
Setelah keluar dari kamar mandi, Lucky mendudukkan Ayu di sofa.
"Tunggu sini yah." Ucap Lucky.
Ayu pun mengangguk.
Lucky pun keluar dari dalam kamarnya dan turun kebawah mencari keberadaan sang mama.
"Mbak, mama mana?" Tanya Lucky pada si asisten rumah tangga saat berpapasan di dapur.
"Di halaman belakang pak, lagi mandangin bunga-bunganya sambil minum teh." Jawab si asisten rumah tangga.
Lucky pun berjalan ke halaman belakang.
"Mah.." panggil Lucky setelah ia melihat sang mama sedang duduk santai di bangku taman.
Mama Tyas pun menoleh.
"Kenapa? Muka kamu kok gak enak banget."
"Mama ngapain di sini mandangin bunga? Udah kayak Rosalinda aja."
"Suka-suka mama lah. Kan itu gunanya mama nanam bunga, untuk di pandang kecantikannya." Jawab mama Tyas tidak suka.
"Masa sih? Menurut Lucky bunga-bunga ini gak cantik. Karena di mata Lucky mama lah yang paling cantik." Gombal Lucky.
Jelas saja gombalan Lucky membuat mama Tyas berbunga-bunga. Tapi baru saja merasa berbunga-bunga, raut wajah mama Tyas berubah kecut seperti sedang memakan sonboi saat Lucky meneruskan ucapannya.
"Tapi pada masa nya. Kalau sekarang baby Kya yang paling cantik di mata Lucky." Lanjut Lucky.
"Hish..!!" Mama Tyas memutar bola matanya malas.
"Kamu mau ngapain sih kesini? Mau gangguin mama?" Tanya mama Tyas ketus.
"Mama punya stok obat pencahar gak?"
"Obat pencahar yang di minum apa yang di masukin ke an•us?" Tanya mama Tyas.
"Yang mana aja."
"Kalau yang diminum mama gak punya, kalau yang di masukin ke an•us ada."
"Ya udah, yang itu aja. Mama taro dimana?"
"Buat siapa obatnya Ky?"
"Buat Ayu mah, fesesnya keras. Mau ngedan takut, takut robek jahitannya katanya." Jawab Lucky.
"Oh. Ya udah tanya si mbak aja dimana di simpan obat pencaharnya." Balas mama Tyas.
Lucky pun meninggalkan mama Tyas di halaman belakang, dan berjalan menuju dapur untuk mencari si mbak.
Setelah mendapat obat pencahar, Lucky kembali naik ke atas.
Ceklek. Lucky membuka pintu kamarnya dan berjalan menghampiri Ayu yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Ayo, biar aku pakein ini." Lucky menarik tangan Ayu menuju tempat tidur.
Lucky pun menyuruh Ayu berbaring tengkurap, setelah Ayu berbaring tengkurap, Lucky membuka terpal penutup lubang BuAyu. Lalu memasukkan tube obat pencahar ke dalam an•us Ayu.
"Tahan Yu kayak nahan mau buang air besar, biar gel nya gak keluar." Perintah Lucky saat dirinya selesai memasukkan gel ke dalam lubang tinja Ayu.
"Nunggu nya berapa lama mas baru bisa bo•ker?" Tanya Ayu.
"Sampe kamu ngerasa mules lah. Tungguin aja. Kalau gak mempan nanti aku minta dokter resepin obat." Jawab Lucky.
"Aku mandi dulu yah." Ucap Lucky.
Lucky pun berjalan kemar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Rencananya ia ingin berendam air hangat dengan menggunakan aroma therapy karena ia seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal.
Lima menit..
Sepuluh menit..
Lima belas menit..
Dua puluh menit..
Setelah dua puluh menit menunggu akhirnya rasa mulas pun datang.
Cepat-cepat Ayu berjalan menuju kamar mandi.
Ceklek. Ayu langsung membuka pintu kamar mandi yang sengaja tidak di kunci Lucky.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Lucky pun menoleh.
"Mules." Jawab Ayu sambil membuka penutup closet.
Ia pun langsung mendudukkan bokongnya di closet.
Lucky pun keluar dari dalam bathtub dan menghampiri Ayu yang sedang berusaha membuang tinja nya.
Pyiiuuut...
Brrrooot....
Brebekbrebek..
Begitu lah sound pengiring pelepasan tinja.
"Ngapain berdiri disitu mas? Sana pergi!!! Bau tau gak!!" Usir Ayu.
"Gak keras lagi kan?" Bukannya pergi, Lucky malah berjongkok untuk melihat wajah Ayu.
Ayu menggelengkan kepalanya.
"Mas mendingan pergi deh.." Usir Ayu lagi.
Lucky tetap diam di tempatnya.
Dan...
__ADS_1
Prooot... bunyi sound pengiring pelepasan satu batang emas.
Plug.. satu batang emas itu pun terjun bebas di dalam closet.
Wajah Ayu memerah karena malu suaminya mendengar bunyi pengiring pelepasan batang emas nya.
Sangking malunya, Ayu menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
"Kenapa kok di tutup mukanya? Aku udah biasa Yu denger yang begituan. Gak usah malu akh." Ucap Lucky sambil menarik tangan Ayu.
"Sana akh mas. Nanti e•ek nya masuk lagi kalau kamu masih disini." Ucap Ayu sambil menahan tangannya yang menutupi wajah.
"Ya udah." Jawab Lucky. Lucky pun berdiri dari hadapan Ayu menuju shower untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Ayu kembali melanjutkan ritual pelepasan emas batangan.
Tak sampai sepuluh menit, Lucky pun keluar dari dalam kamar mandi. Setelah suaminya keluar dari dalam kamar mandi, Ayu pun menyusul sang suami keluar dari dalam kamar mandi.
Saat hendak berjalan menuju ruang ganti untuk membantu suaminya mengambil pakaian ganti, Ayu berhenti sebentar di depan box bayi baby Kya untuk memastikan baby Kya masih terlelap tidur.
Setelah melihat baby Kya baru lah Ayu berjalan ke ruang ganti.
"Sini aku aja yang ambilin. Nanti kamu asal tarik lagi bajunya." Cepat-cepat Ayu berjalan ke lemari.
"Mau pake yang mana?" Tanya Ayu.
"Yang itu aja. Sama celananya yang itu." Jawab Lucky.
Ayu pun mengambil pakaian yang di tunjuk suaminya. Lalu memberikannya pada sang suami. Setelah pakaian luar, Ayu beralih mencari pakaian dalam suaminya.
"Ini mas." Ayu menyerahkan semua pakaian yang ia sudah ambil kepada suaminya.
Lucky mengambil pakaian dari tangan Ayu dan mulai memakai pakaian dalamnya.
Melihat Lucky memakai pakaian dalamnya. Ayu menelan saliva nya susah payah. Sudah seminggu ia tak merasakan ulekkan rudal sang suami.
Setan mesum yang merasuki tubuh Ayu tak tahan hanya sekedar melihat penampakan cerutu basah milik Lucky yang gondal-gandul.
Ayu berjalan mendekati Lucky dan memeluk suaminya dari belakang.
Sontak tubuh Lucky menegang mendapat sentuhan dari tangan lentik Ayu. Apalagi jari lentik Ayu sudah merambat ke dada Lucky.
Dan ulah Ayu itu berhasil membuat cerutu basah berubah menjadi rudal yang kekar dan gagah perkasa.
"Ayu, stop. Kita belum boleh main suntik-suntikkan." Lucky menahan tangan Ayu saat tangan itu hendak turun ke semak belukar tempat rudal berdiri kokoh.
"Tapi aku mau nyenengin kamu mas. Emangnya rudal kamu gak begah apa, udah seminggu gak ganti oli." Jawab Ayu.
"Aku bisa kerjain sendiri sayang. Pokoknya kamu fokus aja sama pemulihan. Kalau pun aku butuh bantuan kamu, pasti aku bilang nanti." Lucky masih bertahan dengan prinsipnya yang tak ingin menyusahkan Ayu mengganti oli rudalnya.
"Yakin puas kalau ngerjain sendiri? Memangnya kamu gak kangen mas sama sentuhan aku?" Tanya Ayu genit sambil mengusel-usel kue Yucurnya di punggung Lucky.
Jelas saja aksi Ayu itu membuat rudal Lucky makin berdenyut. Nafas Lucky sudah memburu hebat sangking menahan hasrat yang sudah di ubun-ubun.
Susah payah Lucky menahan hasrat, hasil nya sia-sia. Rudalnya sudah tidak tahan ingin segera gantikan oli oleh montir Ayu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...