
Kini Adam sudah sampai di depan ruang NICU, ruangan yang di kelilingi dinding kaca agar para orangtua bisa melihat kondisi anak mereka yang ada di ruangan itu dari luar karena kalau mau masuk ke ruangan itu, harus di sterilkan terlebih dahulu.
Dari depan ruangan kaca itu, Adam bisa melihat jelas Sonia yang sedang duduk di samping inkubator Cantika. Adam juga melihat jelas Sonia yang sedang menangis sambil menaruh jari telunjuk nya untuk Cantika genggam. Tak bisa Adam pungkiri Sonia terlihat begitu tulus menyayangi Cantika.
Adam sengaja tidak masuk untuk bergantian dengan Sonia, ia hanya melihat dari luar ruangan kaca itu sambil memasukkan lengannya di saku celana.
Saat tangannya masuk di kantong celana, ia merasakan seperti ada sebuah amplop di dalam sakunya. Adam masih belum sadar kalau itu adalah surat wasiat dari Karen untuknya.
Adam pun mengambil amplop itu dan terlihat lah ada tulisan untuk Kak Adam Suami Ku Tercinta. Dan saat itu lah Adam baru sadar kalau itu surat wasiat dari Karen.
Karena sudah membaca tulisan yang ada pada amplop, Adam pun menjadi penasaran dengan isi yang ada di dalam amplop. Karena rasa penasaran yang membara, Adam pun duduk di bangku yang ada di depan ruang kaca itu.
Ia merobek ujung amplop dan mengeluarkan surat yang ada di dalam amplop, lalu membaca tulisan yang Karen tulis untuknya itu.
Hai Kak....
Baca surat ini gak boleh nangis yah.
Baru membaca dua baris yang Karen tulis saja, airmata Adam sudah langsung menetes.
Pasti kakak kangen yah sama Karen? Karen juga kak, Karen kangen di kepangin rambutnya sama kakak.
Maaf yah kak, kalau Karen pergi ninggalin kakak. Karen sayang sama kakak, tapi Karen gak mau seumur hidup kakak hanya untuk mengurus hidup Karen yang penyakitan ini. Karen udah nyusahin papa dari Karen masih bayi, dan Karen gak mau nyusahin kakak lagi. Kakak masih muda, masih panjang perjalanan kakak di depan. Aku gak mau kalau aku terus di sisi kakak, akan menghambat kakak menggapai impian kakak yang ingin membahagiakan ibu dan bapak.
__ADS_1
Maaf juga kalau aku gak kasih tau kakak tentang masalah kandungan aku. Alasan aku tidak memberitahu kakak, karena aku tau pasti kakak akan mengorbankan buah cinta kita demi menyelamatkan nyawa aku. Tapi kak, asal kakak tau, kalau saat itu janin aku di angkat, rahim ku pun harus di angkat dan itu berarti aku tidak bisa memberikan keturunan lagi untuk kakak. Dan kakak perlu tau juga, kemungkinan hidup ku setelah operasi hanya 50%. Jadi setelah aku pikir-pikir, ternyata sama saja, mau mempertahankan anak ini atau tidak, nyawa aku dalam bahaya, yah.. walaupun kesempatan hidup lebih banyak jika aku mengorbankan janin ku dan rahim ku. Maka dari itu aku memilih untuk mempertahankan Cantika, apapun resiko nya.
Kak, kalau Cantika bertahan hidup, tolong berikan Cantika kebahagiaan dan kasih sayang yang sempurna yah. Kasih sayang dari seorang ayah dan seorang ibu, kasih sayang yang gak pernah aku dapatkan dari bayi. Dan aku memilih Sonia adalah orang yang tepat untuk menjadi ibu sambung Cantika.
Aku tau gak akan mudah bagi kakak untuk membuka hati kakak menerima Sonia, mungkin Sonia juga begitu, karena aku tau dari awal Sonia tidak ingin menikah dan hanya ingin membahagiakan keluarganya. Tapi percayalah disaat kakak membuka hati kakak untuk Sonia, kakak akan menemukan sesuatu dalam diri Sonia yang tidak kakak dapatkan dari aku.
Dan jika Cantika lebih memilih ikut bersama ku, aku harap kakak juga bisa menikah dengan Sonia, tapi kalau kakak punya wanita lain yang kakak pilih sendiri, aku doakan pernikahan kakak dengan wanita itu bisa langgeng sampai kakek nenek.
Jaga kesehatan yah kak, I Love You.
Isak tangis pun tak bisa lagi Adam bendung setelah membaca surat cinta terakhir dari Karen.
Dan tangisan Adam itu terlihat dengan mata kepala Sonia dari dalam ruang kaca. Sonia yang tadi nya ingin keluar dari dalam ruangan itu, langsung mengurungkan niatnya dan malah berdiri sambil terus memperhatikan Adam yang sedang membaca sebuah surat yang Sonia yakini adalah surat dari Karen.
FLASHBACK ON.
Setelah menerima surat wasiat dari Karen. Sonia langsung bergegas ke rumah sakit untuk pergi ke bank ASI dan membawa ASI itu ke rumah sakit, karena stok ASI Cantika sudah mau habis.
Setelah urusan ASI Cantika selesai, Sonia tidak langsung pulang, melainkan ia duduk dulu di depan ruang rawat Cantika untuk membaca surat dari Karen.
Sonia pun membuka amplop itu dan mengeluarkan surat yang ada di dalamnya dan mulai membaca isi surat itu.
Hai Kak Sonia...
__ADS_1
Saat surat ini ada di tangan kakak, itu berarti aku udah gak ada lagi di tengah-tengah kalian.
Tapi aku gak tau apa Princess Cantika bisa bertahan atau malah pergi bersama ku. Kalau Cantika tetap bertahan, berarti dia anak yang pintar dan penurut. Karena saat dalam kandungan, aku selalu bilang sama Cantika, kalau aku pergi Cantika harus jadi anak yang kuat, dan aku juga berjanji pada Cantika akan memberikan mama yang terbaik untuk dirinya. Dan mama yang terbaik untuk Cantika itu adalah kamu Kak Sonia.
Menikah lah dengan Kak Adam, jadi lah pengganti ku, dan bantulah Kak Adam menggapai mimpi-mimpinya. Dan berikan lah kasih sayang yang sempurna untuk Cantika. Kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah aku dapatkan dari aku lahir.
Aku tau kak, kakak gak mau menikah karena kakak hanya ingin mengabdi untuk keluarga kami dan keluarga kakak, tapi bukan kah menjadi mama Cantika dan memenuhi permintaan ku juga sebagai bentuk pengabdian Kak Sonia untuk keluarga ku?
Kak, meski Kak Adam lebih muda dari kakak, tapi percaya lah kak Adam itu orangnya dewasa dan mengayomi kok, yah walaupun kadang sle•ngek'an. Dan aku yakin kalian pasti gampang cocok kalau kalian berdua sama-sama mau membuka hati kalian.
Tolong di pikirkan lagi permintaan ku ini yah kak, demi Princess Cantika.
Salam sayang, Karen.
Setelah membaca surat itu Sonia pun menangis, lalu berdiri dari tempat duduknya dan meminta perawat untuk mensterilkan tubuhnya karena ia ingin melihat Cantika dari dekat. Ia ingin menimbang-nimbang permintaan Karen dengan melihat wajah Cantika.
FLASHBACK OFF.
Melihat Adam berhenti sesunggukkan, Adam pun berdiri dari tempat duduknya, ia ingin masuk ke dalam ruang intensif anaknya. Melihat Adam berdiri dan hendak masuk, Sonia pun berinisiatif keluar. Tapi saat dirinya berpapasan dengan Adam, langkah kakinya terhenti karena ucapan Adam.
"Tunggu aku. Ada yang harus kita bicarakan." Ucap Adam.
Sonia hanya menjawab dengan anggukan. Sedangkan Adam, ia meneruskan langkah kakinya untuk di sterilkan oleh perawat sebelum masuk ke tempat dimana inkubator anaknya berada.
__ADS_1
BERSAMBUNG...