Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 38


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Adam dan Sonia pun terpaksa menikah demi menjalankan amanah dari Karen, dan satu bulan setelah mereka menikah, Cantika pun juga sudah di perbolehkan pulang. Sama seperti pernikahan Adam dan Karen, pernikahan Adam dan Sonia juga tertutup bahkan lebih tertutup dari pernikahan Adam dan Karen.


Pernikahan Adam dan Sonia hanya lah diatas kertas saja, karena sampai detik ini mereka belum berhubungan suami-istri. Jangankan berhubungan suami-istri, tidur bersama pun mereka tidak. Kalau malam Cantika tidur bersama Adam di kamar Adam dan Karen dulu sedangkan kalau siang Cantika tidur bersama Sonia di kamar Cantika yang bersebelahan dengan kamar Adam-Karen. Adam tidak mengijinkan Sonia masuk ke kamar Adam-Karen, bahkan jika Cantika menangis tengah malam pun, Adam akan mengurus Cantika sendiri dan tidak mengijinkan Sonia masuk ke kamarnya dan Karen. Bahkan Sonia pun masih memanggil Adam dengan panggilan Tuan, karena Sonia merasa tidak pantas memanggil Adam dengan panggilan mas.


Sekarang umur Princess Cantika sudah jalan delapan bulan terhitung sejak dia di lahirkan kedunia. Sama seperti bayi delapan bulan pada umumnya, Cantika juga sudah bisa merangkak bahkan sudah mulai berpegangan di meja atau kursi untuk berdiri. Setiap bulan pun Adam membawa Cantika berziarah ke kota B tempat Karen di makamkan, dan jika Adam dan Cantika ke kota B, Sonia di larang ikut. Padahal kota B adalah kampung halaman Sonia juga.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, setelah selesai makan malam, papa Zidane meminta Adam untuk masuk ke ruang kerjanya karena ada hal yang ingin papa Zidane katakan pada Adam.


Dan disini lah mereka sekarang, diruang kerja pak Zidane.


"Mau sampai kapan kamu dan Sonia seperti ini? Sudah enam bulan kalian menikah tapi sikap mu pada Sonia masih seperti orang lain. Kamu juga belum melakukan kewajiban mu sebagai suami kan?" Tanya pak Zidane. Bukan maksud hati pak Zidane untuk mencampuri urusan rumah tangga Adam apalagi pak Zidane tau sikap acuh Adam itu karena Adam masih sangat mencintai Karen. Tapi melihat Adam yang sangat acuh pada Sonia, hati pak Zidane pun jadi tergerak untuk menegur Adam, apalagi pak Zidane sudah menganggap Sonia seperti anak kandungnya sendiri.


"Sudah kok pah, Adam tiap bulan ngasih uang bulanan ke Sonia." Jawab Adam dengan entengnya.


"Bukan kewajiban itu Dam, tapi kewajiban.. ekhem.." agak tabu untuk pak Zidane mengatakan kewajiban ranjang karena sudah lama pak Zidane tak merasakan kenikmatan bergulat di atas ranjang dengan lawan jenis.


"Kalau yang itu Adam belum bisa pah." Jawab Adam yang mengerti maksud perkataan pak Zidane.


"Tidak baik Dam kalau kamu terus menunda-nunda memberikan kewajiban mu."


"Lebih tidak baik mana kalau Adam melakukan itu hanya karena naVsu bukan karena cinta? Bukan kah itu sama saja Adam menganggap Sonia seperti seorang ja•lang?"


"Makanya buka hati mu Dam, Karen gak akan tenang disana kalau kamu seperti ini terus."


"Pah, yang penting kan Adam tidak memperlakukan Sonia dengan kasar. Kalau soal hati, Adam gak bisa menjanjikan apa-apa, Adam masih belum bisa memalingkan hati Adam dari Karen."


"Papa sangat berterimakasih pada mu karena sampai saat ini kamu masih mencintai anak papa. Tapi Sonia juga sudah papa anggap seperti anak papa sendiri. Kebahagiaan Sonia juga tanggung jawab papa. Kamu tidak perlu memalingkan hati mu dari Karen, cukup kamu masukkan Karen ke dalam ruang tersembunyi yang ada dalam hati mu yang tidak bisa di jangkau oleh siapapun, dan masukkan lah Sonia dalam sisi hati mu yang lain."


"Apa bisa satu hati terisi dua nama? Kalau memang bisa kenapa papa tidak melakukan itu dulu?"


"Masalahnya beda Dam, dulu almarhum mamanya Karen meninggal tanpa memberi pesan apa-apa pada papa, dan cara meninggalnya pun tidak baik, almarhum mama Karen meninggal karena depresi karena terus mendapat tekanan dan di pandang rendah oleh keluarga papa. Dan itu yang membuat papa sampai sekarang merasa bersalah pada almarhum mama Karen. Demi menghukum diri papa sendiri, papa berjanji pada almarhum mama Karen untuk tidak menikah lagi. Tapi ternyata hukuman yang papa buat sendiri itu, malah membuat Karen tumbuh dengan kasih sayang yang timpang, padahal papa sudah berusaha keras menjadi ayah sekaligus ibu untuk dirinya. Dan bodohnya, papa baru menyadari itu saat Karen sudah tidak ada." Ucap pak Zidane.

__ADS_1


"Papa gak mau kamu melakukan hal yang sama dengan Cantika. Meski kamu dan Sonia menikah dan kalian sama-sama mencurahkan kasih sayang kalian, tapi ingat Adam, Cantika akan tumbuh besar dan melihat jurang dalam yang kamu ciptakan untuk Sonia. Lalu apa artinya pernikahan kalian ini?" Ucap pak Zidane lagi.


"Buka lah hati mu Adam." Kata pak Zidane lagi dengan raut wajah memohon.


Adam terdiam memikirkan kata-kata pak Zidane.


"Adam bingung pah, bagaimana harus memulainya lagi." Jawab Adam setelah memikirkan kata-kata pak Zidane.


"Kenapa harus bingung? Sebelum kamu membuka hati, alangkah bagusnya kamu membuka pintu kamar mu terlebih dahulu, biarkan Sonia masuk ke dalam kamar yang seharusnya menjadi kamar kalian sejak enam bulan yang lalu. Kalau kamu belum bisa tidur dalam ranjang yang sama dengan Sonia setidaknya tidurlah dalam kamar yang sama." Kata pak Zidane.


Adam terdiam lagi dan memikirkan kata-kata pak Zidane lagi.


Melihat menantunya itu diam, pak Zidane pun berdiri dari tempat duduknya.


"Pikirkan lah baik-baik Adam." Kata pak Zidane sambil menepuk pundak Adam lalu keluar dari ruang kerjanya.


✨✨✨


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, sangking bingungnya memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil atas saran yang di berikan papa mertuanya, Adam sampai tidak ingat kalau jam segini biasanya Cantika sudah harus masuk ke kamarnya untuk tidur bersamanya.


Adam pun cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerja pak Zidane dan dengan setengah berlari naik kelantai atas menuju kamar Cantika.


Ceklek. Dengan sangat perlahan Adam membuka pintu kamar Cantika.


Begitu Adam membuka pintu kamar Cantika, terlihat lah pemandangan yang membuat hati Adam tersentuh. Karena saat ini Cantika tidur dalam pelukan Sonia dan Sonia sendiri dalam posisi duduk bersandar di kepala ranjang.


Mendengar suara pintu terbuka, Sonia yang hanya tidur ayam pun membuka matanya.


"Tuan." Lirih Sonia sambil ingin menurunkan kakinya.


"Ssst.. jangan bergerak, biar saya yang kesitu. Nanti Cantika bangun." Kata Adam.


Sonia pun tidak bergerak dan menunggu Adam menghampirinya untuk mengambil Cantika.

__ADS_1


Namun baru saja tangan Adam sampai di tubuh Cantika, Cantika sudah merengek, seolah tau kalau dirinya akan dipisahkan dari pelukan Sonia.


"Ush... ush.. ush.." Terpaksa Sonia menenangkan Cantika lagi dengan menepuk-nepuk pelan bokong Cantika.


"Biar saja malam ini Cantika tidur disini Tuan. Gak tau kenapa seharian ini Cantika mau nya tidur begini." Kata Sonia.


"Tapi punggung kamu bisa pegel kalau satu malaman kamu kayak begitu terus." Balas Adam.


"Udah sini biar sama aku aja. Biar aja nangis, paling juga cuma sebentar." Kata Adam. Adam pun mengambil Cantika dari atas dada Sonia.


Dan jelas saja Cantika pun langsung terbangun dan menangis karena di ambil dari atas dada Sonia.


Adam pun langsung membawa Cantika keluar dari kamar itu dan berjalan menuju kamarnya.


Sonia tidak bisa berbuat apa-apa, walau rasanya ingin sekali ia menarik kembali Cantika dari tangan Adam dan meletakkannya kembali di atas dadanya. Ingin menyusul Adam ke kamar nya juga tidak bisa karena Adam melarang Sonia masuk ke dalam kamarnya. Sonia pun hanya bisa menghela nafasnya.


Di dalam kamar Adam.


Sesampai di dalam kamar Adam, Cantika masih terus menangis padahal Adam sudah melakukan segala cara untuk mendiamkan Cantika mulai memberikan ASI yang di masukkan ke dalam botol, sampai memberikan mainan tapi tetap saja Cantika tidak mau diam dan itu sudah berlangsung selama sepuluh menit.


Sonia yang resah karena mendengar tangis Cantika yang tidak kunjung berhenti pun memberanikan diri mengetuk pintu kamar Adam. Jiwa keibuannya terpanggil untuk menenangkan Cantika.


Tok Tok Tok. Ketukan pertama Sonia mengetuk dengan pelan karena masih merasa ragu.


Tok Tok Tok. Ketukan kedua sudah menggunakan sedikit tenaga karena Adam tidak kunjung membukakan pintu kamarnya sedangkan suara tangis Cantika makin memilukan hati Sonia.


TOK TOK TOK TOK.. Dan ketukan ketiga Sonia memakai kekuatan penuh karena pintu tak kunjung di buka dan suara tangis Cantika makin membuat Sonia panik.


Tapi sampai di ketukan ketiga pun Adam tak kunjung membukakan pintunya. Dan itu membuat Sonia naik pitam. Jiwa keibuannya berkobar, seolah anaknya sedang dalam bahaya, Sonia pun menendang pintu kamar Adam dan dalam sekali tendangan pintu itu langsung terbuka.


BRAAAAK. Pintu kamar Adam pun terbuka.


Sontak Adam pun menoleh ke arah pintu dengan mulut ternganga. Bukan hanya Adam yang ternganga, Cantika yang sejak tadi tak mau berhenti menangis pun langsung terdiam seketika dan ikut menganga melihat ibu sambungnya berdiri di depan pintu bagai wonder women.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2