Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 41


__ADS_3

Di dalam rumah.


Bu Endang yang melihat banyak mobil masuk ke halaman rumah Ayu langsung berlari mencari Ayu dan Lucky.


"Yu, itu ada banyak mobil masuk ke rumah kamu. Kamu bikin acara sebelum berangkat honeymoon?" Tanya Bu Endang.


"Gak kok. Apa itu temen-temen nya mas Lucky yah." Gumam Ayu. Ayu yang baru selesai memompa ASI pun cepat-cepat menghampiri suaminya yang sedang bersama baby Kya, anak pertama Lucky-Ayu di ruang keluarga."


"Mas, kamu ngundang temen-temen kamu kesini?" Tanya Ayu tanpa basa-basi.


"Gak. Kenapa?"


"Ibu bilang di luar banyak mobil yang masuk kesini."


"Loh kok satpam gak ngomong. Apa jangan-jangan itu Adam. Kan Adam tadi bilang mau datang kesini."


"Iya juga yah. Apa tuh anak datang kesini bawa teman-temannya?"


"Dasar anak nakal itu, udah lama gak ada kabar, suka ngilang, sekarang datang bawa rombongan!!" Omel Bu Endang.


Mendengar nama anak bungsunya yang suka buat onar datang, pak Andar yang sedang bermain dengan Kya langsung berdiri dari tempat duduknya dan membuka ikat pinggangnya.


"Mana tuh anak, biar bapak cambuk sekalian!! Gak ada kapok-kapoknya tuh anak bikin masalah!!" Geram pak Andar.


"Eh... pak, jangan pake kekerasan. Ada Kya. Gak baik kalau Kya lihat." Larang Ayu.


"Bapak udah gondok sama anak itu. Ibu mu di bikin pusing terus sama dia yang gak pernah kasih kabar." Kata pak Andar lagi.


"Tapi kan Ayu selalu kasih tau bapak sama ibu kabarnya Adam. Udah lah pak, nanti Adam kabur lagi loh kalau bapak keras in, gak di keras in aja dia kabur-kaburan, ilang-ilangan, gimana kalau bapak keras in." Kata Ayu menenangkan bapaknya.


"SPADAAAAA...." tak lama suara teriakkan Adam memenuhi rumah Ayu.


Ayu, Bu Endang, pak Andar dan Lucky pun berjalan keluar dari dalam ruang keluarga sedangkan baby Kya di ambil alih oleh baby sitternya.


Melihat anak bungsunya berdiri di depan pintu, pak Andar dengan langkah panjang mendekati Adam, niatnya ingin menjitak kepala anak bungsunya itu.


"Dasar anak nakal!!! Kamu mau bikin ibu mu cepet mati yah gara-gara mikirin kamu yang ilang-ilangan!!" Kata pak Andar dengan nada tinggi sambil berjalan. Tangannya sudah mengudara dan siap menjitak kepala anak bungsunya itu.


Tapi tinggal selangkah lagi ia sampai pada anak bungsunya itu, langkah kakinya langsung terhenti saat melihat Sonia yang ada di belakang Adam sambil menggendong Cantika.


"I-ini si-siapa?" Tanya pak Andar terbata-bata.


"Sonia." Teriak Ayu kesenangan saat melihat mantan bodyguardnya.


Sangking senangnya ia tidak memperdulikan keberadaan Cantika yang ada dalam gendongan Sonia. Ayu pun berlari menghampiri Sonia lalu memeluk Sonia.


"Aku tuh kangen tau. Kamu kok gak pernah ngasih kabar sih." Ucap Ayu.


"Nda..." suara Cantika membuat Ayu baru ngeh dengan keberadaan Cantika.

__ADS_1


Ayu pun melepaskan pelukannya lalu melihat batita cantik itu.


"Hai.. cantik." Ayu menyapa Cantika.


Cantika hanya membalas dengan senyuman manis.


"Ini anak siapa?" Tanya Ayu dengan polosnya.


Sonia diam dengan raut wajah aneh.


Melihat wajah aneh Sonia, mata Ayu menatap Adam. Wajah Adam juga terlihat aneh.


"Ini anak siapa?" Tanya Ayu lagi.


"Ekhem. Selamat malam." Sapa pak Zidane dari belakang Sonia. Lama pak Zidane berdiri di belakang Sonia, tapi tidak ada yang menyadari keberadaan pak Zidane.


Melihat pak Zidane dengan begitu banyak bodyguard di belakangnya, perasaan Ayu mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Ada apa ini Dam? Kamu bikin masalah lagi? Apa anak ini, anak kamu dan..."


"Dan anak saya." Belum selesai Ayu bicara, pak Zidane sudah menimpali kata-kata Ayu.


"Dasar anak gak tau di untung!!!! Udah bapak kasih apa yang kamu mau, bapak kuras semua uang bapak untuk nebus kamu yang bolak-balik berurusan dengan polisi, bukannya berubah, malah sekarang kamu punya anak di luar nikah!!!! Dasar kamu yah!!! Mau jadi apa sih kamu Adam!!!!" Teriak pak Andar emosi sambil memukul anak bungsunya itu.


"Aduh pak, dengerin penjelasan Adam dulu." Ucap Adam. Melihat Papanya di pukuli, sontak Cantika menangis.


Menyadari ada anak kecil di tengah-tengah mereka, Ayu pun berusaha menengahi bapak dan adiknya itu. Tapi Ayu mengalami kesulitan, karena pak Andar dalam mode emosi tingkat tinggi.


"Keluar kamu, bapak gak mau ngeliat kamu lagi!!" Bentak pak Andar.


"Tenang Pak!! Kita dengarkan dulu penjelasan Adam." Bela Ayu.


"Ayo Sonia masuk." Kata Ayu pada Sonia.


"Mari Pak, silahkan masuk." Kata Ayu pada pak Zidane.


Sonia dan pak Zidane pun masuk ke dalam ruang tamu lalu diikuti Adam dari belakang mereka.


Kini mereka semua sudah duduk manis di ruang tamu.


"Katakan ada apa sebenarnya ini?" Tanya Ayu.


"Sebelum Adam menjelaskan semuanya, ijinkan Adam memperkenalkan orang-orang yang Adam bawa ini." Jawab Adam.


"Pak-Buk, Mas-Mbak, kenalkan ini pak Zidane, papa mertua Adam sekaligus kakek dari anak Adam ini." Kata Adam lagi memperkenalkan pak Zidane.


"Dan anak cantik ini adalah anak Adam, namanya Cantika." Kata Adam lagi memperkenalkan Cantika.


"Jadi kamu dan Sonia...." kata Ayu menyela.

__ADS_1


"Dengerin Adam dulu Mbak." Balas Adam.


Adam menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Sonia memang istri Adam, tapi mama nya Cantika bukan Sonia, melainkan putri dari pak Zidane ini." Lanjut Adam.


Jelas saja penjelasan Adam membuat Bapak-Ibu, Ayu-Lucky bingung.


"Maksud kamu gimana?! Kamu nikah sama Sonia, tapi kamu menghamili putri bapak itu. Gitu maksud kamu, hah!!" Tanya Pak Andar masih dengan nada emosi.


"Tenang Pak, pelankan suara bapak, ada anak kecil disini!" Omel Ayu pada bapaknya.


"Dam, coba kamu ngomong yang jelas!" Kata Ayu.


"Jadi sebelum nikah sama Sonia, Adam nikah dengan anaknya pak Zidane, namanya Karen. Tapi Karen meninggal saat melahirkan Cantika." Jawab Adam.


"Sonia ini adalah sahabat, bodyguard sekaligus anak angkat pak Zidane. Dan sebelum Karen meninggal, Karen menuliskan wasiat untuk kami dan meminta Adam untuk menikah dengan Sonia agar Cantika bisa memiliki ibu sambung yang tepat." Kata Adam lagi.


Mendengar itu Bu Endang dan Pak Andar kaget bukan main. Anaknya dua kali menikah tapi tidak sekalipun Adam memberitahu mereka. Untung saja Pak Andar dan Bu Endang tidak memiliki penyakit jantung, kalau punya sudah pasti kedua orangtua Adam itu anfal mendengar pengakuan Adam.


"Apa sih yang ada di pikiran mu Dam, kok bisa-bisanya kamu nikah gak ngomong-ngomong sama kami semua!!" Tanya Ayu. Seandainya saja tidak ada Cantika, sudah Ayu tampar adiknya itu dari tadi karena kesal.


"Maaf Mbak. Maaf Pak-Buk. Bukan niat Adam gak ngasih tau sama kalian semua. Sewaktu Adam nikah dengan Karen, Adam merasa malu memberitahu pernikahan Adam sama kalian, karena pasti kalian akan mengira Adam menikah karena sebuah masalah yang Adam ciptakan. Adam gak mau kalian memandang Karen wanita gak bener, makanya Adam sengaja merahasiakan pernikahan Adam sampai Adam menjadi orang sukses. Tapi ternyata takdir berkata lain, disaat Adam sudah sukses, Karen malah pergi meninggalkan Adam. Padahal niat Adam, Adam ingin memperkenalkan Karen pada kalian setelah Cantika lahir dan ingin membuat resepsi besar-besaran." Adam menjeda sejenak kalimatnya untuk menarik nafas dalam lalu membuangnya kasar.


"Kalau dengan Sonia, karena pernikahan Adam dan Sonia karena wasiat Karen, makanya Adam merahasiakannya dari kalian. Jangan kan memberitahu kalian, sedangkan Adam sendiri butuh waktu lama untuk menerima pernikahan kedua Adam ini." Lanjut Adam.


"Astaga Adam!!! Kenapa kamu sampai berpikir seperti itu sih pada kami, nak! Kami memang marah sama kamu karena kamu bandel, bikin masalah terus, bikin onar terus, tapi biar bagaimana pun kamu itu tetap anak kami, nak! Kalau memang kami ini sejahat yang ada di pikiran kamu, sudah lama bapak dan ibu membuang kamu dan membiarkan kamu mendekam di penjara. Tapi karena kami sangat sayang sama kamu, makanya bapak sama ibu sampai rela menghabiskan uang tabungan kami supaya kamu bisa keluar dari masalah yang kamu buat." Kata Buk Endang.


"Justru karena pengorbanan Ibu dan Bapak itu lah yang membuat Adam merasa kecil hati. Adam akuin Adam salah karena udah berpikir kalau Ibu dan Bapak gak akan bisa nerima Karen. Maafin Adam, Pak-Buk." Adam yang merasa bersalah pun berlutut di hadapan Bapak dan Ibunya.


Cantika kembali rewel melihat Papanya berlutut, sepertinya Cantika bisa ikut merasakan apa yang kini Papa nya tengah rasakan.


Melihat Cantika rewel, Pak Andar yang tadinya emosi, hatinya tiba-tiba melunak dan terenyuh, apalagi setelah mendengar kronologi pernikahan Adam.


Pak Andar pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Cantika yang sedang di tenangkan Sonia.


"Sini biar Bapak gendong." Kata Pak Andar pada Sonia.


Sonia melirik Adam sebelum memberikan Cantika pada kakeknya.


Adam menganggukkan kepalanya tanda kalau ia mengijinkan Cantika di ambil alih oleh Bapaknya.


Melihat Adam mengangguk, Sonia pun menyerahkan Cantika pada Pak Andar.


Ajaib. Cantika langsung diam dan malah tersenyum manis pada Pak Andar.


Dan senyum Cantika berhasil membuat Pak Andar memaafkan kesalahan terparah Papa nya Cantika itu. Pak Andar menangis sesunggukkan sambil memeluk cucu cantiknya itu.


Bukan hanya Pak Andar yang menangis, semua orang yang ada di ruang tamu itu juga meneteskan air mata haru melihat kehangatan Kakek dan Cucu itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2