
"Selamat pagi pak Zidane." Sapa Adam saat melihat calon papa mertuanya muncul di ruang tamu.
"Selamat pagi juga nak Adam." Jawab pak Zidane.
"Ada perlu apa kamu datang sepagi ini?"
"Saya ingin memberikan jawaban saya atas pertanyaan bapak semalam."
"Secepat itu? Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik?"
"Sudah pak. Tapi ada yang harus saya bicarakan dengan pak Zidane berdua saja."
"Oke kalau begitu. Mari ikut saya ke ruang kerja saya, kita bicara disana." Pak Zidane pun berjalan terlebih dulu menuju ruang kerjanya lalu diikuti Adam dari belakang.
Ceklek. Pak Zidane membuka pintu ruang kerjanya kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Silahkan duduk nak Adam." Pak Zidane mempersilahkan Adam duduk di sofa yang ada disana.
Adam pun duduk. Setelah Adam duduk, pak Zidane pun ikut duduk. Kini mereka duduk berhadapan.
"Jadi katakan, jawaban apa yang ingin kamu berikan." Todong pak Zidane.
"Saya mau menikah dengan Karen, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi apa bisa pak Zidane tidak memberitahu tentang pernikahan saya pada orangtua saya?"
"Kenapa? Apa kamu malu menikah dengan putri saya?" Tanya pak Zidane dengan nada yang sedikit meninggi. Ia merasa tersinggung dengan permintaan Adam itu.
"Bu-bukan begitu pak. Saya sama sekali tidak berpikir seperti itu." Jawab Adam merasa tidak enak hati karena sudah membuat pak Zidane tersinggung.
"Kalau tidak malu, lalu kenapa kamu tidak ingin orangtua kamu tau kalau kamu sudah menikah dengan putri saya? Apa jangan-jangan di kampung halaman mu kamu sudah punya tunangan atau perempuan yang sudah di jodohkan dengan mu?"
"Bukan karena itu juga pak." Jawab Adam.
"Jadi begini pak. Pak Zidane mungkin sudah tau bagaimana masa lalu saya. Saya tuh dalam keluarga terkenal cuma bikin onar, bikin masalah. Tapi itu dulu pak, semenjak kasus terakhir saya yang berkelahi dengan teman kerja saya di tempat kerja saya yang lama, saya sadar dan memutuskan untuk berubah menjadi orang baik. Dan akhirnya saya dapat pekerjaan di perusahaan bapak. Saya punya tekad sebelum saya jadi karyawan tetap di perusahaan bapak, saya tidak mau menghubungi keluarga saya, tapi nanti kalau saya sudah menjadi karyawan tetap baru saya akan menghubungi orangtua saya, memamerkan hasil keringat saya sendiri. Tapi belum juga tekad saya terwujud, pak Zidane sudah meminta saya untuk menikah dengan putri bapak. Saya senang pak, sangat senang. Apalagi saya juga suka sama putri bapak. Tapi kalau saya tiba-tiba ngasih kabar ke bapak dan ibu saya, saya takut nanti mereka punya pikiran yang macam-macam tentang pernikahan saya dan putri bapak. Takut dibilang saya berbuat macam-macam dengan putri bapak makanya bapak terpaksa menikahkan saya dengan putri bapak." Adam menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Memang sih pak, kita bisa cerita kronologinya. Tapi saya yakin ibu dan bapak saya tidak akan semudah itu percaya, karena jejak kriminal yang saya buat. Di mata keluarga saya, khususnya di mata bapak saya, saya ini cuma pembuat onar, bikin malu keluarga, bikin aib keluarga aja pak. Jadi tindakan baik apapun yang saya lakukan pasti tidak akan semudah itu bapak saya percaya. Makanya saya minta pak Zidane tidak memberitahu keluarga saya dulu tentang pernikahan ini. Yah setidaknya sampai saya bisa membersihkan nama saya di mata orangtua saya. Biar bapak dan ibu saya percaya kalau saya menikah dengan perempuan baik-baik dan dengan cara yang baik-baik juga." Lanjut Adam.
__ADS_1
Pak Zidane diam sejenak nampak memikirkan kata-kata Adam. Setelah pak Zidane pikir-pikir, pak Zidane pun bisa mengerti maksud dan tujuan Adam. Karena dulu sebelum menikah dengan almarhum istrinya, pak Zidane juga pernah di posisi Adam.
Pak Zidane yang dulu nakal dan sering buat onar, sampai saat pak Zidane bertemu dengan almarhum istrinya pun keluarganya tidak percaya kalau almarhum istrinya adalah perempuan baik-baik, di pikiran orangtua pak Zidane dulu, almarhum istrinya itu di dapat pak Zidane dari club malam atau bar. Namun semenjak kelahiran Karen, baru lah keluarganya berubah. Namun sayangnya perubahan keluarga pak Zidane terlambat karena akibat luka batin yang selalu di torehkan keluarga pak Zidane melalui kata-kata yang menyakitkan hati mamanya Karen, mental mama Karen terganggu. Mama Karen beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri dan gangguan mental pada mama Karen makin menjadi-jadi sejak kelahiran Karen.
Mama Karen terkena baby blues dan hampir membunuh Karen, tapi untungnya Karen selamat. Keluarga pak Zidane makin menyalahkan mama Karen dan karena itu mama Karen kembali melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum cairan membunuh nyamuk disaat semua orang hanya fokus pada Karen. Sayangnya saat di temukan mama Karen sudah tidak tertolong lagi. Mama Karen dinyatakan meninggal disaat Karen masih berumur tiga bulan.
Pak Zidane pun menyalahkan keluarganya karena tak pernah bisa menerima mama Karen dengan baik hanya karena dirinya yang punya masa lalu kelam, padahal dirinya lah yang nakal, tapi kenapa istrinya juga harus mendapat cap buruk dari keluarganya? Seharusnya keluarganya berterimakasih pada almarhum istrinya, karena almarhum istrinya lah yang membuat pak Zidane berubah dan menjadi laki-laki yang memiliki masa depan, bukan malah menyakiti hati istrinya sampai-sampai membuat almarhum istrinya depresi berat.
Mengingat bagaimana kesedihan masa lalunya sebelum jaya seperti sekarang, pak Zidane pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan permintaan Adam.
Sebenarnya pak Zidane ingin mengusulkan untuk menunda pernikahan dan membiarkan Karen dan Adam pacaran terlebih dulu. Tapi sekali lagi, pak Zidane tidak mau membiarkan Adam dan Karen berpacaran karena takut mereka kebablasan, apalagi pak Zidane tau kalau botol jin Adam sudah pernah merasakan di cuci di mesin cuci yang sudah bau karat. Takutnya nanti Adam tak tahan untuk cuci botol jinnya dan mengunboxing mesin cuci botol Karen yang masih original dan keset.
Lagi pula mengingat dirinya juga mengidap penyakit mematikan, ia harus bergerak cepat menikahkan Karen dengan laki-laki yang Karen suka dan yang menurutnya sanggup menggantikan tugasnya menjaga dan memberikan kasih sayang untuk putri semata wayangnya.
"Baik lah, saya tidak akan memberitahu keluarga mu. Tapi saya tetap mau kamu menikah dengan Karen sah secara agama dan negara. Dan tetap akan mengadakan resepsi meskipun tertutup dari media. Gimana?"
"Baik pak. Saya setuju." Jawab Adam mantap.
Tok.. Tok.. Tok..
Tiba-tiba saja pintu ruang kerja pak Zidane terketuk.
Ceklek. Tanpa mendapat izin dari pak Zidane, Bik Narti yang mengetuk pintu ruang kerja pak Zidane langsung membuka pintu ruang kerja Tuannya itu.
"Astaga, pasti dia masih kepikiran gara-gara tadi malam." Pekik pak Zidane sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Memangnya tadi malam kenapa pak?" Tanya Adam. Ia pun ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Karen pikir kamu tidak langsung menjawab karena kamu gak suka sama dia. Mungkin dia kecewa karena tadi malam kamu gak langsung jawab." Jawab pak Zidane sambil berjalan menuju kamar Karen dan diikuti Adam dari belakang.
Mendengar jawaban pak Zidane, jelas saja itu membuat Adam merasa bersalah.
Tok.. Tok.. Tok.. Pak Zidane mengetuk pintu kamar Karen.
"Karen, Sayang, buka pintunya sayang. Kamu kenapa kayak gini sayang? Ayo buka pintunya, kita ngomong baik-baik." Kata pak Zidane.
"Papa gak usah pikirin Karen lagi, Karen ini cuma nyusahin papa."
"Kok kamu ngomongnya gitu sih sayang? Jelas lah papa mikirin kamu, kamu kan anak papa sayang."
__ADS_1
"Tapi Karen cuma nyusahin papa. Dari kecil papa selalu ngurus Karen sendiri, mikirin kebahagiaan Karen. Sekarang udah waktunya papa bahagiain diri papa sendiri, kalau papa mau nikah lagi, ya udah nikah aja, Karen gak pa-pa kok pah. Papa gak usah capek-capek nyari laki-laki yang baik untuk dampingin hidup Karen, karena gak akan ada laki-laki yang mau sama Karen."
Mendengar jawaban Karen, Adam memberi kode pada pak Zidane agar kali ini dia yang maju membujuk Karen.
Pak Zidane pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengizinkan Adam untuk membujuk Karen.
"Siapa bilang Ren gak ada laki-laki yang mau sama kamu, aku mau kok." Kata Adam.
Dan suara Adam dari luar kamar itu cukup membuat Karen terkejut.
"Kak Adam." Lirih Karen dari dalam kamarnya.
"Kamu mau gak buka pintunya? Aku mau ngomong sesuatu nih." Bujuk Adam.
"Mau ngomong apa? Dari situ aja."
"Gak bisa Ren, ini tentang kita berdua soalnya. Nanti kalau aku ngomong dari sini, papa kamu sama anak buah papa kamu denger lagi."
Tak sampai tiga menit Karen pun membuka pintu kamarnya.
Ceklek. Karen membuka sedikit pintu kamarnya.
"Mau ngomong apa?" Tanya Karen.
"Pak Zidane, saya izin ngomong sama nona Karen di dalam kamar boleh?"
Sebenarnya pak Zidane tidak mau mengizinkan Adam masuk ke dalam kamar Karen, apalagi membiarkan mereka hanya berdua di dalam kamar, tapi karena Adam sudah berhasil membujuk Karen sehingga Karen mau membuka pintu, mau tak mau pak Zidane pun mengizinkan Adam masuk ke dalam kamar putrinya dan hanya berdua di dalam kamar bersama putrinya.
Pak Zidane menganggukkan kepalanya.
"Tapi jangan lama-lama." Peringatan tegas dari pak Zidane.
"Tenang aja pak, gak sampe lima belas menit keluar kok." Jawaban Adam terdengar ambigu di telinga pak Zidane.
"Maksudnya saya pak yang keluar dari dalam kamar." Cepat-cepat Adam meluruskan ucapannya tadi saat melihat kening pak Zidane mengkerut.
Pak Zidane pun menghela nafasnya lalu pergi dari depan kamar Karen dan diikuti Bik Narti dari belakang.
Setelah pak Zidane dan Bik Narti pergi, Adam pun masuk ke dalam kamar Karen.
__ADS_1
Kira-kira mau ngapain Adam yah di dalam kamar Karen??????
BERSAMBUNG...