
Begitu pintu kamar Adam terbuka lebar, Sonia pun langsung masuk kedalam kamar.
"Berhenti!!! Jangan masuk!!!" Teriak Adam karena tidak ingin Sonia masuk.
Sontak Sonia langsung menghentikan langkah kakinya.
"Huuuwaaaaa." Cantika kaget dan kembali menangis mendengar Adam berteriak.
"Itu Cantika nangis Tuan, sini biar saya tenangkan." Kata Sonia yang tak kuat melihat anak sambungnya menangis.
"Saya bisa sendiri. Udah sana keluar." Jawab Adam keras kepala.
"Cup cup cup. Anak Papa diem yah. Besok Papa beliin beliin boneka Princess Moana, mau? Tapi diem yah. Cup cup cup." Bujuk Adam.
Tapi sayangnya bayi yang belum genap delapan bulan itu tidak mengerti apa yang Papa nya katakan. Apalagi dengan Princess Moana. Cantika masih terus menangis.
Tak sabar dengan cara Adam menenangkan Cantika, Sonia kembali nekat melangkahkan kakinya masuk dan mendekati Adam.
"Berhenti!!! Jangan masuk!!" Teriak Adam lagi saat Sonia sudah masuk beberapa langkah dari pintu kamar.
Kesal karena Adam selalu melarangnya masuk, apalagi saat ini Cantika terus menangis, Sonia pun tidak memperdulikan teriakkan Adam dan terus melangkahkan kakinya ke dalama kamar Adam. Ia berjalan mendekati Cantika yang ada dalam gendongan Adam, lalu mengambil paksa Cantika dari gendongan Papanya itu.
"Kamu tuh budeg yah, aku kan udah pernah bilang sama kamu jangan pernah masuk kamar ini." Bentak Adam.
"Tuan yang budeg!!! Gak denger apa Cantika nangis terus, masa Tuan paksain keinginan Tuan sama bayi yang belum berumur delapan bulan. Kalau Cantika sampe sakit karena nangis terus gimana?!" Sonia tak kalah keras membentak Adam.
Adam langsung diam seribu bahasa karena dibentak balik oleh Sonia.
"Ush.. ush.. ush.. sayang nya Bunda. Diem yah anak cantik, kan udah sama Bunda sekarang. Mau tidur sama Bunda kan? Ayo tidur sama Bunda." Kata Sonia menenangkan Cantika sambil mengelus punggung Cantika.
Seperti mendapat elusan magic, Cantika pun diam seketika.
Namun saat Sonia hendak berjalan menuju pintu untuk keluar dari dalam kamar Adam, Cantika kembali menangis.
"Tuh kan, dia gak mau sama kamu!!! Sini!!" Kata Adam. Adam pun mengambil alih Cantika. Begitu Cantika ada dalam gendongan Adam, bukannya diam, Cantika malah kembali menangis histeris.
"Ish... Cantika tuh gak mau sama anda, Tuan!!" Omel Sonia dan kembali mengambil Cantika dari gendongan Adam.
"Apaan sih kamu, orang itu anak aku kok, ya pasti mau sama aku!! Pasti kamu udah cuci otaknya Cantika kan biar gak mau sama aku!!!" Omel Adam, dia pun kembali mengambil Cantika dari gendongan Sonia.
Aksi ambil mengambil pun tertangkap netra pak Zidane.
__ADS_1
Pak Zidane yang mendengar suara tangis cucunya yang tak mau berhenti pun penasaran dengan apa yang terjadi dengan sang cucu, apalagi saat mendengar bunyi dobrakan pintu dan suara orang berteriak, yang pak Zidane pikir Cantika menangis karena Adam dan Sonia bertengkar. Pak Zidane pun naik ke lantai atas.
"Apa-apaan kalian berdua ini!!!! Kenapa kalian berdua menjadikan cucu ku bahan rebutan!!! Apa kalian berdua pikir cucu ku itu boneka, hah!!! Bentak pak Zidane sambil berjalan mendekati Adam dan Sonia lalu mengambil alih Cantika dari gendongan Adam.
Adam dan Soni tertunduk tak berani menatap wajah pak Zidane.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua menjadikan Cantika bahan rebutan?" Tanya pak Zidane sambil menenangkan Cantika.
"Kami hanya ingin menenangkan Cantika, Pah." Jawab Adam.
"Tidak Tuan, tadi Tuan Adam yang merampas Cantika saat Cantika sedang pulas tertidur." Sonia langsung menepis jawaban Adam.
"Jangan memanggil Tuan lagi Sonia. Kamu itu sudah ku anggap sebagai anak ku. Jadi panggil saya Papa. Dan jangan lagi kau memanggil Adam, Tuan, dia itu suami mu jadi panggil lah mas atau kak atau apa asal jangan Tuan!" Omel pak Zidane.
"Iya Tu- eh.. Pah.." kat Sonia.
"Dan kau Adam, kenapa kau merampas Cantika dari Sonia?" Tanya pak Zidane pada Adam penuh penekanan.
"Adam tidak merampas Pah, Adam hanya mau memindahkan Cantika di kamar Adam." Jawab Adam.
Pak Zidane menghela nafasnya panjang sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalian berdua ini sudah menjadi orangtua saja masih saja seperti anak kecil!!! Mau sampai kapan kalian akan seperti ini?!" Omel pak Zidane.
"Yudi. Pindahkan box bayi Cantika, dan keluarkan sofa itu dari kamar ini!!!" Perintah pak Zidane pada salah satu pasukan berjas hitam nya.
"Baik Tuan." Dan langsung mengerjakan apa yang pak Zidane perintahkan.
"Gak bisa gitu dong Pah. Adam butuh waktu." Protes Adam.
"Apa waktu enam bulan belum cukup untuk mu? Mau butuh waktu berapa lama lagi? Tunggu Cantika besar dan tau tentang perang dingin kalian?" Ucap pak Zidane.
"Papa gak mau tau, pokoknya kalian berdua harus belajar menjadi suami-istri yang normal agar bisa memberikan adik untuk Cantika. Papa ingin punya banyak cucu dari kalian!!" Kata pak Zidane lagi.
"Pah." Kata Adam dan Sonia kompak dengan mulut yang ternganga.
Tak ingin mendengar protesan dari Adam dan Sonia, pak Zidane pun menyerahkan Cantika ke tangan Sonia dan keluar dari dalam kamar Adam.
"Kalian awasi mereka berdua!! Jangan sampai mereka tidur terpisah lagi." Perintah pak Zidane pada salah satu pasukan berjas nya yang lain.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar ada Adam yang terus mengumpat setelah mertuanya itu pergi.
"Jangan mengumpat terus Tuan, nanti Cantika akan menyerap kata-kata itu, Tuan!" Omel Sonia.
"Tuan-Tuan-Tuan, kamu gak denger tadi Papa ngomel-ngomel gara-gara kamu manggil Tuan?! Masih aja di ulang!!" Adam balik mengomeli Sonia. Sepertinya Adam tak sadar mengomeli Sonia karena panggilan. Mungkin ia tak punya bahan untuk balik mengomeli Sonia.
Sonia tak menjawab, ia hanya memutar bola matanya malas.
✨✨✨
Setelah perdebatan panjang tentang dimana Sonia tidur, maka di putuskan lah mereka bertiga akan tidur seranjang, Adam di sisi kanan, Cantika di tengah dan Sonia di sisi kiri.
Padahal pak Zidane sengaja memindahkan box bayi Cantika dan mengeluarkan sofa agar Adam dan Sonia bisa tidur seranjang. Tapi bukan Adam dan Sonia namanya kalau mereka tidak punya akal untuk tidak tidur seranjang.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh, biasanya jam segini Cantika terbangun karena ingin meminta susu. Tapi kali ini tidur Cantika lelap sekali, sepanjang malam hanya satu kali terbangun untuk meminta susu. Dan karena Cantika sudah terbiasa bangun di jam empat subuh, refleks otak Adam pun memberikan alarm pada Adam untuk bangun.
Adam mengerjapkan matanya, ia menengok kesebelahnya untuk melihat keadaan Cantika terlebih dahulu. Kalau masih tidur, maka Adam pun akan tidur kembali, tapi kalau sudah bangun maka Adam pun harus bangun untuk memanaskan ASI perah.
Betapa terkejutnya Adam begitu menengok ke sebelahnya, karena posisi Cantika saat ini sedang mengompeng pada kompeng kenyal Sonia meski kompeng kenyal itu masih terbungkus saringan susu. Sedangkan Sonia masih asyik terlelap, sepertinya Sonia tidak sadar kalau Cantika membuka pakaiannya sebatas dada dan mengompeng pada kompeng kenyal yang masih terbungkus saringan susu itu.
"Astaga Cantika.." lirih Adam pelan. Adam pun bermaksud menjauhkan mulut Cantika dari saringan susu itu. Tapi baru saja tangan Adam memegang Cantika, bayi cantik itu sudah merengek.
Dan rengekan Cantika itu refleks membangunkan Sonia.
"Aaakh... sedang apa kamu mas?!" Bentak Sonia sambil mendorong Adam kasar lalu menutup kembali pakaiannya.
Bagaimana Sonia tidak kaget dan membentak Adam karena posisi Adam sukses membuat Sonia salah paham, Sonia pikir Adam hendak berbuat ca8ul padanya.
Mendengar Sonia membentak, Cantika pun menangis.
"Ush.. ush.. ush.. Cantika kaget yah? Maafin Bunda yah sayang." Ucap Sonia menenangkan Cantika.
"Gara-gara kamu ini mas!!!" Kata Sonia menggeram.
"Dasar mesum!!" Katanya lagi.
Mata Adam membelalak mendengar Sonia menyebutnya mesum. Ingin membalas membentak Sonia, tapi ada Cantika di tengah-tengah mereka, jadi Adam pun terpaksa hanya memendam kekesalannya pada Sonia.
"Awas kau, akan kutunjukkan pada mu bagaimana itu mesum!!" Geram Adam dalam hati.
Adam pun membalikkan tubuhnya membelakangi Cantika dan Sonia dan berniat kembali tidur, tapi begitu Adam menutup mata, bentuk kompeng kenyal Sonia yang menyembul dari dalam bungkusan saringan susu melekat jelas dalam ingatan Adam. Dan itu berhasil membuat botol jin plastik berubah menjadi botol jin kaca.
__ADS_1
"Shiiit!!!" Umpat Adam. Adam pun langsung turun dari atas ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengelus, menggosok botol jin agar mengeluarkan bibit jin iprit. Efek puasa panjang selama enam bulan, begitu melihat kompeng kenyal meski masih terbungkus botol jin langsung meronta-ronta. Kasihan bibit jin iprit, sudah ada tempat landing terbaik, tapi Adam masih kekeh ingin membuang mereka ke dalam kloset.
BERSAMBUNG...