudah menunggunya di lantai bawah.


Mendengar suara sang papa dari arah ruang kerja, Karen pun melangkahkan kakinya ke ruang kerja sang papa.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Karen langsung membuka pintu ruang kerja sang papa. Karen tidak tau kalau sekarang papanya sedang kedatangan tamu.


"Pah.."


Sontak mata pak Zidane dan tamunya menoleh ke arah pintu.


"Ups maaf pah, Karen gak tau kalau papa lagi ada tamu." Ucap Karen merasa tidak enak hati.


"Tidak pa-pa sayang. Sini."


Karen pun berjalan malu-malu mendekati papanya.


"Pak Bimo kenalkan ini Karen anak semata wayang saya." Ucap pak Zidane memperkenalkan Karen pada Bimo.


"Karen, kenalkan ini pak Bimo. Umurnya masih dua puluh delapan tahun, tapi beliau sudah menjadi pengusaha yang sukses." Kini pak Zidane memperkenalkan Bimo pada Karen.


Karen dan Bimo pun bersalaman.


"Karen. Bimo." Ucap keduanya sambil berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Saya pernah mendengar kalau pak Zidane memiliki seorang putri tapi saya tidak tau kalau putri pak Zidane secantik ini." Puji Bimo.


Sayangnya pujian Bimo itu sama sekali tidak membuat Karen klepek-klepek. Justru yang klepek-klepek sekarang adalah pak Zidane.


"Akh pak Bimo bisa saja. Karen memang baru beberapa minggu disini, karena baru saja menyelesaikan SMA nya di Singapore. Dan katanya ia ingin melanjutkan pendidikannya di negara ini, karena sudah bosan tinggal di negara orang." Ucap pak Zidane.


"Oh.." Bimo hanya ber Oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi sorot matanya menatap Karen dengan tatapan liar.


Karen yang sadar dengan tatapan liar Bimo, memilih untuk undur diri dari ruang kerja sang papa.


"Pah, Om, Karen keluar dulu yah. Mau liat Bik Narti dulu." Pamit Karen.


"Jangan panggil om dong, kesannya aku tuh tua banget, beda umur kita kan gak jauh-jauh amat. Panggil aja mas atau kak." Protes Bimo.


"Ah.. iya kak." Karen pun meralat panggilannya untuk Bimo.


Setelah itu, Karen pun keluar dari ruang kerja sang papa.


"Dasar playboy cap buaya buntung!!!" Umpat Karen setelah dirinya keluar dari ruang kerja sang papa.


Sambil menunggu sang papa selesai menerima tamu, Karen pun memutuskan untuk berkeliling sekalian mencari sosok laki-laki yang tadi ia lihat sedang mencari pakaian dalam di jemuran. Sosok yang di cari Karen tak lain dan tak bukan adalah Adam.


Sangking seriusnya Karen mencari sosok Adam, Karen sampai tidak sadar kalau kini dirinya menjadi pusat perhatian lelaki lajang yang tinggal di mess E itu.


"Dam...cepetan keluar, anaknya pak Zidane ada di halaman." Teriak teman satu mess Adam dari depan pintu kamar Adam.


"Gak ah males." Jawab Adam tak kalah berteriak. Ia lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya di banding ikutan heboh karena keberadaan Karen di halaman mess E.


"Aneh, kayak baru ngeliat cewek aja!!" Gerutu Adam.


Adam pun kembali memejamkan matanya, tapi baru beberapa detik ia memejamkan matanya, wajah Karen yang sempat ia lirik dari sosial media Alan muncul dalam kepalanya.


Sontak Adam pun membuka matanya lebar dan mendudukkan dirinya.


"Apa-apaan ini. Kenapa bisa wajah anaknya pak Zidane muncul di otak gue?!" Gerutu Adam.


Saat sedang menggerutu, samar-samar Adam mendengar suara orang tertawa-tawa di depan mess. Ada suara laki-laki dan suara perempuan. Jika suara laki-laki itu adalah teman-teman satu mess Adam, maka suara perempuan itu adalah suara...


"Karen." Lirih Adam.


Entah gejolak darimana, Adam pun beranjak dari ranjangnya dan keluar dari dalam kamarnya.


Mata Adam membelalak saat melihat penampakan Karen dalam bentuk nyata, bukan hanya sekedar foto di sosial media.

__ADS_1


Sama seperti Adam yang ternganga melihat penampakan Karen, Karen pun juga ternganga melihat penampakan Adam saat Adam berdiri di dekat pintu mess.


Mata para lelaki yang sedang mengelilingi Karen pun ikut tertuju pada Adam.


"Dam, sini Dam." Panggil salah satu lelaki penghuni mess.


Adam pun berjalan mendekati kumpulan lelaki penghuni mess yang sedang mengelilingi Karen.


"Kenalin Nona Karen, ini namanya Adam. Dia yang paling muda disini." Ucap salah satu lelaki lainnya memperkenalkan Adam.


Dengan senang hati, Karen mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Adam. Sama dengan Karen, Adam pun menyambut uluran tangan Karen dengan senang hati.


"Karen. Adam." Ucap keduanya sambil berjabat tangan.


Sorot mata yang terpancar dari keduanya tak bisa berbohong kalau benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hati keduanya.


"Karen." Suara bariton papa Zidane membuyarkan tatapan penuh kagum yang terpancar dari mata keduanya.


Karen pun melepas jabatan tangan mereka dan menoleh ke arah sumber suara.


"Ya pah." Sahut Karen.


"Sini nak, pak Bimo mau pulang." Panggil papa Zidane.


"Saya pamit dulu yah, seneng bisa kenal sama abang-abang semua." Pamit Karen pada laki-laki yang mengelilinginya termasuk pada Adam.


Karen pun meninggalkan halaman mess dan berjalan setengah berlari ke arah sang papa.


Tatapan mata Adam tak lepas memandang Karen meski kini Karen sudah jauh dari pandangannya.


Dan tatapan mata Adam itu tertangkap oleh teman-temannya.


"Cie... ada yang diem-diem suka nih." Ejek salah satu teman Adam.


"Apaan sih!!" Jawab Adam dengan wajah datarnya, Adam pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya kembali.


"Aaaaaa..." Teriak Adam girang tanpa suara sambil melompat ke atas ranjang.


Ia menjatuhkan tubuhnya kasar, lalu menciumi tangannya yang baru saja ia pakai berjabat tangan dengan Karen.


"Aslinya lebih cantik daripada di sosmed." Gumam Adam memuji kecantikan Karen.


Adam pun kembali menciumi tangannya sendiri sambil senyum-senyum seperti orang tidak waras.


✨✨✨


Malam hari pun datang.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Adam terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Setelah selesai membuang air kecil, Adam tak bisa tidur lagi. Ia pun memilih untuk mencari udara segar di halaman mess sambil menyesap rokok.


Kepalanya menengadah ke atas, matanya tertuju pada langit gelap yang bertabur bintang-bintang, telinganya pun ikut menikmati suara malam.


Saat telinganya sedang menikmati suara malam, samar-samar ia seperti mendengar suara kegaduhan, tapi entah dari mana.


Adam pun menajamkan telinganya untuk mencari darimana suara gaduh itu berasal.


"Kayaknya dari rumah pak Zidane." Gumam Adam.


Adam pun berdiri dan membuang batang rokok yang masih setengah ia sesap, lalu berjalan menuju rumah pak Zidane.


Makin ia mendekati rumah itu, suara gaduh makin terdengar jelas.


Dengan sangat perlahan Adam berjalan memasuki pekarangan rumah besar itu. Ia mengintip dari jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam.


Mata Adam membelalak saat melihat ada lebih dari lima orang bertopeng di dalam rumah pak Zidane, apalagi posisi pak Zidane sekarang sudah dalam keadaan terikat, Bik Narti dan empat orang lainnya yang ada dirumah itu juga sudah merunduk karena orang-orang bertopeng itu menodongkan senjata api dan senjata tajam pada orang-orang itu.

__ADS_1


Lalu kemana bodyguard yang biasa menjaga pak Zidane? Entah lah, Adam juga tidak tau, dari sudut Adam melihat, tidak nampak tiga pria bertubuh tinggi dan kekar di tempat itu.


Selain tiga bodyguard pak Zidane, Adam juga tak melihat keberadaan Karen.


"Dimana Karen?" Gumam Adam.


Tak..Tak.. Tak. Bunyi langkah sepatu dari ruang kerja pak Zidane.


Keluarlah seorang pria dari dalam sana, pria yang sepertinya Adam pernah lihat.


Adam mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat siapa pria itu.


"Itu bukannya pria yang tadi sore bersama pak Zidane?!" Gumam Adam saat dirinya baru mengingat sosok Bimo.


"Apa mau mu Bimo? Kenapa kau melakukan ini pada ku?" Tanya pak Zidane dengan suara bergetar.


"Karena aku ingin menguasai lahan tambang mu ini. Dan juga..." Bimo menggantung kata-katanya.


"Dan juga apa?"


"Dan juga ingin menyicipi tubuh putri cantik mu yang angkuh itu." Lanjut Bimo.


Sebenarnya Bimo sudah merencanakan tindak kriminalnya ini jauh-jauh hari, bahkan Bimo juga mengirim beberapa anak buahnya bekerja di perusahaan tambang milik pak Zidane, tujuan awalnya memang ingin menguasai tanah pertambangan milik pak Zidane, tapi saat tadi sore dirinya datang pura-pura bersilahtuhrahmi dengan pak Zidane, agenda pun bertambah, yaitu menikmati tubuh Karen, apalagi dimata Bimo, Karen adalah gadis yang angkuh, jadi ia tidak perlu berbasa-basi untuk menikmati tubuh Karen.


Mata pak Zidane membelalak mendengar kata-kata Bimo. Bukan hanya pak Zidane, mata Adam pun membelalak mendengar ucapan Bimo.


"Jangan berani menyentuh putri ku!!! Atau kau akan menyesal Bimo!!!!" Teriak pak Zidane.


"Hahahahaha..." Bukannya takut, Bimo malah tertawa terbahak-bahak.


Tiba-tiba saja satu pria bertopeng turun dari lantai atas.


Bimo pun menoleh ke arah pria bertopeng yang sedang menuruni anak tangga.


"Apa dia sudah siap?" Tanya Bimo pada pria itu.


"Sudah boss." Jawab pria itu mantap.


"Bagus." Balas Bimo.


"Pak Zidane, saya tinggal sebentar yah, saya ingin bersenang-senang dulu dengan putri pak Zidane dulu." Pamit Bimo.


"Kalau pak Zidane tidak sanggup mendengar jeritan anak pak Zidane, bapak bisa menutup telinga bapak." Ucap Bimo lagi.


Bimo pun melangkahkan kakinya naik ke atas.


"Breng•sek!!!" Umpat Adam geram.


Adam pun beranjak dari tempatnya mengintip.


Ia mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata melindunginya. Matanya pun melihat linggis teronggok tak jauh dari tempatnya berdiri.


Dengan linggis di tangannya, Adam pun berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang. Ternyata pintu belakang tidak di jaga, Adam pun leluasa masuk ke dalam rumah tanpa harus menggunakan linggis nya.


Adam mengintip sejenak ke arah ruang tamu, memastikan semua orang sibuk dengan pak Zidane yang sedang meronta-ronta sambil meneriaki nama Bimo.


Saat ada kesempatan, cepat-cepat Adam naik ke lantai atas layaknya ninja hatori, tak mengeluarkan suara dan tak kelihatan.


Setelah sampai di lantai atas, Adam bersembunyi di balik dinding, karena melihat ada satu orang berjaga di depan pintu kamar yang ia yakini itu adalah kamar Karen.


"Aaa...jangan, aku mohon jangan...lepaskan!!!" Jerit Karen dari dalam kamar.


Mendengar jeritan Karen, jiwa premanisme Adam pun berkobar-kobar. Dengan berbekal linggis di tangan, ilmu bela diri yang tak seberapa tapi memiliki nyali yang besar, Adam pun berjalan mendekati pria yang sedang berjaga di depan pintu kamar Karen.


Bugh.. Tanpa basa-basi Adam langsung menyabetkan linggis sekuat tenaga ke kepala pria yang berjaga di depan pintu itu.


Cairan merah kental dan segar pun seketika keluar dari kepala pria itu, pria itu pun jatuh tersungkur seketika.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2