
Saat sudah sampai di ruang keluarga, mata pak Zidane membelalak sempurna saat melihat apa yang sedang Adam lakukan pada putrinya.
"Apa yang sedang kau lakukan pada putri ku!!!" Teriak pak Zidane dengan segenap emosi di jiwa.
Mendengar teriakan pak Zidane, sontak Adam kaget sampai terjatuh ke lantai. Sedangkan Karen cepat-cepat menutup kembali bajunya.
Pak Zidane yang sudah sangat emosi pun menghampiri Adam, tangannya sudah mengepal siap untuk memberi bogem mentah pada Adam.
Melihat papanya sudah sangat emosi, cepat-cepat Karen berdiri menghalangi papanya yang hendak meninju Adam.
"Jangan pah, Karen mohon jangan sakitin kak Adam." Mohon Karen sambil terisak.
Melihat Karen memohon sambil menangis seperti ini, membuat pak Zidane luluh seketika. Kelemahan seorang ayah adalah saat melihat putri mereka menangis.
Pak Zidane pun mengendurkan kepalan tangannya lalu membuang nafasnya kasar.
"Karena kalian sudah menyalahi aturan, maka pernikahan kalian yang tiga bulan lagi itu papa batalkan." Ucap pak Zidane dengan nada berat.
Sontak mata Karen membulat mendengar papanya membatalkan pernikahannya dengan Adam. Bukan hanya Karen, mata Adam juga membulat mendengar pak Zidane membatalkan pernikahannya dengan Karen. Di pikiran Adam, kalau pak Zidane membatalkan pernikahannya dengan Karen, maka dirinya juga pasti akan di pecat dari tempat kerja.
"Kalian akan menikah tiga hari!!!" Ucap pak Zidane lagi.
"Apa???!!!!" Teriak Karen dan Adam bersamaan, mereka berdua kaget karena ternyata pak Zidane membatalkan pernikahan tiga bulan itu karena ingin memajukan pernikahan menjadi tiga hari.
"Papa serius? Kok tiga hari?" Tanya Karen.
"Papa gak bisa ngebiarin kalian pacaran tiga bulan. Baru begini aja, Adam sudah minta DP. Jangan-jangan kalau kalian di biarin pacaran tiga bulan, nanti pas resepsi perut kamu udah buncit di bikin laki-laki ini." Jawab pak Zidane.
Adam dan Karen terdiam dan tertunduk. Tak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari mulut keduanya. Bagi mereka masih syukur pak Zidane mempercepat pernikahan mereka daripada pak Zidane benar-benar membatalkan pernikahan mereka dan Adam di pecat dari pekerjaan.
"Sekarang kamu pulang dan istirahat, besok pagi kita pergi ke kota B." Ucap pak Zidane pada Adam.
"Baik pak." Jawab Adam masih dalam keadaan tertunduk.
"Aku pulang dulu yah Ren." Pamit Adam di telinga Karen sebelum ia beranjak dari hadapan Karen dan pak Zidane.
"Pak Zidane saya pulang dulu. Saya minta maaf atas yang saya lakukan barusan, saya benar-benar khilaf pak." Ucap Adam penuh penyesalan.
"Makanya sebelum khilaf kalian semakin dalam, lebih baik kalian segera saya nikahkan." Jawab pak Zidane.
"Iya pak, saya rasa juga sebaiknya begitu." Jawab Adam. Entah dia sedang menyesali perbuatannya atau sedang senang, kata-katanya terlalu ambigu di telinga pak Zidane.
"Sudah sana pulang. Dan besok jam enam pagi, kamu harus sudah ada disini."
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Adam pun keluar dari ruang keluarga.
Setelah Adam pergi, Karen pun ikut keluar dari ruang keluarga.
"Karen." Panggil pak Zidane karena Karen berlalu dari hadapannya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Karen pun menghentikan langkahnya.
"Selamat malam. Tidurlah yang nyenyak." Ucap pak Zidane.
Tanpa menjawab ucapan yang di berikan papanya, Karen kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya. Entah kenapa Karen begitu marah dengan sang papa. Bukan kah harusnya Karen bahagia karena pernikahannya di percepat. Dan lagi pula kalau ingin marah seharusnya pak Zidane lah yang marah bukan Karen.
✨✨✨
Waktu yang di nanti pun tiba, dimana Adam dan Karen mengucapkan janji suci mereka.
Karen begitu cantik menggunakan gaun putih sedangkan Adam begitu tampan menggunakan tuxedo hitamnya.
__ADS_1
Dan begitu kata SAH di ucapkan, Karen pun diminta untuk mencium Adam yang kini telah menjadi suaminya. Karen pun mencium tangan Adam tanda dirinya menghormati Adam sebagai suami. Selesai Karen mencium tangan Adam, gantian kini Adam yang diminta untuk mencium Karen sebagai tanda Adam menyayangi istrinya segenap hati dan jiwanya. Adam pun mencium kening Karen.
"Siap-siap." Bisik Adam ditelinga Karen setelah ia mencium kening Karen.
Karen melipat bibirnya menahan tawa karena bisikan Adam. Entah ia mengerti maksud kata-kata Adam atau tidak tapi karena suara Adam begitu seksi di telinga Karen membuat Karen jadi salah tingkah.
Jika biasanya acara resepsi menunggu malam hari, kalau acara resepsi Adam dan Karen langsung di selenggarakan begitu pengucapan janji suci selesai. Acara resepsi di adakan di ruangan terbuka karena menggunakan konsep garden party.
Tamu yang datang kebanyakan dari keluarga mama Karen, sedangkan dari keluarga pak Zidane hanya beberapa dan bisa di hitung dengan jari. Kolega pak Zidane juga tidak terlalu banyak yang datang karena pak Zidane juga hanya mengundang beberapa kolega bisnisnya.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, acara resepsi pun juga sudah berakhir. Selesai resepsi, Adam dan Karen pun diantar supir pak Zidane menuju hotel tempat mereka menginap, hanya bedanya sekarang pak Zidane memberikan kamar suite room untuk kamar pengantin Adam dan Karen.
Ceklek. Adam membuka pintu kamar suite room itu.
"Silahkan masuk istri ku." Ucap Adam mempersilahkan Karen masuk lebih dulu.
"Ikh kak Adam apaan sih." Balas Karen sambil menepuk dada Adam malu-malu.
Setelah Karen masuk, Adam pun masuk dan menutup pintu kamar.
Dan tanpa Karen sangka-sangka, Adam langsung menggendong Karen dari belakang.
"Aaaakh kak Adam!!" Teriak Karen kaget.
Adam tak memperdulikan teriakan Karen dan terus berjalan menuju ranjang eksekusi.
Setibanya di ranjang, Adam langsung membaringkan tubuh Karen perlahan lalu menindihnya.
"Kak.." lirih Karen. Jantungnya berdegup kencang saat Adam menindihnya, wajah mereka juga sudah sangat dekat.
"Kamu tuh cantik banget Ren, cantiknya kamu kayak kuota internet tau gak." Ucap Adam sambil mengelus pipi Karen yang masih menempel make up tebal.
"Kok kayak kuota internet?" Tanya Karen yang tak mengerti maksud gombalan Adam.
Blush. Wajah Karen memerah seketika mendapat gombalan receh dari Adam.
"Kamu mau mandi dulu atau mau langsung aku eksekusi?" Tanya Adam.
"Kak Adam mau eksekusi aku apa?" Tanya Karen polos.
Adam menghela nafasnya, ia lupa kalau istrinya itu masih polos.
"Mending kamu mandi dulu deh, nanti kalau aku udah eksekusi kamu, kamu gak bakalan bisa mandi." Ucap Adam sambil memindahkan tubuhnya dari atas tubuh Karen dan berbaring di sebelah Karen.
"Eksekusi apa sih kak?" Tanya Karen yang masih penasaran.
"Nanti kamu juga tau. Sekarang kamu mandi dulu sana, jangan buang-buang waktu." Perintah Adam.
Walau rasa penasaran masih menggerayangi hati dan pikiran Karen, tapi Karen tetap melakukan apa yang Adam perintahkan.
Karen pun berjalan menuju kamar mandi dengan gaun dan aksesoris yang masih menempel di tubuhnya. Tapi baru langkah kakinya sampai di depan pintu kamar mandi, Karen kembali memutar tubuhnya dan berjalan menuju ranjang menghampiri Adam yang sedang berbaring.
"Kak.." panggil Karen.
"Adam yang sedang memejamkan matanya langsung membuka matanya saat Karen memanggilnya.
"Kenapa?" Tanya Adam.
"Tolong bantuin lepasin aksesoris ini dong." Ucap Karen.
Adam pun mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang.
__ADS_1
"Sini." Adam menarik pinggang Karen dan mendudukkan Karen di sampingnya.
Kemudian membantu Karen membuka aksesoris yang menempel di tubuhnya.
Aksesoris yang menempel ditubuh Karen pun sudah berhasil Adam lepas.
"Makasih." Ucap Karen. Karen pun hendak berdiri dari tempat duduknya, tapi cepat-cepat Adam menahan tubuh Karen.
"Sini sekalian aku bukain sletting gaunnya."
"Eh.. gak usah kak, aku bisa sendiri kok." Tolak Karen malu.
"Udah biar aku aja. Gak usah malu, aku kan udah jadi suami kamu sekarang Ren. Lagian aku juga udah lihat bentuk kompeng kenyal kamu kok, udah ngompeng juga malah, masa kamu masih malu-malu sih."
Karen pun diam tak berkutik dan tak lagi melakukan penolakan, ia pasrah Adam membuka sletting gaunnya yang sebentar lagi Adam akan melihat pundak putihnya yang di tompel kecil di punggung bagian kiri Karen.
Sreeeeet. Adam menarik turun sletting gaun itu ke bawah.
Adam menelan salivanya kasar. Bukan karena melihat tompel kecil yang Karen miliki, melainkan karena melihat punggung Karen yang putih menggoda yang minta segera di jelajahi bibir Adam.
"Tahan Dam, tahan. Biarkan Karen membersihkan tubuhnya dulu." Gumam Adam dalam hati.
Tapi sayang, imannya tak sekuat prinsipnya, dan akhirnya bibir Adam pun mendarat mulus di pundak Karen.
Adam melu•mat lembut pundak Karen.
Mendapat lu•matan itu sontak tubuh Karen menggelinjang dan menegang.
"Kak..." lirih Karen.
Adam tak menghiraukan lirihan Karen dan tetap mengeksplor bagian belakang Karen mulai dari pundak sampai punggung Karen dengan bibir ahlinya. Tangannya pun perlahan ikut menurunkan gaun yang menempel ditubuh Karen.
Setelah gaun turun sebatas perut Karen, tangan Adam pun melakukan tugas selanjutnya yaitu membuka pengait kompeng kenyal Karen.
CLETAAK. Pengait pun terlepas.
Adam pun menarik penutup kompeng kenyal dan membuang penutup itu kemudian tangannya mulai memeras kompeng kenyal kembar milik Karen.
"Sshh..ah.." desau Karen menikmati permainan tangan dan bibir Adam.
Mendengar desauan Karen, Adam makin menggila. Bodo amat dengan Karen yang ingin membersihkan tubuhnya, toh juga sekarang Karen sedang menikmati kerja tangan dan bibirnya.
Sengatan yang Adam berikan dari belakang pun makin memanas, tak puas hanya menikmati tubuh istrinya dari belakang, dengan gerakan cepat Adam merubah posisi mereka.
Adam membaringkan tubuh Karen lagi lalu menurunkan semua gaun dari tubuh Karen. Dan sekarang terlihat lah keseluruhan tubuh Karen walaupun bagian bawah Karen masih di tutupi segitiga berenda berwarna merah muda.
Adam yang sudah haus akan kenikmatan tak langsung membuka segitiga berenda itu melainkan ia langsung melahap kompeng kenyal milik Karen dengan sangat rakusnya seperti kerasukan bayi yang kelaparan.
Tapi saat sedang panas-panasnya, sedang nikmat-nikmatnya menyedot kompeng kenyal yang belum berair itu, tiba-tiba ponsel Adam berbunyi dengan sangat nyaringnya.
"Kak.. ponsel mu bunyi." Ucap Karen sambil berusaha menarik kepala Adam yang sedang asyik menyusu.
"Biarin aja, nanti juga mati sendiri." Jawab Adam yang tak mau kesenangannya terjeda. Adam pun kembali melanjutkan aktifitas menyusunya dengan sangat rakus.
Nada dering panggilan masuk pun berakhir, tapi sayangnya hanya sebentar lalu kembali berdering dengan sangat kencangnya. Dan itu membuat mood Adam anjlok seketika.
"Shiiit!!!" Umpat Adam kesal. Terpaksa ia pun harus mengakhiri aktifitas menyusunya dan menumpukan tubuhnya pada kedua lututnya, kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
Sedangkan Karen langsung menutup dadanya dengan bantal.
"Siapa sih, ganggu aja!!!" Geram Adam sambil merogoh kantong celananya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...