
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya nama Karen pun di panggil.
"Selamat siang dok." Sapa Karen pada dokter spesialis penyakit dalam langganannya.
"Selamat siang Nona Karen." Balas sang dokter.
"Ini..." Pak dokter menunjuk Adam yang ada di sebelah Karen.
"Ini suami saya dok." Jawab Karen.
"Oh.." Pak dokter hanya ber Oh ria.
"Kak, kenalin ini dokter Robert. Dokter yang nanganin penyakit aku." Karen memperkenalkan dokter paruh baya itu pada Adam.
Adam pun menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan dokter Robert.
"Adam. Senang berkenalan dengan dokter." Ucap Adam.
"Saya juga senang berkenalan dengan anda." Ucap pak dokter sambil menyambut uluran tangan Adam.
"Kok saya gak dapet undangannya Nona Karen? Padahal kalau di undang, saya pasti dateng dan bawa kado spesial untuk Nona Karen dan suami." Tanya pak dokter basa-basi.
"Iya dok maaf. Soalnya cuma keluarga aja yang di undang." Jawab Karen.
"Tapi kalau mau ngasih kado sekarang juga gak pa-pa kok dok. Rekening saya siap sedia menampung." Kata Karen lagi sambil cengengesan.
"Kalau sekarang sih cuma doa aja lah yang bisa saya kirim." Balas pak dokter.
"Jadi apa keluhan Nona Karen sekarang?" Tanya pak dokter setelah selesai basa-basi.
"Dia muntah-muntah tadi dok." Malah Adam yang menjawab.
"Selain muntah, apa ada keluhan lain?" Tanya dokter lagi.
"Gak ada sih dok, cuma agak lemes aja." Kali ini Karen yang menjawab.
"Mulai kapan?"
"Kurang lebih seminggu lah dok."
"Kita cek kekentalan darah dulu yah." Kata dokter.
Dokter pun menyuruh asistennya untuk mengambil darah Karen agar di periksa kekentalan darahnya.
Sambil menunggu hasil darah Karen keluar, dokter melakukan pemeriksaan yang lain pada Karen.
"Semuanya bagus. Gak ada yang salah." Ucap pak dokter setelah melakukan pemeriksaan pada Karen.
"Terus kalau semuanya bagus, kenapa istri saya muntah-muntah dok? Udah mau seminggu lagi." Tanya Adam.
Dokter Robert menghela nafasnya. Dia mencurigai sesuatu.
"Coba kalian pergi ke bagian obgyn dan periksa disana." Jawab pak dokter.
"Bagian obgyn itu meriksa apa yah?" Tanya Adam yang tidak tau.
"Meriksa ibu hamil kak." Jawab Karen. Meski masih bocah, tapi Karen tau hal itu.
Mata Adam membulat saat mendengar jawaban Karen.
"Ma-maksud dokter, istri saya hamil gitu?" Tanya Adam terkejut.
"Menurut saya begitu. Tapi untuk lebih meyakinkan, lebih baik di periksakan ke bagian obgyn." Jawab pak dokter.
Adam diam, ia masih shock dengan diagnosa. Separuh hatinya senang tapi separuhnya lagi kecewa. Kecewa karena dirinya belum siap menjadi ayah dan masih ingin menikmati waktu berduaan dengan Karen.
__ADS_1
Berbeda dengan Adam yang sedang shock, Karen malah sedang kesenangan mendengar diagnosa dokter Robert.
"Ini rujukan dari saya untuk dokter obgyn. Jadi sekarang Nona Karen dan suami bisa langsung periksa bagian obgyn." Kata pak dokter lagi.
Karen pun mengambil sepucuk surat rujukan yang di tulis dokter Robert untuk dokter obgyn.
"Makasih dok." Ucap Karen.
"Kak." Karen menyenggol lengan Adam kerena melihat suaminya itu malah bengong.
"Ah.. iya. Kenapa?" Tanya Adam gelagapan.
"Kakak kenapa sih?" Tanya Karen bingung dengan reaksi Adam.
"Akh.. gak pa-pa kok." Jawab Adam mencoba menyembunyikan perasaan nano-nano nya.
"Mungkin suami Nona Karen shock karena bahagia dengan diagnosa saya." Timpal pak dokter.
"Iya kak?" Tanya Karen pada Adam.
Adam hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum tiga jari.
"Mudah-mudahan emang bener aku hamil yah kak." Ucap Karen lagi.
Lagi-lagi Adam hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tiga jarinya.
"Tapi dok, apa gak berbahaya pengidap penyakit autoimun seperti istri saya hamil?" Tanya Adam.
Mood bahagia Karen yang tadi sedang tinggi-tingginya, langsung terjun bebas seketika kala suaminya itu mengingatkan tentang penyakitnya.
"Asal rutin melakukan pemeriksaan, dan meminum semua obat yang di resepkan dokter kandungan, semuanya aman kok pak. Jadi bapak tenang saja." Jawab pak dokter.
Tapi sayangnya jawaban dokter tidak berhasil mengembalikan mood Karen yang terlanjur rusak karena pertanyaan suaminya.
Setelah mendengar jawaban dokter, Adam pin menoleh ke arah Karen.
"Kak Adam jahat!!! Kenapa sih harus ngingetin soal penyakit aku!! Padahal aku gak sendiri gak inget sama penyakit aku." Jawab Karen.
"Namanya juga aku khawatir sayang. Udah dong jangan cemberut. Lagian kata pak dokter kan gak pa-pa." Adam berusaha menenangkan Karen.
"Iya Nona, jangan cemberut terus. Kalau Nona Karen sekarang benar sedang hamil, kan kasihan baby nya di dalam sana. Baby di dalam sana bisa ngerasain loh apa yang ibunya rasakan. Jadi kalau mau baby nya di dalam sana tumbuh dengan baik, ibunya harus tetap happy dan jangan stress." Timpal pak dokter membantu Adam mengembalikan mood Karen.
"Gitu yah dok?"
Pak dokter menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Dan bujur rayu pak dokter pun berhasil mengembalikan mood Karen dan Karen pun kembali tersenyum lagi.
"Ya udah deh dok. Kami ke poli obgyn dulu yah." Pamit Karen sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo kak." Ajak Karen sambil menarik tangan Adam.
Adam pun berdiri dari tempat duduknya dan pamit pada dokter Robert.
Mereka pun berjalan menuju poli obgyn.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Pemilik sepasang mata itu tak lain dan tak bukan adalah orang suruhan pak Zidane.
✨✨✨
Kini Karen dan Adam sudah berada di ruangan dokter kandungan.
Dengan sepucuk surat rujukan yang Karen bawa dari dokter Robert, dokter kandungan kandungan yang berjenis kelamin perempuan itu pun melakukan pemeriksaan pada Karen.
Pemeriksaan yang pertama yang di lakukan adalah memeriksa air seni Karen dengan menggunakan testpack.
__ADS_1
Dan ternyata benar diagnosa dokter Robert kalau Karen memang hamil karena hasil testpack menunjukkan dua garis merah.
"Selamat yah Nona Karen, Nona Karen memang sedang hamil." Ucap bu dokter.
Mata Karen dan Adam pun sama-sama membelalak.
"Yang bener dok?" Tanya Karen untuk meyakinkan dirinya.
"Iya Nona." Jawab bu dokter.
"Untuk lebih jelas berapa bulannya, kita usg dulu yah." Kata bu dokter lagi.
Karen pun mengangguk semangat.
Tapi hal itu tidak berlaku dengan Adam. Pikiran dan hatinya makin kacau saja. Tapi ia tetap berusaha terlihat biasa saja untuk menjaga perasaan Karen yang sedang senang itu.
"Mari Nona, naik ke ranjang." Kata bu dokter sambil berdiri dari tempat duduknya dan disusul Karen yang juga berdiri dari tempat duduknya.
Karen pun naik ke atas ranjang periksa lalu membaringkan tubuhnya disana.
Setelah Karen berbaring, perawat pun membuka pakaian Karen sebatas perut, lalu menuangkan gel diatas perut Karen itu, setelah itu baru lah bu dokter meletakkan alat usg diatas perut Karen yang sudah di tuangkan gel.
"Gimana dok? Udah berapa bulan?" Tanya Karen bersemangat.
"Kalau di lihat dari bentuk janinnya, umurnya sudah empat minggu." Jawab bu dokter.
"Empat minggu? Berarti delapan bulan lagi anak saya lahir dong dok?" Tanya Karen.
"Kalau semuanya sehat, iya Nona. Makanya Nona Karen harus rutin periksa karena Nona Karen kan punya riwayat penyakit autoimun, jadi tidak bisa bolong pemeriksaannya. Kalau ibu hamil pada umumnya periksa sebulan sekali kalau Nona Karen sebulan minimal dua kali, selama tiga bulan pertama kehamilan. Karena kami harus terus mengecek kekentalan darah Nona Karen." Jawab bu dokter.
"Siap dok. Jangan kan sebulan dua kali. Seminggu dua kali pun saya sanggup kok dok, asal saya dan anak saya sehat." Jawab Karen. Meski masih bocah, tapi naluri keibuan Karen sudah sangat terlihat. Terbukti dengan dirinya yang sanggup melakukan apapun demi sang anak.
"Kak, sini dong. Kakak gak mau lihat anak kita? Anak kita tuh lucu tau kak." Panggil Karen karena Adam enggan beranjak dari tempat duduknya.
Mau tak mau Adam pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Karen dan berdiri disamping Karen.
"Lihat tuh anak kita, lucu kan?" Ucap Karen sambil menunjuk layar monitor yang ada di depannya. Padahal Karen sendiri tidak tau yang mana bentuk janinnya.
Adam pun melihat ke arah layar monitor yang ditunjuk Karen.
"Apanya yang lucu, orang gak ada apa-apa kok " gumam Adam dalam hati saat melihat gambar yang ada di layar monitor. Tapi kata-kata itu cukup Adam katakan dalam hati.
"Iya lucu." Begitulah jawaban yang keluar dari mulut Adam sambil menyengir sedikit.
"Hai sayang, kenalin ini mama dan ini papa kamu. Dedek di dalam sana dulu yah sampe sembilan bulan, nanti kalau udah sembilan bulan baru dedek boleh keluar. Sehat-sehat yah dek." Karen menyapa janin yang masih sangat kecil itu.
"Kak, ucapin sesuatu dong untuk anak kita." Kata Karen pada Adam.
"Nanti aja lah di rumah sayang." Tolak Adam halus. Ia tidak mau mengikuti gaya Karen yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
"Bener yah."
"Iya." Jawab Adam sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah itu bu dokter pun memprint hasil usg Karen, lalu memberikannya pada Karen. Dan sebelum Karen turun dari atas ranjang, tak lupa perawat membersihkan gel yang ada di perut Karen.
Mereka pun kembali duduk di kursi.
Bu dokter pun memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan selama kehamilan trimester pertama ini. Termasuk dalam hal berhubungan intim. Bu dokter memberi peringatan keras pada Adam untuk tidak sering-sering melakukan hubungan intim dan harus menggunakan pengaman saat berhubungan intim.
Adam hanya mengangguk saja menyanggupi peringatan dari bu dokter.
Setelah panjang lebar memberi penjelasan, bu dokter pun memberikan resep obat dan vitamin untuk Karen. Bu dokter mengganti obat autoimun yang biasa Karen minum dengan obat autoimun khusus untuk ibu hamil.
Setelah resep di tangan, Karen dan Adam pun keluar dari dalam ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...